Dylan terkejut setengah mati, matanya yang biasanya tidak terbelalak, menjadi terbuka lebar saat mendengar nama dari orang yang baru saja menghempaskan Hyoga dan melempar Filaret.
Oscar Niville Dragonia.
Adalah nama karakter pendukung dalam "Long Life Braver" dia digambarkan sebagai Ksatria suci dari Kerajaan Suci Rachael.
Di gamenya, dia menjadi karakter yang akan membantu pahlawan Reiner dalam misi penaklukan salah satu dari 3 bos terakhir yaitu Raja Dewa Naga, Fafnir.
Oscar juga berperan sebagai mentor pahlawan sekaligus anggota party pahlawan. Dia terkadang memberikan beberapa misi-misi tertentu.
Jiwa yang ada didalam Dylan tahu hal itu, karena dia sudah berkali-kali menyelesaikan "Long Life Braver" di kehidupan sebelumnya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah.
Kenapa karakter pendukung yang seharusnya membantu pahlawan, malah menjadi dalang di balik hancurnya wilayah Arcadia.
"Oscar Niville Dragonia? Bukankah kau kursi ke 9 dari 10 ksatria suci Kerajaan Rachael!!! Apa yang kalau lakukan disini?".
"Wow, luar biasanya. Seperti yang di harapkan dari putra Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Aracadia. Bisa tahu siapa aku dengan sekali lihat saja. Yah, meski ini tidak ada hubungannya denganmu yang akan segera mati... Tapi, akan aku ceritakan sebagai bekal perjalanan mu ke akhirat".
Dylan segera menyepitkan kedua matanya, bersiap mendengar penjelasan Oscar.
"Begini, ya. Aku berencana untuk menghancurkan Kerajaan Ingrid yang berdekatan dengan wilayah Arcadia.... Dan wilayah ini adalah titik penting bagi penyerangan kami ke Kerajaan Ingrid.... Selain memiliki pelabuhan dan berdekatan dengan Laut. Wilayah ini juga di kelilingi hutan dan dataran tebing yang tinggi.... Jika terjadi peperangan inilah lokasi yang bagus dan kami bisa mengirim tambahan bantuan pasukan dan pasokan logistik melalui jalur darat dan laut".
Oscar merubah ekspresi menjadi ekspresi malas.
"Awalnya aku berpikir, apa untungnya menyerang wilayah ini?..... Tapi,...".
Ekspresinya tiba-tiba menjadi senyuman menakutkan.
"... Saat aku dengar wilayah ini di kelola oleh pahlawan Kerajaan Ingrid, Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia. Maka tanpa pikir panjang aku merima misi ini agar aku bisa berduel dengannya.... Namun, aku tahu dia tidak akan keluar begitu saja.... Jadi, aku gunakan para monster untuk memancingnya keluar..... Namun, tidak aku sangka bahwa dia punya seorang putra yang sangat menarik perhatianku.... Dan ini pasti akan menjadi sangat menarik".
Dylan berusaha tetap tenang menanggapi senyuman dan provokasi sarkas dari Oscar.
"Begitu, ya. Jadi itu maksudmu".
Kemudian, Dylan segera mengarahkan pedang katana nya ke Oscar dan mulai berbicara.
"Singkatnya, inti perkataan mu barusan adalah bahwa kau berniat memicu peperangan, kan?.... Maaf saja. Tapi, aku tidak akan membiarkan kau mengambil alih wilayah ini sebagai basis militer mu".
Dylan membalas provokasi Oscar dengan provokasi juga. Melihat respon Dylan, Oscar mulai tertawa terbahak-bahak.
"Kuku... Hahahaha....!!!! Bisa-bisanya kau berbicara dengan kondisi tubuh yang penuh dengan luka dan baju compang-camping seperti itu!!! Dengar baik-baik, nak.... Kalau kondisi mu sempurna, sudah pasti aku akan kalah. Tapi, saat ini bukan hanya kehabisan stamina saja. Badanmu juga di penuhi banyak luka karena melawan para monster-".
Pandangan Oscar teralihkan ke seekor monster yang sekarat di sebelahnya. Dan tanpa basa-basi dia langsung menghujamkan pedangnya ke monster yang sekarat itu dan kembali berbicara.
"Tidak seperti ksatria suci yang lain... Aku selalu bertarung dengan cara melemahkan lawanku terlebih dahulu. Setelah itu, aku baru menghabisinya. Itulah yang disebut "Teknik Perburuan"..... Jadi, kau pasti mengerti kan?".
Ucap Oscar sambil menjilat darah monster yang menempel di pedangnya.
"Maaf menyela pembicaraan kalian".
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dan membuat Dylan dan Oscar mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Tapi, aku tidak akan membiarkan putra semata wayang ku bertarung seorang diri".
"AYAH!!".
Dylan berteriak memanggil Hyoga yang sudah kembali bangkit dan berniat membantunya.
"Bukan cuma, Ayah saja!?.... Aku tidak bisa membiarkan Kakak laki-laki ku kesusahan".
"FIRA!!!".
Selain Hyoga, Filaret segera berdiri sambil menggenggam sabit miliknya dan berniat membantu untuk melawan Oscar. Dylan yang melihat keduanya baik-baik saja, tanpa sadar mulai tersenyum samar.
"Kalian berdua... Jangan sampai mati, ya".
"Hah? Apa maksudmu itu? Siapa juga yang akan mati? Ayahmu ini pria jantan tahu!!"
"Ayah, Nii-san... Bisa kalian berdua lebih peduli pada kondisi tubuh kalian".
Hyoga segera terpancing emosinya saat mendengar provokasi tersirat dari mulut Dylan dan Filaret berusaha menjadi penengah di antara keduanya.
"Haaaaa..... Aku tidak paham dengan apa yang Hyoga dan gadis itu ocehkan.... Tapi, ya sudahlah. Kalian bertiga serang lah aku.... Akan aku kirim kalian bertiga ke alam baka".
Dengan memancarkan aura yang mengerikan Oscar menantang Dylan, Hyoga dan Filaret dalam pertarungan 3 vs 1.
(----------)
Sementara itu di dalam dinding, para warga masih panik dengan apa yang barusan terjadi. Mereka semua terus berharap dan merasa cemas di saat yang bersamaan.
Mereka sangat cemas apabila kawanan Monster itu berhasil menerobos dinding kota. Dan di satu sisi mereka juga berharap bahwa semua ini akan segera berakhir.
Tak terkecuali Pavline yang saat ini sedang berusaha menenangkan para warga. Meski terlihat tegar di luar, di dalam hati kecilnya yang paling dalam Pavline sangat khawatir dengan kondisi suami dan kedua anaknya itu.
Sebenarnya, setelah mendapat laporan dari Ksatria yang ditugaskan mengecek situasi dari atas dinding.
Mereka tahu, bahwa Dylan bertarung seorang diri diluar mengalihkan perhatian para monster itu.
Mendengar hal itu, Hyoga segera pergi untuk membantu putranya yang bertarung seorang diri diluar. Filaret juga ikut pergi dengan Hyoga, walau awalnya dia menolak. Melihat kegigihan di mata Filaret, membuatnya terpaksa mengizinkannya ikut.
Pavline berniat untuk ikut membantu Dylan menghadapi para monster di luar. Tapi, hal itu langsung di cegah oleh suaminya dengan berkata.
"Kita butuh seseorang yang bisa membuat warga tetap tenang di situasi ini. Dan orang yang cocok untuk tugas ini adalah kau, Pavline".
Meski sangat keberatan, mau tidak mau dia harus melaksanakan perintah dari suaminya. Dan membiarkannya pergi untuk membantu Dylan.
"Nona Pavline!!".
Pavline yang saat ini sedang tertunduk cemas, tiba-tiba terkejut saat salah seorang ksatria memanggil namanya. Lalu Pavline segera memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Ehem.. Apa ada yang ingin kau sampaikan? Ini sudah lebih dari 3 jam sejak para monster itu menyerang".
"Berkat parit yang muncul entah dari mana, para monster tidak bisa menyebrang dan menyentuh dinding kota sehingga kita tidak memiliki satupun korban".
(Heh? Parit? Memangnya ada Parit tepat didepan kota? Apa ini perbuatan Hyoga? Tapi, dia tidak pernah menceritakan apapun? Kalau bukan Hyoga, terus siapa? Fila-chan terus bersama ku.... Yang berarti....... Parit itu pasti ulah Dy-chan).
Pavline menganggukkan kepalanya, sebagai tanda dia paham apa yang di laporkan barusan.
"Dan saat kami cek, parit misterius itu mengitari seluruh dinding kota Linic. Dan seperti dugaan, Nona. Tuan Hyoga, Tuan Dylan dan Nona Filaret sedang bertarung melawan monster diluar gerbang masuk kota. Para ksatria sudah memastikan suaranya. Dan kami sangat yakin".
"Kerja bagus, terima kasih atas laporannya. Kau sudah boleh pergi".
"Maaf nona".
"Ada apa?".
Melihat ksatria itu sekali lagi memanggil namanya membuat Pavline kembali melihatnya.
"Ano... Bukankah lebih baik kami membantu mereka? Setidaknya kita bisa menggunakan panah dan sihir dari atas dinding".
Ksatria itu tampak cemas karena tidak bisa berbuat apa-apa. Pavline paham akan hal itu, tapi dia memilih untuk menyingkirkan perasaan cemasnya dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi tegas.
"Apa katamu? Para monster itu tidak bisa masuk kedalam kota itu karena suami dan kedua anakku menarik perhatian mereka. Kalau kalian tembaki mereka, perhatian monster itu akan teralihkan kepada kalian. Dan itu akan menempatkan kota beserta para penduduk dalam bahaya. Selain itu musuh bukan hanya ada di darat saja".
"Namun nona, kami-".
"Aku tahu perasaan kalian. Tapi kali ini bisakah kalian serahkan masalah ini pada suamiku dan kedua anakku. Meski menyesal, perbuatan kalian hanya akan menjadi penghambat bagi mereka bertiga".
"..... Baiklah, jika itu memang perintah Nona".
Meski tampak kecewa, ksatria itu segera pergi melaksanakan perintah dari Pavline. Setelah ksatria itu pergi, Pavline segera duduk di kursi menghembuskan nafas panjang dan ekspresi wajahnya kembali menjadi cemas.
"Apa Dy-chan dan Fira-chan baik-baik saja, ya? Memang kalau bersama Hyoga, mereka akan baik-baik saja. Tapi sebagai ibu, rasanya itu-".
"Nona Pavline".
Seorang maid bernama Tina yang menjadi pelayan baru terlihat seusia dengan Dylan dan Filaret segera menaruh secangkir teh dan mulai berbicara setelah melihat ekspresi sedih dari Pavline.
"Nona tidak usah khawatir. Mereka bertiga pasti baik-baik saja!!! Soalnya Tuan Dylan dan Nona Filaret itu sangat kuat, kan?".
"Iya, iya, jika Tina-chan yang bilang. Itu pasti benar".
"Bukan hanya aku saja, tapi semua ksatria dan semua orang di wilayah Arcadia ini tahu seberapa kuatnya Tuan Dylan. Apa nona ingat, saat Tuan Dylan ikut festival pedang yang kita adakan?".
"Eh? Iya tentu aku ingat. Kalau tidak salah, Hyoga yang mengadakan... Itu benar-benar kenangan yang memalukan".
"Tidak juga kok, Nona!!! Karena adanya festival itulah para ksatria dan semua orang di wilayah Arcadia, terkhususnya kota Linic ini mengakui kehebatan Tuan Dylan. Bahkan Tuan Hyoga saja di buat kewalahan saat latihan tanding di Mansion, kan?".
"Ah iya itu benar.... Saat itu aku benar-benar sangat terkejut. Hyoga dan aku terus bertanya-tanya dengan gaya bertarung Dylan yang aneh dan bentuk pedangnya yang unik. Tapi, saat Hyoga mengajaknya bertanding. Di luar dugaan pertandingan mereka malah berakhir seimbang".
"Lalu selanjutnya adalah diluar dugaan".
Pavline dan Tina kembali teringat saat Dylan dan Hyoga berlatih pedang bersama. Kejadian tak terduga yang mereka maksud adalah saat dimana momen kedua pedang mereka sama-sama terlepas dari tangan mereka.
Bukannya menyelesaikan pertandingan, mereka malah melanjutkan pertandingan dengan saling adu baku hantam.
Tampak raut wajah keduanya yang sangat menikmati momen itu dan mengabaikan reaksi semua orang hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
"Tapi, menurutku yang terkuat itu tetaplah Nona Pavline".
"Eh? Tina-chan. Apa maksud mu itu?".
Melihat Pavline yang kebingungan, Tina mulai menjelaskan apa yang dia katakan tadi.
"Maksudku itu, tak peduli sekuat apapun mereka. Baik Tuan Hyoga dan tuan Dylan, mereka tidak bisa melawan Nona Pavline yang sedang marah".
Gambaran saat Dylan dan Hyoga mendapat omelan dan amarah Pavline karena kelakuan mereka yang sudah keterlaluan sampai membuat keduanya tertunduk lesu.
Dan Filaret yang dengan sangat putus asa mencoba menenangkan ibunya yang sedang mengungkapkan amarahnya. Muncul dalam benak Tina.
"Ya ampun,.... Tina-chan bisa saja. Rasanya aku menjadi sangat malu... Tapi, aku jadi tenang karena mu... Terimakasih ya, Tina-chan".
Lalu, terdengar sebuah ledakan yang langsung mengakegetkan semua orang.
"Suara apa itu?".
"A-apa tembok yang menutup gerbang itu hancur?".
Mereka tahu kalau sumber ledakan itu berasal dari gerbang masuk Kota dari kepulan asap yang membumbung tinggi.
"Bukankah lebih baik kita pergi?".
"Memangnya diluar dinding itu lebih aman?".
"Bagaimana kalau masih ada monster yang tersisa?".
"Lalu, bagaimana keadaan Tuan Hyoga, Tuan Dylan dan Nona Filaret?".
"Mungkin mereka bertiga sudah....".
"PARA WARGA KOTA LINIC SEKALIAN!!!!".
Tiba-tiba suara seorang wanita menggema di sana. Dan saat para warga menoleh ke sumber suara. Yang mereka lihat adalah Pavline yang sekarang berdiri di atas semacam podium dari tumpukan kotak kayu.
"Para warga sekalian. Apa mungkin kalian tidak mempercayai dengan Suami dan kedua anakku juga?.... Pasti tak ada yang seperti itu, kan?".
Pavline menanyakan hal itu sambil tersenyum lebar tapi mengeluarkan aura yang mengerikan. Para warga yang melihat sosok Pavline yang seperti itu langsung gemetar ketakutan.
"Te-tentu saja... Kami percaya. Benarkan semuanya?".
"I-iya".
"Ka-kami percaya kok".
Para warga tidak punya pilihan selain menjawab pertanyaan Pavline sambil terus gemetar.
"Kalau begitu, maka kita semua tidak perlu tergesa-gesa. Walaupun kita tidak bisa bertarung, pasti ada hal lain yang bisa kita lakukan".
"Yang nona katakan memang benar".
"Kalian semua segera kumpulkan orang-orang. Utamakan anak kecil, wanita dan orang tua".
"Setelah itu pastikan jumlah obat-obatan dan makanan".
Melihat para ksatria dan warga yang mulai bahu membahu satu sama lain, membuat Pavline bisa bernafas lega.
Namun, tidak ada yang tahu.
Bahwa sedari tadi, Pavline terus mengepalkan tangannya dengan sangat kencang dan badannya terus bergetar. Sebagai tanda bahwa dia sedang berusaha menahan rasa takut dalam hatinya sekuat mungkin.
Tidak ada yang memperhatikan hal itu, kecuali Tina yang ada disampingnya.
(Sudah kuduga, Nona Pavline itu kuat. Meski dia yang paling khawatir dengan keselamatan ketiganya. Dia berusaha untuk menutupinya agar orang disekitarnya tidak ikut khawatir).
Tia kemudian mengalihkan pandangannya kearah langit. Dan dia mulai tenggelam dalam pikirannya.
Dia masih ingat betul.
Hari saat pertama kali bertemu dengan Dylan, saat itu dia hanya seorang anak yatim yang berkeliling sambil menjual bunga. Tina melakukan itu untuk bisa menghidupi ibunya yang sedang sakit.
Suatu hari, saat Tina sedang berjualan seorang pria tidak sengaja menabraknya dan menjatuhkan keranjang berisi bunga yang hendak dia jual.
Akibatnya, bunga itu menjadi kotor dan rusak sehingga tidak bisa di jual lagi. Melihat hal itu membuat Tina menangis.
Bukannya membantu orang itu malah terus berjalan mengabaikan Tina yang menangis sambil mengambil kembali bunganya yang rusak dan kotor.
Lalu, saat dia sedang mengambil bunga-bunga itu, seorang anak laki-laki datang membantunya. Sedikit berbincang, meski baru bertemu Tina mulai bercerita semua tentang dirinya.
Sampai akhirnya, Tina baru tahu bahwa anak laki-laki yang menolong dan diajaknya bicara adalah Dylan Van Arcadia putra tuan tanah Arcadia.
Tina tentu saja sangat terkejut. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi Dylan mengulurkan tangan dan menawarinya pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan yang stabil.
Yaitu menjadi Pelayan di mansion Arcadia. Dan belum sampai disitu Dylan juga membantu pengobatan ibu Tina sampai sembuh total tanpa dipungut biaya. Bahkan Ibu Tina bernama Tordelis juga dipekerjakan sebagai Pelayan.
Setelah mengenang hal yang paling membekas di hatinya, Tina mulai menggenggam kedua tangannya dan mulai bersikap seperti sedang berdoa.
(Tuan Dylan. Anda adalah bangsawan yang berbeda dari kebanyakan bangsawan yang ada. Anda sama sekali tidak membanggakan status anda, tidak ragu untuk berkomunikasi dengan kami rakyat biasa dan bahkan turun tangan sendiri untuk membantu dan melindungi kami seperti sekarang. Karena itu, kumohon kembalilah dengan selamat karena banyak orang yang menunggu anda).
Di dalam lubuk hatinya, Tina berdoa agar Dylan kembali dengan selamat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-19
2