Chapter 4 : Menangani Kenangan Pahit Dan Kesedihan Firalet.

Saat ini Dylan sedang melakukan meditasi di kamarnya seorang diri.

Dia sedang mencoba menelaah, mengingat dan harus mengambil tindakan apa untuk masalah Filaret ini.

Filaret van Arcadia adalah salah satu dari 15 karakter wanita yang jatuh cinta pada Pahlawan yang bernama Reiner fou Stanley.

Meski menjadi salah satu minat cinta, nyatanya dia sering dijauhi oleh sesama gadis yang menjadi minat cinta Pahlawan dan dia kurang mendapatkan perhatian dari sang Pahlawan.

Alasannya karena Filaret adalah adik tiri dari karakter penjahat Dylan van Arcadia.

Nah, bagaimana dia bisa menjadi adik tiri Dylan?

Di gamenya Filaret mempunyai bakat sihir yang luar biasa, dia sangat ahli dalam menggunakan 3 sihir atribut yaitu Api, Cahaya dan Petir.

Namun, sayangnya dia selalu mendapatkan ejekan dan hinaan dari ke-2 Kakak perempuannya, Bianca van Pillos dan Lisa van Pillos. Mereka sebenarnya iri dengan bakat yang dimiliki Filaret.

Lalu sebuah insiden terjadi. Saat itu Filaret dipermalukan dalam sebuah acara sosial oleh ke 2 Kakaknya. Ketika Filaret sedang bersedih dengan apa yang menimpanya.

Tanpa dia sadari dia mengaktifkan sihirnya yang berakibat menyerang semua orang yang ada di acara itu termasuk ke 2 Kakak perempuan nya.

Akibatnya dia mendapatkan hukuman dari keluarganya yang berupa pengusiran.

Bahkan Ayah dan Ibunya memanggil Filaret dengan panggilan Monster.

Entah bagaimana Pavline, ibu Dylan menyatakan dengan lantang bahwa dia akan merawat Filaret.

Nah, selama tinggal bersama keluarga Arcadia, Filaret dan Dylan hampir tidak pernah bertegur sapa. Firalet memutuskan untuk menjauh dari Dylan dan Dylan sendiri tidak ada inisiatif untuk mencoba lebih dekat dengan Filaret.

Filaret baru menemukan kebahagian setelah bertemu dengan sang Pahlawan Reiner fou Stanley.

Dengan Reiner yang selalu menyemangati nya, membuat Filaret sangat bahagia.

Dan bahkan rela melakukan apapun untuk sang Pahlawan.

Kembali ke Dylan yang saat ini masih berpikir.

(Sebenarnya... Aku ingin sekali menghindari gadis itu.... Tapi, kalau boleh jujur.... Diantara semua karakter gadis minat cinta Pahlawan... Hanya Filaret yang menurutku paling cantik, baik dan tipeku banget dibandingkan yang lainnya.... Namun, dia selalu jadi karakter yang di sia-siakan Pahlawan.... Jika mengingat latar belakang nya dan bagaimana dia sangat putus asa nya..... Aku jadi sangat simpati padanya..... Terus,..... Apa yang musti aku lakukan......).

Dylan terus mencoba berpikir keras. Dan selang beberapa saat akhirnya dia berhasil menemukan solusinya.

(Oh, ya.... Alasan kenapa Filaret kekeh ada berada di samping Pahlawan meski terus-terusan diabaikan... Adalah karena rasa kesepiannya... Dan jika aku bisa mengatasi rasa kesepiannya itu... Maka, dia tidak akan pernah bergantung dengan Pahlwan.... Dan aku bisa terhindar dari berurusan denganya juga.... Tapi,.... Berarti secara tidak langsung.... Aku malah berurusan dengan salah satu target minat cintanya, dong?..... Yah, itu pikir saja belakangan.... Berarti sekarang.... Aku harus bersikap layaknya seorang Kakak laki-laki yang perhatian terhadap adik perempuan nya).

Setelah menetapkan keputusan apa yang akan dia ambil, Dylan merebahkan badannya dan mulai tertidur pulas.

(---------)

Keesokan paginya.

Setelah sarapan Dylan segera pergi ke kamar yang sudah disiapkan untuk Filaret, sesampainya didepan pintu dia segera mengetuk nya.

"Filaret, apa kau ada didalam? Ini aku Dylan? Aku masuk, ya?".

"Ah, iya... Silahkan masuk".

Mendapat izin dari Filaret, Dylan segera memutar gagang pintu dan masuk kedalam. Saat ini Filaret sedang berdiri menghadap ke jendela.

"Selamat pagi, Filaret".

"Selamat pagi juga, Tuan Dylan".

"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak sarapan bersama kami?".

"Maaf, tuan Dylan!? Saya masih lelah karena perjalan kemarin".

"Begitu ya!?.... Oh ya, apa kau ingin berkeliling melihat-lihat Mansion ini? Jangan khawatir biar aku yang pandu".

"I-itu tidak perlu, tuan Dylan!? Akan lebih baik kalau aku sendiri saja!? Lagipula,.... Aku hanya... Orang yang menupang tinggal di rumah ini!? Rasanya.... Sangat kurang ajar apabila.... Orang sepertiku meminta.... Anda untuk menemani saya".

Mendengar jawaban dari Filaret membuat Dylan menghembuskan nafas panjang. Lalu dia Dylan kembali berbicara.

"Siapa bilang kau ini "orang numpang"?.... Aku tidak pernah berpikir kau seperti itu".

Filaret tersentak saat mendengar ucapan Dylan.

".......Apa kau sudah lupa!? Bahwa mulai hari ini kau adalah bagian dari keluarga Arcadia!? Yang artinya kau dan aku adalah saudara!? Dan sesama saudara, kita perlu saling sungkan satu sama lain!? Lalu meski usia kita sama, tapi aku lebih tua 5 bulan darimu!? Jadi, mulai hari ini kau boleh memanggilku Nii-san!? Dan agar semakin akrab aku akan memanggilmu Fila, bagaimana".

"Apa aku benar-benar di izinkan?"

Dengan badan gemetar Filaret kembali bertanya dan Dylan tersenyum meski wajahnya tetap datar seperti biasa. Lalu, Dylan tiba-tiba mengelus kepala Filaret.

"Bukan dizinikan lagi...... Tapi, kau harus memanggilku begitu..... Lagi pula kita ini saudara sekarang".

"Baiklah tuan-tidak... Dylan Nii-san".

Dengan ekspresi canggung Filaret mulai memanggil Dylan dengan panggilan Nii-san.

Dan Dylan sangat senang dipanggil seperti itu.

"Yosh,.... Karena semua keraguanmu sudah hilang sekarang, biarkan aku ajak kau mengelilingi Mansion dan memperkenalkan mu dengan semua orang yang bekerja disini!? Ayo, Fila!?".

Dylan segera menggandeng tangan Filaret dan mengajaknya pergi. Di satu sisi Filaret merasa bahwa genggaman tangan Dylan itu hangat dan kuat tapi tidak menyakitkan. Tanpa, disadari Filaret dia perlahan-lahan mulai tersenyum.

Di mulai hari itu mereka selalu menghabiskan waktu bersama seperti Kakak dan Adik.

Hampir tiap hari Dylan membantu Filaret dalam pelajaran etiket bangsawan, menjadi panter tari, latihan piano dan biola dan terkadang dia mengajari Filaret cara mengontrol sihirnya.

Sementara Filaret sendiri, dia sering ikut beberapa aktifitas Dylan seperti olahraga pagi, latihan pedang, latihan teknik bertarung tangan kosong, belajar sihir bersama, membantunya dalam mengembangkan metode BMF.

Selain itu mereka punya kegiatan lainnya seperti berjalan-jalan di kota bersama, pergi memancing di pantai dan lain-lain.

Kenapa Filaret yang seorang penyihir ikut Dylan melakukan olahraga? Jawaban nya ada 2.

Pertama, karena Dylan pernah bilang "seorang penyihir harus memiliki fisik yang kuat agar saat dia kehabisan energi sihir, dia masih bisa melawan musuh dan melindungi dirinya sendiri meski tanpa sihir".

Kedua, karena dia sangat ingin dekat dengan Kakaknya yaitu Dylan.

Dan kedekatan mereka semakin erat tiap harinya.

Lalu sebuah insiden kecil membuat senyum indah Filaret hilang untuk sesaat.

(---------)

Suatu hari.

Dylan mengajak Filaret untuk pergi ke sebuah hutan dekat dengan kota.

Nah, alasan kenapa Dylan mengajaknya kesana adalah untuk melihat hasil latihan dan pelajaran Filaret dalam mengontrol sihirnya.

"Baiklah,... Nah, Fira sekarang tolong tunjukan padaku hasil dari latihamu".

"Tolong perhatikan, ya!? Nii-san".

Firalet mulai berkonsentrasi dan mengumpulkan semua energi sihir menjadi bentuk bola, sihir yang dipraktikkan Filaret adalah sihir cahaya.

Namun, sayangnya bola itu tidak stabil dan akhirnya meledak.

"Kyaaa".

".... Fila, kau tidak apa-apa?".

Dylan mengulurkan tangan dan membantu Filaret untuk berdiri.

"Aku tidak apa-apa kok, Nii-san!? Yah, sepertinya aku gagal lagi".

Filaret sekarang sudah terbiasa memanggil Dylan dengan panggilan Nii-san. Melihat wajah Filaret yang nampak sedih, Dylan menaruh tangan kirinya di kepala Filaret dan mengelus nya secara perlahan.

".....Siapa bilang yang tadi gagal...... Itu sudah bagus, kok".

"Benarkah?".

"... Iya,.....Cuma kau harus lebih berkonsentrasi lagi....dan bayangkan konsepnya".

"Itu sulit sekali".

"Aku tahu itu........ Tapi, tidak usah terburu-buru!?.... Santai saja!?..... Lagian, kalau kau terburu-buru itu hanya akan mengganggu konsentrasi dan mengacaukan pikiranmu....

Nah, coba tenang kan pikiranmu, lalu coba kendalikan energi sihirmu dengan meditasi seperti yang aku ajarkan".

"Baiklah, Nii-san sensei".

Filaret segera melakukan meditasi untuk mengontrol energi sihirnya. Hal ini terbukti sangat efektif mengingat dirinya sulit untuk mengendalikan energi sihirnya.

".... Yosh, bagus Fila.... Terus pertahankan seperti itu".

Sementara Filaret sedang bermeditasi, Dylan terus memperhatikannya dari samping. Sambil terus memberikan arahan.

"..... Nah, sekarang coba sinkronkan energi sihir mu dengan energi sihir dari sekitarmu......".

Tetapi juga sedang mensinkronisasikan energi sihirnya dengan energi sihir dari alam.

".... Jangan halangi.... Biarkan energi itu masuk.... Stabilkan...... Dan tetap konsentrasi....".

Dylan terus memberikan arahannya dan Filaret terus mengikutinya.

Namun, sesaat kemudian Dylan merasa ada tidak beres dengan Filaret. Beberapa menit yang lalu energi sihirnya tampak sangat stabil.

Tapi, entah kenapa energi sihirnya secara perlahan-lahan mulai kacau. Awal Dylan mengiranya Filaret kurang konsentrasi atau tubuh energi sihir alam yang masuk ke tubuhnya.

Namun, setelah diperhatikan dengan seksama.

Dylan bisa melihat ekspresi tenang Filaret berubah menjadi ekspresi ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran, dan dia mulai mengumankan sesuatu yang tidak jelas.

*Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kenapa?*.

"Fila?".

*Apa salahku? Kenapa kalian sangat benci padaku*.

Dylan yang samar-samar mendengar apa gumaman Filaret, seketika tekejut karena dia tahu apa penyebabnya.

(Gawat!? Pikirannya kacau dan mengalami flashback ke masa lalunya yang traumatis).

*Hentikan...... Hentikan..... Nee-san..... Aku mohon.... Hentikan*.

Dylan segera berlari kearah Filaret yang masih terus bergumam disertai konstruksi sihirnya yang semakin tidak stabil.

"HENTIKAN....... FILAAAA... ".

Dylan berlari sambil mengulurkan tangan kanan untuk meraih Filaret.

"MENJAUH DARIKUUUU........!!!!!".

Lalu saat jarak mereka tiba-tiba terjadi ledakan energi sihir yang sangat besar dengan Filaret sebagai pusat dari ledakan itu.

Ledakan itu energi sihir milik Filaret yang tidak stabil yang berupa gabungan dari 3 elemen yang dikuasainya yaitu, Api, Cahaya dan Petir.

Sangking dahsyat ledakannya itu sehingga membuat semua pohon yang ada di sekitar hangus terbakar dan tanah meledak.

Sementara Dylan sendiri terlempar beberapa meter dan mengalami luka yang cukup fatal.

Meski begitu, Dylan masih mencoba untuk berdiri dan melihat ke arah Fila yang saat ini sedang meringkuk seperti janin yang dilindungi energi sihir yang terus terpancar tanpa henti.

"Fila.....Ugh".

Dylan mengalami muntah darah akibat terpental karena ledakan tadi. Setelah beberapa kali muntah darah. Dylan kembali berdiri dan menatap Filaret.

(Sialan, aku terluka cukup parah!? Aku tidak menyangka kalau gadis itu punya sihir sebesar ini!? Sial, padahal aku mendekatinya agar aku bisa selamat dimasa depan!? Toh, pada akhirnya dia bakal jadi kandidat dari minat cinta Pahlawan..... Eh?).

Dylan tiba-tiba saja terkejut, bukan karena kekuatan Filaret atau karena ketakutan.

Yang membuat dia terkejut adalah kakinya yang tiba-tiba saja melangkah sendiri berusaha mendekat.

(Eh?..... Woi, apa-apaan ini?..... Kenapa kakiku melangkah sendiri?...... Apa yang terjadi?.....Bukankah lebih baik kabur...... Kenapa aku mencoba mendekat..... Kalau aku mendekat...... Aku bisa terluka lebih parah dari ini......Sial, tidak mau berhenti.....).

Meski bertentangan dengan apa yang ada pikirannya, tubuhnya secara otomatis malah terus berjalan berusaha mendekati Filaret.

Tapi, sebuah sihir petir langsung menyambar tubuhnya.

Sengatan listrik yang sangat kuat menjalar di sekujur tubuhnya dan membuat Dylan kembali tersungkur.

(Tuh, kan?.... Aku bilang juga apa?.... Lebih baik kabur..... Eh?).

Sekali lagi dengan sendirinya Dylan kembali berdiri dan mencoba berjalan mendekati Filaret meski tertatih-tatih.

(Woi, woi, woi,..... Apa yang aku lakukan, sih?..... Apa aku sudah tidak waras?.... Sengatan petir tadi sangat menyakitkan........ Bahkan bisa membunuhku tahu.... Terus kenapa?.... Kenapa tubuh ini tidak bisa ku kendalikan?....).

Lalu sebuah sihir berbentuk pasak yang tercipta dari sihir cahaya segera melesat kearah Dylan.

Pasak-pasak itu segera tertancap di badan Dylan. Tapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk mendekati Filaret.

Kemudian bersamaan dengan itu sebuah semburan api yang besar dan panas mengarah padanya.

Sangking panasnya, tanah disekitar mulai berubah menjadi merah dan tentu saja Dylan juga ikut terbakar.

Namun, Dylan masih tetap berusaha berjalan sambil menghalau semburan api itu dengan kedua tangannya.

Dengan badannya yang penuh luka, bersimbah darah, terbakar dan tertatih-tatih dia tetap melangkah berusaha untuk menggapai Filaret.

(Kenapa?.... Kenapa badan ini tidak mau mendengar perintah ku?..... Kenapa kau terus melangkah maju?..... Kau bisa mati tahu?..... Kau bisa saja meninggalkannya disini...!?...... Tapi,....... Tapi,........ Entah mengapa..... Aku merasa....... Ini adalah.......dirimu yang asli....Dylan).

Pemuda itu akhirnya sadar bahwa Dylan van Arcadia bukan hanya seorang karakter yang ada di dalam Game, sekarang juga bagian dari dirinya.

Pemuda itu selalu salah mengira Dylan sebagai karakter yang cuek dan tidak peduli pada apapun selain dirinya.

Nyatanya sekarang dia berusaha sekuat tenaga, dengan badan yang penuh luka dan tertatih-tatih menembus semburan api, menahan hujan pasak cahaya, dan sengatan dari petir.

Dan kenapa Dylan terus melangkah maju menerjang bahaya? Karena ada sesuatu di dalam dasar lubuk hati dan alam bawah sadarnya.

Keinginan yang kuat, keinginan untuk menyelamatkan seseorang dan orang itu adalah adik perempuan tirinya Filaret.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, melelahkan, dan menyakitkan Dylan berhasil menggapai Filaret dan langsung memeluknya dengan sangat erat.

".... Sudah Fila.... Tenanglah.... Ada aku disini.... Kau akan baik-baik saja..... Aku pasti akan melindungi mu..... Karena kau adalah adikku.....".

Dylan berusaha menenangkan Filaret yang menangis ketakutan dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Merasakan hangatnya pelukan Dylan dan kata-katanya yang lembut. Membuat Filaret kembali tenang dan perlahan-lahan energi sihirnya yang lepas kendali menjadi stabil kembali.

".......Nii-san".

Filaret perlahan mulai sadar kembali dan memanggil Dylan.

Dylan segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah Filaret.

".... Syukurlah,.... Sekarang kau sudah tenang...".

Menyeka air matanya, Filaret segera terkejut melihat badan Dylan yang penuh luka tusuk dan luka bakar.

"Nii-san,.... Kau.... Terluka cukup parah!?.... Apa yang.... Sudah kulakukan".

"Hei, hei.... Itu bukan salahmu!? Yang penting.... Sekarang..... Kau baik-baik saja".

Dylan berusaha memenangkan Filaret yang panik setelah melihat luka hampir di sekujur tubuhnya akibat dirinya yang tidak bisa mengontrol energi sihirnya.

".... Nah, karena hari sudah sore..... Ayo.... Kita... Pu.... "

Belum bisa menyelesaikan ucapannya Dylan langsung abruk karena kehabisan banyak darah.

"Nii-san? Nii-san?...... DYLAN NII-SAAAN!!!".

Filaret kembali panik saat melihat Dylan pingsan di depannya. Sadar bahwa tidak ada yang bisa membantunya. Filaret dengan susah payah membopong Dylan sendiri kembali ke Mansion Arcadia.

Beruntung, ketika dia sampai di gerbang para penjaga dengan sigap langsung membantunya dan membawa mereka.

Sesampainya di Mansion tim dokter segera melakukan pengobatan terhadap Dylan baik dengan cara Medis maupun dengan sihir penyembuh.

Sementara Filaret memutuskan untuk mengurung diri didalam kamarnya yang gelap.

Dia terus-menerus menyesali apa yang sudah terjadi.

Dan mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Ayah, Ibu dan kedua Kakak perempuan nya itu benar, bahwa Filaret adalah seorang Monster.

(------------)

2 hari kemudian.

Dylan akhirnya sadar dari pingsannya, dia berusaha duduk dan mulai mengecek kondisi badannya.

Tidak ada bekas luka tusuk maupun bekas luka bakar. Ini semua berkat adanya sihir penyembuh di dunia ini, sehingga luka apapun bisa di sembuhkan tanpa meninggal bekas.

Terdengar suara pintu terbuka dan saat Dylan menoleh kearahnya, ternyata yang masuk adalah Sonia pelayan pribadinya.

"Syukurlah akhirnya Tuan Dylan kembali sadar".

"Sonia-san...... Berapa lama.... Aku pingsan?".

"Sekitar 2 hari".

"Begitu kah? Lalu bagaimana dengan Fila? Apa dia baik-baik saja?".

"Nona Filaret tidak apa-apa, para dokter juga sudah memeriksanya".

".... Syukurlah, kalau dia tidak kenapa-kenapa".

"Hanya saja... ".

Wajah Sonia tiba-tiba menjadi mendung dan Dylan yang melihat itu menaikkan salah satu alisnya dan mulai bertanya-tanya.

"..... Nona Fila terus mengurung diri di kamarnya".

Sonia memberi tahu Dylan bahwa Filaret mengurung diri didalam kamarnya sejak mereka pulang, yang artinya Gadis itu tidak keluar kamar selama 2 hari.

Suasana menjadi hening, ekspresi Dylan masih datar dan tenang saat mendengar kabar itu.

Lalu tiba-tiba, Dylan mencoba turun dan berjalan perlahan-lahan menuju keluar. Sonia yang melihat itu panik dan segera berusaha untuk mencegahnya.

"Tu-tuan Dylan!? Anda mau kemana? Kondisi anda masih belum pulih sempurna!? Lebih baik anda istirahat".

"Aku tidak apa-apa, Sonia-san!?.....

Bagaimanapun juga, aku harus ke kamar Fila sekarang".

"Apa yang anda katakan? Jangan paksa diri Anda!? Ayo segera kembali.... ".

"SONIA-SAN......".

Sonia tersentak dan terdiam saat Dylan memanggil namanya dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat hingga dia meneteskan keringat dingin.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat Tuannya yang biasanya tanpa ekspresi dan tenang mengeluarkan Aura yang mengerikan.

Tanpa peduli ketakutan Sonia, Dylan melanjutkan ucapannya.

"...... Aku tetap akan pergi ke kamar Filaret!? Mau dibolehkan atau dilarang..... Aku tidak peduli".

Pada akhirnya Dylan tetap berjalan keluar kamar menuju kamar Fila dengan sambil menahan rasa sakit.

Sempat terdiam sesaat kesadaran Sonia akhirnya kembali, dan ketika dia melihat Tuannya berjalan keluar dia segera mengikuti nya dari belakang.

Didepan kamar Filaret, Dylan melihat ada 2 orang pelayan yang sedang berdiri depan pintu kamarnya.

Mereka terus-menerus mengetuk pintu kamar Filaret namun tidak ada jawaban.

Ketika 2 pelayan itu melihat Dylan sudah ada di sana, mereka sempat terkejut.

Mengabaikan keterkejutan mereka Dylan menyuruh mereka untuk minggir. Dan saat dia sudah didepan pintu Dyla mencoba mengetuk nya.

"Fila... Kau didalam... Ini aku Kakakmu, Dylan".

Mendengar suara Dylan, Filaret yang daritadi duduk menangis sambil memegang lutut mengangkat kepalanya.

"Iya,.... Aku ada di dalam".

".... Yosh, bisa kau bukakan pintunya!? ..... Aku sangat khawatir!?..... Kau juga sudah tidak makan selama 2 hari ini".

"..... Maaf, tapi aku tidak bisa!?.....Lebih baik kalian menjauh dariku..... Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi".

"Huh? Fila, kau ini ngomong apa? Memang siapa yang kau sakiti? Ayolah, buka pintunya biarkan aku masuk".

"AKU BILANG PERGI".

Filaret berteriak sekeras-kerasnya, sehingga membuat semua terkejut.

"AKU MOHON!!! TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!! AKU TIDAK INGIN MENYAKITI SIAPAPUN LAGI!!!! AKU HANYA INGIN BAHAGIA!!!! TAPI KENAPA AKU TIDAK BISA SEMENTARA ORANG LAIN BAHAGIA!!!! DARI DULU MEREKA MEMANGGILKU "MONSTER"!!! AKU TERUS DAN TERUS BERUSAHA MENYANGKAL NYA!!! TAPI, SEKARANG AKU SADAR!!! MEREKA BENAR!!! AYAH DAN IBU BENAR!!! BIANCA NEE-SAN DAN LISA NEE-SAN MEMANG BENAR!!! AKU INI MEMANG "MONSTER" BERKULIT MANUSIA!!! AKU MENYAKITI ORANG-ORANG YANG ADA DISEKITAR KU!!! JADI MENJAUHLAH DARIKU!!! AKU MOHON!!!!!....... Aku mohon!?".

Sambli menangis tersedu-sedu Filaret mengeluarkan segala keluh kesahnya selama ini.

Dan para pelayan yang mendengar memasang ekspresi rumit, tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi, tidak dengan Dylan.

"..... Fila....!? Kalau kau sekarang ada di balik pintu aku sarankan segera bergeser".

Mendengar peringatan Dylan, Filaret yang dari tadi ada di balik pintu segera menghindar.

"Impact"

Dylan merapalkan sebuah mantra sihir yang meledakan pintu kamar Filaret. Membuat semua orang terkejut dibuatnya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dylan masuk ke kamar dan berdiri di depan Filaret yang duduk di bahwa.

Keheningan terjadi untuk sesaat, lalu Dylan mulai berjongkok memperhatikan Filaret lalu mulai memeluknya dengan erat.

".... Nii-san?".

Filaret yang kebingungan mulai bertanya pada Dylan yang segera melepas pelukan nya.

"Siapa bilang kau Monster?..... Kau tidak pernah menyakiti siapapun?..... Lihat, aku baik-baik saja sekarang?..... Kau punya potensi yang besar.... Yang perlu kau lakukan adalah belajar cara mengontrol nya saja.... Dan jika ada yang memanggil mu sebagai "Monster".... Akan aku hajar orang itu.... Sekalipun, mereka adalah orang tua mu sendiri..... Karena itu,.... Jangan menangis lagi, ya".

Filaret langsung tersentak, dia kembali ingat hari dimana dia baru datang ke Mansion Arcadia.

Dia sempat berpikir Dylan adalah sosok yang dingin dan sulit di dekati karena selalu memasang ekspresi yang datar.

Tapi, itu semua salah.

Justru Dylan lah yang pertama kali, memperkenalkan diri dan bahkan terus-menerus menemaninya.

Bukan hanya itu saja, dia jugalah yang banyak meluangkan waktu untuk mengajarinya berbagai hal yang tidak dia ketahui terutama soal sihir.

Menyadari fakta itu, kemudian Filaret menangis sejadi-jadinya, dia menangis bukan karena sedih.

Tapi, karena dia tahu bahwa diluar sana masih ada yang mau menerimanya.

Dylan yang melihat Filaret menangis kembali tersenyum dan memeluknya sambil terus menunggu sampai dia selesai menangis.

Dan untuk kedua kalinya, Dylan tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan akan membawa perubahan untuk dirinya dan Dunia.

Sekali lagi.

Terpopuler

Comments

Big Boss

Big Boss

tindakan akan menimbulkan efek yang luar biasa apalagi masalah wanita hehehe

2024-11-16

1

liker

liker

maaf Thor gw berenti, bukannya ceritanya jelek atau apa, gw juga g tau karna gw baru baca bab awal awal doang, tapi gw g suka ama campuran bahasa Jepangnya, dan g terbiasa jadi kesannya aneh bacanya jadi gw berenti smpai sini aja

2024-11-23

3

☆White Cygnus☆

☆White Cygnus☆

lanjut mampir thor.

2024-03-08

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Terlahir Sebagai Penjahat.
2 Chapter 2 : Menolak Pertunangan Dengan Putri Raja.
3 Chapter 3 : Metode Pertanian BMF.
4 Chapter 4 : Menangani Kenangan Pahit Dan Kesedihan Firalet.
5 Chapter 5 : Hari Yang Tenang.
6 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 1.
7 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 2.
8 Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 3 (Final).
9 Chapter 7 : Unique Skill.
10 Chapter 8 : Sebelum "Insiden Monster Panik".
11 Chapter 9 : Monster Panik part 1.
12 Chapter 9 : Monster Panik part 2.
13 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 1.
14 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 2.
15 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 3.
16 Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 4.
17 Chapter 11 : Alur Cerita Game Berubah Drastis.
18 Chapter 12 : Tamu Dari Ibu Kota Dan Undangan Pesta Ball Kerajaan.
19 Chapter 13 : Algrand, Ibukota Kerajaan Ingrid.
20 Chapter 14 : Hubungan Yang Erat Untuk Kedepannya.
21 Side Story 1 : POV Vanessa Sera Ingrid.
22 Side Story 2 : POV Filaret van Arcadia
23 Chapter 15 : Tawaran Dylan Dan Situasi Kerajaan Rachael.
24 Chapter 16 : Jalan-jalan Dan Kembali Belajar.
25 Chapter 17 : Pesta Ball part 1.
26 Chapter 17 : Pesta Ball part 2.
27 Chapter 17 : Pesta Ball part 3.
28 Chapter 18 : Shadow Crow Dan Hadiah Ulang Tahun.
29 Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 1.
30 Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 2.
31 Chapter 20 : Tekad Baru Dan Keberangkatan.
32 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 1.
33 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 2.
34 Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 3.
35 Chapter 22 : Pengumuman Hasil Tes Dan Penculikan.
36 Chapter 23 : Munculnya Masalah Baru.
37 Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 1.
38 Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 2.
39 Chapter 25 : Pesta Penyambutan Dan Pertemuan.
40 Chapter 26 : Pembicaraan Dan Percobaan Pembunuhan.
41 Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 1.
42 Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 2.
43 Chapter 28 : Tanggung Jawab Bersama.
44 Chapter 29 : Camping.
45 Chapter 30 : Pelajaran Dan Pelatihan Di Mulai.
46 Chapter 31 : Pertemuan Tak Terduga.
47 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 1.
48 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 2.
49 Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 3.
50 Chapter 33 : Kesedihan Dan Rasa Frustasi Ritzia.
51 Chapter 34 : Kembali Dan Hasil Penyelidikan.
52 Chapter 35 : Tak Tahu Diri.
53 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 1.
54 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 2.
55 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 3.
56 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 4.
57 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 5.
58 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 6.
59 Chapter 36 : Ekspresi Dungeon part 7.
60 Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 8.
61 Chapter 37 : Kembali Dengan Selamat.
62 Chapter 38 : Hasil Dan Rekaman.
63 Chapter 39 : Perjalanan Menuju Resort Akademi.
64 Chapter 40 : Ayo Kita Santai Sejenak.
65 Chapter 41 : Musemum Lazarus.
66 Chapter 42 : Latihan "Kemaritiman" Hanyalah Kedok.
67 Chapter 43 : Misi Penyelidikan Yang Berubah Menjadi Misi Penyelamatan.
68 Chapter 44 : Penyergapan.
69 Chapter 45 : Rencana Vanessa Dan Permintaan Reiner
70 Chapter 46 : Keputusan Lafia.
71 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 1.
72 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 2.
73 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 3.
74 Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 4.
75 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 1.
76 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 2.
77 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 3.
78 Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 4.
79 Chapter 49 : Filaret vs Tanifa.
80 Chapter 50 : Alasan Yang Tak Masuk Akal.
81 Chapter 51 : Orang Bodoh.
82 Chapter 52 : Pertarung Yang Tak Seimbang.
83 Chapter 53 : Seorang Penjahat Yang Juga Seorang Malaikat Kematian.
84 Chapter 54 : Istirahat Dengan Bermain Basket Dan Pesta Barbeque.
85 Chapter 55 : Pembicaraan Seorang Ayah Dan Putrinya.
86 Chapter 56 : Rencana Ratu Celestine Dan Curhat Vanessa.
87 Chapter 57 : Hadiah Kecil.
88 Chapter 58 : Pahlawan Dan Penjahat.
89 Chapter 59 : Niat Jahat Nelson.
90 Chapter 60 : Balasan Dari Kesombongan.
91 Side Story 3 : POV Claudia von Ritzburg.
92 Chapter 61 : Kebetulan Dan Salah Paham.
93 Chapter 62 : Persiapan Festival Akademi.
94 Chapter 63 : Festival Akademi.
95 Chapter 64 : Amarah Conrad.
96 Chapter 65 : Penyerang Misterius.
97 Chapter 66 : "Aku Menolak".
98 Chapter 67 : Monster Panggilan.
99 Chapter 68 : Kebencian Solaris.
100 Chapter 69 : Akan Aku Hancurkan Dunia Ini.
101 Chapter 70 : Orang Yang Tidak Seperti Itu.
102 Chapter 71 : Penilaian Dan Terpaksa Ikut.
103 Chapter 72 : Rapat Penting Kemiliteran.
104 Chapter 73 : Pemanggilan Familiar.
105 Chapter 74 : Tugas Resmi.
106 Chapter 75 : Masalah Baru.
107 Chapter 76 : Putri Dan Pangeran Dari Kerajaan Edelweis.
108 Chapter 77 : Badai Laut.
109 Chapter 78 : Penyelamatan Korban.
110 Chapter 79 : Bendera Putih.
111 Chapter 80 : Tantangan Raja Christopher.
112 Chapter 81 : Dylan vs Chris (Pertarungan Kecepatan).
113 Chapter 82 : Sejarah Naga Laut, Leviathan.
114 Chapter 83 : Ucapan Terima Kasih Dan Keberangkatan.
115 Chapter 84 : Kota Rondine.
116 Chapter 85 : Heroine Elf Sang Pahlawan.
117 Chapter 86 : Desa Para Elf.
118 Chapter 87 : Cerita Seorang Elf Yang Bernyanyi Dibawah Sinar Rembulan.
119 Chapter 88 : Gunung Asthe.
120 Chapter 89 : Undangan Black Dragon.
121 Chapter 90 : Cinta Yang Membawa Obsesi.
122 Chapter 91 : Suasana Di Mansion Cylde.
123 Chapter 92 : Dunia segel "Realm Between Realm".
124 Referensi Karakter (Fix)
125 Referensi Karakter Ke 2
126 Chapter 93 : Serangan Desa Elf.
127 Chapter 94 : Diskusi Dan Keputusan.
128 Chapter 95 : Alex Dan Identitas Nameless.
129 Chapter 96 : Teleportasi.
130 Chapter 97 : Serangan Awal.
131 Chapter 98 : Tepat Waktu.
132 Chapter 99 : Rute Lain Dan Persiapan.
133 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 1.
134 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 2.
135 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 3.
136 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 4.
137 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 5.
138 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 6.
139 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 7.
140 Chapter 100: Pertempuran Hutan Beltram part 8.
141 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 9.
142 Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 10.
143 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 1.
144 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 2.
145 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 3.
146 Chapter 101 : Akhir Dari Pertempuran (Dylan vs Viola) part 4.
147 Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 5.
148 Chapter 102 : Bala Bantuan Datang.
149 Chapter 103 : Situasi Yang Berbalik.
150 Chapter 104 : "Kelemahan Dari Unique Skillmu adalah....".
151 Chapter 105 : Blasted Of Yggdrasil Magic Tree.
152 Chapter 106 : Pengkhianat Dan Alasan Dibalik Kebencian Heroine.
153 Side Story : "Reputasi ku bisa hancur...".
154 Chapter 107 : Pasca Event Hutan Beltram.
155 Chapter 108 : Frustasi.
156 Chapter 109 : Pentas Seni Drama.
157 Chapter 110 : Kegelisahan Filaret.
158 Chapter 111 : Heroine Untuk Ornest.
159 Chapter 112 : Lantunan Panggilan Ocarina.
160 Chapter 113 : Vanessa, Flora dan Alasan Luke.
161 Chapter 114 : Keinginan Reiner, Kekhawatiran Olga, Kembalinya Seseorang.
162 Chapter 115 : "Aku sudah bukan bawahan mu....".
163 Chapter 116 : Munculnya Pasukan Laut Leviathan.
164 Chapter 117 : "Naga Laut" Leviathan.
165 Chapter 118 : Aqua Breath Dan Serangan Langsung.
166 Side Story : "Kembalikan bantal ku, bangsat!!!" part 1.
167 Chapter 119 : Pertarungan Ditengah Badai Lautan.
168 Chapter 120 : Pertolongan.
169 Chapter 121 : Kebenaran Dibalik Sosok Sang Dalang.
170 Chapter 122 : ".... Bolehkan, aku hajar adik mu ini?".
171 Chapter 123 : Ratu Naga Mear Dan Balasan Awal Untuk Rafen.
172 Chapter 124 : *.... Maka, biar aku saja yang mati*.
173 Chapter 125 : Magic Disrupting Mist.
174 Chapter 126 : Malapetaka Yang Kembali.
175 Chapter 127 : Akhir sang "Naga Laut" dan Kebenaran Fafnir.
176 Chapter 128 : Rahasia dan Kesepakatan Bersama.
177 Chapter 129 : Undangan Dan Aula Sidang.
178 Chapter 130 : Percobaan Pembunuhan Dan Rumor "Pengintai Malam".
179 Side Story : Elsa, Guru Seksi Otak Otot.
180 Chapter 131 : Persidangan.
181 Chapter 132 : Rafen.
182 Chapter 133 : Hell Mimic.
183 Chapter 134 : Serangan Hell Mimic.
184 Chapter 135 : Kenangan Ruvick dan Serangan Multistrike.
185 Chapter 136 : Penghargaan.
186 Chapter 137 : Pulang Dan Sedikit Masalah Di Kapal Terbang.
187 Chapter 138 : Laporan Dan Obrolan Para Gadis.
188 Chapter 139 : Senior Yang Kesusahan Dan Permintaan Annastasia-sensei (Fix).
189 Chapter 140 : Tuduhan Palsu.
190 Side Story : Ritzia vs Tugas Melukis Alberto-sensei.
191 Chapter 141 : Perdebatan Tidak Penting.
192 Chapter 142 : Kualitime Ayah, Anak Dan Hasil Otopsi.
193 Chapter 143 : "Hukuman" Olga untuk Frey Dan Gadis Pencuri Ikan.
194 Chapter 144 : Heroine Baru Dari Ras Beastkin.
195 Chapter 145 : Kenangan Ratu Iblis, Hasil Koroner, Dan Permintaan Risu.
196 Chapter 146 : Alasan Risu.
197 Chapter 147 : Sejarah Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Shiledwelt.
198 Chapter 148 : The Oracle's.
199 Chapter 149 : Cerita Tina.
200 Chapter 150 : Bantuan Dylan Untuk Tina.
201 Chapter 151 : Kunjungan Mentri Pendidikan Dan Latihan Luke.
202 Chapter 152 : Metri Pendidikan Dan Pembicaraan Di Taman Akademi.
203 Chapter 153 : Panggilan Protas Dari Aria.
204 Chapter 154 : Memulai Perselisihan Dengan Ketua OSIS.
205 Chapter 155 : Berbelanja Bersama Dan Benih Kebencian.
206 Chapter 156 : Bersembunyi Dibalik Bilik Ganti.
207 Chapter 157 : Pikiran Jahat Dylan Alias Ritsuka.
208 Chapter 158 : Ketahuan.
209 Chapter 159 : Undang Pesta Ulang Tahun.
210 Chapter 160 : POV Chef Joseph Dan Tatapan Dari Jarak Jauh.
211 Chapter 161 : Keengganan Untuk Hadir.
212 Chapter 162 : Teriakan Di Dalam Kegelapan Malam.
213 Chapter 163 : Menemukan Sarang Vampir.
214 Chapter 164 : Tujuan Desmond.
215 Chapter 165 : Vampir.
216 Chapter 166 : Ledakan Dari Bawah Tanah.
217 Chapter 167 : Menerima Konsekuensi Dan Pertemuan Rahasia Bangsawan.
218 Chapter 168 : Menghadiri Pesta Ulang Tahun Ratu Celestine Di Istana.
219 Chapter 169 : Sambutan Keluarga Kerajaan Dan 2 Diplomat Baru.
220 Chapter 170 : Kerajaan Yaegashi Dan Duduk Bersama Di Satu Meja.
221 Chapter 171 : (DASAR BANGKE!!!! KENAPA AKU MALAH KECEPLOSAN....).
222 Chapter 172 : Tamu Tak Di Undang.
223 Chapter 173 : Manuver Rahasia.
224 Chapter 174 : Kekacauan Di Pesta Kerajaan.
225 Chapter 175 : Tim Gabungan Melawan "Grim Ripper".
226 Chapter 176 : Pertarungan Sengit.
227 Chapter 177 : Vampir Dengan 2 Artefak "Master Canes".
228 Chapter 178 : Peningkatan Unique Skill Dan Penentuan.
229 Chapter 179 : Falma Yang Kesulitan.
230 Chapter 180 : Rasa Bersalah Falma.
231 Chapter 181 : Sebuah "Janji" Dan Reuni Saling Benci.
232 Chapter 182 : Terlepas Dari Rasa Bersalah Dan Dendam.
233 Chapter 183 : Rencana Awin.
234 Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 1).
235 Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 2).
236 Chapter 185 : "Explotion Chaos" Dan "Penjahat" Yang Kembali.
Episodes

Updated 236 Episodes

1
Chapter 1 : Terlahir Sebagai Penjahat.
2
Chapter 2 : Menolak Pertunangan Dengan Putri Raja.
3
Chapter 3 : Metode Pertanian BMF.
4
Chapter 4 : Menangani Kenangan Pahit Dan Kesedihan Firalet.
5
Chapter 5 : Hari Yang Tenang.
6
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 1.
7
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 2.
8
Chapter 6 : Dylan vs Fafnir part 3 (Final).
9
Chapter 7 : Unique Skill.
10
Chapter 8 : Sebelum "Insiden Monster Panik".
11
Chapter 9 : Monster Panik part 1.
12
Chapter 9 : Monster Panik part 2.
13
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 1.
14
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 2.
15
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 3.
16
Chapter 10 : Dylan vs Oscar part 4.
17
Chapter 11 : Alur Cerita Game Berubah Drastis.
18
Chapter 12 : Tamu Dari Ibu Kota Dan Undangan Pesta Ball Kerajaan.
19
Chapter 13 : Algrand, Ibukota Kerajaan Ingrid.
20
Chapter 14 : Hubungan Yang Erat Untuk Kedepannya.
21
Side Story 1 : POV Vanessa Sera Ingrid.
22
Side Story 2 : POV Filaret van Arcadia
23
Chapter 15 : Tawaran Dylan Dan Situasi Kerajaan Rachael.
24
Chapter 16 : Jalan-jalan Dan Kembali Belajar.
25
Chapter 17 : Pesta Ball part 1.
26
Chapter 17 : Pesta Ball part 2.
27
Chapter 17 : Pesta Ball part 3.
28
Chapter 18 : Shadow Crow Dan Hadiah Ulang Tahun.
29
Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 1.
30
Chapter 19 : Pesta Ulang Tahun Pavline part 2.
31
Chapter 20 : Tekad Baru Dan Keberangkatan.
32
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 1.
33
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 2.
34
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 3.
35
Chapter 22 : Pengumuman Hasil Tes Dan Penculikan.
36
Chapter 23 : Munculnya Masalah Baru.
37
Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 1.
38
Chapter 24 : Bisnis Dan Hari Pertama part 2.
39
Chapter 25 : Pesta Penyambutan Dan Pertemuan.
40
Chapter 26 : Pembicaraan Dan Percobaan Pembunuhan.
41
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 1.
42
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 2.
43
Chapter 28 : Tanggung Jawab Bersama.
44
Chapter 29 : Camping.
45
Chapter 30 : Pelajaran Dan Pelatihan Di Mulai.
46
Chapter 31 : Pertemuan Tak Terduga.
47
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 1.
48
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 2.
49
Chapter 32 : Trail Running Yang Kacau part 3.
50
Chapter 33 : Kesedihan Dan Rasa Frustasi Ritzia.
51
Chapter 34 : Kembali Dan Hasil Penyelidikan.
52
Chapter 35 : Tak Tahu Diri.
53
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 1.
54
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 2.
55
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 3.
56
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 4.
57
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 5.
58
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 6.
59
Chapter 36 : Ekspresi Dungeon part 7.
60
Chapter 36 : Ekspedisi Dungeon part 8.
61
Chapter 37 : Kembali Dengan Selamat.
62
Chapter 38 : Hasil Dan Rekaman.
63
Chapter 39 : Perjalanan Menuju Resort Akademi.
64
Chapter 40 : Ayo Kita Santai Sejenak.
65
Chapter 41 : Musemum Lazarus.
66
Chapter 42 : Latihan "Kemaritiman" Hanyalah Kedok.
67
Chapter 43 : Misi Penyelidikan Yang Berubah Menjadi Misi Penyelamatan.
68
Chapter 44 : Penyergapan.
69
Chapter 45 : Rencana Vanessa Dan Permintaan Reiner
70
Chapter 46 : Keputusan Lafia.
71
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 1.
72
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 2.
73
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 3.
74
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 4.
75
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 1.
76
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 2.
77
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 3.
78
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 4.
79
Chapter 49 : Filaret vs Tanifa.
80
Chapter 50 : Alasan Yang Tak Masuk Akal.
81
Chapter 51 : Orang Bodoh.
82
Chapter 52 : Pertarung Yang Tak Seimbang.
83
Chapter 53 : Seorang Penjahat Yang Juga Seorang Malaikat Kematian.
84
Chapter 54 : Istirahat Dengan Bermain Basket Dan Pesta Barbeque.
85
Chapter 55 : Pembicaraan Seorang Ayah Dan Putrinya.
86
Chapter 56 : Rencana Ratu Celestine Dan Curhat Vanessa.
87
Chapter 57 : Hadiah Kecil.
88
Chapter 58 : Pahlawan Dan Penjahat.
89
Chapter 59 : Niat Jahat Nelson.
90
Chapter 60 : Balasan Dari Kesombongan.
91
Side Story 3 : POV Claudia von Ritzburg.
92
Chapter 61 : Kebetulan Dan Salah Paham.
93
Chapter 62 : Persiapan Festival Akademi.
94
Chapter 63 : Festival Akademi.
95
Chapter 64 : Amarah Conrad.
96
Chapter 65 : Penyerang Misterius.
97
Chapter 66 : "Aku Menolak".
98
Chapter 67 : Monster Panggilan.
99
Chapter 68 : Kebencian Solaris.
100
Chapter 69 : Akan Aku Hancurkan Dunia Ini.
101
Chapter 70 : Orang Yang Tidak Seperti Itu.
102
Chapter 71 : Penilaian Dan Terpaksa Ikut.
103
Chapter 72 : Rapat Penting Kemiliteran.
104
Chapter 73 : Pemanggilan Familiar.
105
Chapter 74 : Tugas Resmi.
106
Chapter 75 : Masalah Baru.
107
Chapter 76 : Putri Dan Pangeran Dari Kerajaan Edelweis.
108
Chapter 77 : Badai Laut.
109
Chapter 78 : Penyelamatan Korban.
110
Chapter 79 : Bendera Putih.
111
Chapter 80 : Tantangan Raja Christopher.
112
Chapter 81 : Dylan vs Chris (Pertarungan Kecepatan).
113
Chapter 82 : Sejarah Naga Laut, Leviathan.
114
Chapter 83 : Ucapan Terima Kasih Dan Keberangkatan.
115
Chapter 84 : Kota Rondine.
116
Chapter 85 : Heroine Elf Sang Pahlawan.
117
Chapter 86 : Desa Para Elf.
118
Chapter 87 : Cerita Seorang Elf Yang Bernyanyi Dibawah Sinar Rembulan.
119
Chapter 88 : Gunung Asthe.
120
Chapter 89 : Undangan Black Dragon.
121
Chapter 90 : Cinta Yang Membawa Obsesi.
122
Chapter 91 : Suasana Di Mansion Cylde.
123
Chapter 92 : Dunia segel "Realm Between Realm".
124
Referensi Karakter (Fix)
125
Referensi Karakter Ke 2
126
Chapter 93 : Serangan Desa Elf.
127
Chapter 94 : Diskusi Dan Keputusan.
128
Chapter 95 : Alex Dan Identitas Nameless.
129
Chapter 96 : Teleportasi.
130
Chapter 97 : Serangan Awal.
131
Chapter 98 : Tepat Waktu.
132
Chapter 99 : Rute Lain Dan Persiapan.
133
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 1.
134
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 2.
135
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 3.
136
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 4.
137
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 5.
138
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 6.
139
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 7.
140
Chapter 100: Pertempuran Hutan Beltram part 8.
141
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 9.
142
Chapter 100 : Pertempuran Hutan Beltram part 10.
143
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 1.
144
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 2.
145
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 3.
146
Chapter 101 : Akhir Dari Pertempuran (Dylan vs Viola) part 4.
147
Chapter 101 : Menuju Akhir Pertempuran (Dylan vs Viola) part 5.
148
Chapter 102 : Bala Bantuan Datang.
149
Chapter 103 : Situasi Yang Berbalik.
150
Chapter 104 : "Kelemahan Dari Unique Skillmu adalah....".
151
Chapter 105 : Blasted Of Yggdrasil Magic Tree.
152
Chapter 106 : Pengkhianat Dan Alasan Dibalik Kebencian Heroine.
153
Side Story : "Reputasi ku bisa hancur...".
154
Chapter 107 : Pasca Event Hutan Beltram.
155
Chapter 108 : Frustasi.
156
Chapter 109 : Pentas Seni Drama.
157
Chapter 110 : Kegelisahan Filaret.
158
Chapter 111 : Heroine Untuk Ornest.
159
Chapter 112 : Lantunan Panggilan Ocarina.
160
Chapter 113 : Vanessa, Flora dan Alasan Luke.
161
Chapter 114 : Keinginan Reiner, Kekhawatiran Olga, Kembalinya Seseorang.
162
Chapter 115 : "Aku sudah bukan bawahan mu....".
163
Chapter 116 : Munculnya Pasukan Laut Leviathan.
164
Chapter 117 : "Naga Laut" Leviathan.
165
Chapter 118 : Aqua Breath Dan Serangan Langsung.
166
Side Story : "Kembalikan bantal ku, bangsat!!!" part 1.
167
Chapter 119 : Pertarungan Ditengah Badai Lautan.
168
Chapter 120 : Pertolongan.
169
Chapter 121 : Kebenaran Dibalik Sosok Sang Dalang.
170
Chapter 122 : ".... Bolehkan, aku hajar adik mu ini?".
171
Chapter 123 : Ratu Naga Mear Dan Balasan Awal Untuk Rafen.
172
Chapter 124 : *.... Maka, biar aku saja yang mati*.
173
Chapter 125 : Magic Disrupting Mist.
174
Chapter 126 : Malapetaka Yang Kembali.
175
Chapter 127 : Akhir sang "Naga Laut" dan Kebenaran Fafnir.
176
Chapter 128 : Rahasia dan Kesepakatan Bersama.
177
Chapter 129 : Undangan Dan Aula Sidang.
178
Chapter 130 : Percobaan Pembunuhan Dan Rumor "Pengintai Malam".
179
Side Story : Elsa, Guru Seksi Otak Otot.
180
Chapter 131 : Persidangan.
181
Chapter 132 : Rafen.
182
Chapter 133 : Hell Mimic.
183
Chapter 134 : Serangan Hell Mimic.
184
Chapter 135 : Kenangan Ruvick dan Serangan Multistrike.
185
Chapter 136 : Penghargaan.
186
Chapter 137 : Pulang Dan Sedikit Masalah Di Kapal Terbang.
187
Chapter 138 : Laporan Dan Obrolan Para Gadis.
188
Chapter 139 : Senior Yang Kesusahan Dan Permintaan Annastasia-sensei (Fix).
189
Chapter 140 : Tuduhan Palsu.
190
Side Story : Ritzia vs Tugas Melukis Alberto-sensei.
191
Chapter 141 : Perdebatan Tidak Penting.
192
Chapter 142 : Kualitime Ayah, Anak Dan Hasil Otopsi.
193
Chapter 143 : "Hukuman" Olga untuk Frey Dan Gadis Pencuri Ikan.
194
Chapter 144 : Heroine Baru Dari Ras Beastkin.
195
Chapter 145 : Kenangan Ratu Iblis, Hasil Koroner, Dan Permintaan Risu.
196
Chapter 146 : Alasan Risu.
197
Chapter 147 : Sejarah Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Shiledwelt.
198
Chapter 148 : The Oracle's.
199
Chapter 149 : Cerita Tina.
200
Chapter 150 : Bantuan Dylan Untuk Tina.
201
Chapter 151 : Kunjungan Mentri Pendidikan Dan Latihan Luke.
202
Chapter 152 : Metri Pendidikan Dan Pembicaraan Di Taman Akademi.
203
Chapter 153 : Panggilan Protas Dari Aria.
204
Chapter 154 : Memulai Perselisihan Dengan Ketua OSIS.
205
Chapter 155 : Berbelanja Bersama Dan Benih Kebencian.
206
Chapter 156 : Bersembunyi Dibalik Bilik Ganti.
207
Chapter 157 : Pikiran Jahat Dylan Alias Ritsuka.
208
Chapter 158 : Ketahuan.
209
Chapter 159 : Undang Pesta Ulang Tahun.
210
Chapter 160 : POV Chef Joseph Dan Tatapan Dari Jarak Jauh.
211
Chapter 161 : Keengganan Untuk Hadir.
212
Chapter 162 : Teriakan Di Dalam Kegelapan Malam.
213
Chapter 163 : Menemukan Sarang Vampir.
214
Chapter 164 : Tujuan Desmond.
215
Chapter 165 : Vampir.
216
Chapter 166 : Ledakan Dari Bawah Tanah.
217
Chapter 167 : Menerima Konsekuensi Dan Pertemuan Rahasia Bangsawan.
218
Chapter 168 : Menghadiri Pesta Ulang Tahun Ratu Celestine Di Istana.
219
Chapter 169 : Sambutan Keluarga Kerajaan Dan 2 Diplomat Baru.
220
Chapter 170 : Kerajaan Yaegashi Dan Duduk Bersama Di Satu Meja.
221
Chapter 171 : (DASAR BANGKE!!!! KENAPA AKU MALAH KECEPLOSAN....).
222
Chapter 172 : Tamu Tak Di Undang.
223
Chapter 173 : Manuver Rahasia.
224
Chapter 174 : Kekacauan Di Pesta Kerajaan.
225
Chapter 175 : Tim Gabungan Melawan "Grim Ripper".
226
Chapter 176 : Pertarungan Sengit.
227
Chapter 177 : Vampir Dengan 2 Artefak "Master Canes".
228
Chapter 178 : Peningkatan Unique Skill Dan Penentuan.
229
Chapter 179 : Falma Yang Kesulitan.
230
Chapter 180 : Rasa Bersalah Falma.
231
Chapter 181 : Sebuah "Janji" Dan Reuni Saling Benci.
232
Chapter 182 : Terlepas Dari Rasa Bersalah Dan Dendam.
233
Chapter 183 : Rencana Awin.
234
Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 1).
235
Chapter 184 : Masa Lalu Demiurge Dan Kutukan Dewa Iblis (part 2).
236
Chapter 185 : "Explotion Chaos" Dan "Penjahat" Yang Kembali.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!