Saat ini Dylan sedang melakukan meditasi di kamarnya seorang diri.
Dia sedang mencoba menelaah, mengingat dan harus mengambil tindakan apa untuk masalah Filaret ini.
Filaret van Arcadia adalah salah satu dari 15 karakter wanita yang jatuh cinta pada Pahlawan yang bernama Reiner fou Stanley.
Meski menjadi salah satu minat cinta, nyatanya dia sering dijauhi oleh sesama gadis yang menjadi minat cinta Pahlawan dan dia kurang mendapatkan perhatian dari sang Pahlawan.
Alasannya karena Filaret adalah adik tiri dari karakter penjahat Dylan van Arcadia.
Nah, bagaimana dia bisa menjadi adik tiri Dylan?
Di gamenya Filaret mempunyai bakat sihir yang luar biasa, dia sangat ahli dalam menggunakan 3 sihir atribut yaitu Api, Cahaya dan Petir.
Namun, sayangnya dia selalu mendapatkan ejekan dan hinaan dari ke-2 Kakak perempuannya, Bianca van Pillos dan Lisa van Pillos. Mereka sebenarnya iri dengan bakat yang dimiliki Filaret.
Lalu sebuah insiden terjadi. Saat itu Filaret dipermalukan dalam sebuah acara sosial oleh ke 2 Kakaknya. Ketika Filaret sedang bersedih dengan apa yang menimpanya.
Tanpa dia sadari dia mengaktifkan sihirnya yang berakibat menyerang semua orang yang ada di acara itu termasuk ke 2 Kakak perempuan nya.
Akibatnya dia mendapatkan hukuman dari keluarganya yang berupa pengusiran.
Bahkan Ayah dan Ibunya memanggil Filaret dengan panggilan Monster.
Entah bagaimana Pavline, ibu Dylan menyatakan dengan lantang bahwa dia akan merawat Filaret.
Nah, selama tinggal bersama keluarga Arcadia, Filaret dan Dylan hampir tidak pernah bertegur sapa. Firalet memutuskan untuk menjauh dari Dylan dan Dylan sendiri tidak ada inisiatif untuk mencoba lebih dekat dengan Filaret.
Filaret baru menemukan kebahagian setelah bertemu dengan sang Pahlawan Reiner fou Stanley.
Dengan Reiner yang selalu menyemangati nya, membuat Filaret sangat bahagia.
Dan bahkan rela melakukan apapun untuk sang Pahlawan.
Kembali ke Dylan yang saat ini masih berpikir.
(Sebenarnya... Aku ingin sekali menghindari gadis itu.... Tapi, kalau boleh jujur.... Diantara semua karakter gadis minat cinta Pahlawan... Hanya Filaret yang menurutku paling cantik, baik dan tipeku banget dibandingkan yang lainnya.... Namun, dia selalu jadi karakter yang di sia-siakan Pahlawan.... Jika mengingat latar belakang nya dan bagaimana dia sangat putus asa nya..... Aku jadi sangat simpati padanya..... Terus,..... Apa yang musti aku lakukan......).
Dylan terus mencoba berpikir keras. Dan selang beberapa saat akhirnya dia berhasil menemukan solusinya.
(Oh, ya.... Alasan kenapa Filaret kekeh ada berada di samping Pahlawan meski terus-terusan diabaikan... Adalah karena rasa kesepiannya... Dan jika aku bisa mengatasi rasa kesepiannya itu... Maka, dia tidak akan pernah bergantung dengan Pahlwan.... Dan aku bisa terhindar dari berurusan denganya juga.... Tapi,.... Berarti secara tidak langsung.... Aku malah berurusan dengan salah satu target minat cintanya, dong?..... Yah, itu pikir saja belakangan.... Berarti sekarang.... Aku harus bersikap layaknya seorang Kakak laki-laki yang perhatian terhadap adik perempuan nya).
Setelah menetapkan keputusan apa yang akan dia ambil, Dylan merebahkan badannya dan mulai tertidur pulas.
(---------)
Keesokan paginya.
Setelah sarapan Dylan segera pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuk Filaret, sesampainya didepan pintu dia segera mengetuk nya.
"Filaret, apa kau ada didalam? Ini aku Dylan? Aku masuk, ya?".
"Ah, iya... Silahkan masuk".
Mendapat izin dari Filaret, Dylan segera memutar gagang pintu dan masuk kedalam. Saat ini Filaret sedang berdiri menghadap ke jendela.
"Selamat pagi, Filaret".
"Selamat pagi juga, Tuan Dylan".
"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak sarapan bersama kami?".
"Maaf, tuan Dylan!? Saya masih lelah karena perjalan kemarin".
"Begitu ya!?.... Oh ya, apa kau ingin berkeliling melihat-lihat Mansion ini? Jangan khawatir biar aku yang pandu".
"I-itu tidak perlu, tuan Dylan!? Akan lebih baik kalau aku sendiri saja!? Lagipula,.... Aku hanya... Orang yang menupang tinggal di rumah ini!? Rasanya.... Sangat kurang ajar apabila.... Orang sepertiku meminta.... Anda untuk menemani saya".
Mendengar jawaban dari Filaret membuat Dylan menghembuskan nafas panjang. Lalu dia Dylan kembali berbicara.
"Siapa bilang kau ini "orang numpang"?.... Aku tidak pernah berpikir kau seperti itu".
Filaret tersentak saat mendengar ucapan Dylan.
".......Apa kau sudah lupa!? Bahwa mulai hari ini kau adalah bagian dari keluarga Arcadia!? Yang artinya kau dan aku adalah saudara!? Dan sesama saudara, kita perlu saling sungkan satu sama lain!? Lalu meski usia kita sama, tapi aku lebih tua 5 bulan darimu!? Jadi, mulai hari ini kau boleh memanggilku Nii-san!? Dan agar semakin akrab aku akan memanggilmu Fila, bagaimana".
"Apa aku benar-benar di izinkan?"
Dengan badan gemetar Filaret kembali bertanya dan Dylan tersenyum meski wajahnya tetap datar seperti biasa. Lalu, Dylan tiba-tiba mengelus kepala Filaret.
"Bukan dizinikan lagi...... Tapi, kau harus memanggilku begitu..... Lagi pula kita ini saudara sekarang".
"Baiklah tuan-tidak... Dylan Nii-san".
Dengan ekspresi canggung Filaret mulai memanggil Dylan dengan panggilan Nii-san.
Dan Dylan sangat senang dipanggil seperti itu.
"Yosh,.... Karena semua keraguanmu sudah hilang sekarang, biarkan aku ajak kau mengelilingi Mansion dan memperkenalkan mu dengan semua orang yang bekerja disini!? Ayo, Fila!?".
Dylan segera menggandeng tangan Filaret dan mengajaknya pergi. Di satu sisi Filaret merasa bahwa genggaman tangan Dylan itu hangat dan kuat tapi tidak menyakitkan. Tanpa, disadari Filaret dia perlahan-lahan mulai tersenyum.
Di mulai hari itu mereka selalu menghabiskan waktu bersama seperti Kakak dan Adik.
Hampir tiap hari Dylan membantu Filaret dalam pelajaran etiket bangsawan, menjadi panter tari, latihan piano dan biola dan terkadang dia mengajari Filaret cara mengontrol sihirnya.
Sementara Filaret sendiri, dia sering ikut beberapa aktifitas Dylan seperti olahraga pagi, latihan pedang, latihan teknik bertarung tangan kosong, belajar sihir bersama, membantunya dalam mengembangkan metode BMF.
Selain itu mereka punya kegiatan lainnya seperti berjalan-jalan di kota bersama, pergi memancing di pantai dan lain-lain.
Kenapa Filaret yang seorang penyihir ikut Dylan melakukan olahraga? Jawaban nya ada 2.
Pertama, karena Dylan pernah bilang "seorang penyihir harus memiliki fisik yang kuat agar saat dia kehabisan energi sihir, dia masih bisa melawan musuh dan melindungi dirinya sendiri meski tanpa sihir".
Kedua, karena dia sangat ingin dekat dengan Kakaknya yaitu Dylan.
Dan kedekatan mereka semakin erat tiap harinya.
Lalu sebuah insiden kecil membuat senyum indah Filaret hilang untuk sesaat.
(---------)
Suatu hari.
Dylan mengajak Filaret untuk pergi ke sebuah hutan dekat dengan kota.
Nah, alasan kenapa Dylan mengajaknya kesana adalah untuk melihat hasil latihan dan pelajaran Filaret dalam mengontrol sihirnya.
"Baiklah,... Nah, Fira sekarang tolong tunjukan padaku hasil dari latihamu".
"Tolong perhatikan, ya!? Nii-san".
Firalet mulai berkonsentrasi dan mengumpulkan semua energi sihir menjadi bentuk bola, sihir yang dipraktikkan Filaret adalah sihir cahaya.
Namun, sayangnya bola itu tidak stabil dan akhirnya meledak.
"Kyaaa".
".... Fila, kau tidak apa-apa?".
Dylan mengulurkan tangan dan membantu Filaret untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa kok, Nii-san!? Yah, sepertinya aku gagal lagi".
Filaret sekarang sudah terbiasa memanggil Dylan dengan panggilan Nii-san. Melihat wajah Filaret yang nampak sedih, Dylan menaruh tangan kirinya di kepala Filaret dan mengelus nya secara perlahan.
".....Siapa bilang yang tadi gagal...... Itu sudah bagus, kok".
"Benarkah?".
"... Iya,.....Cuma kau harus lebih berkonsentrasi lagi....dan bayangkan konsepnya".
"Itu sulit sekali".
"Aku tahu itu........ Tapi, tidak usah terburu-buru!?.... Santai saja!?..... Lagian, kalau kau terburu-buru itu hanya akan mengganggu konsentrasi dan mengacaukan pikiranmu....
Nah, coba tenang kan pikiranmu, lalu coba kendalikan energi sihirmu dengan meditasi seperti yang aku ajarkan".
"Baiklah, Nii-san sensei".
Filaret segera melakukan meditasi untuk mengontrol energi sihirnya. Hal ini terbukti sangat efektif mengingat dirinya sulit untuk mengendalikan energi sihirnya.
".... Yosh, bagus Fila.... Terus pertahankan seperti itu".
Sementara Filaret sedang bermeditasi, Dylan terus memperhatikannya dari samping. Sambil terus memberikan arahan.
"..... Nah, sekarang coba sinkronkan energi sihir mu dengan energi sihir dari sekitarmu......".
Tetapi juga sedang mensinkronisasikan energi sihirnya dengan energi sihir dari alam.
".... Jangan halangi.... Biarkan energi itu masuk.... Stabilkan...... Dan tetap konsentrasi....".
Dylan terus memberikan arahannya dan Filaret terus mengikutinya.
Namun, sesaat kemudian Dylan merasa ada tidak beres dengan Filaret. Beberapa menit yang lalu energi sihirnya tampak sangat stabil.
Tapi, entah kenapa energi sihirnya secara perlahan-lahan mulai kacau. Awal Dylan mengiranya Filaret kurang konsentrasi atau tubuh energi sihir alam yang masuk ke tubuhnya.
Namun, setelah diperhatikan dengan seksama.
Dylan bisa melihat ekspresi tenang Filaret berubah menjadi ekspresi ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran, dan dia mulai mengumankan sesuatu yang tidak jelas.
*Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kenapa?*.
"Fila?".
*Apa salahku? Kenapa kalian sangat benci padaku*.
Dylan yang samar-samar mendengar apa gumaman Filaret, seketika tekejut karena dia tahu apa penyebabnya.
(Gawat!? Pikirannya kacau dan mengalami flashback ke masa lalunya yang traumatis).
*Hentikan...... Hentikan..... Nee-san..... Aku mohon.... Hentikan*.
Dylan segera berlari kearah Filaret yang masih terus bergumam disertai konstruksi sihirnya yang semakin tidak stabil.
"HENTIKAN....... FILAAAA... ".
Dylan berlari sambil mengulurkan tangan kanan untuk meraih Filaret.
"MENJAUH DARIKUUUU........!!!!!".
Lalu saat jarak mereka tiba-tiba terjadi ledakan energi sihir yang sangat besar dengan Filaret sebagai pusat dari ledakan itu.
Ledakan itu energi sihir milik Filaret yang tidak stabil yang berupa gabungan dari 3 elemen yang dikuasainya yaitu, Api, Cahaya dan Petir.
Sangking dahsyat ledakannya itu sehingga membuat semua pohon yang ada di sekitar hangus terbakar dan tanah meledak.
Sementara Dylan sendiri terlempar beberapa meter dan mengalami luka yang cukup fatal.
Meski begitu, Dylan masih mencoba untuk berdiri dan melihat ke arah Fila yang saat ini sedang meringkuk seperti janin yang dilindungi energi sihir yang terus terpancar tanpa henti.
"Fila.....Ugh".
Dylan mengalami muntah darah akibat terpental karena ledakan tadi. Setelah beberapa kali muntah darah. Dylan kembali berdiri dan menatap Filaret.
(Sialan, aku terluka cukup parah!? Aku tidak menyangka kalau gadis itu punya sihir sebesar ini!? Sial, padahal aku mendekatinya agar aku bisa selamat dimasa depan!? Toh, pada akhirnya dia bakal jadi kandidat dari minat cinta Pahlawan..... Eh?).
Dylan tiba-tiba saja terkejut, bukan karena kekuatan Filaret atau karena ketakutan.
Yang membuat dia terkejut adalah kakinya yang tiba-tiba saja melangkah sendiri berusaha mendekat.
(Eh?..... Woi, apa-apaan ini?..... Kenapa kakiku melangkah sendiri?...... Apa yang terjadi?.....Bukankah lebih baik kabur...... Kenapa aku mencoba mendekat..... Kalau aku mendekat...... Aku bisa terluka lebih parah dari ini......Sial, tidak mau berhenti.....).
Meski bertentangan dengan apa yang ada pikirannya, tubuhnya secara otomatis malah terus berjalan berusaha mendekati Filaret.
Tapi, sebuah sihir petir langsung menyambar tubuhnya.
Sengatan listrik yang sangat kuat menjalar di sekujur tubuhnya dan membuat Dylan kembali tersungkur.
(Tuh, kan?.... Aku bilang juga apa?.... Lebih baik kabur..... Eh?).
Sekali lagi dengan sendirinya Dylan kembali berdiri dan mencoba berjalan mendekati Filaret meski tertatih-tatih.
(Woi, woi, woi,..... Apa yang aku lakukan, sih?..... Apa aku sudah tidak waras?.... Sengatan petir tadi sangat menyakitkan........ Bahkan bisa membunuhku tahu.... Terus kenapa?.... Kenapa tubuh ini tidak bisa ku kendalikan?....).
Lalu sebuah sihir berbentuk pasak yang tercipta dari sihir cahaya segera melesat kearah Dylan.
Pasak-pasak itu segera tertancap di badan Dylan. Tapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk mendekati Filaret.
Kemudian bersamaan dengan itu sebuah semburan api yang besar dan panas mengarah padanya.
Sangking panasnya, tanah disekitar mulai berubah menjadi merah dan tentu saja Dylan juga ikut terbakar.
Namun, Dylan masih tetap berusaha berjalan sambil menghalau semburan api itu dengan kedua tangannya.
Dengan badannya yang penuh luka, bersimbah darah, terbakar dan tertatih-tatih dia tetap melangkah berusaha untuk menggapai Filaret.
(Kenapa?.... Kenapa badan ini tidak mau mendengar perintah ku?..... Kenapa kau terus melangkah maju?..... Kau bisa mati tahu?..... Kau bisa saja meninggalkannya disini...!?...... Tapi,....... Tapi,........ Entah mengapa..... Aku merasa....... Ini adalah.......dirimu yang asli....Dylan).
Pemuda itu akhirnya sadar bahwa Dylan van Arcadia bukan hanya seorang karakter yang ada di dalam Game, sekarang juga bagian dari dirinya.
Pemuda itu selalu salah mengira Dylan sebagai karakter yang cuek dan tidak peduli pada apapun selain dirinya.
Nyatanya sekarang dia berusaha sekuat tenaga, dengan badan yang penuh luka dan tertatih-tatih menembus semburan api, menahan hujan pasak cahaya, dan sengatan dari petir.
Dan kenapa Dylan terus melangkah maju menerjang bahaya? Karena ada sesuatu di dalam dasar lubuk hati dan alam bawah sadarnya.
Keinginan yang kuat, keinginan untuk menyelamatkan seseorang dan orang itu adalah adik perempuan tirinya Filaret.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, melelahkan, dan menyakitkan Dylan berhasil menggapai Filaret dan langsung memeluknya dengan sangat erat.
".... Sudah Fila.... Tenanglah.... Ada aku disini.... Kau akan baik-baik saja..... Aku pasti akan melindungi mu..... Karena kau adalah adikku.....".
Dylan berusaha menenangkan Filaret yang menangis ketakutan dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Merasakan hangatnya pelukan Dylan dan kata-katanya yang lembut. Membuat Filaret kembali tenang dan perlahan-lahan energi sihirnya yang lepas kendali menjadi stabil kembali.
".......Nii-san".
Filaret perlahan mulai sadar kembali dan memanggil Dylan.
Dylan segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah Filaret.
".... Syukurlah,.... Sekarang kau sudah tenang...".
Menyeka air matanya, Filaret segera terkejut melihat badan Dylan yang penuh luka tusuk dan luka bakar.
"Nii-san,.... Kau.... Terluka cukup parah!?.... Apa yang.... Sudah kulakukan".
"Hei, hei.... Itu bukan salahmu!? Yang penting.... Sekarang..... Kau baik-baik saja".
Dylan berusaha memenangkan Filaret yang panik setelah melihat luka hampir di sekujur tubuhnya akibat dirinya yang tidak bisa mengontrol energi sihirnya.
".... Nah, karena hari sudah sore..... Ayo.... Kita... Pu.... "
Belum bisa menyelesaikan ucapannya Dylan langsung abruk karena kehabisan banyak darah.
"Nii-san? Nii-san?...... DYLAN NII-SAAAN!!!".
Filaret kembali panik saat melihat Dylan pingsan di depannya. Sadar bahwa tidak ada yang bisa membantunya. Filaret dengan susah payah membopong Dylan sendiri kembali ke Mansion Arcadia.
Beruntung, ketika dia sampai di gerbang para penjaga dengan sigap langsung membantunya dan membawa mereka.
Sesampainya di Mansion tim dokter segera melakukan pengobatan terhadap Dylan baik dengan cara Medis maupun dengan sihir penyembuh.
Sementara Filaret memutuskan untuk mengurung diri didalam kamarnya yang gelap.
Dia terus-menerus menyesali apa yang sudah terjadi.
Dan mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Ayah, Ibu dan kedua Kakak perempuan nya itu benar, bahwa Filaret adalah seorang Monster.
(------------)
2 hari kemudian.
Dylan akhirnya sadar dari pingsannya, dia berusaha duduk dan mulai mengecek kondisi badannya.
Tidak ada bekas luka tusuk maupun bekas luka bakar. Ini semua berkat adanya sihir penyembuh di dunia ini, sehingga luka apapun bisa di sembuhkan tanpa meninggal bekas.
Terdengar suara pintu terbuka dan saat Dylan menoleh kearahnya, ternyata yang masuk adalah Sonia pelayan pribadinya.
"Syukurlah akhirnya Tuan Dylan kembali sadar".
"Sonia-san...... Berapa lama.... Aku pingsan?".
"Sekitar 2 hari".
"Begitu kah? Lalu bagaimana dengan Fila? Apa dia baik-baik saja?".
"Nona Filaret tidak apa-apa, para dokter juga sudah memeriksanya".
".... Syukurlah, kalau dia tidak kenapa-kenapa".
"Hanya saja... ".
Wajah Sonia tiba-tiba menjadi mendung dan Dylan yang melihat itu menaikkan salah satu alisnya dan mulai bertanya-tanya.
"..... Nona Fila terus mengurung diri di kamarnya".
Sonia memberi tahu Dylan bahwa Filaret mengurung diri didalam kamarnya sejak mereka pulang, yang artinya Gadis itu tidak keluar kamar selama 2 hari.
Suasana menjadi hening, ekspresi Dylan masih datar dan tenang saat mendengar kabar itu.
Lalu tiba-tiba, Dylan mencoba turun dan berjalan perlahan-lahan menuju keluar. Sonia yang melihat itu panik dan segera berusaha untuk mencegahnya.
"Tu-tuan Dylan!? Anda mau kemana? Kondisi anda masih belum pulih sempurna!? Lebih baik anda istirahat".
"Aku tidak apa-apa, Sonia-san!?.....
Bagaimanapun juga, aku harus ke kamar Fila sekarang".
"Apa yang anda katakan? Jangan paksa diri Anda!? Ayo segera kembali.... ".
"SONIA-SAN......".
Sonia tersentak dan terdiam saat Dylan memanggil namanya dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat hingga dia meneteskan keringat dingin.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat Tuannya yang biasanya tanpa ekspresi dan tenang mengeluarkan Aura yang mengerikan.
Tanpa peduli ketakutan Sonia, Dylan melanjutkan ucapannya.
"...... Aku tetap akan pergi ke kamar Filaret!? Mau dibolehkan atau dilarang..... Aku tidak peduli".
Pada akhirnya Dylan tetap berjalan keluar kamar menuju kamar Fila dengan sambil menahan rasa sakit.
Sempat terdiam sesaat kesadaran Sonia akhirnya kembali, dan ketika dia melihat Tuannya berjalan keluar dia segera mengikuti nya dari belakang.
Didepan kamar Filaret, Dylan melihat ada 2 orang pelayan yang sedang berdiri depan pintu kamarnya.
Mereka terus-menerus mengetuk pintu kamar Filaret namun tidak ada jawaban.
Ketika 2 pelayan itu melihat Dylan sudah ada di sana, mereka sempat terkejut.
Mengabaikan keterkejutan mereka Dylan menyuruh mereka untuk minggir. Dan saat dia sudah didepan pintu Dyla mencoba mengetuk nya.
"Fila... Kau didalam... Ini aku Kakakmu, Dylan".
Mendengar suara Dylan, Filaret yang daritadi duduk menangis sambil memegang lutut mengangkat kepalanya.
"Iya,.... Aku ada di dalam".
".... Yosh, bisa kau bukakan pintunya!? ..... Aku sangat khawatir!?..... Kau juga sudah tidak makan selama 2 hari ini".
"..... Maaf, tapi aku tidak bisa!?.....Lebih baik kalian menjauh dariku..... Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi".
"Huh? Fila, kau ini ngomong apa? Memang siapa yang kau sakiti? Ayolah, buka pintunya biarkan aku masuk".
"AKU BILANG PERGI".
Filaret berteriak sekeras-kerasnya, sehingga membuat semua terkejut.
"AKU MOHON!!! TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!! AKU TIDAK INGIN MENYAKITI SIAPAPUN LAGI!!!! AKU HANYA INGIN BAHAGIA!!!! TAPI KENAPA AKU TIDAK BISA SEMENTARA ORANG LAIN BAHAGIA!!!! DARI DULU MEREKA MEMANGGILKU "MONSTER"!!! AKU TERUS DAN TERUS BERUSAHA MENYANGKAL NYA!!! TAPI, SEKARANG AKU SADAR!!! MEREKA BENAR!!! AYAH DAN IBU BENAR!!! BIANCA NEE-SAN DAN LISA NEE-SAN MEMANG BENAR!!! AKU INI MEMANG "MONSTER" BERKULIT MANUSIA!!! AKU MENYAKITI ORANG-ORANG YANG ADA DISEKITAR KU!!! JADI MENJAUHLAH DARIKU!!! AKU MOHON!!!!!....... Aku mohon!?".
Sambli menangis tersedu-sedu Filaret mengeluarkan segala keluh kesahnya selama ini.
Dan para pelayan yang mendengar memasang ekspresi rumit, tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi, tidak dengan Dylan.
"..... Fila....!? Kalau kau sekarang ada di balik pintu aku sarankan segera bergeser".
Mendengar peringatan Dylan, Filaret yang dari tadi ada di balik pintu segera menghindar.
"Impact"
Dylan merapalkan sebuah mantra sihir yang meledakan pintu kamar Filaret. Membuat semua orang terkejut dibuatnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dylan masuk ke kamar dan berdiri di depan Filaret yang duduk di bahwa.
Keheningan terjadi untuk sesaat, lalu Dylan mulai berjongkok memperhatikan Filaret lalu mulai memeluknya dengan erat.
".... Nii-san?".
Filaret yang kebingungan mulai bertanya pada Dylan yang segera melepas pelukan nya.
"Siapa bilang kau Monster?..... Kau tidak pernah menyakiti siapapun?..... Lihat, aku baik-baik saja sekarang?..... Kau punya potensi yang besar.... Yang perlu kau lakukan adalah belajar cara mengontrol nya saja.... Dan jika ada yang memanggil mu sebagai "Monster".... Akan aku hajar orang itu.... Sekalipun, mereka adalah orang tua mu sendiri..... Karena itu,.... Jangan menangis lagi, ya".
Filaret langsung tersentak, dia kembali ingat hari dimana dia baru datang ke Mansion Arcadia.
Dia sempat berpikir Dylan adalah sosok yang dingin dan sulit di dekati karena selalu memasang ekspresi yang datar.
Tapi, itu semua salah.
Justru Dylan lah yang pertama kali, memperkenalkan diri dan bahkan terus-menerus menemaninya.
Bukan hanya itu saja, dia jugalah yang banyak meluangkan waktu untuk mengajarinya berbagai hal yang tidak dia ketahui terutama soal sihir.
Menyadari fakta itu, kemudian Filaret menangis sejadi-jadinya, dia menangis bukan karena sedih.
Tapi, karena dia tahu bahwa diluar sana masih ada yang mau menerimanya.
Dylan yang melihat Filaret menangis kembali tersenyum dan memeluknya sambil terus menunggu sampai dia selesai menangis.
Dan untuk kedua kalinya, Dylan tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan akan membawa perubahan untuk dirinya dan Dunia.
Sekali lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
Big Boss
tindakan akan menimbulkan efek yang luar biasa apalagi masalah wanita hehehe
2024-11-16
1
liker
maaf Thor gw berenti, bukannya ceritanya jelek atau apa, gw juga g tau karna gw baru baca bab awal awal doang, tapi gw g suka ama campuran bahasa Jepangnya, dan g terbiasa jadi kesannya aneh bacanya jadi gw berenti smpai sini aja
2024-11-23
3
☆White Cygnus☆
lanjut mampir thor.
2024-03-08
2