Sesaat kemudian, Dylan yang terkapar perlahan-lahan mulai bangkit. Sambil menahan rasa sakit dan badan yang lemas dia mencoba untuk berdiri tegak.
"Tidak.... Masih.... Belum..... Cukup..... Aku harus..... Melindungi..... Semua....".
Dengan tertatih-tatih, Dylan bergumam bahwa dia akan terus berusaha melindungi sesuatu yang berharga untuknya.
Perasaan itu muncul kembali seperti saat dia bertarung dengan Fafnir. Perasaan hangat yang diberikan oleh semua orang untuknya. Dylan juga yakin perasaan itulah yang mampu mendorong nya untuk melampaui batasan yang dia punya.
Itu benar-benar terbukti adanya.
Saat Dylan seorang diri berhasil mengalahkan Fafnir dan menghancurkan rantai tak kasat mata yang membelenggu nya selama ini.
Melihat kegigihan yang di tunjukkan Dylan membuat Oscar bangkit dan kembali menyerang nya.
Adu pedang kembali terjadi diantara keduanya. Selama adu pedang itu, Oscar mulai menertawakan sikap teguh yang Dylan pegang.
"Hahahaha....... Kau berusaha mati-matian untuk melindungi orang lain, sampai rela mengorbankan nyawamu!!! Naif itu ada batasnya, Dylan... Perang itu bukan hal yang indah. Orang berpikir bahwa itu hal yang remeh tidak akan bisa bertahan. Ini soal "membunuh atau dibunuh". Orang lain tidak ada hubungannya.... Apa aku salah".
Adu pedang itu terjadi sangat intens. Sampai akhirnya ada sebuah celah di antara mereka, hal itu segera di manfaat Dylan untuk menyerang balik.
Dia segera memperkuat pedang katana nya dengan sihir Augmention, melapisinya dengan sihir angin. Dan meningkatkan kecepatan dan kekuatan fisiknya dengan Boots dan Power Up.
"Phantom Blade. Grand Wind".
Dan dalam sekejap sosok Dylan menghilang di hadapan Oscar. Secara ajaib badannya tiba-tiba saja terkena sebuah tebasan dan menyemburkan banyak darah.
(Sial, aku melesat).
Ternyata serangan itu berasal dari Dylan yang sekarang berada di belakangnya. Oscar sadar bahwa saat melintas tadi, Dylan berhasil mendaratkan serangan ke badannya.
Sementara, Dylan merasa jengkel karena serangannya kembali gagal. Melihat itu Oscar kembali tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha....... Sepertinya, memang aku yang benar. Apa hanya segini kekuatan untuk "melindungi" orang lain itu? Itu salah......".
Bersamaan dengan itu Oscar kembali mengaktifkan skill Berserk nya dan mulai kembali menyerang Dylan.
"....... Dalam pertarungan tidak ada istilah "melindungi orang lain". Mereka tidak lebih dari pada beban. Dan karena prinsip bodoh mu itu, kau tidak mampu mengeluarkan kemampuan aslimu......".
Oscar semakin brutal menyerang Dylan. Dan Dylan hanya bisa berusaha menahan serangan Oscar.
Sadar Dylan tidak terlalu merespon provokasi nya. Oscar mencoba memprovokasi lagi.
"...... Asal kau tahu saja. Di dunia ini, ketakutanlah yang menguasai segalanya. Orang yang percaya dengan kebaikan yang tidak berguna. PASTI AKAN KALAH PADA AKHIRNYA... KAU PAHAM, KAN? DYLAN!!!".
Dengan satu ayunan pedang yang sangat kuat dari Oscar langsung menghempaskan Dylan dan mengirimnya mundur beberapa meter.
Anehnya, kali ini Dylan berhasil menjaga posisinya untuk tetap berdiri.
Perlahan-lahan ekspresi wajahnya kembali menjadi gelap, dia hanya terdiam tanpa bicara apapun. Lalu salah satu tangannya mulai menyentuh dadanya.
Melihat tindakan Dylan yang tiba-tiba menjadi pasif membuat, Oscar juga ikut terdiam meperhatikan nya.
Setelah keheningan yang terjadi beberapa saat. Dylan mulai berbicara menanggapi provokasi Oscar.
"Oscar, aku berterimakasih kepadamu. Berkat kau, akhirnya aku bisa ingat apa yang sudah aku lupakan".
Oscar hanya menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan yang di ucapkan Dylan.
"Kau benar, tekadku yang setengah-setengah tidak akan bisa melindungi orang-orang yang berharga di hidupku. Karena itu......".
Lalu tangan Dylan yang masih menyentuh dadanya mulai mengepal dengan sangat kuat. Dan Dylan kembali melanjutkan omongan.
"....... Mulai hari ini...... AKU TIDAK AKAN PERNAH RAGU LAGI!!!".
Dengan sekuat tenaga, tangan itu seperti menarik sesuatu. Meski tidak terlihat secara kasat mata, yang sebenarnya terjadi adalah Dylan kembali menghancurkan rantai tak kasat mata yang membelenggunya.
Dengan hancur dan lepasnya rantai itu, kekuatan Dylan meningkatkan dengan drastis sampai menimbulkan ledakan sihir yang luar biasa.
"Roooaaarrrr......".
Dengan kekuatan yang meledak-ledak itu, Dylan juga meraung sekeras-kerasnya seperti hewan buas yang baru saja lepas dari sangkarnya.
Oscar yang melihat kejadian itu, hanya bisa terkejut dan diam. Dia mulai bergumam di dalam hatinya.
(A-apa-apaan ini? Kekuatan yang sangat gila sekali? Aku tidak tahu kalau dia punya kekuatan sebesar ini?).
Lalu dia melihat tangan kanannya yang gemetar tanpa henti dan badannya yang terus mengeluarkan keringat dingin.
(Perasaan ini? Perasaan yang sama kurasakan saat itu. Saat bocah ini menatap tajam ke arahku).
Sebenarnya apa yang baru saja dilakukan Dylan adalah dia baru saja mengaktifkan Unique Skill miliknya yaitu Limitless.
Bukan itu saja, bersamaan dengan aktifnya skill itu, kekuatan Fafnir yang ada di dalam tubuh Dylan juga ikut keluar.
Dylan tahu bahwa mengaktifkan skill ini sangat beresiko untuk dirinya sendiri. Karena itu dia hanya punya waktu selama 2 menit untuk menggunakannya.
Dan dia harus menyelesaikan pertarungan ini sebelum 2 menit berakhir.
(----------)
Di dalam kota.
Rupanya teriakan Dylan dan energi sihirnya yang bocor dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk Filaret, Hyoga yang sudah sadar dan Pavline yang berada di base pengungsian
"A-ayah teriakan dan energi sihir ini...".
"Iya, Fira... Tidak salah lagi, ini sihir dan teriakan..... Dylan".
Meski jarak mereka jauh dari gerbang, mereka bisa merasakan kekuatan magis milik Dylan yang meluap-luap.
Ditengah kebingungan semua orang, Pavline yang sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya berdiri dari tempat duduknya dan segera berlari sekencang mungkin menuju tempat Dylan dan Oscar bertarung sekarang.
"Ibu!!".
"Pavline!!!".
Melihat Pavline yang berlari membuat Hyoga dan Filaret memanggil dan memutuskan untuk mengejar nya dari belakang.
Pavline terus berlari sambil terus meneteskan air mata sebagai perwujudan dari rasa khawatirnya yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.
(Dy-chan.... Ibu mohon.... Bertahanlah).
Di dalam hati, Pavline berdoa agar putra tersayangnya itu baik-baik saja.
(-----------)
Di luar dinding.
Sudah 1 menit berlalu. Tersisa 1 menit lagi.
Pertarungan Dylan dan Oscar mencapai *******.
Adu pedang dengan kecepatan tinggi kembali terjadi diantara keduanya. Kali ini setiap kali pedang mereka bertabrakan akan tercipta ledakan yang luar biasa.
Yang membedakan lagi, sekarang Oscar tampak mulai kesusahan mengatasi setiap serangan Dylan.
Meski dia sudah mengaktifkan skill Berserk nya, itu masih belum cukup untuk mengatasi kekuatan besar yang di keluarkan Dylan
(Sial, apa-apaan dia ini).
Oscar yang jengkel mulai mengeluarkan salah satu teknik andalannya.
"Berserk. Guillotine Chamber".
Sebuah serangan tebasan yang besar turun dari langit bersiap menyerang Dylan.
Tidak mau kalah Dylan mengeluarkan salah satu teknik andalannya juga.
"Limitless. Shield Impluse".
"APA?"
Sebuah serangan yang langsung memblok dan menghancurkan serangan Oscar. Hal itu membuat Oscar terkejut.
(Dia menghempaskan energi sihir yang terakumulasi di tanah dan mendorongnya untuk membalik serangan ku sekaligus menghancurkannya).
Tersisa 30 detik lagi.
Sadar waktunya terbatas Dylan kembali menyerang Oscar dengan sangat ganas dan bahkan tidak memberinya jeda.
Setiap Oscar melakukan serangan balik Dylan kembali menangkis nya dengan mudah. Hal itu semakin membuat Oscar jengkel.
"BOCAH TENGIK!!!".
Tersisa 20 detik lagi.
Mereka masih saling berbalas serangan. Namun, sekarang efek samping Limitless mulai terasa. Tapi, sebisa mungkin Dylan mengabaikan nya.
Tersisa 10 detik lagi.
Dylan kembali melancarkan serangannya begitu pun dengan Oscar yang tidak mau kalah.
Tersisa 5 detik lagi.
"AYO KITA AKHIRI INI SEKARANG BOCAH TENGIK".
Oscar yang sudah mencapai batasnya segera bersiap-siap mengeluarkan teknik pamungkas nya sekali lagi.
"BAIKLAH, MARI KITA AKHIRI INI".
Dylan yang juga setuju segera bersiap-siap mengeluarkan teknik pamungkas nya.
Tersisa 3 detik lagi.
Selesai dengan persiapan mereka masing-masing, keduanya segera melesat dan menerjang bersiap untuk bentrokan kekuatan yang akan mengakhiri pertarungan yang panjang ini.
Tersisa 2 detik lagi.
"BERSERK. GUILLOTINE OF SKY".
"LIMITLESS. PHANTOM DIVINE SILA".
Tersisa 1 detik.
Bentrokan keluatan yang sangat dahsyat dan gila terjadi kembali, tapi kali ini dengan daya ledak yang luar biasa. Keduanya sama-sama mengeluarkan seluruh kekuatan yang mereka punya.
Hingga akhirnya, hasil dari pertarungan ini muncul.
Karena tepat saat waktu menunjukkan tersisa 0 detik.
Dylan berhasil menghancurkan kekuatan Oscar. Belum sampai disitu saja, Dylan bahkan berhasil membelah Oscar menjadi 2 dengan menebasnya secara horizontal.
"Ini.... Mustahil.... Aku.... Kalah".
Oscar terkejut dengan hasil pertarungan ini. Dia yakin bahwa dia akan keluar sebagai pemenangnya.
Tapi takdir berkata lain.
Dia malah kalah dari Dylan seorang pemuda yang baru berusia 14 tahun yang seharusnya tidak memiliki pengalaman bertarung.
(----------)
Sementara itu dengan serangan terakhir tadi, kekuatan Limitless Dylan kembali tersegel. Namun, efek Limitless membuat Dylan mulai merasakan kelelahan yang luar biasa.
Setelah kembali tenang, Dylan berjalan menuju Oscar yang sekarang terkapar tak berdaya. Dylan terus menatap Oscar karena dia tahu Oscar belum sepenuhnya mati.
"Kau masih hidup ya, Oscar? Daya tahan tubuh mu boleh juga. Sepeti kecoa saja".
Melihat Dylan mengajaknya berbicara Oscar memutuskan menggunakan waktu terakhirnya untuk sedikit ngobrol dengan Dylan.
"Bocah tengik. Apa segitu bencinya kau kepadaku? Yah, ini menyebalkan karena aku akan mati".
Lalu Oscar mulai memperhatikan Dylan yang tampaknya biasa saja dengan apa yang dia saksikan.
"Hou.... Kau bilang tidak pernah membunuh orang, kan? Terus kenapa kau tidak jijik atau muntah saat melihat kondisiku?".
".... Itu karena, aku sudah mempersiapkan diriku. Agar siap, apabila hari dimana aku melihat kematian tepat di depan mataku sendiri datang".
"Begitu ya.... Haaa, sampai sekarang aku sama sekali tidak mengerti, kenapa pemuda sepertimu bersikeras untuk mengalahkan ku... Sial sekali aku... Padahal tinggal sedikit lagi.... Padahal kalau aku bisa meruntuhkan Kerajaan lain. Lalu jadi Raja. Aku bisa mendapatkan gadis itu".
"Maaf saja, aku tidak peduli apa kau bisa mendapatkan nya atau tidak. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar saja".
"Mulut mu itu pedes banget.... Kau seharusnya menghiburku yang sedang sekarat ini".
Dylan hanya terdiam dan terus melihat Oscar kali ini dengan pandangan yang menunjukkan ekspresi simpati.
"Ya sudahlah... Apapun alasanmu, aku sudah puas bahwa ada seorang pemuda kuat yang bisa mengalahkan ku..... Kurasa ini pertama kalinya aku bisa bertarung sesenang ini.... Tapi, seandainya kau tidak punya Unique Skill yang luar biasa gilanya dan kekuatan aneh tadi, sudah pasti aku yang akan menang..... Bukannya aku tidak terima kekalahan, tapi aku hanya mengatakan kenyataan nya..... Tekad yang kuat, ya..... Kurasa aku tidak ditakdirkan mempunyai nya".
Sambil menatap langit, pandangan Oscar perlahan-lahan mulai memudar. Dan dia tahu waktunya tidak akan lama lagi.
"Aaahh..... Aku akan segera mati..... Selamat tinggal Dylan.... Senang rasanya bisa bertarung dengan mu".
Bersamaan dengan berakhirnya kata itu, Oscar menghembuskan nafas terakhirnya. Mata menjadi kosong dan badannya menjadi kaku.
Dylan yang melihat itu hanya diam seribu bahasa dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Selamat jalan, Oscar... Kuharap kau bisa beristirahat dengan tenang".
Dari arah belakang.
"DY-CHAN!!!".
Dylan langsung tersentak dan segera menoleh kebelakang saat mendengar ada yang memanggil namanya.
Dari nada suara dan caranya menyingkat nama, sudah pasti bahwa itu ibunya. Dan benar saja saat pandangan nya terarah ke gerbang disana ada sosok Pavline yang sedang berlari menuju ke arahnya, di susul oleh Filaret dan Hyoga di belakangnya.
"Ibu, Ayah, Fira".
Dylan mencoba untuk mendekat, tapi baru beberapa langkah badannya mulai linglung dan dia mulai tidak bisa mempertahankan posisinya.
Karena sudah tidak tahan lagi Dylan mulai tumbang. Untungnya, Filaret berlari lebih cepat dari Pavline dan segera memberi dukungan agar badan Dylan tidak terjatuh.
Setelah mendekap Dylan agar tidak jatuh. Filaret memeluknya dengan sangat erat dan mulai menangis sejadinya.
Bukan hanya Filaret saja. Ibunya Pavline juga ikut memeluk Dylan dengan sangat erat lalu menangis sejadinya.
"Uwaaaaa..... Syukurlah, syukurlah Nii-san tidak apa-apa waaaaa".
"Uwaaaaa...... Jangan membuat ibu khawatir, sayang. Ibu tidak tahu harus apa jika kau tidak ada waaa.....".
"Ibu, Fira. Tenang lah aku baik-baik".
Dylan secara putus asa mencoba menenangkan keduanya. Sementara Hyoga hanya bisa melihat sambil menghembuskan nafas sebagai tanda bahwa dia juga lega melihat putra nya selamat.
(-----------)
Setelah momen yang mengharukan itu.
Dylan segera dibawa untuk menerima pengobatan dan Filaret di suruh untuk menemaninya.
Sementara itu Hyoga tetap di tempat itu bersama Pavline untuk memeriksa mayat Oscar. Pavline yang tidak tahu menahu mencoba bertanya kepada suaminya itu.
"Sayang. Sebenarnya siapa dia?".
"Oscar Niville Dragonia. Kursi kesembilan dari 10 ksatria suci milik Kerajaan Rachael. Dia juga disebut yang terkuat diantara 9 anggota yang lain".
"Kalau dia yang terkuat, kenapa malah menduduki kursi ke sembilan. Dan kenapa dia melakukan penyerang kesini?".
"Karena kelakuan nya yang barbar dan brutal itulah dia tidak bisa naik pangkat. Dan alasan kenapa dia menyerang kota ini. Dari yang dikatakan Dylan dia berencana menjadikan wilayah Arcadia ini sebagai basis nya. Untuk memicu peperangan dengan Kerajaan Ingrid".
Pavline langsung tersentak mendengar penjelasan dari Hyoga.
"Yah, pokoknya kita urus dulu mayatnya. Lalu baru kita urus yang lain".
Hyoga segera memberikan instruksi kepada bawahannya untuk membawa mayat Oscar ke kediaman Arcadia. Dan sementara sisanya mengurus mayat monster yang bergelimpangan dimana-mana.
Tanpa mereka sadari ada sosok wanita misterius berjubah hitam mengawasinya dari jarak jauh.
Sejak awal, dia sudah melihat semua pertarungan ini. Dan dia tidak bisa berhenti tersenyum apalagi saat melihat potensi yang Dylan miliki.
"Heeee.... Dylan van Arcadia, ya? Jadi, anak itu yang dijaga Sonia, ya? Aku tidak menyangka bahwa dia "semenarik" ini....".
Wanita misterius itu segera berbalik badannya dan hendak melangkah pergi, tapi dia sempat menengok kearah Kota Linic dan mulai bergumam.
"Kali ini aku mundur dulu, ya..... Aku juga tidak mau berurusan dengan Arc Angel yang sedang marah.... Hibur aku lain kali, ya!!! Dylan-kun".
Wanita itu segera menghilang begitu saja seolah-olah lenyap tak tersisa.
Di sisi lain.
Gerak gerik wanita itu sudah diawasi oleh Sonia yang berdiri di atas menara jam sejak penyerangan itu terjadi.
Dari raut jengkel yang dia pancarkan, sepertinya Sonia tahu siapa wanita misterius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
landax maniak
cm punya skill ini kah wkwk
2025-01-28
1
Frando Kanan
spa ya...wanita misteri itu...
2023-12-18
3
the Amay one
👍🏿👍🏿
2023-08-19
1