Di kamar Dylan.
Saat ini Dylan sedang duduk ditempat tidurnya dengan Filaret menemani dan membantu menyuapi nya makanan.
"Nii-san, Aaaaa".
Melihat tingkah Filaret yang memperlakukan nya seperti anak kecil membuat Dylan sedikit jengkel.
Namun apa daya, Dylan hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan itu.
Ketika Dylan sedang mengunyah makanan yang ada di mulutnya, dia sadar bahwa Filaret terus memperhatikannya.
"Kau sedang apa, Fila?".
Dylan yang penasaran dengan yang dilakukan Filaret mencoba untuk bertanya.
"Nii-san!? Ada apa dengan kedua mata mu itu!?".
"Memang apa ada yang salah dengan mataku?".
"Hmmm..... Setelah ku perhatikan baik-baik!? Mata Nii-san seperti mata predator!?.... Soalnya pupil mata Nii-san itu tidak bulat, melainkan berbentuk gari Vertikal".
".......... Fila bisa kau ambilkan aku cermin!? Biar aku lihat sendiri........".
Filaret segera berdiri untuk mengambil kaca dan menyerahkannya ke Dylan.
Begitu melihat pantulan dirinya di cermin, Dylan tahu bahwa yang dikatakan Filaret itu memang benar adanya.
Iris mata Dylan tetap berwarna biru tua yang berbeda bentuk pupil matanya berubah menjadi garis vertikal.
Dan sekali lagi dia mencoba perhatikan kedua matanya didepan cermin.
Selang beberapa saat akhirnya dia sadar bahwa matanya sekarang mirip dengan mata milik Fafnir.
CLACK...
Saat Dylan merenung soal matanya yang berubah, terdengar suara pintu terbuka. Dylan dan Filaret segera menoleh kearah pintu dan melihat seseorang yang masuk ke dalam.
Orang itu adalah Pavline Ibunya.
"Dylan, apa kau sudah baikan?".
"....Ah ya,......Aku sudah baikan, ibu".
"Syukurlah kalau begitu".
Ibunya segera tenang setelah mendengar itu dari mulut putranya sendiri.
"Oh ya, Fila-chan bisa kau keluar sebentar!? Ada sesuatu yang harus ibu bicarakan dengan, Kakakmu".
"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu".
Filaret segera berdiri dan meninggalkan ruangan sambil menutup pintu kembali.
"Memangnya, apa yang ingin ibu bicarakan denganku?".
Tanpa menjawab pertanyaan Dylan, Pavline segera duduk di kursi yang tadi dipakai Filaret dan mulai berbicara.
"Dylan.... Ibu mohon tolong jangan ada yang ditutupi lagi".
"Huh?".
"Ibu tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Ayahmu dan Sonia?..... Jadi, tolong jawab ini, nak?...... Soal energi sihir mu yang tidak terbatas?.... Soal kau yang bertarung dengan Raja Dewa Naga Fafnir?.....Half-Dragon...... Gelar "Pembunuh Naga"........ Dan soal Uniqe Skill milikmu itu?...... Tolong jangan ada yang disembunyikan dari ibu lagi..... Ibu mohon Dylan.... Ibu mohon".
Sambil menetaskan air mata Pavline meminta penjelasan dari putranya.
(Eh?... Tunggu dulu?..... Half-Dragon?..... Pembunuh Naga?.... Uniqe Skill?.... Apaan itu?.... Seingat ku di gamenya tidak ada hal-hal semacam itu!?..... Memangnya Karakter Dylan itu punya semacam Uniqe Skill?.... Kok aku baru tahu!?.... Belum lagi ibu meminta ku menjelaskannya?..... Ya, mana aku tahu lah?..... Terus aku musti jawab apa coba?..... Hmmm... Yosh, ayo kasih alasan yang terdengar masuk akal aja).
Dylan yang kebingungan didalam pikirannya, akhirnya menemukan solusi untuk pertanyaan sulit dari Ibunya.
"Baiklah, kalau itu yang ibu mau.... Tapi, jujur saja aku tidak tahu apapun soal Uniqe Skill milikku.... Sebagai gantinya, akan aku ceritakan bagaimana aku bisa bertarung dengan Fafnir".
Pavline mengangguk paham dengan apa yang putranya katakan.
"Awalnya...... ".
Dylan mulai menceritakan semua yang terjadi padanya tanpa ada yang dikurangi ataupun di lebihkan.
"Begitulah... Apa yang terjadi padaku!?".
Ibunya hanya bisa tertunduk diam setelah mendengar semua cerita Dylan.
"Dan soal skill Limitless,.... Jujur aku baru tahu!?.... Andai saja memang benar skill itu yang membantuku untuk mengalahkan Fafnir aku sangat bersyukur memilikinya.... Tapi, ibu tidak usah khawatir.... Jika skill itu juga bisa menyakitiku dan membuat Ibu atau Ayah khawatir.... Maka, aku tidak akan menggunakan nya".
Dylan mengatakan itu untuk membuat Ibunya tidak khawatir akan dirinya.
Mendengar hal itu Ibunya menunjukkan ekspresi yang lebih tenang dari sebelumnya.
"Baiklah, ibu senang mendengarnya!? Tapi, kau harus janji satu hal!? Kau tidak boleh membuat kami semua khawatir, mengerti!?".
"...... Baiklah... Aku janji.... ".
Sedikit dipaksa, Dylan menyetujui apa yang ibunya minta.
".... Tapi, .... Aku juga punya permintaan".
"Apa itu, Dylan?".
"....... Jangan pernah memberitahu Filaret soal apa yang terjadi padaku!?....... Mau sekeras apapun dia bertanya...... Aku tidak mau dia khawatir".
"Baiklah, Ibu janji".
Begitu pun dengan sang Ibu yang juga berjanji untuk tidak memberi tahu soal Dylan yang sekarang memiliki gelar sebagai "Pembunuh Naga" dan tetang dirinya yang bervolusi menjadi Half-Dragon.
Namun, baik Dylan maupun Ibunya tidak sadar.
Bahwa di balik pintu Kamar Dylan ada Filaret yang masih di sana menguping semua pembicaraan mereka.
Mengetahui apa yang terjadi pada Kakaknya yang sangat dia sayangi, Filaret hanya bisa menangis.
Filaret bukan bersedih atas apa yang sudah terjadi pada Dylan.
Melainkan menangis karena menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Kakaknya yang sudah banyak membantunya.
Sejak Dylan menolong nya keluar dari keterpurukan, Filaret selalu berusaha untuk menjadi sosok yang bisa mendukung atau bahkan melindunginya di masa depan.
Tapi, jangankan menolong.
Membantu penyembuhan Dylan saja dia tidak bisa.
Di hari itu juga, Filaret bertekad akan menjadi lebih baik, bukan hanya akan melindunginya saja. Tapi, juga menjadi orang yang bisa berjalan di samping sebagai pendamping nya.
Menyeka air matanya, kali ini Filaret menunjukkan ekspresi yang penuh dengan tekad, tapi di satu sisi sangat menakutkan.
"Kau tidak usah khawatir, Nii-san!?.... Aku akan berusaha untuk berjalan di sampingmu, mulai sekarang!?.... Dan jika ada ancaman yang datang akan aku singkirkan mereka yang ada dijalan kita!?.... Sekalipun penghalang itu adalah Dewa".
Filaret segera pergi menuju kamarnya untuk mulai berlatih sihir dengan tekad yang baru.
Dia mengeluarkan aura yang menyeramkan sehingga para pelayan yang melintasinya menjadi sangat ketakutan.
(----------)
1 bulan sudah berlalu.
Sekarang kondisi Dylan sudah kembali sembuh total.
Meski baru saja sembuh, Dylan kembali melakukan latihan.
Hanya saja kali ini tujuan latihannya adalah untuk mengukur seberapa jauh perubahan fisik dan kekuatannya setelah mengalahkan Raja Dewa Naga, Fafnir.
Serta mengendalikan kekuatan fisiknya yang telah berevolusi sebagai Half-Dragon.
BANG.
Suara kerasa dari sebuah batu besar yang hancur berkeping-keping setelah menerima sebuah tinjuan dari Dylan.
Melihat baru besar itu hancur berkeping-keping karena menerima tinjunya, Dylan menunjukkan ekspresi sedikit kecewa.
"Haaaa..... Hancur lagi!?..... Padahal tadi itu cuma tinju biasa!?..... Kurasa tugas pertamaku adalah untuk mengendalikan dan menyesuaikan kekuatan diriku sebagai Half-Dragon".
Dylan hanya melayangkan sebuah tinju ringan.
Namun, tinjuan itu memberikan efek yang cukup parah.
"Nah, sekarang..... Joe-san!?......... Apa kau sudah siap".
Dylan memanggil Joehart kepala pelayan keluarga Arcadia yang saat ini sedang memegang busur dan sebuah anak panah yang di arahkan tepat ke Dylan.
"Tu-tuan.... Apa anda yakin akan melakukan ini?".
Joehart ketakutan saat Dylan menyuruh untuk memanah dirinya.
"..... Tidak usah khawatir, Joe-san!?..... Tembakan saja...".
Dylan meminta Joehart agar tidak khawatir dan segera menembaknya.
"Kalau anda kenapa-kenapa jangan salahkan aku".
Joehart dengan sangat keras menarik anak panah itu, melapisinya dengan sihir dan melepaskannya.
Anak panah sihir itu melesat dengan kecepatan tinggi membelah udara dan mengarah tepat ke kepala Dylan.
Tapi, secepat apapun anak panah sihir itu. Nyatanya panah itu tidak pernah sampai ke Dylan.
Alasannya, karena Dylan sudah menangkap anak panah itu hanya dengan tangan kosong.
Melihat Dylan yang berhasil menangkap nya, Joehart yang dari tadi khawatir akan keselamatan Tuannya akhirnya bisa bernafas lega.
Sementara Dylan, mengambil sebuah
kesimpulan dari percobaan tadi.
"......Ternyata, bukan hanya kekuatan Fisik dan Sihir ku saja yang meningkat!?..... Panca indra dan Responku terhadap serangan juga ikut meningkat".
Kemudian Dylan berpikir sejenak, hal itu bisa terlihat dengan kebiasaannya yang suka memejamkan mata dan tangan kanannya menyentuh dagunya sambil menunduk ke bawah.
Ketika tangannya turun dan matanya kembali terbuka, itu sebagai tanda bahwa dia sudah mengumpulkan ide di kepalanya.
".... Joe-san".
"Ha".
"..... Bisa kau panggilkan para Ksatria ke sini".
"Huh? Memanggil para Ksatria? Untuk apa?".
"..... Aku ingin sparring battle dengan mereka".
"Anda serius, Tuan".
"...... Tentu saja.... Tolong panggil mereka".
"Baiklah".
Joehart segera bergegas pergi memanggil para Ksatria. Dan beberapa saat kemudian para Ksatria segera datang ketempat Dylan.
"Lapor!? Kami, Ksatria Arcadia!? Datang untuk menemui Anda".
Sang Kapten segera memberi hormat pada Dylan di ikuti oleh para prajurit mengikutinya.
".... Tidak usah terlalu formal, Kapten Sebas..... Kita sedang tidak menjalani Misi Ekspedisi... ".
Nama dari Kapten tim ekspedisi yang Dylan dan Filaret ikuti adalah Sebastian Floki.
Dia seorang pria paruh baya yang sudah mengabdikan diri menjadi Ksatria keluarga Arcadia lebih dari 30 tahun lamanya.
Meski sudah tidak muda lagi, kemampuan beliau dalam hal ilmu berpedang tidak perlu diragukan.
"Ha!? Boleh saya tanya?.... Ada keperluan apa anda memanggil kami kemari".
".... Ah, soal itu..... Aku ingin kalian semua.... Menyerangku secara bersamaan".
"Eh?".
Sebastian dan para prajuritnya segera terdiam sesaat, melihat mereka terdiam Dylan segera menjelaskan tujuannya.
"..... Kalian tidak usah khawatir..... Aku hanya ingin melatih..... Sampai mana batas Staminaku..... Jadi, aku hanya akan menghindar saja... ".
".... Tapi, tuan!? Apa anda yakin? Kami mungkin bisa melukaimu!? Dan kami pasti akan mendapatkan teguran keras dari Tuan Hyoga dan Nona Pavline".
".... Aku sudah bilang pada Ayah dan Ibu soal apa yang akan aku lakukan....... Kalian tidak akan dapat teguran apapun soal ini.... Jadi,..... Langsung..... Serang aku dengan segenap kemampuan kalian... ".
"Baiklah!?.... Kalau begitu!?..... Semua tarik pedang kalian dan beriap untuk bertarung".
Dylan mengklaim bahwa dia sudah mendapatkan izin dari Ayah dan Ibunya.
Setelah memastikan hal itu Sebastian segera berdiri dan memberi aba-aba pada prajurit nya untuk siap bertarung.
Begitu sinyal diberikan, dimulai lah latihan pertarungan antara Dylan melawan Kapten Ksatria dan prajuritnya yang berjumlah sekitar 100 orang.
(----------)
Siang harinya.
Di tempat latihan.
Dylan berdiri sambil memegang jam tangan saku yang dia bawa. Tujuannya adalah untuk melihat berapa lama jumlah waktu yang terlewat.
"4 jam,.... Sudah selama itu aku melakukan sparing battle dengan para Ksatria!?..... Dan seperti dugaan?.... Staminaku juga ikut bertambah!?..... Nah, sekarang...... "
Dylan memasukkan kembali jam itu kedalam sakunya dan mengalihkan pandangan ke sekitarnya, seketika ekspresi berubah menjadi sangat rumit.
"...... Kurasa aku harus minta maaf pada mereka semua.... ".
Apa yang Dylan lihat adalah para Ksatria yang tadi berlatih bersamanya, tergeletak lemas di tanah.
Bukan karena mereka terluka atau babak belur.
Tapi, alasannya adalah karena kelelahan yang mereka rasakan akibat mereka yang melakukan sparring battle dengan Dylan.
Latihannya, adalah para Ksatria menyerang Dylan dan dia hanya menghindar saja tanpa melakukan serangan balasan.
"Haa..... Kalian semua pulang istirahat saja hari ini..... Nanti aku yang bilang pada Ayah.....".
".... B-b-baiklah.... T-t-tuan..... K-k-kami.... I-i-izin.... U-u-undur.... D-d-diri.... L-l-lebih..... D-d-dahulu..... ".
Dengan badan yang sempoyongan Sebastian dan para Ksatria segera berdiri dan berjalan pergi bahkan ada seorang Ksatria yang harus dibopong oleh Ksatria yang lain.
"Kerja bagus, Tuan Dylan".
"..... Ngapain, kau disini Sonia?".
Secara mengejutkan Sonia pelayan pribadi Dylan tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Bukankah, sudah jelas!? Aku inikan pelayan pribadi, Tuan Dylan".
".......Kalau begitu, lakukan tugasmu dengan baik".
Mengabaikan Sonia, Dylan berjalan meninggalkan tempat latihan dengan Sonia mengikuti di belakangnya.
(Baiklah, sekarang waktunya istirahat sejenak lalu pergi, belajar sihir dengan Ibu).
Selesai istirahat siang, Dylan segera pergi menemui ibunya untuk belajar sihir.
Awalnya Dylan terkejut bahwa cuma hanya dia saja yang belajar hari ini.
Biasanya dia selalu belajar sihir bersama dengan Filaret. Saat ditanya ibunya bilang
"Filaret sedang belajar sihir sendirian di kamarnya".
Mendapatkan jawaban itu Dylan melanjutkan pembelajaran sihirnya.
Nah, alasan Dylan belajar sihir adalah, karena berhasil mengalahkan Fafnir. Dylan yang awalnya tidak bisa menggunakan Sihir Atribut.
Tiba-tiba bisa menggunakannya dan Dylan tahu alasannya karena jiwa dan kekuatan Fafnir sudah menjadi satu dengan dirinya, sehingga sekarang dia bisa menggunakan Sihir Atribut sama seperti Fafnir.
Dylan terus melakukan aktivitas yang sama selama hampir 2 bulan.
Dan tidak melewat kan nya sehari pun.
Sekarang setelah 2 bulan pelatihan.
Akhirnya Dylan mulai terbiasa dan bisa mengendalikan kekuatannya sebagai Half-Dragon.
Namun, sampai detik ini Dylan belum sepenuhnya bisa mengendalikan atau bahkan mengontrol skill Limitless miliki nya.
Setiap kali dia mencoba, itu pasti berakhir gagal dan kalaupun berhasil Dylan hanya bisa menggunakannya selama 2 menit saja.
(----------)
Dimalam hari yang dia tunggu-tunggu telah datang.
Bagi Dylan ini adalah malam yang sangat berat untuknya.
Karena dia tahu berdasarkan skenario di game nya, besok pagi adalah hari dimana event sebelum game dimulai yang disebut "Insiden Panik Monster" akan terjadi.
Screen itu bercerita soal hancurnya wilayah Arcadia karena infasi dadakan para monster dan berakibat pada kematian Ayah dan Ibunya.
Dan hanya Dylan dan Filaret yang berhasil selamat.
Kejadian itu, membuat Dylan memiliki dendam kesumat terhadap Kerajaan karena tidak mencoba untuk melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut.
Sekarang karena tidak mau berakhir dengan yang sama di skenario gamenya.
Setelah makan malam dan kembali ke kamar, Dylan diam-diam pergi menyelinap keluar Mansion dengan menggunakan jubah tudung berwarna hitam dan membawa sebuah lentera yang di dalamnya terdapat baru sihir cahaya.
Sesampainya di hutan, Dylan secara perlahan-lahan berjalan dan terus mengamati sekitarnya.
"...... Dari informasi dari Sebas-san..... Aktifitas monster memang berkurang beberapa hari ini..... Juga tidak ada laporan soal desa yang di serang...... Seperti yang ada di dalam skenario gamenya..... Sekarang,...... Aku harus kemba-.....".
Belum bisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Dylan merasakan ada seseorang selain dirinya di hutan itu yang menatapnya dari belakang.
Reflek segera menoleh kebelakang dan hampir menarik pedang Katana nya, bersiap untuk bertarung.
Setelah memperhatikan sekitar, ternyata tidak ada orang sama sekali. Dylan membatalkan niatnya dan berjalan pergi kembali ke Mansion menghilang dalam kegelapan.
Dari arah belakang ada seorang pria tampan berambut kuning pucat, dengan mata berwarna ungu menggunakan setelan armor berjubah berwarna putih bersih dan membawa sebuah pedang yang dia gantung di pinggang kirinya.
"Hmmm.... Padahal aku sudah menyembunyikan hawa keberadaan ku setipis mungkin.... Tapi, dia tetap menyadarinya.... Orang yang menarik!?..... Nah, sekarang...... Mari kita lihat. Apa kau benar-benar bisa menghiburku besok".
Entah siapa sebenarnya pria misterius itu.
Namun, yang jelas dia berharap Dylan akan dapat menghibur nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
syirubin nadzri
kirim cerita manga lagi yak
2024-06-28
1
Viki D. Widodo
udah baca sampe chapter 8.. sejauh ini alur cerita nya bagus.. tahap perkembangan si MC juga menarik.. cuman karakter figuran nya kurang greget dan pengaruh ke si MC nya kurang.. dan kalo bisa tata bahasa dan penyampaian nya diperbaiki..
itu pendapat ku sih.. selebihnya bagus
2024-02-20
2
the Amay one
👍🏿👍🏿
2023-08-19
1