Di dalam game.
Insiden Monster Panik terjadi sebelum event dalam game dimulai. Memang tidak ditampilkan, tapi insiden itu di ceritakan saat dimana Dylan bertarung satu lawan satu dengan Pahlawan dan party nya.
Dimana kejadian itu terjadi saat pertengahan musim panas. Saat itu di kota Linic pusat wilayah Arcadia sedang diadakan festival panen.
Para warga dan para ksatria semuanya tenggelam dalam hiruk pikuk kemeriahan Festival sehingga tidak banyak ksatria yang berjaga di dinding kota.
Akibatnya, saat insiden itu terjadi banyak warga yang tidak bisa mengungsi dan berakhir menjadi korban dalam insiden itu. Termasuk kedua orang tua Dylan yang menjadi korban.
Nah, alasan kenapa Dylan memiliki dendam kesumat terhadap pihak Kerajaan adalah karena Pihak Kerajaan tidak mau melakukan penyelidikan tentang insiden ini.
Mereka bahkan bertindak seolah-olah tidak terjadi apapun.
(Yah begitulah, alur cerita di gamenya.... Sekarang aku harus bagaimana?).
Saat ini, Dylan sedang berjalan-jalan bersama dengan Keluarganya menikmati festival.
"Dy-chan, kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?".
"... Ah.... Tidak.... Aku baik-baik saja, ibu".
"Hmmm.... Soalnya kau terus diam menatap sandwich itu".
"... Aku hanya sedang... Ya memikirkan sesuatu yang rumit".
Kemudian, Dylan mulai merasakan hawa dingin di sekitarnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk tahu dimana sumbernya. Yang tidak lain adalah Filaret yang sekarang menatapnya dengan mata kosong dan ekspresi yang curiga.
"Nii-san.... Sesuatu yang kau maksud ini.... Bukan si Onee-san cantik penjual sandwich tadi, kan?".
"Huh? Kau ini ngomong apa, Fira?.... Tentu saja bukan".
"Terus apa, dong?".
(Soal serangan monster yang akan terjadi segera. Tapi, mana mungkin aku memberitahunya. Nanti aku dianggap gila).
"..... Bukan seseuatu yang penting".
"Hmmm.....".
Filaret mengembangkan pipinya sebagai tanda dia tidak puas dengan jawaban dari Dylan.
"Sudahlah, kalian berdua jangan berkelahi. Kita disini untuk menikmati festival dan liburan bersama. Dylan, ayah tahu kau tidak suka keramaian. Tapi, kali ini tolong ikutlah kami".
"Baiklah, Ayah. Kali ini aku ngalah aja deh".
"Haaa.... Kenapa aku merasa ada perasaan tidak tulus dalam ucapan mu itu".
Kemudian mereka berempat kembali berjalan-jalan menikmati festival yang sangat meriah.
Tampak raut wajah senang ditunjukkan oleh Pavline, Hyoga, dan Filaret. Terkadang mereka mampir ke berbagai kios untuk membeli makanan dan minuman. Dan tentu saja mereka juga mampir ke kios yang menjual aksesoris.
Meski terlihat menikmati festival bersama keluarga. Pikiran Dylan tidak benar-benar menikmati ini semua.
Alasannya, karena dia tahu dalam kurun waktu beberapa saat lagi semua senyum ceria ini akan berubah menjadi tangisan yang menyedihkan.
Saat mereka berniat untuk memasuki toko barbeque yang sudah menjadi langganan mereka. Meski festival berlangsung banyak toko yang masih buka dan salah satunya adalah Toko barbeque ini.
Ketika mereka melangkah masuk, Hyoga sadar bahwa Dylan hanya diam di tempat sambil melihat jam saku yang dia bawa.
"Dylan, ada apa nak?".
Ditanya oleh ayahnya, Dylan segera memasukkan jam sakunya dan mulai berbicara.
"Ayah, aku mau ke kamar mandi umum dulu. Nanti aku susul kalian".
"Oh, baiklah".
Meski agak curiga Hyoga mengizinkan putra nya untuk pergi. Tapi, saat Dylan berbalik badan dia kembali berbicara.
"Oh, ya Ayah. Kondisi hutan akhir-akhir ini.... Aku ingin Ayah, Ibu, dan Fira.... "Pergi" sejauh mungkin jika situasinya berubah "gawat"... Pikirkan "keselamatan" kalian. Soal diriku.... Aku akan "bertahan" selama mungkin".
"Hei, Dylan kau ini ngomong apa?".
Dylan segera melangkah pergi meninggalkan Hyoga yang masih dipenuhi dengan tanda tanya di kepalanya.
"Anak itu kenapa, sih? Yah, saat kembali akan aku tanya dia".
Hyoga memutuskan untuk bertanya pada Dylan nanti dan melangkah masuk kedalam toko menyusul Pavline dan Filaret yang sudah masuk terlebih dahulu.
(----------)
Dylan tidak pergi untuk mencari kamar mandi. Melainkan dia berjalan keluar dari kota Linic.
Saat dia sudah agak menjauh dari gerbang kota. Dylan mengangkat wajahnya dan menatap langit yang cerah lalu memejamkan kedua matanya.
"Akhirnya, aku bisa sampai pada hari ini tanpa memberitahu siapapun".
Beberapa kali menghembuskan nafas, Dylan menundukkan kepalanya, mengambil kedua pedang katana nya dari item box, menaruhnya dipinggang dan mulai berjongkok.
Lalu salah satu tangannya menyentuh tanah. Dan dia kembali memejamkan matanya.
(Mungkin seharusnya, aku memberitahu yang lain........ Dengan begitu, aku mungkin bisa membawa semua orang pergi dari sini...... Aku bisa mengatasi bahaya dengan bekerja sama dengan Ayah dan yang lainnya....... Tapi, aku tidak bisa membiarkan orang lain terluka...... Mereka bukan hanya sekedar Karakter Mob dalam game..... Mereka itu nyata..... Mereka itu hidup.... Dan jika harus ada yang mati...... Maka, biar aku saja yang mati..... Karena aku adalah seorang karakter "penjahat".... Dan "penjahat" selalu mati sendirian).
Lalu, Dylan mengaktifkan sihir elemen yang dia dapat setelah mengalahkan Naga Fafnir dan menciptakan sebuah parit berukuran besar dan dalam.
Tidak lupa dia juga menutup Gebang akses masuk kota dengan sihir tanah.
Selesai dengan itu, Dylan duduk bersila di tanah dan menatap lurus ke depan nya.
"2 tahun lama nya sejak aku bereinkarnasi sebagai Dylan..... Dan selama itu juga aku terus memikirkannya...... Hasil yang aku dapat adalah..... Baik itu kehidupan ku yang dulu..... Maupun yang sekarang..... Aku.... Sama sekali tidak berubah".
Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan terjadi di dalam hutan yang tepat di depan Dylan. Selang beberapa saat segerombolan monster mulai berlari kearahnya.
(-----------)
"HM?".
Di dalam kota Linic.
Filaret yang sedang memakan daging barbeque nya tiba-tiba terkejut akan seseuatu. Tentu saja, hal itu membuat Pavline yang duduk di depannya ikut terkejut.
"Fi-chan, kau kenapa?".
"Aaa... Tidak apa-apa ibu".
"Hmmm... Begitu ya... Oh ya, Hyoga. Dy-chan kemana? Katanya hanya ke kamar mandi, tapi kenapa lama sekali?".
"Pavline, hari ini sedang festival. Ada banyak orang yang sedang antri untuk menggunakan kamar mandi. Dylan pasti juga ikut antri, jadi wajar kalau agak lama. Jangan khawatir".
"Iya, Bu. Lagian Nii-san itu bukan anak kecil lagi".
"Kalian benar. Aku terlalu khawatir".
Setalah meyakinkan Pavline, mereka bertiga kembali menyantap daging barbeque yang ada didepan mereka.
Tapi tetap saja, pikiran Filaret terus kebingungan dengan apa yang baru saja dia rasakan.
(Tadi, aku merasakan adanya energi sihir yang sangat besar keluar walau cuma sesaat. Dari tipenya, aku bisa tahu kalau itu sihir Nii-san. Tapi, untuk apa dia menggunakan sihir di tempat banyak orang seperti ini?)
Filaret sempat merasakan energi sihir besar yang sama dengan milik Dylan. Alasan kenapa dia bisa tahu adalah karena mereka berdua sering melakukan latihan sihir bersama. Dan Filaret tahu betul bentuk energi sihir yang Dylan miliki begitupun sebaliknya.
Selang beberapa saat, pandangan Filaret teralihkan ke luar jendela. Dia terkejut karena tiba-tiba orang-orang di luar mulai berlarian ke sana kemari dengan sangat panik.
Lalu seorang ksatria menerobos masuk ke toko dan dengan terengah-engah dia mulai berbicara dengan sangat keras.
"SEMUANYA HARAP LARI. SELAMATKAN DIRI KALIAN. ADA STAMPEDE!!!!".
Seketika semua orang mulai panik dan segera bergegas keluar dari toko. Begitupun dengan Hyoga, Pavline dan Filaret.
Meski mengikuti kedua orang tuanya. Filaret sebenarnya tidak begitu mengerti apa itu Stampede.
"Ayah, apa itu Stampede? Dan kenapa semua orang berlarian panik saat mendengar nya?".
"Stampede adalah insiden dimana sekelompok monster dalam jumlah besar datang dan menyerang apapun yang mereka lewati".
Kemudian, seorang ksatria datang menemui mereka.
"Tuan Hyoga!!!".
"Bagus, syukurlah kau ada disini. Maaf sebelumnya, tapi aku minta kau dan para ksatria untuk melakukan evakuasi secepatnya kepada para warga. Pavline pergi dan pimpin para Ksatria, Fira kau juga bantu ibumu".
"Baik, Tuan".
"Serahkan padaku, sayang".
"Tapi, ayah?".
"Tidak ada kata "tapi" Fira. Lakukan saja yang aku perintahkan".
"Bukan itu maksudku, aku cuma ingin tanya. Bagaimana dengan Nii-san?".
"Benar, sayang. Kita tidak tahu Dy-chan ada dimana?"
Hyoga sempat terdiam untuk sesaat setelah mendengar pertanyaan Filaret dan Pavline yang sedang panik. Dengan ekspresi gelap Hyoga menjawab.
"Lalukan saja, apa yang aku perintahkan".
"Tapi, ayah-"
"Hyoga-".
"TIDAK USAH KHAWATIR!!!!...... Dylan itu putra kita dan Kakak laki-laki Fira. Kita bertiga tahu seberapa kuat dirinya. Dia tidak akan mati semudah itu".
""........ Baiklah"".
Meski terpaksa, Pavline dan Filaret harus mengikuti perintah Hyoga. Mereka berdua segera pergi meninggalkan Hyoga yang juga pergi kearah yang berlawanan.
Walau terlihat tegas, di dalam hati kecil Hyoga dia juga sama paniknya dengan Pavline yang khawatir dengan kondisi putra nya.
Namun, dia memilih untuk mengesampingkan perasaan itu dan fokus untuk mengerahkan para ksatria.
(----------)
Hyoga saat ini sedang menumpulkan dan mempersiapkan pasukan ksatria yang ada di kota untuk bersiap menahan serbuan para monster dan memberi waktu bagi warga untuk evakuasi.
Disaat dia sedang memberi pengarahan, seorang ksatria berlari kearahnya.
"Tuan Hyoga!!!".
Mendengar ada yang memanggilnya, Hyoga segera mengalihkan pandangannya dan mulai bertanya pada ksatria yang tampak panik itu.
"Ada apa?".
"Tuan..... Ha... Ha.... Ha... Gerbang kotanya....".
"Ada apa dengan Gerbang nya? Apa para monster itu berhasil masuk ke kota?".
"Bukan itu Tuan".
"Lalu apa?".
"Gerbangnya..... Gerbangnya tertutup oleh dinding batu yang tebal".
"Apa katamu?".
Hyoga sangat terkejut setelah mendengar laporan dari ksatria tadi. Dan tanpa pikir panjang dia segera berlari menuju Gerbang masuk kota.
Sesampainya disana, banyak sekali orang yang panik dan kebingungan dengan apa yang terjadi.
Mengalihkan pandangannya, ada sosok Pavline dan Filaret berdiri, dan Hyoga segera menemui mereka.
"Pavline, kenapa kau disini? Bukannya aku menyuruhmu untuk mengevakuasi warga melalui jalur evakuasi yang ada di pelabuhan?".
"Aku dapat laporan dari para ksatria, makanya aku kesini untuk mengeceknya. Tapi, siapa yang menutup gerbang ini dengan dinding tanah?".
"Aku juga tidak tahu".
Meski kebingungan, Hyoga yang melihat para warga yang panik dan sangat ketakutan tentang situasi yang terjadi. Hyoga juga tahu bahwa membawa para warga pergi dengan kapal juga mustahil. Karena jumlah kapal dan jumlah penduduk tidaklah sebanding.
"TENANGLAH PARA WARGA KOTA LINIC!!! SAMA SEPERTI KALIAN, AKU TIDAK TAHU SIAPA YANG TELAH MELAKUKAN INI. TAPI, INI ADALAH SITUASI YANG MENGUNTUNGKAN KARENA PARA MONSTER ITU TIDAK AKAN BISA MASUK KEDALAM KOTA!!! SEKARANG AKU MINTA KERJASAMA NYA. PERGILAH MENGUNGSI KE SISI PANTAI DAN PELABUHAN. JANGAN LUPA PASTIKAN SEMUA KELUARGA DAN SANAK SAUDARA KALIAN IKUT DAN JANGAN SAMPAI TERPISAH. SEBAGAI TUAN WILAYAH ARCADIA INI AKU PASTI AKAN MENOLONG KALIAN".
Mendengar pidato Hyoga, semua warga mulai terlihat tenang dan mulai mengikuti instruksi yang diberikan para ksatria.
Sementara itu, Filaret diam-diam mendekat ke gerbang dan menyentuh dinding itu dengan tangannya. Sambil memfokuskan kekuatan sihirnya dia berusaha menganalisa dinding batu itu.
Selang beberapa saat dia kembali membuka matanya karena terkejut dengan apa yang dia temukan.
(Tidak salah lagi. Dinding ini terbuat dari sihir Nii-san. Aku tahu karena kami selalu berlatih sihir bersama. Bukan itu saja, aku juga merasakan ada sebuah parit besar tepat di luar dinding ini. Itu juga dibuat dengan sihir Nii-san. Tapi semua itu, sesuatu yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Rasanya seperti Nii-san sudah tahu akan datangnya Stampede ini. Karena itu dia melakukan semuanya sendiri).
"Nii-san. Berapa banyak rahasia yang kau ketahui dan sembunyikan dari kami?".
Dengan ekspresi cemas, Filaret sangat khawatir dan penasaran dengan segala tindakan misterius yang dilakukan Kakak laki-laki nya. Seolah-olah Dylan sudah tahu segalanya.
Di luar dinding.
Tampak segerombolan monster dari berbagai jenis berlari mendekat kearah kota Linic.
Dylan yang merasa jarak mereka mulai dekat, segera berdiri dan menarik kedua pedang katana nya. Bersiap untuk bertarung.
"Akhirnya.... Kalian datang juga..... Haaa... Ya sudahlah, lagian yang harus aku lakukan tetap sama".
Dylan menatap tajam kearah para gerombolan monster itu dan kembali berbicara.
"Meski aku seorang "penjahat".... Tapi, akulah.... YANG AKAN MELINDUNGI KOTA INI!!!".
Dylan berteriak sambil berlari menerjang bahaya seorang diri dengan tekad untuk melindungi kota beserta para penduduk nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
Erwinsyah
seharusnya Fila kan bukan Fira?,kan namanya filaret 🥱🤔
2024-04-27
2
Nino Ndut
entah bego atau tolol y mcnya..entah knp tindakan yg diambil tuh selalu ngerasa bukan yg terbaik n seharuanya dipilih..n keselnya lg mc selalu bilang klo digame tuh begini begitu..hadehh, itu tuh real hidup loe bego, klo soal game anggap kayak loe dpt bayangan maaa depan aj..
2024-03-07
1
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-19
1