2 Tahun sudah berlalu.
Di sebuah Hutan perbatasan wilayah Arcadia.
Ada sekelompok Ksatria yang sedang melakukan ekspedisi.
Dari simbol berbentuk seperti burung Elang putih pada Armor mereka, menjelaskan bahwa mereka adalah Ksatria dari wilayah Arcadia.
Saat ini mereka sedang berhadapan dengan beberapa ekor Devil Boar.
Nah, kenapa mereka melawan sejumlah Devil Boar?
Itu karena keluhan dari warga yang tinggal di desa diluar kota pusat Arcadia, bahwa ladang mereka sering dirusak oleh Devil Boar.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa. Para petani jadi gagal panen akibat dari ulah makhluk itu yang memakan tanaman mereka.
"Berpencar, betul formasi dan kepung dia".
Seorang Ksatria yang tampaknya berpangkat
Kapten memberikan perintah pada bawahannya untuk berpencar mengelilingi Devil Boar.
Merasa bawahannya sudah pada posisi siap bertarung. Sang Kapten siap memberikan perintah.
"Baiklah, sekarang mari kita.... ".
Tiba-tiba suara terhenti karena ada seseorang yang memegang pundak kirinya.
".....Kalian mundur lah!? Serahkan saja pada kami".
Saat Kapten Ksatria itu menoleh dia sadar bahwa orang yang menghentikan nya adalah seorang pemuda tampan berambut hitam sedikit acak-acakan, bermata biru tua.
Dia membawa sebuah senjata berupa pedang Katana Jepang berjumlah 2 buah yang dia gantungkan di sebelah pinggang kirinya.
".... Tuan Dylan".
Ya, benar orang yang menghentikan Kapten Ksatria itu adalah Dylan van Arcadia. Putra Earl Arcadia sekaligus atasan mereka.
"Tunggu dulu, Tuan!?.... Ini tugas kami para Ksatria!? Anda tidak perlu repot....".
"Santai saja, Kapten!? Serahkan saja monster ini pada kami. Tidak akan lama, kok".
Tiba-tiba terdengar suara gadis yang ikut berjalan melewati sang Kapten. Gadis itu memiliki wajah yang sangat Cantik dengan lekuk tubuh yang indah dan dada yang berisi.
Memiliki rambut panjang sampai pinggang berwarna merah dan mata yang berwarna kuning keemasan.
Dia membawa sebuah senjata berupa Sabit sebesar 2 meter yang di gantung di punggung nya.
"Heh?..... Tunggu, Nona Filaret juga?".
Benar, Gadis itu adalah Filaret van Pillos yang sekarang berganti nama menjadi Filaret van Arcadia. Adik perempuan tiri Dylan yang lebih muda 5 bulan.
Kedua Kakak beradik itu dengan santainya berjalan menuju ke arah sejumlah Devil Boar yang ada di hadapan mereka.
"..... Jadi, ini Devil Boar yang terus-menerus mengganggu warga Arcadia, ya".
"Warga terus mengeluh soal ladang mereka yang sering di serang.... Untungnya tidak ada korban jiwa".
"Ada korban jiwa maupun tidak, tetap tidak merubah apapun juga".
"Hmm.... Aku setuju, Nii-san!? Jadi, mari kita hajar makhluk ini".
"Karena jumlah mereka ada 6 mari kita bagi sama rata, kau hadapi 3 ekor dan aku lawan 3 ekor".
"Sepakat!!".
Setelah mereka selesai berdiskusi, mereka bersiap untuk bertarung.
"Baiklah,.... MAJU SINI KALIAN!!!!".
Filaret langsung tanpa basa-basi segera berlari menuju kearah 3 ekor Devil Boar yang sudah dia targetkan.
"Yare, yare....Dasar, Fila!? Selalu saja tidak sabaran".
Dylan dengan santai berjalan kearah 3 ekor Devil Boar yang dia targetkan tapi sambil mengeluh karena melihat tindakan Filaret yang langsung menerjang lawannya.
Di sisi lain.
Saat jarak antara Filaret dan para Devil Boar itu berdekatan, tanpa basa-basi dia langsung menggenggam Sabit yang dia bawa dan langsung segera menebas salah satu dari 3 ekor Devil Boar itu.
"Woriariaa...... ".
Dengan kecepatan tinggi Filaret memutarkan badannya sekaligus mengayunkan sabitnya ke arah 2 Devil Boar yang tersisa dan secara otomatis membelah mereka menjadi 2 bagian.
"Fiuh... Ini terlalu mudah".
Filaret bernapas lega sambil memutar-mutar kan Sabitnya.
Sementara itu Dylan dengan santai terus-menerus menghindari setiap serangan dari ketiga ekor Devil Boar. Seolah-olah sedang mempermainkan mereka.
".... Begitu ya!? Bukan hanya cepat, kalian juga memiliki daya serang yang kuat dan koordinasi yang bagus. Sayangnya..... ".
Dylan berhenti menghindar lalu berdiri santai dan memperlihatkan bahwa dia yang sekarang penuh dengan celah.
Dengan insting liarnya ketiga Devil Boar itu secara bersamaan langsung menerjang Dylan.
Saat jarak mereka mulai dekat, dalam gerakan lambat tangan kirinya mulai memegang sarung pedang dan tangan kanannya memegang gagang pedang.
"Phantom Blade".
Dalam sekejap mata Dylan sudah berpindah melewati ketiga Devil Boar itu. Dengan menarik salah satu Katana nya dan menebas ketiga Devil Boar itu dalam sekali ayunan.
Alhasil, ketiga Devil Boar itu langsung berubah menjadi segumpal daging cincang.
"..... Itu masih belum cukup..... Untuk mengalahkan ku".
Dylan melanjutkan kalimatnya yang terpotong tadi sambil meyarungkan pedang Katana nya.
Para Ksatria hanya bisa terdiam sambil terus membelalakkan mata mereka karena kejadian didepan mereka.
Di mana Tuan dan Nona yang harusnya mereka lindungi malah berbalik melindungi mereka dan dengan mudahnya mengalahkan musuh yang sulit mereka lawan.
"..... Sisanya aku serahkan padamu dan para bawahan mu, Kapten".
"Ba-baiklah, tuan".
Dylan mengatakan itu sambil berjalan menuju kudanya dan di ikuti Filaret yang juga berjalan menuju kuda miliknya untuk menunggu.
Sang kapten segera memberikan perintah kepada bawahannya, untuk segera membereskan mayat para Devil Boar itu.
"Ngomong-ngomong, Tuan Dylan dan Nona Filaret itu luar biasa, ya".
"Ya, kau benar!? Mereka masih sangat muda, tapi sudah melampaui kita para Ksatria".
"Tapi, aku penasaran akan beberapa hal?".
"Penasaran?".
"Iya!? Pertama, aku penasaran kenapa Tuan Dylan dan Nona Filaret sebagai bangsawan mau repot-repot ikut bergabung dengan tim Ekspresi!? Kedua, Nona Filaret itu seorang Penyihir, kan? Terus kenapa dia bertarung di garis depan bersama Tuan Dylan dan membawa senjata Sabit?".
Para Ksatria itu sedang membicarakan tentang kehebatan dari Tuan dan Nona mereka, sampai salah satu yang tampak seperti anggota baru dari mereka menanyakan alasan kenapa Tuan dan Nona mereka mau ikut tim Ekspedisi.
"Oh ya, karena kau baru saja bergabung, jadi kau masih belum tahu!? Biar aku ceritakan... ".
Sang, kapten mulai menceritakan awal kenapa Dylan dan Filaret ikut tim Ekspedisi.
Sebenarnya ini adalah hanya keinginan pribadi Dylan untuk ikut tim Ekspedisi, tentu saja hal itu ditolak oleh Ayah dan Ibunya.
Tapi, begitu Dylan menunjukkan kemampuan baik itu sihir atau skill berpedang nya, keduanya mau tidak mau memberikan izin.
Namun, Filaret yang mendengar itu juga ingin sekali ikut bersama Kakaknya dalam tim Ekspedisi dan menunjukkan bakatnya dalam hal sihir.
Tapi, tidak seperti Kakaknya meski sudah menunjukkan bakat sihirnya Filaret masih saja tidak diperbolehkan ikut.
Sayangnya gadis itu masih belum menyerah, dia segera meminta izin untuk menunjukkan bakat bertarung nya dengan menggunakan senjata berupa Sabit besar.
Melihat bakat bertarung Filaret yang mumpuni dengan terpaksa Ayah dan Ibunya juga mengizinkannya ikut dalam tim Ekspedisi.
Penyebab Filaret bisa menjadi petarung jarak dekat itu juga karena pengaruh dari Dylan.
Hampir tiap hari Dylan dan Filaret selalu berlatih bersama baik itu latihan sihir, dan latihan fisik. Terkadang mereka juga sering melakukan sparing battle bersama.
Dan kenapa Filaret menggunakan senjata berupa Sabit, itu juga atas saran dari Dylan.
Dylan pernah bilang kalau Filaret unggul dalam serangan jarak jauh tapi lemah dengan serangan jarak pendek.
Untuk menutupi kekurangan tersebut Dylan menyarankan agar dia memiliki sebuah senjata yang mampu membuatnya menjaga jarak dari lawannya.
Awalnya, Filaret memilih Tombak sebagai senjata nya, kemudian berganti menjadi Busur dan terakhir adalah Sabit besar yang dia pakai sekarang.
Ternyata kecocokan Filaret dengan Sabit sangat baik sehingga dia memutuskan untuk lebih baik menggunakan Sabit di pertarungan.
"..... Yah, kurang lebih begitulah ceritanya. Dan saat ditanya kenapa beliau melakukan ini dia menjawab "Aku ingin melatih sekaligus menggunakan kemampuanku, untuk melindungi dan melayani masyarakat Arcadia" itu yang Tuan Dylan ucapkan".
"Bukan hanya itu saja, berkat semua pengetahuan Tuan Dylan, wilayah Arcadia tidak akan jadi lebih baik seperti sekarang".
"Apa maksud kalian?".
"Asal kau tahu saja, semua fasilitas yang ada di kota dan desa seperti air bersih, saluran air, irigasi pertanian, bangun, perpustakaan, taman kota, pasar dan fasilitas yang lain. Itu semua ada berkat ide dan pengetahuan dari Tuan Dylan".
"Wow... ".
"Bukan hanya itu saja, fasilitas militer yang kita miliki sekarang itu juga berkat Tuan Dylan".
"Dan masalah krisis pangan juga berhasil di tangani oleh Tuan Dylan".
"Benar!?.... Aku pikir dari ekspresinya Tuan Dylan adalah orang yang cuek dan tidak pedulian kepada orang-orang disekitarnya!?.... Tapi, dibalik sikapnya yang dingin, sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik,..... Bahkan dia juga mendirikan sebuah panti asuhan untuk anak-anak terlantar dan korban budak beserta seluruh fasilitas nya".
Para Ksatria itu terus membicarakan tentang sosok Tuan mereka yang luar biasa, sementara Tuan yang bicarakan sedang duduk di atas kudanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
(---------)
Setelah selesai dengan pembasmian Devil Boar, Dylan beserta rombongan kembali ke desa yang melapor untuk memberi tahu bahwa masalahnya sudah selesai.
Sebelum pergi Dylan memastikan apakah ada hal lain yang diperlukan atau ada kerusakan apa saja yang perlu ditangani.
Kepala desa segera memberitahu nya beberapa kerusakan dan beberapa hal lain yang diperlukan.
Dylan berjaji akan mengirimkan seseorang untuk mengecek dan memperbaiki kerusakan serta membawa apa yang diperlukan. Setelah itu mereka segera pergi kembali ke Kota.
Begitu, sampai kota Dylan dan Filaret segera berpisah dengan rombongan Ksatria yang ingin melaporkan tugas pembasmian kali ini kepada Tuan Hyoga.
Tapi, Dylan menyuruh mereka untuk kembali ke Markas dan beristirahat sementara untuk laporannya biar dia dan Filaret yang akan melaporkannya.
Saat ini Dylan dan Filaret sedang berjalan santai di kota, setiap kali melintas penduduk di sana segera memberikan salam hangat kepada keduanya.
Baik Dylan maupun Filaret membalas sapaan orang-orang itu. Bahkan ada ada juga anak kecil yang ikut menyapa mereka.
"Sepertinya reputasi Nii-san, semakin baik tiap harinya".
"Iya..... Haaa... Sial, kenapa ini terjadi?.... Padahal aku hanya ingin tidak mencolok, saja".
"Sudah, sudah disesali pun juga percuma".
".... Aku tahu itu.... Andai Ayah dan Ibu tidak keceplosan.... Semuanya tidak akan seperti ini sekarang.....".
"Ya... Ayah dan Ibu orangnya memang begitu, sih. Jadi, mau bagaimana lagi".
Ada alasan kenapa para penduduk Kota terkhusus nya seluruh penduduk wilayah Arcadia bisa sangat menghormati Dylan adalah karena ulah dari Ayah dan Ibunya.
Dimulai dari Ayahnya yang dengan tidak sengaja membocorkan informasi soal putranya Dylan yang menemukan metode pertanian BMF pada saat penyuluhan kepada para petani di wilayah Arcadia.
Dan Ibunya yang keceplosan soal Dylan yang juga menciptakan beberapa alat Sihir seperti Hairdryer Sihir, Kulkas Sihir, Mesin Cuci Sihir dan masih banyak lagi.
Alasan Dylan membuat alat-alat Sihir itu adalah untuk membantu pekerjaan para pelayanan yang ada di rumahnya.
Berdasarkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya dan pengetahuan Sihir di dunia ini.
Dia menciptakan alat-alat yang ada di dunia yang sebelumnya dan ngganti listrik menjadi batu Sihir sebagai sumber tenaga.
Dylan berencana memasarkan produknya dengan menggunakan nama Ibunya Pavline sebagai penemu.
Namun, seperti Ayahnya Hyoga, Ibunya malah keceplosan dan menyebut nama Dylan sebagai penemu alat-alat.
Rencana Dylan yang melakukan itu bertujuan agar dirinya tidak mencolok malah menjadi berbalik dan membuat dirinya dihormati masyarakat dan itu menyusahkan nya.
Untungnya, pihak Kerajaan belum mendengar apapun soal apa yang terjadi di wilayah Arcadia.
Tapi, Dylan tahu bahwa pihak Kerajaan sudah mulai agak curiga.
(---------)
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka tiba di Mansion Arcadia. Begitu masuk mereka segera disambut oleh beberapa pelayan.
"Selamat Malam, Tuan Dylan. Nona Filaret".
"Selamat malam semua".
".... Hm.... Selamat Malam dan.... Kerja bagus... Semua......Ayah dan Ibu ada dimana?".
"Tuan Hyoga dan Nona Pavline sedang ada diruang Keluarga, Tuan Dylan".
"Hm. Baiklah kalau begitu.... Kalian semua boleh istirahat sekarang..... ".
Setelah bertanya dimana Ayah dan Ibunya, Dylan menyuruh seluruh pelayan untuk beristirahat hari ini. Kemudian Dylan dan Filaret segera menuju ruang Keluarga.
Sesampai di Ruang Keluarga, Dylan dan Filaret tanpa izin langsung membuka pintu dan masuk.
"Yo, Dylan, Filaret. Selamat datang".
"Selamat datang, Anak-anak ku tersayang".
Meski kasar, keduanya disambut sangat baik oleh Ayah dan Ibunya. Saat ini mereka sedang duduk berhadapan seperti sedang memainkan sesuatu di meja.
"Haaa.... Ayah dan Ibu main catur lagi, ya?".
"Yah, mau bagaimana lagi, pekerjaan Ayah sudah selesai dan sekarang ini punya waktu luang".
Permainan Catur sebenarnya tidak ada di dunia ini. Lalu bagaimana bisa ada?
Jawabannya adalah Dylan yang memperkenalkannya.
Awalnya Dylan merasa bosan dengan rutinitas yang dia jalani. Tapi, karena tidak ada hiburan seperti Televisi, manga dan Anime seperti di dunia sebelumnya.
Maka dia berinisiatif untuk membuat beberapa permainan yang setidaknya dapat menghiburnya.
Jadi dibuatlah beberapa permainan yang dia contoh dari kehidupan sebelumnya.
Dan salah satunya adalah permainan Catur ini. Karena rasa penasaran orang-orang yang ada disekitarnya, Dylan mengajarkan cara memainkan dan aturan permainannya.
Siapa sangka dalam waktu singkat, Catur menjadi salah satu beberapa permainan yang Dylan ciptakan, mulai digemari oleh semua orang di Mansion dan bahkan semua orang di wilayah Arcadia.
Baik Pria maupun Wanita, Orang tua, bahkan anak-anak juga ikut memainkan permainan ini.
"Lalu Ibu bagaimana?".
"Aku sudah serahkan sisa pekerjaan ku pada yang lainnya!? Terus kenapa kalian berdua ada disini?".
"Aku dan Nii-san, ingin melaporkan hasil dari Ekspedisi kami".
"Kita bahas itu besok, malam ini kalian istirahat saja".
".... Kalau begitu, aku dan Fila undur diri dulu. Selamat Malam".
"Selamat Malam".
Mereka segera berbalik dan berniat kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Oh ya, aku hampir lupa!?.... Dylan, hari ini kau mendapatkan sebuah surat".
"Huh?.... ".
Dylan segera menghentikan langkahnya menunjukkan ekspresi jijik saat mendengar kabar itu dari Ayahnya.
"Surat?.......Jangan bilang itu dari?".
"Ya, seperti yang biasanya".
Mengkonfirmasi itu dari ayahnya Dylan segera mengangkat wajahnya keatas dan menyentuh kepalanya seolah-olah sedang menahan rasa pusing.
"Haaaaa........Lagi-lagi si gadis bego itu!?...... Apa dia segitu bodohnya sampai tidak mengerti arti kata "berhenti"".
"Hei, Nii-san..... Jujur saja aku agak penasaran!? Siapa "gadis bego" Yang di maksud Nii-san, tadi?".
Filaret yang penasaran itu segera bertanya ke Dylan soal siapa orang yang dimaksud.
Tapi, entah mengapa dia memberikan tatapan mata yang sangat kosong, nada bicaranya yang dingin dan mengeluarkan Aura yang sedikit mengintimidasi sambil tersenyum menakutkan.
Semua orang yang ada di ruangan itu termasuk Ayah dan Ibu mereka menggigil ketakutan saat melihat ekspresi Filaret.
Dan satu-satunya orang yang tidak peka akan hal itu adalah Dylan yang masih tetap dengan ekspresi datarnya.
"......Oh ya, aku belum menceritakan padamu!?..... Orang yang ku maksud adalah Vanessa Sera Ingrid, Putri Ke-2 Raja Ingrid..... 2 tahun yang lalu di sempat menjadi korban penculikan saat liburan ke wilayah Arcadia ini..... Untung nya saat itu aku berhasil menolongnya".
"Nii-san menolong Tuan Putri Kerajaan itu dari para penculik, itu luar biasa!?... Terus kenapa Nii-san terlihat tampak tak menyukai nya? ".
"..... Ah soal itu, biar aku lanjutkan!?..... Yang Mulia yang mendapatkan kabar itu sangat berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan putrinya dan Beliau berniat memberiku sebuah "hadiah" Sebagai ucapan terimakasih".
"Hadiah?".
".... Awalnya aku pikir itu mungkin sebuah item atau mungkin sejumlah uang... Tapi, "hadiah" yang mereka maksud adalah "proposal pertunangan" antara Aku dan Putri Vanessa".
"Heeeee...... ".
Begitu mendengar maksud dari kata "hadiah" yang berarti pertunangan seketika membuat Filaret mengeluarkan aura mengintimidasi yang lebih besar dan menakutkan, bahkan matanya semakin kosong dan senyumannya semakin lebar.
".... Tapi, aku langsung menolak nya mentah-mentah... ".
Mendengar hal itu, aura Filaret langsung kembali tenang.
"Oh, baguslah!? Aku senang mendengar nya".
(..... Kenapa ini anak malah senang, sampai tersenyum bahagia begitu).
Dylan bertanya-tanya kenapa Filaret tampak senang akan hal itu.
"......Yah, pokoknya!? Aku tidak mau membaca atau membalasnya!? Jadi,... Sonia".
"Iya, Tuan".
"..... Bisa kau bakar semua surat itu.... Aku bosan berurusan dengannya".
"Ba-baiklah, Tuan".
(((Dasar kejam))).
Dylan memerintahkan Sonia untuk membakar semua surat yang dikirim Vanessa. Dan mereka menatap Dylan dan berbicara di dalam hati sebagai pria yang kejam.
Tanpa, peduli dengan hal itu Dylan segera pergi menuju kamarnya untuk beristirahat dari rutinitasnya hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
SkyBlue206
sadis banget bro 😂
normalnya, kalo perlakuan surat keluarga kerajaan kayak gitu bisa dianggap niat berontak ke keluarga kerajaan 🤣
2024-12-18
2
Ardi Provision
adik tiri atau adik angkat??
kalau dari penjelasan sebelum nya seharusnya adik angkat
2025-02-02
1
Erwinsyah
nona? seharusnya di panggil nyonya dong🤔
2024-04-26
3