Seminggu setelah kunjungan dari Rufus.
Dylan dan keluarga saat ini sedang menaiki kereta api, untuk menuju ke kota Algrand, ibukota Kerajaan Ingrid. Butuh waktu 3 hari lamanya perjalanan menuju ibukota dengan kereta api.
Bukan tanpa alasan mereka pergi ke sana. Mereka pergi karena mendapatkan undangan langsung dari Yang Mulia Raja Conrad Sera Ingrid untuk menghadiri pesta Ball yang dia adakan.
Pesta Ball di isi oleh para kaum bangsawan baik mereka yang berpangkat Baronet sampai mereka yang berpangkat ArcDuke.
Biasanya, para bangsawan akan memanfaatkan momen ini untuk membuat koneksi dengan keluarga lain bahkan jika mungkin membuat koneksi dengan Keluarga Kerajaan dengan cara memperkenalkan putra dan putri mereka.
Meski begitu, audience Ball akan di bagi menjadi 2 kelompok.
Pertama Audience biasa, terdiri dari para bangsawan berpangkat seperti Baronet, Baron, Viscount dan Count. Mereka hanya diizinkan untuk menikmati suasana pesta hanya seperti makan, minum saja.
Kedua, Audience elit, terdiri dari para bangsawan berpangkat Earl, Marquis, Duke dan ArcDuke. Bukan hanya diizinkan untuk menikmati suasana pesta saja, mereka juga diizinkan untuk ikut berdansa dan berbicara dengan anggota keluarga Kerajaan.
Mengingat, bahwa pangkat Keluarga Arcadia adalah Earl, mereka masuk ke dalam kategori yang kedua.
Mengetahui fakta ini baik Hyoga maupun Dylan, keduanya yang duduk sambil menatap pemandangan dari balik jendela kereta yang berjalan, tidak henti-hentinya menghembuskan nafas panjangnya sebagai bentuk keengganan nya untuk datang ke pesta Ball.
""Aaaaah........ ******.... Merepotkan banget.... Sialan..... Kenapa ini harus terjadi?"".
"Kalian berdua ini, dari mulai berangkat sampai sekarang terus saja mengeluh".
"Ceria sedikitlah Ayah, Nii-san".
Melihat kelakuan Hyoga dan Dylan, Pavline yang tidak tahan mencoba untuk menegur keduanya. Sementara Filaret mencoba menyemangati keduanya.
"Pavline sayang, kau harusnya tahu kenapa aku begini, kan?.... Semua itu karena kita akan bertemu dengan para bangsawan dari daerah lain dan anggota keluarga Kerajaan...... Kau juga tahu kan seperti apa mereka itu...... Melihat kelakuan mereka yang berpangkat tinggi seperti ArcDuke dan berpangkat paling rendah seperti Baronet saja, sudah membuatku ingin muntah".
"Tapi, masih ada yang sifatnya lebih baik?".
"Hmm.... Itu hanya minoritas saja. Mayoritas lainnya terlalu membanggakan status dan gelarnya. Cih, membayangkan senyuman penuh kepalsuan mereka itu, membuat ku mau muntah sekarang".
Pavline tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena sebagian besar apa yang dikatakan Hyoga memang benar adanya.
Hanya sedikit dari mereka yang tidak melebih-lebihkan statusnya dan bekerja dengan penuh dedikasi dan kejujuran.
"Dari pada mengkhawatirkan sikapku dan Ayah, bukankah kita seharusnya lebih khawatir dengan kondisi Filaret nantinya".
Hyoga dan Pavline langsung bereaksi setelah mendengar apa yang Dylan ucapkan. Mereka berdua bahkan Filaret sendiri tahu apa yang di maksud Dylan.
"Fira, di pesta Ball ini ada kemungkinan besar, kau akan bertemu kembali dengan kedua orang tua dan dan kedua saudarimu. Apa kau yakin akan baik-baik saja saat bertemu mereka?".
Terlepas dari rasa enggan nya menghadiri pesta, Dylan sangat mengkhawatirkan kondisi mental Filaret apabila harus bertemu lagi dengan keluarga Pillos yang sudah membuang dirinya.
"Tenang saja Ayah, Ibu, Nii-san.... Aku baik-baik saja. Bahkan aku sudah mengubur dan membuang perasaanku kepada mereka. Jadi, aku akan bersikap seperti kami tidak pernah memiliki hubungan apapun".
Filaret yang menjawab ke khawatiran semuanya dengan penuh semangat menandakan bahwa dia tidak masalah bertemu lagi dengan keluarga Pillos yang sudah membuang nya.
"Terlebih lagi..... Apa bila mereka berani "merendahkan" Ayah, Ibu dan terkhususnya Dylan-niisan di depan semua orang.... Maka tidak ada kata ampun untuk mereka".
Filaret menambahkan perkataan dengan menekan nama Dylan, dan mengeluarkan aura yang menakutkan sambil terus mempertahankan senyumannya.
"Oh, begitu ya".
Hyoga dan Pavline hanya memberikan senyuman sebagai respon terhadap kata-kata Filaret. Sementara Dylan kembali melihat kearah luar jendela.
(-------------)
Hari ke 3.
Akhirnya, mereka sampai di kota Algrand, ibukota Kerajaan Ingrid.
Sesuatu dengan status nya sebagai ibukota. Kau bisa melihat berbagai bangunan yang berdiri kokoh, rapi, dan banyak ornamen pada dindingnya.
Aspal jalan yang halus dan bersih dari sampah, jalur kereta traficline, kereta kuda yang berjalan rapi di jalan, orang-orang yang berlalu lalang, dan juga taman-taman kota yang indah. Saluran air kanal yang besar dan bersih.
Kota ini semakin indah dengan adanya beberapa monumen yang sangat megah dan indah.
Jika di bayangkan, seluruh bangunan dan fasilitas yang ada di kota Algrand seperti gabungan dari 3 kota modern yaitu kota London di Inggris, kota Paris di Perancis dan kota Venesia di Itali.
Yang membedakan orang-orang masih menggunakan kereta kuda, adanya monster dan sihir di dunia ini.
(Wow..... Tidak ku sangka, kota ini terlihat megah jika dilihat langsung seperti ini. Berbeda jauh dengan yang aku lihat pada gamenya).
Meski wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, di dalam hati Dylan sangat terkesan dengan keindahan sudut kota Algrand.
"Dy-chan, ayo nanti kau ketinggalan, loh".
"Iya Bu, aku ke sana".
Dylan yang masih terkesan tersentak karena suara Pavline yang memanggilnya untuk menaikkan salah satu kereta kuda bertuliskan taxi dan pergi menuju penginapan yang mereka sudah pesan jauh hari sebelumnya.
Sesampainya di penginapan, Dylan segera merebahkan dirinya di atas kasur sambil melengtangkan kedua tangannya.
"Aaaaahhh..... Nikmatnya..... Sudah kuduga, rebahan di atas kasur empuk setelah perjalan panjang adalah yang terbaik".
"Ya ampun, Tuan. Setidaknya ganti baju dulu".
"Ngak mau Sonia, aku lagi posisi uwenak banget. Nanggung kalau harus ganti sekarang".
Dylan merespon saran dari Sonia dengan nada yang penuh dengan kemalasan dan Sonia hanya bisa menarik nafas panjang.
Selang beberapa saat, Sonia yang terus memperhatikan Dylan tiba-tiba mendapat sebuah ide.
"Tuan Dylan".
"Hmm?".
"Boleh aku memijat punggung anda?".
Dylan segera melirik kearah Sonia untuk beberapa saat.
"Baiklah, tolong lakukan ya. Punggungku sakit banget harus duduk terus selama 3 hari di kereta".
Dylan mengizinkan Sonia memijat punggung sambil membalikkan badannya.
"Kalau begitu, bisakah melepas baju anda?".
"Huh? Kenapa?".
"Saya berniat menggunakan minyak ini untuk meningkatkan efek pijatan. Jika tuan masih pakai baju maka efek pijatannya tidak akan terasa".
"..... Iya, iya.... Tapi, jangan macam-macam, ya".
Meski sempat ragu dan curiga, Dylan memutuskan menuruti apa yang diminta oleh Sonia.
Sonia terkejut untuk sesaat, alasannya karena dia sekarang melihat tubuh bagian atas tuan nya yang terbuka. Pipinya seketika menjadi merah merona.
Kedua matanya tidak bisa berkedip karena terlalu fokus untuk menikmati pemandangan di depannya.
Meski masih berusia 14 tahu, tapi tubuh tuannya memiliki badan yang kekar terlatih tapi tidak besar maupun kecil. Standar untuk ukuran pemuda seusia dirinya.
Dengan adanya beberapa bekas luka di tubuhnya semakin menambah nilai kegagahannya.
"Woi, Sonia. Kenapa diam saja? Cepat pijat aku".
"O-oh baik, segera tuan".
Sonia yang kembali sadar, segera melumuri kedua tangannya dengan minyak, dan dengan perlahan-lahan mulai memijat punggung Dylan yang menurutnya tak kalah luar biasa nya.
Selama Sonia memijat, sesekali Dylan mengerang sebagi tanda bahwa dia sangat menikmati pijatan itu.
Sementara Sonia yang entah mengapa setiap kali mendengar Dylan mengerang, nafasnya mulai terengah-engah, pipinya menjadi merah merona, badannya menjadi panas dan di kedua bola matanya tampak muncul tanda hati.
Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba suara geraman Dylan tidak terdengar lagi.
Karena penasaran, Sonia segera melihat kearah wajah Dylan hanya untuk menemukan bahwa tuannya sekarang sudah tertidur lelap.
(Sepertinya, dia benar-benar kelelahan karena perjalan panjang itu).
Pandangan Sonia sekarang, terfokus pada bibir Dylan yang entah mengapa tampak manis di matanya.
Melihat adanya kesempatan, Sonia perlahan-lahan tapi pasti mulai mendekat wajahnya ke wajah Dylan.
Begitu wajah mereka sejajar, Sonia menghentikan dirinya dan memeriksa apakah tuannya terbangun atau tidak. Karena sangat berbahaya jika tuannya tiba-tiba saja terbangun.
Yakin bahwa Dylan sudah terlelap dalam tidurnya Sonia kembali melancarkan aksinya itu sambil terus terengah-engah.
Dan saat bibir mereka hampir saja bersentuhan.
Tiba-tiba ada sesuatu yang sangat kuat mencengkram kepalanya. Dan mutarmya perlahan sampai akhirnya wajah mereka berdua bertemu.
"Dasar pelayan pribadi sialan.... Berani juga mengambil kesempatan saat Nii-san sedang tidur. hah".
Iya, tidak salah lagi orang yang mencengangkan kepala dan menghentikan aksi Sonia adalah Filaret yang saat ini menunjukkan ekspresi yang sangat sadis.
"Oh, nona Fira ya.... Aku kira siapa. Bisa lepaskan cengkraman tangan anda kepala saya, itu sakit tahu".
"Huh? Melepas? Enak saja. Mana mungkin aku melepaskan tanganku ini dari pelayan kurang ajar sepertimu".
Walau di lihat dengan ekspresi sadis, Sonia dengan santainya meminta Filaret untuk melepas cengkraman nya. Tapi, Filaret semakin jengkel karena dia tidak melihat sedikit pun ekspresi menyesal dari Sonia.
"Hmmmm".
Selang beberapa saat, Filaret melepaskan cengkraman nya saat mendengar geraman dari Dylan yang tampaknya mulai bangun dari tidurnya.
Dan benar saja, Dylan kembali bangun sambil mengusap-usap matanya dan berbicara.
"Sonia, terimakasih atas pijatan nya sekarang badanku terasa enakan".
"Sama-sama tuan. Melayani anda adalah sebuah kehor bagi saya".
Sonia mengabaikan Filaret dan mulai membungkukkan badan sebagi respon atas ucapan terimakasih dari Dylan.
"Fira. Kenapa kau ada disini?".
Dylan yang melihat Filaret ada di kamarnya segera bertanya apa tujuannya.
"Untuk memastikan Nii-san aman dari seekor kucing pencuri yang kurang ajar".
Filaret menjawab pertanyaan Dylan sambil terus melirik tajam kearah Sonia. Dan Sonia sendiri mengalihkan pandangannya kearah lain sambil berpura-pura bersiul meski tidak ada suara yang keluar.
Meski Dylan sendiri dia tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Filaret dia mencoba untuk mengabaikannya.
"Oh ya, karena kita sudah sampai di ibukota. Kenapa kita tidak jalan-jalan sebentar?".
Mendengar Dylan yang tiba-tiba mengajak pergi jalan-jalan, keduanya menjadi sangat antusias dan segera mendekatkan wajah ke Dylan sambil salah satu tangan mereka saling mendorong satu sama lain.
"Kalau begitu ajak aku saja, Tuan. Aku pasti akan menemani dan melindungi anda dengan segenap jiwaku".
"Ajak aku saja, Nii-san. Sudah menjadi tugas seorang adik perempuan untuk menemani Kakak laki-laki tersayangnya jalan-jalan".
"Nona Fira, bisakah anda berhenti dengan sikap egois anda. Biarkan saya yang menemani tuan Dylan".
"Egois apanya? Ini adalah soal tanggung jawab.... Tangung jawab.... Kau hanya bertugas untuk menyiapkan kebutuhan sehari-hari Nii-san... Sementara, aku bertanggung jawab untuk menemaninya di segala hal dan situasi".
Keduanya semakin jengkel satu sama lain.
"Huh? Apa maksudmu, Nona Fira? Perkataan mu barusan bukanlah sesuatu yang di katakan oleh seorang Adik Perempuan Kepada Kakak laki-laki nya. Jadi, berhenti bertingkah seolah-olah kau istri tuan Dylan".
"A-APA KATAMU?!!!!!".
Wajah Filaret langsung berubah menjadi merah merona setelah mendengar argumen yang keluar dari mulut Sonia.
"Itu juga berlaku untukmu, tahu.... Kau, hampir setiap hari selalu saja menggoda Nii-san. Mulai dari berkata-kata manis, berpakaian yang sangat seksi, sampai melakukan berbagai tindakan mesum seperti menyelinap dan tidur disebelah Nii-san tiap malam. Semua itu kau lakukan untuk mendapatkan perhatian nya, kan? Apa kau pikir itu hal yang pantas di lakukan oleh seorang pelayan!!!!".
"A-APA KATAMU, GADIS KECIL?!!!!".
Keduanya semakin jengkel antara satu dengan yang lain. Sekarang mereka mulai melakukan gulat tangan dengan kepala mereka saling bersentuhan.
"Kalau sudah begini.....".
"Kalau sudah begini.....".
"......Tuan Dylan....".
"...... Nii-san.......".
"".... Diantar kami....""".
"..... MANA YANG KAU PILIH?!!!!"".
Ketika mereka menolehkan wajah yang mereka lihat sosok Dylan yang sudah menghilang entah kemana, dan di atas tempat tidur itu ada sepucuk kertas yang bertuliskan.
[Kalian berdua terlalu berisik. Tinggal menjawab "iya" atau "tidak" saja sampai berkelahi. Jadi, aku putuskan untuk pergi sendiri. Tolong bilang pada Ayah dan Ibu, kalau aku sedang jalan-jalan].
Setelah membaca pesan singkat dari Dylan yang pergi meninggalkan keduanya saat masih saja berdebat dengan melompat lewat jendela.
Menghadapi kenyataan di depan mata, keduamya hanya bisa diam mematung tanpa bergerak seinci pun dari posisi mereka.
Sekarang, mereka sadar bahwa perdebatan mereka tadi itu sangatlah tidak penting dan membuang-buang waktu saja.
(----------)
"Tidak Fira, Tidak Sonia.... Aku tidak menyangka mereka berdua sama saja.... Apa susahnya tinggal menjawab "iya" atau "tidak". Malah berdebat hal ngak jelas seperti tadi".
Meninggalkan Filaret dan Sonia yang masih berdebat, saat ini Dylan sedang jalan-jalan seorang diri di keramaian kota Algrand.
Meski masih ada rasa jengkel di hatinya, Dylan mencoba untuk menikmati setiap keindahan sudut kota yang ada di sekitarnya.
Sangking sibuknya menikmati kesendirian dan keindahan kota, dia sepertinya tidak sadar sudah memasuki daerah kawasan perbelanjaan.
Di depan matanya saat ini, terdapat banyak sekali kios-kios kecil yang menjual banyak hal, dimulai dari makanan, aksesoris, bunga, buku dan yang lain-lain nya. Ibaratnya, seperti bazar di kehidupan Dylan yang sebelumnya.
"Heeee... Bahkan di dunia ini juga ada Bazar, ya. Skalanya jauh lebih besar, dan ramai dari pada di Arcadia. Hmm?".
Ditengah Dylan menikmati keramaian di bazar, tiba-tiba perutnya mulai keroncongan.
"Oh, suara perutku yang meronta-ronta, ya. Aku kira apa. Hm? Aroma ini.... Sepertinya dari sana".
Kemudian, Dylan baru ingat bahwa sejak dia sampai ke Kota Algrand, dia belum memakan apapun.
Selang beberapa saat, hidung Dylan mencium bau yang sangat lezat. Karena penasaran dia mengikuti dari mana sumber bau itu berasal dari sebuah kios yang menjual tusuk sate bakar.
"Hei nak. Mau beli beberapa tusuk sate?".
Melihat Dylan yang mendekat, paman penjual itu menawarkan jualannya.
"Baunya enak. Ngomong-ngomong daging apa yang kau pakai, paman?".
"Ini daging Holstein liar, tidak hanya menghasilkan susu tapi dagingnya juga enak".
Holstein adalah sejenis sapi liar di dunia ini yang hampir mirip dengan bison di bumi. Walau terkenal liar binatang ini masih bisa di jinakkan dan banyak di ternakkan.
"Hmmm. Kalau begitu, aku coba satu".
Dylan segera memakan tusuk sate yang tadi dia minta, dan betapa terkejutnya dia. Karena hanya dengan satu kali gigitan saja, dia dapat merasakan berbagai kenikmatan.
Daging yang empuk, tidak berbau, tingkat kematangan yang sempurna semuanya semakin kompleks dengan kekayaan rempah-rempah yang menjadi satu, menciptakan rasa lezat yang luar biasa.
(Daging nya juicy banget!!! Enak sekali!!! Rasa daging yang kaya ini berpadu dengan bumbu rempah-rempah dan manis ini luar biasa).
Sangking lezatnya, kedua mata Dylan sampai berbinar-binar.
"Paman, aku pesan 70 tusuk, ya".
"HEEEEEE.....!!! APA KAGAK KEBANYAKAN ITU?!!!!".
Sambil menunggu tusuk satenya di bakar, Dylan yang agak penasaran dengan situasi di kota Algrand mendekati hari pesta Ball Kerajaan mencoba bertanya pada Paman penjual tusuk sate itu.
"Hei paman, boleh aku bertanya seseuatu?".
"Iya, tanyakan saja".
"Aku baru kemarin sampai di kota ini, dan aku dengar ada beberapa rumor yang beredar. Bisa paman beritahu aku rumor-rumor apa saja yang paman tahu".
"Yah, sebenarnya banyak sekali rumor-rumor yang beredar di masyarakat kota Algrand akhir-akhir ini. Tapi, yang paling heboh adalah rumor soal "perang perebutan tahta" yang terjadi di dalam Istana".
"Perebutan Tahta? Apa itu benar?".
Dylan yang semakin penasaran mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam lagi.
"Aku tidak tahu detailnya. Kami para rakyat biasa tidak diizinkan untuk tahu menahu soal itu, lagian itu juga hanya sebuah rumor".
Paman itu, kembali fokus untuk membakar tusuk sate pesanan Dylan. Lalu, selang beberapa saat dia kembali berbicara.
"Tapi, kalau soal pertikaian antara Putri pertama Ritzia dan Putri kedua Vanessa. Itu sudah menjadi konsumsi publik".
Dylan sempat tersentak saat mendengar kedua nama itu, tetapi sebelum bisa bertanya lebih lanjut pesanan nya sudah selesai.
"Ini pesanan mu, 70 tusuk sate".
"Oh ya, ini uangnya".
Dylan mengeluarkan beberapa koin perak dan menerima sekantong tusuk sate bakar dan segera berpamitan pergi.
Tidak mau mencolok dengan membawa makanan kemana-mana, Dylan memasukkan tusuk satenya kedalam item box. Sambil terus kepikiran dengan perkataan paman penjual tusuk sate itu.
(Putri pertama Kerajaan Ingrid, Ritzia Sera Ingrid. Namanya beberapa kali di sebutkan dalam dialog pada game. Visual karakternya tidak dimunculkan sama halnya dengan Rufus-san. Jadi, aku tidak tahu seperti apa penampilan maupun kepribadian nya. Tapi, aku tidak menyangka ada cerita dimana Ritzia dan Vanessa tidak memiliki hubungan yang baik sebagai Kakak-adik. Aku benar-benar penasaran seperti apa dia, mungkin Ball ini ada untungnya juga untukku).
Meski benci mengakuinya, setidaknya Dylan bisa bertemu dengan karakter yang tidak pernah tampil di dalam gamenya.
Dan ada kemungkinan, karakter ini juga bisa mempengaruhi alur ceritanya. Di saat Dylan sedang berpikir keras, akhirnya dia menyadari sesuatu setelah pandangnya kembali melihat sekitarnya yang tampak berbeda.
Saat ini, Dylan berada di jalan yang sepi dari orang-orang dan tidak sebersih pusat kota, bangunan disekitar nya tampak bangunan lama yang kurang terurus namun masih bisa ditempati.
"Sialan, karena tenggelam dalam pikiran. Aku sampai tersesat".
Ketika Dylan mencoba merenungi kesalahan nya, tiba-tiba dari arah belakang ada sesuatu yang menarik bajunya.
Menoleh kebelakang, yang dia temukan ada beberapa anak kecil berusia antara 7-10 tahun. Dari pakai nya yang terkesan berantakan, Dylan menduga bahwa mereka anak-anak yatim-piatu.
"Nii-chan, minta uangnya dong?".
"...... Huh?"
Tanpa ragu sedikitpun salah satu anak yang tadi menarik bajunya meminta uang. Dan Dylan hanya merespon dengan ekspresi terkejut dan kebingungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
Choco
praktis bingitz/Plusone/
2023-10-03
4
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-19
1