Di reruntuhan bangnunan kuno, seperti sebuah arena di puncak gunung tertinggi benua Antareksia.
Ada pertarungan 16 vs 1 yang sangat intens sedang terjadi.
Meski jumlahnya tidak seimbang, satu orang itu berhasil memukul mundur 15 orang lainnya dengan sangat mudah. Dan menyisakan satu orang untuk dilawan.
Saat keduanya saling membentrokkan kedua pedang terjadi ledakan sihir yang luar biasa. Dari ekspresi jengkel yang di tunjukkan oleh salah satu dari mereka.
Tampak jelas kebencian yang terlihat. Mereka terus beradu pedang tanpa henti sampai akhir nya mereka saling menyilang kan pedang dan mencoba menahan serangan masing-masing.
"Kenapa?...... Kenapa kau melakukan semua ini, Dylan? Kau itu kuat..... Kenapa kau tidak gunakan kekuatanmu untuk membantu orang lain?".
Lawannya yang berambut emas itu manggil pria di depannya Dylan. Dan Dylan pun mulai menjawab pertanyaan dari lawannya itu.
"Membantu orang? Omong kosong macam apa itu, Reiner? Memangnya apa untungnya aku menolong mereka? Dan juga, berhenti berlagak seperti kau mengenalku".
Dylan dan Reiner kembali saling beradu pedang.
"Apa kau tahu Reiner, seberapa bencinya aku kepada mu dan semua orang yang ada di sekitarmu, huh?".
Sambil terus beradu pedang Dylan mengeluarkan semua kebencian yang dia pendam.
"Apa kau tahu rasanya dikhianati? Apa kau tahu rasanya melihat orang tuamu mati didepan matamu? Apa kau tahu rasanya diabaikan saat kau meminta bantuan? Apa kau tahu rasanya...... SAAT KAU KEHILANGAN SEGALANYA!!!!".
Ayunan keras pedang Dylan tidak bisa di tahan lagi oleh Reiner hingga membuatnya mundur ke belakang.
"Jadi, berhentilah bicara omong kosong, Reiner".
Reiner terdiam sesaat, sebelum akhirnya mulai menanggapi ucapan Dylan.
"Benar, aku tidak tahu. Aku juga tidak pernah mengalaminya..... Tapi, yang jelas apapun kondisi..... Kita harus tetap berada di jalan yang benar.... Dan berpegang teguh pada prinsip keadilan maka harapan sekecil apapun pasti akan datang".
"Di situasi seperti ini..... Kau masih saja bicara omong kosong dan memaksakan idealis mu kepadaku".
Dylan yang sudah sangat jengkel segera mengumpulkan energi sihir yang sangat besar di sekitarnya. Lalu dia mulai kembali berbicara.
"Kalau begitu, mari kita buktikan..... Antara "Keadilan dan Harapan" mu itu dengan "Kebencian dan Penderitaan" ku".
"Baiklah, Dylan.... Aku juga tidak ada niatan untuk berhenti dengan idealis ku ini".
Menanggapi Dylan, Reiner segera mengumpulkan Energi sihir di sekitar tubuhnya.
Keduanya sama-sama, memasang kembali teknik bertarung dan menggenggam erat pedangnya. Pandangan mereka hanya fokus untuk melihat yang ada di depannya.
Dan dalam momen yang bersamaan keduanya segera melompat dan saling melancarkan serangan.
""Wooooooooo......"".
Teriakan keduanya menggenggam dengan sangat keras, dan saat itu sebuah cahaya putih yang sangat terang menutupi semuanya.
(-------------)
Setelah beberapa saat cahaya putih itu menghilang, digantikan atap bangunan yang indah.
Ternyata itu semua adalah mimpi yang dialami Dylan saat dia sedang tertidur. Menyadari hal itu hanyalah mimpi, Dylan mencoba bangun dari tidurnya dan duduk.
Tangannya memegang wajahnya, dan dia masih memikirkan mimpi yang baru saja dia alami.
"Kalau tidak salah, itu adalah adegan dimana Dylan melawan Reiner untuk terakhir kalinya. Tapi, kenapa aku memimpikannya sekarang?".
Dylan bertanya-tanya soal mimpinya itu. Di tengah kebingungan akan mimpi nya itu. Ada seseorang yang masuk kedalam kamar Dylan.
Dan saat dia penasaran siapa orangnya, rupanya dia adalah ayahnya, Hyoga.
"Bagaiman kondisimu, Dylan?".
"Yah, lukaku benar-benar sudah pulih. Tapi, rasa sakitnya masih ada..... Ayah sendiri, bagaimana?".
"Seperti yang kau lihat. Aku segar bugar".
"Syukurlah kalau begitu... Aku benar-benar berterimakasih atas kerja keras tim medis".
"Begitu, ya".
Hyoga lalu mengambil sebuah kursi dan mulai duduk sambil menatap Dylan.
"Jadi, Dylan.... Bisa beritahu aku 1 hal".
"Hmmm..".
"Apa kau sebenarnya, sudah tahu akan adanya serbuan monster ini?".
Pertanyaan Hyoga membuat Dylan terdiam untuk sesaat. Sampai akhirnya Dylan mulai membuka mulutnya.
"Iya....... Aku tahu".
"Haaa..... Jadi, begitu ya...... Kenapa kau tidak memberi tahu kami terlebih dahulu? Andai kami tahu soal ini, kita mungkin bisa saja berkerja sama, bukan?".
Sebenarnya, Dylan mengetahui kejadian ini berdasar cerita pada game "Long Life Brave" yang dia mainkan.
Awalnya, dia hanya berencana untuk bisa menghindari Death Flag yang datang. Tapi, sekarang dia melakukan semua ini sendiri bukan karena keinginannya saja.
Melainkan untuk melindungi semuanya.
Alasannya adalah jiwa yang berada di dalam Dylan sudah tidak menganggap semua orang di sekitarnya bukan sekedar NPC saja.
Mereka benar-benar hidup dan nyata.
Kebaikan dan kehangatan yang mereka berikan sudah menyentuh lubuk hatinya. Karena perasaan yang kuat itulah yang sekarang benar-benar merubah tujuan awalnya.
Setelah merenung untuk sesaat, Dylan kembali memberikan alasannya. Sambil menatap kebawah dan mengepal tangannya.
"Jika aku memberitahu yang lain soal serbuan monster. Mungkin saja, ada seseorang yang menjadi korban.... Memikirkan hal itu saja...... Makanya, aku mengambil satu-satunya jalan yaitu untuk bertarung sendiri".
Hyoga terdiam dan tertunduk sesaat setelah mendengar jawaban tak terduga dari putranya dan dia mulai bergumam sendiri.
*Dasar bodoh..... Kenapa kebodohan mu itu sama denganku di masa lalu.....*.
"Hmmm?".
Dylan sedikit heran dan kebingungan tak sengaja mendengar gumaman Ayahnya. Lalu Hyoga kembali menganggakat kepalanya dan menatap Dylan.
"Aku sangat ingin bilang kau "bodoh".... Tapi, berkatmu. Warga kota ini jadi terselamatkan".
"Ayah".
Hyoga memberikan pujian kepada Dylan sambil menunjukkan senyuman yang indah. Dylan sangat terkesan dengan pujian sederhana yang ayahnya berikan.
Lalu, Hyoga berdiri dari duduknya menghampiri Dylan dan memegang pundaknya. Dengan ekspresi wajah sedih yang dia tunjukkan Hyoga kembali berbicara.
"Dengarkan aku, Dylan.... Karena keraguanmu itu, kau bisa mengambil keputusan yang terbaik. Dan kau memutuskan untuk bertarung sendirian.... Mengambil tindakan tanpa ide ataupun rencana yang matang, juga tidak apa.... Tapi, yang jelas. Ayah sangat bersyukur bahwa kau masih hidup, Dylan".
Dylan terdiam dan terkesan di saat yang bersamaan, dia tidak menyangka bahwa ayahnya yang sangat supel dan terkadang semaunya sendiri itu bisa meneteskan air mata.
"Sialan.... Bicara seperti itu seperti bukan gaya ku saja".
Hyoga yang tersadar segera menyeka air matanya. Tapi, dia terhenti saat melihat Dylan juga tertunduk dan meneteskan air mata. Kemudian salah satu tangannya menyentuh kepala putranya itu.
Dylan yang merasa kepalanya di sentuh setega menganggakat kepalanya dan menatap kearah Hyoga.
"Dylan.... Kalau kau merasa apa yang ayah katakan itu salah, pikirkan saja perlahan-lahan.... Untungnya, tidak ada satupun korban.... Kita masih punya banyak waktu. Tentu saja, tidak akan ada yang menyalahkan mu.... Jadi, itu saja untuk hari ini".
Hyoga segera pergi meninggalkan Dylan, tapi sebelum benar-benar pergi. Hyoga menoleh kearah Dylan dan kembali berbicara.
"Oh ya. Kalau badanmu sudah enakan, pergilah keluar dan jalan-jalanlah di kota. Karena kau adalah pahlawan kota dan wilayah ini. Banyak orang yang menunggu mu".
Hyoga segera pergi setelah mengucapkan hal itu kepada Dylan.
Setelah melihat sosok ayahnya pergi, Dylan menundukkan kepalanya lagi dan mulai berpikir tentang dampak apa yang akan terjadi kedepannya setelah apa yang dia lakukan.
(Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Ada beberapa alur yang mengejutkan ku? Seperti fakta bahwa Oscar adalah orang yang menjadi dalang kehancuran wilayah Arcadia dan juga kudeta di Kerajaan Rachael. Belum lagi, orang itu adalah alasan kenapa Putri Sylvia bersekutu dengan Dewi Jahat Hella..... Sekarang, Oscar sudah mati.... Wilayah Arcadia terselamatkan, Kudeta Kerajaan Rachael tidak akan terjadi, Dan putri Sylvia tidak akan jatuh ke kedalam kegelapan..... Tapi, Reiner kehilangan mentor yang sangat penting untuk perkembangan karakter nya......... Memang tujuan ku adalah untuk menghindari Death Flag..... Dan karena tindakan yang aku lakukan....... Alurnya pasti sudah berubah drastis........ Dan masa depan tidak bisa aku prediksi).
Dylan lalu menyentuh kepalanya. Dan mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa ada solusi tanpa menimbulkan masalah".
(-------------)
Kastil Raja di Kerajaan Rachael.
Ada sebuah ruangan yang di jaga oleh 2 orang ksatria dengan zirah lengkap. Di dalam ruangan itu ada sosok seorang gadis yang sedang tiduran sambil terus memeluk bantalnya.
Gadis itu memiliki kecantikan yang luar biasa, rambut panjang yang putih bersih dan mata yang berwarna biru berlian. Dadanya cukup berisi dan lekuk tubuhnya sangat pas dengan gaun ramping yang dia pakai.
Nama, gadis itu adalah Sylvia fou Rachael. Putri tunggal Raja William fou Rachael sekaligus salah satu karakter calon "penjahat" di masa depan.
Dari ekspresi wajahnya yang tampak murung dia seperti memikirkan sesuatu. Iya, sesuatu yang baru saja dia alami.
Yaitu sang ayah, Raja Rachael memutuskan untuk mencarikan putrinya seorang tunangan. Namun, karena adanya aturan lama yang mewajibkannya meminta saran kepada orang-orang yang katanya dipilih oleh Dewa Aesir sebagai perwakilannya.
Dan mereka menyebut diri mereka sebagai "The Oracle's".
Tapi, saran mereka sangat mengejutkan. Para "The Oracle's" menyuruh sang Raja untuk memilih pendamping putri adalah salah satu dari anggota 10 ksatria suci.
Sang Raja tentu sangat jelas menolak hal ini. Kenapa? Karena 10 ksatria suci adalah ksatria bawahan dari The Oracle's itu sendiri.
Tak mau kehabisan cara. The Oracle's membuat sebuah saran dimana ke 10 ksatria itu untuk saling bertarung dan siapa yang menang akan menjadi tunangan dan calon Raja selanjutnya.
Sebenarnya, Raja William ingin sekali menolak tawaran itu. Tapi, dari sejak zaman dulu, The Oracle's memiliki suara yang lebih kuat dari pada Raja itu sendiri. Dan dia terpaksa untuk menerima tawaran ini.
Setelah kompetisi itu di adakan siapa sangka yang memenangkan pertandingan itu adalah Oscar Niville Dragonia, seorang ksatria suci yang duduk di kursi ke 9.
Kemudian, pikiran Sylvia kembali memutar memori saat dia makan malam bersama Oscar hanya berdua saja. Melihat Sylvia yang terus merenung, membuat Oscar bertanya.
"Gimana kalau kau senyum sedikit, Nona Sylvia?".
Sylvia hanya diam saja, tidak merespon perkataan Oscar.
"Aku telah memenangkan pertandingan yang diadakan Ayahmu dan para The Oracle's..... Kau sudah tahu apa artinya, kan?..... Aku sudah memenuhi syarat sebagai Raja berdasar penilaian para The Oracle's.... Dan jika aku bisa mengenalkan nama baikku di dalam dan di luar negeri, aku akan menjadi Raja yang seutuhnya".
"Apa yang ingin anda lakukan setelah menjadi Raja?".
Sylvia yang dari tadi terdiam dan belum menyentuh makanannya bertanya tujuan Oscar. Kemudian, Oscar berdiri dan berjalan mendekat ke jendela.
Pandangan melihat kearah jendela melihat apa yang ada diluar sana. Selang beberapa saat dia mulai menjawab pertanyaan Sylvia.
"Seperti yang kau tahu.... Kerajaan ini menjadi besar karena peperangan.... Dan karena itu, aku ingin mengembalikannya kebentuk semulanya".
"Jangan-jangan...... ".
Mendengar perkataan Oscar membuat Sylvia membelalakkan matanya karena dia paham apa yang di maksud Oscar.
".... PARA PRAJURIT DI KERAJAAN INI TIDAK AKAN SEMUDAH ITU DIGERAKKAN, TUAN OSCAR".
Melihat tanggapan Sylvia yang penuh emosi, Oscar hanya memberikan senyuman sinis dengan menaikan salah satu sudut bibirnya.
"Tuan putri..... Apa kau tidak mengerti? Aku bisa menggerakkan prajurit ini dengan izin para The Oracle's.... Dan mereka pasti setuju dengan ide ku ini.... Sementara ayahmu, dia tidak punya pilihan lain selain terpaksa menurut".
Sylvia yang jengkel tidak bisa membalas perkataan Oscar dan hanya bisa mendecitkan gigi belakangnya.
"Yah, memang bagus kalau kita berpikir bahwa kita bisa mensejahterakan negeri tanpa perlu melukai Kerajaan Rachael..... Tapi, lihatlah kenyataan nya".
Pandangan Oscar melihat kearah para warga yang sedang melakukan aktifitas keseharian mereka.
"Meski tidak terlihat dengan mata telanjang.... Cepat atau lambat, rakyat tidak akan puas dengan peraturan perdamaian Raja saat ini.... Dan menganggap Kerajaan Rachael sudah kehilangan taringnya".
"AKU SANGAT PERCAYA PIKIRAN AYAHANDA ITU SUDAH BENAR...! JIKA KITA MELAKUKAN INVASI KE KERAJAAN LAIN TERUS MENERUS SEPERTI SEBELUMNYA.....! LAMBAT LAUN KITALAH YANG TIDAK AKAN BERTAHAN!!!!".
"Lalu, mau jadi apa Kerajaan ini?".
"I-itu.... Karena Kerajaan ini butuh waktu untuk berubah".
Jawaban yang setengah-setengah itu tidak bisa memuaskan Oscar. Dia segera berbalik memunggungi Sylvia dan mulai berbicara.
"Tuan putri... Negeri ini tidak butuh waktu untuk berubah... Rakyat di negeri ini hanya membutuhkan satu alasan.... Dan itu adalah....".
Oscar menoleh kearah Sylvia sambil menunjukkan ekspresi psikopatnya dan tersenyum jahat.
"..... "Untuk membuat banjir darah" ".
Sylvia tersentak dan ketakutan akan ucapan yang keluar dari mulut Oscar.
"Ayahanda, tidak akan pernah membiarkannya".
"Dasar keras kepala..... Apa kau tahu, alasan utama kenapa Ayahmu yang payah itu "masih" menjadi Raja Kerajaan ini?".
Sylvia kembali terdiam dengan ucapan yang keluar dari mulut Oscar. Tahu bahwa Sylvia tidak bisa menjawab pertanyaan, Oscar memberikan penjelasannya.
"Itu karena, Aku dan para The Oracle's masih ada "belas kasihan" dengan kalian.... Jadi, dia tidak akan bisa menghentikan keinginan ku maupun keinginan para The Oracle's".
Kenangan itu berakhir, setelah Oscar meninggalkan Sylvia sendirian dengan kebingungan nya.
Dan sekarang kembali ke Sylvia yang sudah duduk di tempat tidurnya sambil terus bergumam.
"Aku harus bertahan menghadapinya.... Ini juga demi ayahanda".
Lalu terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarnya. Sylvia berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Ayahanda".
Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Raja Kerajaan Rachael sekaligus ayah Sylvia.
Dia menggunakan jubah mewah yang biasa digunakan seorang Raja. Dia pria tua yang punya perawakan yang sangat terlatih namun wajahnya tuanya yang tertutup jenggot menunjukkan kelembutan hatinya.
"Silahkan masuk, Ayahanda".
"Maaf datang tiba-tiba seperti ini".
"Itu bukan masalah, lalu ada keperluan apa Ayahanda sampai kesini untuk menemui ku?".
"Yah ini sesuatu yang sangat penting. Jadi,.... Bagaimana kita bicarakan ini di taman?".
"Baiklah, Ayahanda".
Sylvia dan Raja William berjalan bersama menuju ke taman kastil. Sesampainya di sana merek langsung duduk berhadapan di tempat yang sudah di siapkan oleh para pelayan.
Setelah meminum beberapa teguk teh di cangkir mereka. Sylvia mulai bertanya "sesuatu" yang penting apa yang ingin di sampaikan.
"Ayahanda... Tentang yang ingin Ayahanda beri tahu?"
Raja William menaruh cangkir tehnya dan ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.
"Mungkin ini adalah sesuatu yang sulit kau percaya...... Oscar Niville Dragonia.... Sudah Mati".
"Eh?".
Sylvia sangat terkejut bukan main, seluruh badannya seolah-olah membeku, matanya terbelalak.
Semua itu terjadi begitu dia mendapat kabar soal kematian Oscar Niville Dragonia yang katanya terkuat diantara 10 anggota ksatria Suci bawahan The Oracle's.
"T-tuan Oscar....? Bagaimana bisa...?".
"Dengan maksud untuk menaklukan Kerajaan lain. Oscar yang mendapat izin dari para The Oracle's, berencana untuk menundukkan suatu wilayah sebagai basisnya... Namun, dia berhasil dikalahkan oleh putra dari tuan tanah yang mengelola wilayah itu".
"Jadi, Tuan Oscar memang benar-benar sudah.....".
"Iya".
Setelah memastikan apa yang dia dengar, Sylvia semakin terkejut dan tidak menyangka dengan semua ini.
"Tapi, ayahanda.... Ini benar-benar sulit untuk di percaya.... Meski Tuan Oscar duduk di kursi ke 9 dari 10 ksatria suci.... Dia itu yang paling kuat diantara semuanya.... Skill Berserk nya itu tidak ada yang bisa menandingi nya.....".
"Maafkan aku, Sylvia. Karena Ayah tidak mampu melindungi mu".
Entah kenapa tiba-tiba Raja William meminta maaf pada putrinya sambil menundukkan kepalanya. Melihat hal itu Sylvia tidak bisa berkata-kata.
"Karena aturan lama yang menyatakan untuk "mengambil tindakan apapun berdasar titah The Oracle's". Ayah terpaksa setuju, dan mengizinkan Oscar untuk menikahi mu... Sudah sewajarnya jika kau sangat membenci ayah".
"Tidak Ayahanda. Sedikitpun aku tidak pernah membenci Ayahanda".
"Sylvia...".
Raja William berdiri dan berjalan ke arah Sylvia, kemudian memeluknya dengan sangat erat.
"Kau adalah kebanggaan ayah..... Dan masa depan Kerajaan ini ada di pundak mu".
"Ayahanda....".
Sylvia hanya bisa terdiam dan terkesan dengan kasih sayang yang Raja William tunjukkan padanya. Setelah itu Raja William melepas pelukannya dan kembali berbicara.
"Dan sekarang Ayah punya satu hal lagi yang ingin Ayah sampaikan".
Sylvia kebingungan dengan ucapan ayahnya.
"Sebenarnya, ayah tahu bahwa kau ingin melarikan diri dari Oscar..... Karena itu, ayah sudah menyiapkan rencana untukmu agar bisa melarikan diri".
"Eh? Aku baru pertama kali mendengar nya".
"Ini adalah rencana yang ayah buat untuk berkorban.... Jika kau tahu sebelumnya soal rencana ini.... Mungkin kau akan tetap memilih menikahi Oscar demi Ayah".
Sylvia tidak bisa berkata-kata apapun. Lalu Raja William melanjutkan perkataannya.
"Kau masih ingat dengan cerita soal invasi Kerajaan High Montana ke Kerajaan ini 20 tahun yang lalu?".
"Iya tentu aku masih ingat".
"Dulu ada seorang ksatria hebat yang sangat baik beserta pasukannya dari Kerjaan Ingrid yang dengan suka rela membantu Kerajaan Rachael untuk memukul mundur Kerajaan High Montana".
"Ah iya, kalau tidak salah orang itu adalah Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia".
Mendengar putri nya mengingat cerita yang pernah dia ceritakan, membuat Raja William tersenyum.
"Meski Kerjaan kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Kerajaan Ingrid.... Tapi, kita sangat berhubungan baik dengan orang itu. Bahkan sampai sekarang kita sering melakukan kerja sama dan melakukan transaksi perdagangan yang lancar. Singkatnya, kami saling percaya satu sama lain".
Lalu ekspresi wajah Raja William menjadi sangat gelap. Tangannya mengepal dengan sangat keras.
"Tapi, hubungan baik itu akan hancur begitu saja. Karena ulah dari Oscar dan para The Oracle's".
"Eh? Apa maksudnya itu, Ayahanda?".
Tidak paham dengan ucapan ayahanda Sylvia kembali bertanya. Dan dengan terpaksa Raja William menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Karena wilayah yang diserang oleh Oscar.... Adalah wilayah Arcadia yang di kelola oleh Hyoga.... Dan orang yang membunuh Oscar adalah putra nya, Dylan van Arcadia".
Mendengar hal itu dari mulut ayahnya, membuat Sylvia terpaku diam.
Meski tidak dijelaskan dengan detail Sylvia tahu akibat apa yang ditimbulkan dari tindakan sewenang-wenang Oscar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
™RAWJAR~SAMA
cukup
2024-04-15
2
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-19
0
Buang Sengketa
semakin menarik
2023-08-16
2