Rumah ternyaman wanita setelah menikah adalah suaminya, obat dari segala lelahnya adalah pelukan suaminya, bahu ternyaman untuk bersandar adalah bahu suaminya, tempat segala cerita sedih dan bahagianya adalah suaminya, walaupun kadang ada pertengkaran kecil tetap yang dicari adalah suaminya. "Maka temukanlah seseorang yang pandai meredam amarahmu tanpa membentak mu."
Terkadang merajuk, marah, itu hanya ingin diperhatikan. Tempat ternyaman itu cuma suaminya karena setelah menikah yang dia punya hanya suaminya. Dan rumah satu-satunya hanya suaminya.
WSM_(Penantian Kekasih Halal)
***
Saat ini dua sejoli itu baru saja kembali ke kamar pengantin setelah selesai makan bersama dengan keluarga dan sahabat mereka.
"Sayangku, mas keluar sebentar ya, kamu tunggu disini, mas ada kejutan untuk kamu," ucap Aqiel penuh kelembutan.
"Kemana mas?" Tanya Alesha.
"Sebentar sayang," ucap Aqiel tersenyum sambil mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab dengan sayang.
Cup..!
Iya mencuri satu kecupan di pipi sang istri sebelum keluar dari kamar.
"Assalamu'alaikum sayang," ucap Aqiel.
"I-iya mas, wa'alaikumsalam," ucap Alesha tergagap, ia masih saja kaget dengan perlakuan suaminya yang tak terduga.
Saat suaminya meninggalkan kamar, Alesha mondar-mandir gelisah tak karuan, pikiran nya kalut, ia rasanya masih belum siap menjalankan kewajiban nya saat ini, jika suaminya itu meminta haknya.
"Ya Allah, kenapa nggak bisa tenang sih diri ini, tenangkan hati dan pikiran kamu Sha. Mas Aqiel sudah jadi suami kamu, dia berhak atas dirimu seutuhnya," gumamnya pada diri sendiri.
Dia lalu masuk ke kamar mandi, membersihkan wajah serta menggosok giginya, mempersiapkan dirinya jika suaminya meminta hak nya.
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka.
"Sayang," panggil Aqiel saat keadaan kamar yang kosong. Ia mendengar suara percikan air dari arah kamar mandi, mungkin istrinya saat ini dikamar mandi, begitu pikirnya.
Sedangkan Alesha yang kini di dalam kamar mandi, ritme jantungnya kian bertalu-talu, padahal hanya ingin menemui seorang pemuda yang kini sudah resmi menjadi kekasih halalnya. Namun, berat sekali Alesha beranjak dari dalam kamar mandi itu. Tubuhnya justru semakin gemetar hebat saat dia sudah berada di ambang pintu.
"Kondisikan perasaanku ya Allah, aku harus berani, tidak boleh gugup," gumam Alesha seorang diri.
Perlahan tapi pasti, Alesha memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi.
"Astaghfirullah, mas bikin kaget deh tiba-tiba berdiri di depan pintu." Ucap Alesha menahan ritme jantungnya saat ini yang semakin berdebar saja.
"Maaf sayang, Mas sudah ngagetin kamu. Mas cuma mau kasih kejutan sama kamu," ucap Aqiel mengelus kepala istrinya yang kini tak lagi memakai hijab.
"Kejutan apa?" Tanya Alesha penasaran.
"Tara... tiket liburan ke labuan bajo, kita akan liburan sekaligus honeymoon disana, kamu mau kan? Apa kamu suka cintaku? Ucap Aqiel memberikan tiket liburan yang sudah ia persiapkan.
"MasyaaAllah mas, aku suka banget, terimakasih sudah mau menerima ku dengan segala kekurangan ku, dan memberikan kebahagiaan kepada ku saat ini." Ucap Alesha berkaca-kaca.
"Kok kamu malah nangis sayang, aku hanya berusaha memberikan yang terbaik buat kamu cinta, justru aku yang harus berterimakasih sama kamu, karena kamu sudah menerima aku yang tak ada apa-apa ini." ucap Aqiel lalu memeluk istrinya itu dengan erat. Alesha pun membalas pelukan suaminya itu, ia merasa sangat beruntung sudah dinikahi oleh lelaki tampan, serta sangat meratukan dirinya.
Perlahan Alesha melepas pelukan nya.
"Mas," ucap Alesha.
"Kenapa sayang?" Tanya Aqiel yang tak lepas pandangannya dari sang Kekasih Halal.
"Boleh tidak hari ini kita istirahat saja, mas pasti capek kan? Seharian kita berdiri menyapa tamu yang datang?" Ucap Alesha merasa tak enak dengan suaminya itu sambil menunduk lesu.
"Hey...kamu kenapa malah menundukkan kepala mu, tatap mas sayang, mas paham kamu pasti belum siap kan, mas tidak akan memaksa jika kamu belum siap, mas menikahi mu bukan karena nafsu, tapi mas cinta sama kamu karena Allah." Ucap Aqiel tulus, ia berusaha memahami perasaan sang istri, dan tidak akan memaksakan kehendak nya kepada sang istri tercinta.
"Mas nggak marah sama aku? Mas nggak kecewa karena aku belum bisa seutuhnya jadi milik mas?" Tanya Alesha lagi yang kini telah berani menatap wajah suami tampannya itu.
"Tidak cinta, mas tidak marah atau pun kecewa sama kamu, justru mas senang jika kamu mau memberitahu kan hal sekecil apapun kepada mas apa yang kamu rasakan, kamu jangan nggak enak hati sama mas." Ucap Aqiel merengkuh kedua bahu sang istri dengan tatapan yang meneduhkan.
"Terimakasih ya mas sudah mau memahami aku," ucap Alesha tersenyum.
"Iya cinta, ana uhibbuki ya zaujati, (aku mencintaimu karena Allah, istri ku)." ucap Aqiel kepada sang istri.
"Ana uhibbuka ya Jauzi (aku mencintaimu karena Allah, suamiku)." Ucap Alesha mengembangkan senyumannya, terbitlah lesung pipi nya yang dalam dengan bola mata yang berbinar, serta bulu mata yang panjang dan lentik, semakin membuat gemas sang kekasih halalnya.
"Kamu jangan gemas-gemas dong cinta, kan mas nggak kuat." Ucap Aqiel mulai menggoda sang istri.
"Mas ih.. ngeselin," Ucap nya sambil memukul dada suaminya pelan.
"Aduk, sakit sayang," ucap Aqiel pura-pura meringis.
"Serius mas, maaf..aku nggak bermaksud." Ucap Alesha menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Aqiel malah tertawa melihat reaksi sang istri. Alesha mendengar suara sang suami yang sedang menahan tawanya. Ia mengangkat kepalanya perlahan.
"Mas kok malah tertawa sih, katanya sakit, mas bohongi aku ya," ucap nya mencebikkan bibirnya yang mungil.
"Aduh..duh istrinya mas, mas cuma iseng sama kamu, habisnya kamu semakin menggemaskan kalau lagi ngambek," ucap Aqiel merangkul kedua pundak sang istri, dan jarak diantara mereka semakin terkikis.
"Mas jangan menatap aku begitu dong, kan aku malu," cicit Alesha sambil memegang ujung baju tidurnya.
"Kenapa harus malu ditatap sama suami sendiri, dan mas akan selalu menatap kamu istri ku," ucap Aqiel lalu mengecup kening istrinya sekilas.
"Ih kan lagi-lagi begitu, aku kan bisa pingsan lama-lama kalau mas gombal terus." Cicit Alesha.
"Hahaha...!! Kamu ada-ada saja sayang, mana ada orang pingsan hanya karena di gombali, lagian mas nggak gombal sama kamu sayang, mas benar-benar serius jika mas mengatakan kamu menggemaskan, cantik, manis, lucu. Memang kamu istri paket komplit buat mas, semuanya ada pada dirimu, yang membuat mas setiap detiknya jatuh cinta sama kamu sayang." Ucap Aqiel dengan tulus.
"Apa yang buat mas jatuh cinta sama aku, padahal diluar sana banyak yang jauh lebih baik dari aku, dan lebih cantik serta lebih muda dari aku," ucap Alesha yang beruntung dicintai oleh lelaki tampan yang kini sudah jadi kekasih halalnya.
"Mas juga tidak tau cinta, Allah yang menumbuhkan rasa yang begitu dalam di hati mas, mas nggak perduli dengan wanita diluar sana, di hati mas tetap kamu istri mas yang paling cantik plus Sholehah." Tutur Aqiel meyakinkan sang istri bahwa perasaan nya benar-benar tulus dan sebesar itu.
Alesha tak dapat berkata-kata, ia hanya bisa tersenyum dan bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Yang Maha Kuasa, bahwa penantian nya selama ini tak sia-sia, Allah mempertemukan dia dengan lelaki yang luar biasa begitu besar mencintai nya.
"Yaudah sayang, sekarang kita tidur ya, pasti kamu lelah seharian berdiri di acara pernikahan kita, apalagi tamu yang datang begitu banyak." Ucap Aqiel membawa sang istri menuju ketempat pembaringan mereka, Alesha hanya menuruti sang suami.
"Jangan lupa baca do'a tidur sayang," Aqiel mengingatkan istri nya yang mulai menutup matanya.
"Hehe..maaf, aku lupa mas saking ngantuk nya." Ucap Alesha terkekeh.
Aqiel mencolek hidung sang istri, ia menarik lembut sang istri, merengkuh badan mungil sang istri agar lebih dekat dengan dirinya, Alesha membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya itu, ia mulai membiasakan diri untuk berada dalam satu atap, bahkan satu kamar, dan satu selimut dengan seorang lelaki untuk pertama kalinya.
"Mas, sebelum tidur, maaf kan atas segala salah aku hari ini ya, maaf karena aku belum bisa memberikan hak mas seutuhnya, mas mau kan maafin aku hari ini, aku tidak mau malaikat melaknat aku disaat tidur hingga datangnya pagi." ucap Alesha memandang netra sang suami.
"Iya sayang, mas sudah maafin kamu." Ucap Aqiel tersenyum.
"Mas ridho atas ku?" Tanya sang istri kembali.
"Iya cintaku, mas ridho akan kamu, malam istri ku, bidadari surgaku." Ucap Aqiel Sambil memeluk tubuh mungil sang istri dan tak lupa melabuhkan kecupan di kening sang istri.
"Malam mas," jawab Alesha, kini ia lega karena sang suami sudah ridho akan dirinya. Ia mulai memejamkan matanya memasuki alam mimpi.
"Dalam ajaran agama Islam, suami memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan istri. Oleh sebab itu, seorang istri yang sholehah harus berbakti pada suaminya dan memenuhi kewajibannya dengan ikhlas dan melakukan hal tersebut semata-mata karena Allah SWT."
"Akan tetapi, rupanya tidak banyak memiliki bekal beriman ini ketika membangun bahtera rumah tangga. Maka akibatnya, gak ada rumah tangga pun bisa terlibat banyak masalah karena kesalahpahaman dan lain sebagainya."
"Dalam ajaran agama Islam, suami merupakan surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi ridho Allah. Istri yang tidak mendapatkan ridho suami karena tidak taat atau melakukan beberapa perbuatan dosa dikatakan sebagai perempuan yang durhaka serta kufur nikmat."
***
Alesha terbangun dari tidurnya, ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 03.00 pagi, saat ia terbangun yang pertama ia lihat adalah suaminya. Iya memandang dengan penuh lekat wajah suami tampannya itu. Seulas senyum terbit di bibir nya yang mungil, saat Alesha ingin melepas pelukan suami nya dari badan suaminya, Aqiel pun terbangun karena pergerakan sang istri.
"Sayang, kamu kok sudah bangun, memang sekarang jam berapa?" Tanya sang suami yang masih setengah sadar, ia tersenyum lebar saat wajah cantik sang istri terlihat jelas saat kantuk yang mendera hilang sempurna.
"Jam 03.00 mas, aku mau sholat sunnah," ucap Alesha menatap netra sang suami.
"Yasudah kita sama-sama shalat Sunnah ya, mas imami kamu," ucap Aqiel dengan suara beratnya khas orang bangun tidur.
"Iya mas, mas yang mandi dulu atau aku?" Tanya sang istri.
"Berdua aja gimana?" Goda sang suami.
"Ih aku serius," ucap Alesha mencebikkan bibirnya.
" Iya sayang, mas bercanda, kamu duluan aja," ucap Aqiel terkekeh.
"Yaudah lepasin pelukannya, emang tangan mas gak pegal semalaman peluk aku gini." Ucap Alesha.
"Jangan kan semalam, setiap detik pun sama kamu mas rela," seloroh Aqiel.
"Mulai deh gombal nya, yaudah aku mau mandi, kapan shalat nya kalau gombal mulu." Ucap sang istri.
Aqiel melepaskan pelukannya dari sang istri, Alesha segera berlari menuju kamar mandi. Tak berselang lama Alesha telah menyelesaikan mandinya dan sudah berwudhu. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia telah melihat sang suami duduk di atas sajadah dengan Koko dan sarung serta menggunakan kopiah, semakin terlihat tampan saja suaminya itu.
"Loh mas sudah mandi," ucap Alesha.
"Sudah sayang, mas mandi di kamar mandi satu lagi, yaudah ayok kita shalat." Ajak sang suami. Alesha mengikuti perintah suaminya.
Beberapa menit telah berlalu, kini mereka menghadap kiblat yang sama. Aqiel dan Alesha melaksanakan ibadah salat sunnah tahajud berjamaah untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri. Tiga belas rakaat mereka lakukan dengan khusyuk ditutup dengan witir.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi..." Salam Aqiel.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi..." di ikuti oleh Alesha.
Mereka mengakhiri kegiatan salat tahajud berjamaah, kemudian Aqiel dan Alesha sama-sama memanjatkan doa kepada yang maha kuasa. Mereka berdo'a untuk kebaikan rumah tangga yang baru saja dimulai dan kebaikan lainnya.
Setelah memanjat kan do'a dengan khusyuk, Aqiel menoleh ke arah belakang, dia tersenyum menatap sang makmum yang sangat cantik dengan balutan mukenah berwarna putih mahar yang ia berikan. Impiannya selama ini telah menjadi kenyataan, menjadikan wanita yang telah mengisi hati dan pikiran selama dia duduk di bangku SMA yang telah lama tak ia jumpai setelah 5 tahun lamanya.
"Kenapa mas senyum-senyum? Aku malu ditatap seperti itu." Alesha salah tingkah, ia menundukkan kepalanya seketika. Tatapan sang suami penuh arti dan tak bisa ia mengerti.
"Tidak kenapa sayang, mas hanya belum menyangka kalau sekarang kamu sudah jadi istri mas," ucap Aqiel tersenyum lebar. Alesha hanya membalas dengan senyuman pula.
Aqiel memberikan tangannya, Alesha yang paham, menarik tangan kanan sang suami lalu mencium nya dengan penuh takzim, Aqiel pun menarik kepala sang istri lalu mencium ubun-ubun nya dengan sayang.
Mereka lanjut mengaji, Alesha mengambil Al-Qur'an yang terletak di atas meja untuk dirinya dan untuk suaminya. Mereka mengaji dengan suara yang merdu, ruangan itu dipenuhi dengan suara merdu sang pasutri baru itu. Mungkin setiap orang yang mendengar suara mereka akan merasakan ketentraman di hati.
.
.
To Be Continued.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Wawa Sese
Uwu banget pasangan ini, couple favorite ku😍
2023-09-22
3
Ning Mar
lanjut baca dulu ya thor..
kisah yg menarik...
2023-09-22
3