"Meski aku seorang "penjahat".... Tapi, akulah.... YANG AKAN MELINDUNGI KOTA INI!!!".
Dylan berteriak sambil berlari menerjang bahaya seorang diri dengan tekad untuk melindungi kota beserta para penduduk nya.
Saat jarak mereka mulai berdekatan, Dylan mengayunkan kedua pedangnya sambil ikut memutarkan badannya.
Dengan gerakan itu, Dylan berhasil menebas beberapa monster seperti serigala.
Selesai dengan para serigala, Dylan mengayunkan satu pedangnya untuk membelah 2 ekor beruang.
Sementara satu pedang lainnya dia lempar kearah segerombolan goblin yang datang.
Tapi, dari arah belakang ada seekor Troll yang hendak menghantamnya. Untungnya Dylan berhasil menghindar.
Belum bisa bernafas lega, seekor Cyclop mengirimnya terbang dengan sebuah tendangan. Meski berhasil di tahan, Dylan sempat berguling-guling beberapa kali.
Momen itu di manfaatkan Dylan untuk mengambil kembali pedang katana yang dia lempar kearah goblin tadi.
Berhasil mendapatkan pedangnya lagi, Dylan memasang kuda-kuda dan mulai mengaktifkan sihir non atribut miliknya.
"Double Phantom Blades".
Dengan mengayunkan dua pedang katana nya yang sudah diberi sihir. Dylan mampu memotong banyak monster sekaligus dan berhasil memecah rombongan garis depan para monster.
Lalu pandangan teralihkan keatas, dimana dia melihat sekelompok monster terbang seperti Wyvren yang hendak melintas.
Tak mau membuang waktu lagi, Dylan memanfaatkan salah satu mayat monster untuk menjadi batu pijakan.
Dengan tambahan sihir Power Up. Lompatannya berhasil menggapai seekor Wyvren.
Dylan langsung menancapkan salah satu pedangnya ke leher Wyvren. Kesakitan, monster itu berteriak sambil menghembuskan nafas api.
Sadar akan adanya kesempatan, Dylan memanfaatkan nafas api Wyvren itu untuk membakar para monster yang ada di bawahnya.
"BERSIKAP SEPERTI LAYAKNYA MONSTER. DAN SALING MEMBUNUHLAH!!!!".
Dan itu terbukti efektif, banyak monster yang mati hangus terbakar baik itu Troll, Cyclop, dan yang lainnya.
Sadar, Wyvren yang di tumpangi nya mulai sekarat. Dengan paksa dan sekuat tenaga Dylan mengayunkan badan Wyvren itu dan melemparnya ke beberapa Wyvren lain yang terbang di sebelahnya.
Rencana berhasil beberapa Wyvren yang kena, segera terjatuh ketanah. Memanfaatkan berat jatuhnya Dylan mendarat tepat di badan Wyvren yang jatuh tadi dan langsung menusuknya dengan pedang.
Dari raut wajahnya tampak Dylan sudah mulai kelelahan dan dia segera mengambil ramuan penyembuh dari kantong dan segera meminumnya.
(Sudah kuduga ada yang aneh. Monster sebanyak ini berkumpul di satu tempat. Ini tidaklah wajar. Apa ini ada hubungannya dengan perebutan wilayah? Juga, aku tidak merasakan insting bertarung mereka. Mereka hanya membuat barisan dan pergi menuju kota. Tidak salah lagi tujuan mereka adalah kota Linic. Kalau memang benar, Apa untungnya menyerang kota Linic yang dekat pelabuhan ini?).
"Yang lebih penting, mungkin diluar sana ada yang "mengendalikan" para monster ini".
Tindak kan yang dilakukan Dylan, membuat para monster segera mengalihkan perhatian kepadanya.
Lalu sekelompok monster seperti semut raksasa dan belalang sembah hendak menyerangnya. Dengan sigap, Dylan menggunakan sihir angin di pedangnya dan kembali mengayunkannya.
"Wind Cutter".
Hembusan angin yang liar dan tajam langsung menebas para monster serangga itu menjadi potongan kecil.
Sadar, bahwa dia terlalu tenggelam dalam pikirannya. Dylan segera menerjang maju dan membelah rombongan monster.
Setiap monster yang ada di depannya, Dylan segera mengayunkan pedangnya. Dan membelah mereka semua. Terkadang Dylan bisa menebas 2 jenis monster sekaligus dengan menggunakan masing-masing pedangnya.
Dylan menggunakan teknik pedang Niten-Ichi Ryuu yang dia pelajari saat dia masih menjadi bagian club Kendo di kehidupan sebelumnya. Untuk menghalau para monster yang menyerangnya.
Niten-Ichi Ryuu adalah teknik bertarung yang menggabungkan 2 pedang katana. Dan digunakan secara bergantian seperti satu pedang untuk bertahan dan satu pedang untuk menyerang.
Jika dilihat dari jauh Dylan seperti mengayunkan kedua pedangnya secara acak sambil terus menggerakkan tubuhnya untuk menghindar dari berbagai serangan.
Teknik ini sangat efektif dan berkat itu Dylan mampu mengalahkan banyak sekali monster yang datang padanya.
Namun, meski menggunakan teknik ini dan memperkuatnya dengan sihir. Tetap saja, terkadang Dylan juga terkena serangan dari para monster yang menyerangnya sekaligus dari berbagai arah.
Kelelahan dan luka tidak dapat di hindari.
Dylan masih terus menyerang, sambil menahan rasa sakit, mati rasa dan lelah yang perlahan-lahan mulai menggerogoti.
Meski fisik dan kekuatan meningkat setelah dia berevolusi menjadi Half-Dragon itu hanya memberikan waktu sedikit lebih lama untuk tubuhnya merespon rasa sakit dan lelah.
(Ha... Ha.... Ha... Apa aku kelelahan?)
"Cih. Tidak Dylan. Kau tidak bisa menyerah di sini. Aku sudah janji akan melindungi semuanya. Meski nyawa taruhannya. Jadi, aku tidak boleh tumbang disini.... Aku..... TIDAK BOLEH KALAH DISINI!!!!".
Dengan tekad yang baru, Dylan kembali berlari maju menerjang sekelompok monster itu seorang diri.
Tanpa dia sadari dari atas dinding kota ada beberapa ksatria yang melihatnya.
"Tunggu. Bukankah itu, Tuan Dylan?".
"Iya, itu benar. Kenapa tuan melawan para monster itu sendirian?".
"Aku tidak tahu, tapi kita harus laporkan ini pada tuan Hyoga".
Para ksatria itu segera berlari untuk pergi menemui Hyoga dan melaporkan apa yang baru saja dia lihat.
Sementara itu dipusat kota. Lebih tepatnya di sebuah menara jam yang ada di tengah kota Linic.
Sonia sedang berdiri dipuncak menara sambil menatap lurus kearah dimana Dylan sedang bertarung seorang diri.
(---------)
1 jam sudah berlalu.
Sudah banyak mayat monster yang bergelimpangan di mana-mana dan tanah menjadi merah karena banyaknya darah monster yang berceceran.
Walaupun begitu, monster masih datang untuk melawan dengan jumlah yang seolah-olah tidak berkurang sedikitpun meski sudah banyak yang dibunuh Dylan.
Bertarung selama 1 jam tanpa istirahat membuat badan Dylan semakin kelelahan. Belum lagi luka dan memar yang dia terima dari serangan para monster.
Sudah hampir 10 botol ramuan penyembuh yang dia minum untuk meminimalisir rasa sakit yang dia rasakan.
(Sial, capeknya bukan main.... Di tambah para monster ini seolah-olah tidak ada habisnya).
Bersamaan dengan itu sekelompok goblin hendak menyerangnya. Untungnya, Dylan berhasil menghindar dan menyerang balik para goblin itu.
Tapi, dari arah lain. Dylan tiba-tiba saja terkena pukulan dari sebuah gada kayu yang di ayunkan oleh seekor Troll.
Dylan tidak bisa menghindar akibat rasa kelelahan yang dia rasakan. Dan karena tak mampu bertahan Dylan terpental dengan sangat kencang dan beberapa kali terguling-guling di tanah.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuh Dylan. Sangking sakitnya Dylan sampai mulutnya mengeluarkan darah dalam jumlah banyak.
Melihat Dylan yang tersungkur, para monster itu kembali mendekat. Dengan naluri insting liar, mereka tahu inilah kesempatan untuk menghabisi Dylan dan menerobos masuk ke kota.
Karena sudah sangat kelelahan, Dylan tidak bisa menghindar atau bergerak dia hanya bisa berdiri kembali itupun dengan didukung oleh pedangnya sebagai tumpuan.
"Sepertinya.... Ini akhirnya".
Dylan tahu bahwa dia sudah tidak bisa melawan balik lagi, meski kenangan tentang semua hal baik yang dia alami terlintas di pikirannya.
Itu tidak bisa menyulut api semangat bertarung di dalam dirinya. Dia tahu bahwa sekarang hidupnya ada diujung tanduk. Dan Dylan bersiap menerima kematiannya.
Tapi, di dalam hati kecilnya. Dylan merasa senang, meski berakhir diterkam monster setidaknya dia "mati di dalam pertarungan".
Saat Dylan bersiap menerima kematian nya. Entah mengapa dia merasakan tekanan energi sihir yang luar biasa.
Dan dari langit, turun sesosok bayangan yang turun di depan Dylan.
"Jangan sentuh anakku. Dasar bajingan jelek".
Bersamaan itu sosok bayangan itu mengayunkan pedangnya. Sebuah serangan yang dilapisi sihir es langsung menyerang para monster itu dan seketika membunuh mereka.
Dylan sangat terkejut dengan perubahan situasi yang terjadi. Lalu, sosok bayangan itu mulai berbicara.
"Ya ampun, dasar bocah nekat. Sekuat apapun kau. Kau tidak akan bisa melawan segerombolan monster dalam jumlah besar sendirian".
Sosok itu berbicara sambil menoleh ke Dylan yang ada dibelakang nya. Dan saat cahaya mulai menyinari secara perlahan-lahan, sosok itu tidak lain adalah ayahnya Hyoga yang menengah sebuah pedang.
"Ayah. Apa yang kau lakukan disini?".
"Huh? Tentu saja datang untuk membantu mu".
"Lalu, bagaimana para-".
Belum bisa melanjutkan ucapannya, tiba-tiba sebuah serangan tebasan api berbentuk cekungan tajam menyerang para monster dan membakar mereka.
Sesaat setelah nya, sesosok gadis muncul sambil membawa Sabit besar.
"Tidak usah khawatir para warga akan di urus oleh Ibu dan Squad ksatria. Karena itu aku dan Ayah bisa datang ke sini untuk membantumu, Nii-san".
Gadis yang menjawab pertanyaan Dylan adalah Filaret yang muncul tepat setelah Hyoga.
(---------)
Butuh beberapa detik, agar Dylan bisa mencerna apa yang Hyoga dan Filaret katakan kemudian dia baru bisa berbicara.
"Tidak. Jangan khawatir. Kalian kembali dan bantu para warga. Aku bisa tangani ini semuanya".
"Jangan katakan seseuatu yang sombong seperti itu.".
Mengabaikan ucapan Dylan, Hyoga segera maju dan menerjang para monster itu. Disusul Filaret yang berada di belakangnya.
Dengan teknik pedang miliknya Hyoga mampu mengalahkan beberapa monster dalam sekali ayunan.
Begitupun, dengan Filaret yang unjuk kebolehannya dalam bertarung menggunakan Sabit besarnya.
Hal itu tentu saja membuat Dylan terkejut.
Bukan karena teknik pedang Ayahnya atau pun Filaret. Melainkan karena pedang yang di bawa Hyoga.
(Tunggu dulu? Setelah ku perhatikan dengan seksama. Pedang itu tampak tak asing buat ku. Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi kapan?).
Dylan mencoba berpikir keras dan berusaha men scan memori di otaknya. Selang beberapa saat, mata Dylan tiba-tiba terbelalak. Akhirnya dia tahu apa pedang itu.
Nama pedang yang di gunakan Hyoga adalah Light-Ice Sword. Semacam item sihir pedang suci dalam game "Long Life Braver" yang digunakan oleh seorang karakter dalam game itu bergelar "Pendeta Pedang Es dan Cahaya". Yang pernah berjasa besar untuk menyelamatkan Kerjaan Ingrid dari Invasi Kerajaan Iblis Inferno.
Pedang itu tidak bisa disebut sebagai item yang bisa digunakan Pahlawan. Karena pedang itu hanya di sebutkan pada cerita dan ditunjukkan sebagai peninggalan dari sang "Pendeta Pedang Es dan Cahaya".
Dan yang membuat Dylan semakin shock adalah karena saat ini dia baru ingat kalau nama lengkap dari karakter "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" adalah Hyoga van Arcadia yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri.
(Sek, bentar bentar. Karakter "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" yang terkenal dalam game itu, ayah? Kenapa aku baru ingat sekarang? Dan kenapa ayah tidak pernah cerita sedikitpun?).
Lalu pandangan Dylan menatap lurus kearah Hyoga dan Filaret yang bertarung melawan para monster bersama.
Menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dylan kembali berdiri dan menggenggam kedua pedang katana nya.
"Sekarang tidak ada waktu untuk bertanya".
Dylan segera menyusul mereka dan melancarkan serangan ke arah para monster itu. Melihat Dylan yang kembali bangkit membuat Hyoga dan Filaret tersenyum.
"Oh, Sepertinya kau masih punya kekuatan untuk melawan, ya".
"Tentu saja".
"Ayah jadi tenang".
Dylan sempat tersentak dengan ucapan Hyoga.
"Kenapa? Apa kerena jumlah monster yang aku kalahkan?".
"Hmph...... Dasar putra sok kuat. Sebenarnya banyak hal yang ingin Ayah, Filaret dan Ibu mu tanyakan. Tapi sekarang, aku sudah tidak peduli".
"Ayah benar khusus kali ini, kami akan biarkan hal semacam ini begitu saja. Tapi, setelah selesai. Nii-san harus menjelaskannya pada kami".
Mereka berbincang sambil terus bertarung dengan para monster yang menyerang mereka.
"Dylan, biar Ayahmu ini beri sebuah nasehat. Kau itu "kuat", ayah akui itu. Tapi, aku tidak sarankan kau mengandalkan kekuatanmu terus-terusan. Ayah tahu, kau ingin membereskan semua ini semua sendirian tanpa merepotkan orang lain, termasuk keluargamu sendiri. Ini bukan cuma untukmu saja, tapi juga untuk Fira-".
Hyoga kemudian berteriak sambil menebas monster didepannya.
"JANGAN PERNAH MENGEMBAN MASALAH MU SENDIRIAN. COBALAH UNTUK MENGANDALKAN ORANG LAIN. KARENA TAK PEDULI SEKUAT APAPUN, KAU TIDAK BISA MENANGGUNG SEMUANYA SENDIRI!!...... Apa aku salah?".
Baik Dylan dan Filaret tersentak oleh nasehat Hyoga. Mereka tidak percaya, sosok ayah yang terkadang kikuk di depan kedua anaknya itu bisa memberikan nasehat yang begitu menancap di hati mereka.
Tanpa sadar, Dylan tersenyum.
"Itu benar. Aku tidak sendirian sekarang....... Ku andalkan kalian berdua. Ayah, Fira".
"Baiklah".
"Apapun untuk Nii-san".
Sekarang mereka bertiga berkerja sama untuk melawan para segerombolan monster itu. Dan saling memunggungi satu sama lain.
"""MAJULAH KESINI KALIAN. DASAR KALIAN MONSTER JELEK!!!""".
Dengan teriakan bersama ketiganya melawan segerombolan monster yang mengepung mereka hanya dengan modal nekat.
(----------)
Mengikuti insting, para monster itu langsung menerjang dan berusaha menumbangkan Dylan, Filaret dan Hyoga.
"Mereka Datang".
""Mengerti"".
Dengan aba-aba Dylan, ketiganya bersiap untuk datangnya serangan para monster itu.
Satu persatu para monster itu mendekat dan menyerang mereka, dan tentu saja mereka terus menyerang setiap monster yang datang tanpa memecah formasi segitiga bertarung mereka.
Terkadang mereka berganti posisi dan saling mencoba untuk melindungi satu sama lain.
Bagi orang yang biasa dengan pertarungan. Dia akan mengatakan bahwa kerja sama Dylan, Hyoga dan Filaret sangat selaras dan sangat terkoordinasi dengan baik.
Mereka terus menyerang para monster yang datang tanpa melupakan pertahanan mereka. Jika ada sebuah celah, yang lain akan segera menutupinya.
Begitupun, saat ada serangan dari monster yang terbang di langit, mereka bergantian menggunakan sihir elemen masing-masing untuk mencegah mereka masuk.
Terkadang, Dylan meminta Filaret atau Hyoga untuk membantu nya untuk memberikan batu loncatan, agar Dylan menebas para monster yang melintas di udara.
Dan setelah 2 jam pertarungan yang sangat lama itu. Mereka berhasil mengalahkan para monster itu dan monster terakhir yang berwujud Cyclop berhasil di belah menjadi 2 oleh Dylan dan Filaret.
"Itu yang terakhir".
"Horeeee... Kita berhasil!!!".
Dylan menunjukkan ekspresi lega dan gembira setelah selesai menghentikan Insiden Monster Panik. Sekaligus, berhasil menyingkirkan Death Flag yang datang.
"Terimakasih Ayah, Fira. Jika bukan karena bantuan kalian. Aku pasti tidak bisa menangani ini semua".
"Hehehe.... Tidak masalah kok, Nii-san".
"Sudah tugas, seorang ayah untuk membantu anaknya yang kesusahan. Dan lain kali cobalah jujur pada kami, mengerti?".
"Aku mengerti. Kalau begitu, ini kemenangan kita bertiga".
Sambil meminum sebotol Exilir mereka pun merayakan kemenangan.
Tapi, tiba-tiba suara misterius muncul entah dari mana.
"Ini terlalu cepat bagi kalian untuk merayakan kemenangan".
Sekelebat bayangan muncul dan menyerang Hyoga dengan sangat cepat. Sangking cepatnya baik Dylan, Filaret dan bahkan Hyoga tidak sempat merespon nya.
Dalam sekejap mata, Hyoga terpental dengan sangat keras. Hal itu juga membuat Dylan dan Filaret terkejut bukan main.
(----------)
"""AYAH!!!""".
Baik Dylan dan Filaret segera terkejut dan secara spontan memanggil Hyoga.
Belum bisa bernafas lega, sekelebat bayangan itu langsung menghantam Filaret dan juga melemparnya.
"FIRA!!!".
Dylan juga segera berteriak memanggil Filaret yang juga ikut terpental.
(Sial, ini gawat.... Ternyata musuhku bukan hanya monster saja.... Saat aku merasakan keberadaannya, dia sudah berada dalam jangkauan ku.... Tapi, meski begitu. Aku masih tidak bisa memperingatkan Ayah dan Filaret... Dia....).
"Hei, lihat kemana kau. Nak?".
(.... Dia sangat cepat).
Bayangan itu langsung menyerang Dylan dengan sebuah tendangan ke atas yang sangat keras dan cepat.
Untungnya, Dylan bisa menghindar dengan salto beberapa kali ke belakang. Dan adegan itu membuat bayangan itu terkejut sesaat.
Setelah memperbaiki postur tubuhnya, Dylan segera mengalihkan pandangannya ke arah bayangan yang menyerangnya barusan.
"Hehe... Ternyata kau bisa menghindari serangan barusan, ya. Sudah kuduga kau memang kuat. Lebih kuat dari pria tua dan gadis yang barusan ku hempaskan".
Dylan terkejut melihat siapa sosok orang yang menghempaskan Hyoga dan Filaret.
(Penampilan pria ini.... Aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat.... Tapi, aku tidak ingat siapa dia).
Dylan bergumam didalam pikirannya dan berusaha mencari sesuatu di ingatannya soal pria yang ada di depannya sekarang.
"Apalagi kau berhasil selamat dari serangan para monster barusan..... Dan kau juga menyelamatkan penduduk kota dengan membuat sebuah parit besar yang sangat dalam lalu mengisinya dengan air.... Memang jika kau membangun sebuah Parit di depan dinding kota untuk kedepannya pasti para monster atau bahkan orang yang ingin menyerang kota ini tidak akan bisa masuk..... Dan andai ada yang berhasil melintas, kalian tinggal menghabisinya saja..... Harus aku akui itu rencana yang bagus..... Hanya saja, kau tidak menduga kalau para monster itu di kendalikan oleh seseorang, kan? Jadi, apa aku benar?".
Dylan hanya bisa mendecitkan gigi belakangnya saat mendengar semua kesimpulan yang di ambil pria yang ada didepannya.
"Siapa.... Siapa kau?".
Tanpa basa-basi lagi, Dylan segera menanyakan identitas dari pria itu.
"Oh, aku?... Benar juga, rasanya tidak sopan jika tidak memberitahu namaku....".
Lalu pria itu mulai berpose megah dan memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal, nak!? Namaku adalah Oscar Niville Dragonia.... Seorang ksatria suci milik Kerajaan Rachael... Sekaligus, orang yang mengendalikan kawanan Monster tadi".
Dylan segera membelalakkan kedua matanya saat tahu siapa orang yang ada di hadapannya.
Bukan karena takut, melainkan orang yang ada di depannya adalah karakter pendukung yang seharusnya membantu pahlawan.
(Tunggu sebentar!? Apa-apaan ini? Bagaimana seseorang yang harusnya membantu pahlawan di masa depan. Malah melakukan penyerangan ke wilayah Arcadia).
"Jangan bercanda denganku, bangsat".
Dylan tanpa sadar mengeluarkan gumaman jengkelnya.
Saat itu, dia langsung mengambil kesimpulan bahwa alur cerita di dalam game itu pasti memiliki akhir yang buruk untuk kedepannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
abdillah musahwi
nih MCnya main skip saja paling kalo ada keterangan/alur cerita yang ada di gamenya, biar cepat tamat
2024-07-13
2
Nino Ndut
jujur gw curiga mc asal namatin game nih..masa dia banyak miss ama info2 penting..
2024-03-07
3
Frando Kanan
pendukumg mlh jd terbalik
2023-12-18
1