Kembali saat Dylan masih bertarung dengan Fafnir.
Di kediaman Arcadia saat ini kepala keluarga Arcadia, Hyoga van Arcadia sedang makan siang ditemani Istrinya Pavline van Arcadia dan putri angkatnya Filaret van Arcadia.
"Oh ya, di mana Dylan? Tumben dia tidak ikut makan bersama?".
"Entahlah, Aku tidak tahu dimana? Kau tahu di mana Dylan, Fila-chan?".
"Hmmm.... Tadi, Nii-san bilang ingin berlatih di hutan dan akan pulang sore nanti".
"Begitu, ya!?..... Lalu dimana Sonia? Dia tidak terlihat sejak pagi".
"Sonia-chan, bilang kalau ada urusan yang harus dia selesaikan".
"...... Urusan, kah?".
Mendengar kemana Dylan pergi Hyoga sama sekali tidak khawatir, tapi entah mengapa saat dia dengar Sonia memiliki "urusan yang harus di selesaikan" membuatnya merasa curiga.
Sore harinya.
Mansion Arcadia menjadi sangat panik.
Penyebabnya adalah Sonia yang pulang dengan membopong Dylan yang terluka parah.
Para pelayan segera membawa Dylan kembali ke kamarnya dan segera memanggil para Dokter.
Pavline dan Filaret langsung panik saat mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada Dylan.
"Sonia, apa yang terjadi pada Dylan? Kenapa dia bisa seperti ini?".
"Benar Sonia-san!? Kenapa Nii-san bisa terluka parah seperti ini?".
Pavline dan Filaret yang panik karena melihat kondisi Dylan segera mencecar Sonia dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Dylan.
"Kalian tidak usah khawatir!? Kita fokus saja akan kesembuhan Dylan!? Dan Sonia saat Dylan sadar, aku ingin berbicara denganmu empat mata".
"Baik, Tuan".
Entah apa yang ingin dibicarakan Hyoga dengan Sonia. Tapi, saat ini mereka harus fokus dulu pada kesembuhan Dylan.
(----------)
Gelap.
Mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan situasi yang dialami Dylan sekarang.
Saat ini dia berada di sebuah ruang hampa berwarna hitam. Kebingungan, Dylan mencoba memeriksa sekitarnya.
Sesaat kemudian suara auman yang sangat keras dari arah belakang nya.
Saat menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Dylan saat melihat sosok Raja Dewa Naga Fafnir yang sekarang sedang terbelenggu dengan rantai.
Saat kedua mata mereka bertemu, Fafnir itu kemudian berbicara.
"Terimakasih, wahai manusia..... Berkat dirimu aku bisa mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan"
"?".
".......... Sekarang biarkan aku memberikan kekuatanku, darahku dan mataku sebagai ucapan terimakasih ku".
"Eh?".
"Mulai sekarang..... Kekuatan ku adalah.... Milikmu....".
"Eh? Eh?".
"Ku nantikan masa depanmu........ Dylan van Arcadia".
Jari tangan dari Fafnir itu mendekat dan menyentuh kepala Dylan.
Kemudian secerah cahaya yang sangat silau, menyadarkannya.
Saat Dylan membuka matanya, dia melihat atap bangunan yang mirip seperti di kamarnya.
Ketika Dylan mencoba untuk bangun, entah mengapa tubuhnya terasa sangat berat, terutama di bagian bawah.
"Selamat Pagi, Tuan Dylan".
Tiba-tiba terdengar suara gadis yang sangat manis menyapanya. Saat Dylan mengalihkan pandangan ke sumber suara.
Dia terkejut melihat orang yang memanggilnya adalah pelayan pribadinya Sonia.
Tapi, yang aneh adalah Sonia yang tidak menggunakan seragam pelayan tapi menggunakan baju tidur nya dan duduk di atas Dylan.
"Sonia,..... Kau sedang apa?...... Ada diatas ku......Bisakah kau.... Turun?..... Kau berat banget tahu.... ".
"Maaf Tuan!? Saat ini aku sedang melakukan pijat sihir untuk anda!? Jadi saya tidak bisa turun".
"..... Pijatan macam apa itu...... Dari apa yang aku lihat..... Kau sedang mencoba.... Melecehkan ku.... Itu saja".
"Ara, ara aku tidak menyangka tuan yang aku layani akan berpikir begitu".
(Tunggu dulu.... Ini cewek kenapa sih? Biasanya dia bersikap dingin padaku.... Sekarang kenapa dia bersikap manis kayak gini?.... Memangnya aku ngelakuin apa?).
Di dalam pikiran, Dylan bertanya-tanya soal Sonia yang tiba-tiba saja merubah sikapnya.
Ditengah kebingungannya, Sonia tiba-tiba merangkak di atas tubuh Dylan lalu dadanya yang besar menekan di dada Dylan dan wajah mereka saling berhadapan.
"..... Sonia-san.... Sekarang kau mau apa.... ".
Sonia nempel kan jari telunjuknya di bibir Dylan yang membuat nya berhenti berbicara.
"Tenang saja, Tuan.... Ketenangan adalah momen yang bagus untuk saat ini.... Jangan khawatir.... Serahkan semuanya padaku".
Perlahan-lahan wajah Sonia mulai mendekat dan bibirnya siap mencium bibir Dylan.
CRAK!!!
"Wah, wah, wah.... Meski kau ini seorang pelayan pribadinya Nii-san dan orang yang sudah ku anggap seperti Kakak perempuanku sendiri.... Tapi, kau malah bertindak kurang ajar begini ya, Sonia-san".
Di momen yang sangat mendebarkan itu, hancur seketika akibat Filaret yang menerobos masuk kedalam dengan menunjukkan senyuman dan aura yang menakutkan.
"Ara, ara, ku kira siapa? Ternyata Fila-chan, ya!? Menerobos masuk kedalam ruangan orang lain itu tidak bagus, loh? Terus, bukankah aku sudah mengunci pintunya tadi?".
Sonia dengan santainya menanggapi Filaret yang sedang mengeluarkan aura yang menakutkan.
"Hahaha... Soal itu mah mudah saja!? Tinggal congkel lubang kuncinya, maka pintu akan terbuka, benarkan".
Filaret menunjukkan sebuah peniti yang dia gunakan untuk mencongkel pintu kamar Dylan dan mempertahankan senyumannya yang menakutkan.
"Ara, ara, sejak kapan Fila-chan yang baik dan polos berubah menjadi gadis nakal sampai berani membobol kamar Kakaknya".
"Hahaha.... Itu sudah jelaskan.... Karena aku... Ingin melindungi Nii-san..... Dari orang "semacam" dirimu".
"Oh begitu ya. Hahahaha...!!!!".
"Benar sekali. Hahahahaha......!!!".
Sonia dan Filaret sekarang saling berhadap-hadapan, tertawa bersama dan memancarkan aura yang menakutkan.
"Hahaha.... Sudah cukup!? Ayah menyuruhku untuk memanggilmu ke ruangan nya!? Sekarang pergi sana!? Hush, hush, hush.... ".
Filaret segera mengusir Sonia keluar dari kamar Dylan.
"Baiklah, kalau begitu!?... Tuan Dylan saya permisi dulu".
Tanpa basa-basi lagi Sonia segera berpamitan dengan Dylan, namun dengan menunjukkan sedikit sikap manisnya, sehingga membuat Filaret yang melihatnya sangat jijik.
"... Nii-san!?...... Apa kau baik-baik saja?".
Setelah Sonia pergi, Filaret segera berbicara dengan Dylan tapi dengan nada serius.
"... Ah, tenang saja badanku sudah agak mendingan".
"Bukan itu jawaban pertanyaan ku".
"?".
Dylan menaikan salah satu alisnya karena bingung dengan pertanyaan Filaret.
"Yang aku tanyakan adalah...... Apakah Bibir dan bagian ************ Nii-san baik-baik saja?".
Filaret bertanya dengan tatapan mata sayang sangat serius kearah Dylan.
Sementara Dylan yang mendengar hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong.
".... Pertanyaan macam apa itu..... Fila".
(---------)
Meninggalkan Dylan dan Filaret yang bersama.
Sudut pandang berganti ke sebuah ruangan yang mirip ruang kerja seseorang.
Saat ini ada dua orang yang berada di sana, yaitu kepala keluarga Arcadia, Hyoga van Arcadia dan pelayan pribadi Dylan, Sonia Novacronos.
"Bagaimana kondisi Dylan? Apa dia baik-baik saja?".
"Tuan Dylan sudah sadar!? Meski badannya masih sedikit lemas".
"Syukurlah, kalau begitu.......Lalu siapa yang dihadapi Dylan, sampai membuatnya terluka parah".
"Tuan bertarung satu lawan satu dengan Raja Dewa Naga Fafnir".
Sonia memberi tahu apa yang menyebabkan Dylan bisa terluka parah seperti sekarang.
Anehnya, Hyoga yang mendapat kabar dengan siapa putranya bertarung masih tetap tenang.
Lalu, dia kembali berbicara.
"Sonia, kau masih ingat hari saat Dylan baru lahir?".
Sonia menganggukkan kepalanya sebagai sinyal bahwa dia ingat hari itu.
Melihat tanggapan Sonia, Hyoga melanjutkan ceritanya.
"Saat itu kau bilang bahwa Dylan "tidak bisa" menggunakan sihir atribut, tapi sebagai gantinya dia bisa menggunakan sihir non atribut.... ".
Sonia terdiam, dan Hyoga melanjutkan ceritanya.
"Lalu, saat aku bertanya apakah Dylan memiliki semacam Uniqe Skill, kau bilang dia tidak memilikinya. Kemudian aku tanya berapa kapasitas Energi Sihir yang dia miliki, dan kau bilang bahwa dia tidak memiliki jumlah yang besar.......... Tapi, aku tahu 2 hal itu hanya kebohongan yang sengaja kau buat..... Karena aku juga adalah seorang Pendekar Pedang Sihir...... Karena pendekar pedang sihir pada umumnya memiliki satu Uniqe Skill sebagai senjata pamungkas nya dan kapasitas energi sihir yang besar...... Meski begitu, aku tidak mencoba bertanya apapun......... Semata-mata karena aku percaya padamu bisa menjaga segelnya........ ".
Kemudian Hyoga mulai menderita gigi belakangnya seperti menahan emosi.
"....... Lalu, kenapa?".
BANG!?
Bunyi keras dari tinju Hyoga menghantam meja kerjanya menggema di ruangan.
Dan dengan emosi yang meluap-luap dia kembali berbicara dengan sangat keras.
"LALU APAAN ITU? BAGAIMANA SEGELNYA BISA TERBUKA? DAN JUGA JUMLAH ENERGI SIHIR YANG TAK TERBATAS ITU? TERUS UNIQE SKILL APA YANG DIA MILIKI!?...... Jangan bilang kau berencana menjadikan putraku sebagai salah satu Sanctuary mu? JAWAB AKU!?........ Arc Angel Waktu, Sonia Novacronos".
Sonia dengan tenangnya, menanggapi emosi Hyoga yang meluap-luap.
Dan dia mulai berbicara, tapi kali ini dengan cara bicara yang informal.
"Hyoga....... Kau masih ingat, kan!? Saat pertama kali kita bertemu di kuil Dewa Aesir!?.... Kau berjanji padaku akan memberikan sebuah "keluarga" padaku.... sebagai bukti untuk menjaga "perjanjian" Ku dengan keluarga Arcadia!?..... Dan kau benar-benar sudah menepati apa yang sudah kau janjikan!?..... Yaitu memberikanku sebuah "keluarga" yang sesungguhnya...... Jadi, aku akan jujur padamu sekarang".
Hyoga terdiam mendengar ucapan Sonia. Dan Sonia melanjutkan ceritanya.
"..... Sejak lahir Dylan bukanlah anak normal pada umumnya, bukan hanya memiliki Energi Sihir yang terbatas, dia bahkan memiliki semacam Uniqe Skill yang sangat kuat sehingga dia bisa melawan para Sanctuary...... Dan bahkan dia mampu menyaingi para Arc Angle...".
"Sudah kuduga anak itu pasti memiliki nya..... Jadi, apa nama. Uniqe Skill miliknya?".
Hyoga bertanya soal Uniqe Skill milik Dylan.
"Nama Uniqe Skill Dylan adalah....... Limitless".
"Eh?".
Hyoga terkejut bukan main saat mendengar nama dari Uniqe Skill milik Dylan.
Mengabaikan hal itu Sonia menjelaskan skill apa itu.
"Limitless adalah semacam skill yang dapat memaksa Dylan untuk melampaui batasan yang dia punya, bukan hanya batasan pada kekuatan fisiknya saja,..... Tapi juga kekuatan sihirnya yang efeknya bisa meningkatkan berkali-kali lipat daripada umumnya..... Namun, ibarat pisau bermata dua..... Skill ini juga memberikan dampak yang buruk pada dirinya..... Batasan saat menggunakan skill ini tidak lebih dari 1 menit saja.... Dan apabila dia melakukan lebih dari batas waktu itu.... Tubuh Dylan akan meledak dan hancur berkeping-keping..... Tapi, itu akan terjadi apabila Dylan adalah 100% manusia".
"100% manusia? Apa maksudmu?".
".... Seperti yang kau tahu, Dylan berhasil melepas segel yang aku berikan dan tanpa sadar mengaktifkan Skill itu..... Meski hanya merusak segelnya sekitar 10% saja....... Tapi, Skill itu membantu Dylan untuk mengalahkan Fafnir, dan sekarang jiwa dan kekuatan Fafnir meresap dan bersatu dengan dirinya..... Akibatnya, Dylan sekarang berevolusi dari manusia menjadi Half-Dragon.... Dengan begitu sekarang Dylan bisa menggunakan Skill Limitless dalam jangka waktu yang sedikit lebih lama.... Dan bukan hanya itu saja, Dylan sekarang memiliki gelar sebagai Pembunuh Naga yang seharusnya itu adalah cerita dongeng semata...... Pasti akan banyak yang menginginkan dirinya untuk memanfaatkan kekuatannya atau mungkin bahkan mengincar nyawanya".
Hyoga terkejut dan diam mematung saat mendengar penjelasan Sonia tetang Uniqe Skill miliki Dylan dan dirinya yang berhasil mendapat gelar sebagai "Pembunuh Naga" yang seharusnya hanya cerita dongeng semata, berubah menjadi kenyataan.
Dan entah mengapa Hyoga punya firasat bahwa putranya itu akan memiliki nasib yang sama buruknya dengan dirinya di masa lalu.
Seketika wajahnya menjadi sangat pucat seolah-olah darah menghilang.
Badannya menjadi sangat lemas sehingga Hyoga yang tadi berdiri jatuh ke kursinya.
Dengan badan yang bergetar dan nada yang sedih Hyoga mulai berbicara kembali.
"Kenapa?.... Kenapa Dylan harus mengalami semua ini?..... Kenapa kami tidak bisa lepas dari "kutukan" keluarga Arcadia?..... Seharusnya.... YANG SEHARUSNYA MENANGGUNG "KUTUKAN" INI CUKUP AKU SAJA".
Entah apa yang dimaksud "kutukan keluarga Arcadia" oleh Hyoga yang jelas Sonia tahu apa itu.
'Kau tidak usah khawatir, Hyoga!?..... Apa bila ada bahaya yang datang dan mengancam nyawanya..... Aku, Sonia Novacronos sang Arc Angel Waktu akan melindunginya.... Bahkan jika lawannya adalah sesama Arc Angel atau Dewa Aesir itu sendiri".
Melihat Hyoga yang sedih, Sonia meyakinkannya bahwa dia akan dengan segenap hati dan siap mengorbankan nyawanya untuk melindungi Dylan dari bahaya.
"Begitu, kah!?...... Ku percayakan perlindungan Dylan padamu, Sonia".
Hyoga yang mendengar kesiapan Sonia dalam melindungi Dylan tidak punya pilihan selain mempercayainya.
Di balik pintu ruangan ada seseorang yang menguping pembicaraan antara Hyoga dan Sonia, dan itu adalah Pavline yang dari tadi ada di sana.
Pavline yang mendengar semua itu gemetar bukan karena ketakutan, melainkan terkejut tentang rahasia soal putranya yang tidak dia ketahui.
Tapi, Pavline tahu alasan kenapa baik Hyoga dan Sonia merahasiakan ini darinya adalah untuk tidak membuatnya khawatir.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya lagi, Pavline segera pergi menuju kamar putranya untuk bertanya langsung padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
Big Boss
jadi misteri siapa hyoga ini?
2024-11-17
1
Big Boss
dibalik latar belakang yang luar biasa
2024-11-17
1
FIKA 😈😈😈
gw yg baca tetibe geta gete ni hati baca ni novel,,,,,tapi seruuu/Smile//Smile//Smile//Hey/
2024-07-06
1