"Bahwasannya tidak ada istri solehah yang sempurna tanpa aib dan tanpa kekurangan. Dan tidak ada pula suami sholeh yang sempurna tanpa aib dan tanpa kekurangan. Maka saling melengkapi lah dan saling menguatkan."
WSM_(Penantian Kekasih Halal)
***
Dikediaman Ayah Anggara dan Ibu Alice, mereka telah kembali kerumahnya kemarin sore, kini dua orang paruh baya itu bersama kedua putranya sedang sarapan pagi.
"Ibu, Alfa kangen sama kak Alesha, kapan kita main ketempat kak Alesha." Ucap sibungsu lesu.
"Lebay kamu dek, baru juga dua hari nggak ketemu kak Alesha, udah kangen," ucap Arfa.
"Ibu, Abang selalu gitu." Adu sibungsu sama ibunya.
"Arfa, kamu sehari saja tidak usah jail sama adik kamu gimana sih," ucap Ibu Alice menegur Arfa.
"Hehe... iya maaf Bu, habisnya adek emang lebay, baru juga dua hari kak Alesha nggak dirumah udah seperti nggak bertemu sebulan." Jawab Arfa terkekeh
"Kamu kan tau Ar, adik kamu ini emang dekat banget sama kakak kamu Alesha," tutur Ibu Alice.
"Kalau kakak pulang dari liburan sama Abang Aqiel, kita main kerumah kakak ya dek." Bujuk sang ibu tercinta.
"Benar ya Bu, ibu nggak bohong kan?" Katanya memastikan.
"InsyaaAllah nak, ibu nggak bohong, yaudah cepat siap2, ntar adek telat sekolah nya.
"Kan hari ini Sabtu Bu, adek libur," ucap sibungsu menjelaskan.
"Astaghfirullah, ibu lupa nak," ucap sang ibu menepuk jidatnya pelan.
Semua tertawa melihat tingkah ibu Alice.
"Bukan karena ibu lupa, tapi karena ibu sudah tua, jadi suka lupa," ucap Ayah Anggara bercanda.
"Kalau Ibu tua, lalu Ayah apa? Tua sekali begitu?" ucap ibu Alice membalas.
"Haduh,, mulai deh kumat dua orang tua ini," ucap Arfa, lalu ia berdiri dan masuk kekamar nya, karena ia sudah selesai sarapan.
"Abang kemana," ucap sang adik saat Arfa akan melangkahkan kakinya ke kamar.
"Abang mau siap-siap, mau pergi main sama teman Abang.
"Alfa ikut ya bang, please..." Mohon sang adik sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.
"Enggak, masak Abang mau nongkrong bawa bocah, kamu dirumah aja, belajar, buat tugas yang belum dikerjakan." Tutur Arfa agar adiknya itu tidak jadi ikut.
"Ayah, ibu, Abang nggak mau ajak adek." Adu sibungsu kepada kedua orang tuanya.
"Bawa aja adek kamu Ar, kasian dia dirumah nggak ada temannya, biasanya hari libur sama kak Alesha." Perintah ibunya kepada putra pertama nya itu.
"Masak Arfa harus bawa bocah nongkrong sama teman-teman Bu, ibu aneh-aneh aja deh." Ucap Arfa tetap dengan pendirian nya.
"Yaudah Arfa siap-siap dulu ya Bu, Yah," ucap Arfa berlalu kekamar nya.
"Nanti ibu telfon kak Amora biar kesini ya, ajak kak Amora main," bujuk sang ibu.
"Yaudah deh, Adek bosan Bu dirumah, kalau kak Amora mau jalan-jalan sama adek, adek mau ikut kak Amora aja deh." Ucap sibungsu tak terlalu mempermasalahkan lagi.
***
Sedangkan dikediaman Amora dan suami, mereka sedang berbicara serius diruang tamu setelah sarapan pagi.
"Mas, bagaimana bila hasil kedepannya tidak sesuai harapan? Apakah Mas akan meninggalkanku dan menikahi perempuan lain? Sedangkan memiliki anak adalah tujuan utama dalam pernikahan untuk meneruskan agama Allah." Tutur sang istri menyampaikan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
"Sayang, di atas dokter masih ada Allah, ingat Dawuh "Al yaaqinu laa yuuzalu bisysyak" tidak?" Tanya sang suami menatap netra Amora dengan lekat.
"Setelah skrining dan terbukti bahwa yang memiliki kelemahan adalah aku, apakah juga mengurangi rasa cinta dan sayang mas terhadapku?" Ucap Amora ditengah kekalutan nya.
Ya, Amora dan suaminya Zain Malik telah memasuki usia pernikahan yang ke tiga tahun, namun Allah belum memberikan sebuah amanah untuk mereka emban, sampai saat ini kedua pasangan pengantin lama itu masih memperjuangkan garis dua.
"Tidak sayang, kamu ini bicara apa? Kita menikah untuk saling mengisi kekurangan masing-masing, ada ujian yang dilewati bersama, ada kemenangan juga wajib dirayakan bersama." Ucap Zain tetap memberikan pengertian kepada sang istri, dia paham bagaimana perasaan sang istri kini, tapi jika Allah belum memberikan rezeki, mereka harus apa.
"Tapi mas, kenyataannya saat ini aku merasa bersalah pada diriku sendiri, pada mas, dan pada orang-orang yang mendoakan serta menantikan kita memiliki anak." Ucap Amora tertunduk.
"Sayang, kita hanya manusia biasa, hamba Allah yang tugasnya hanya ikhtiar dan tawakal. Yang terpenting sekarang kita sedang mencoba ikhtiar, selebihnya kita tawakal saja sama Allah, oke Amora ku." Tutur Zain tetap dengan tenang.
"Mas, tapi Mas yakin tidak? Kalau kita ini di pantaskan mengemban amanah itu?" Ucap Amora menatap netra sang suami menunggu jawaban.
"Wallahu'alam sayang, sekarang pasrahkan semuanya kepada Allah, Allah pasti punya rencana baik untuk kita. Coba fokus kita diubah saja dulu, oke. Kita boleh berharap, tapi ingat, Allah Maha sebaik-baik pemberi." Tetap dengan tenang Zain memberikan pengertian.
"Kalau fokusnya diubah, kita harus mengubah ke arah mana Mas?" Tanya nya lagi.
"Kita fokus terapi keluhan kamu dulu, jalani dengan enjoy, sambil menikmati masa-masa berdua kita. Kita laksanakan semua sesuai prosedur intinya, satu demi satu tahap dilewati fokus dengan hasilnya saja. Kalau kita ridho, Allah pasti juga akan memberi hadiah untuk kita." Tutur sang suami sambil mengelus pipi sang istri.
"Mas, terima kasih telah membesarkan hatiku yang penuh dengan su'udzon ini." Ucap Amora.
"Sama-sama Amora ku, mas tidak peduli kamu dalam keadaan buruk atau baik, Mas tetap suamimu. Apapun yang menjadi gundah mu, kamu wajib berbagi dengan mas. Oke sayang?" Tutur Zain tulus.
"Siap mas, tapi.. aku takut jika salah satu keluarga kita bertanya tentang anak, haruskah ku jawab dengan jujur? Ataukah berbohong?" Tanya nya lagi.
"Sayang, kunci keberhasilan rumah tangga itu hanya pada dua orang, yaitu suami dan istri. Sebisa mungkin, jangan tempatkan kesedihan atau kendala apapun selain Kita, apalagi orang tua kita. Paham sayang?" Tutur Zain.
"Paham Mas, berarti cukup kita yang tahu?" Ucap Amora.
"Iya sayang, dan pastinya juga Allah." Ucap Zain tersenyum.
"Baik mas, tapi mas ridho kan menjalani kehidupan dengan segala kelemahanku ini?" Lagi-lagi masih meyakinkan dirinya.
"Amora, Mas sungguh bahagia, lelah Mas hilang sekaligus, gundah gulana mas seolah digempur hancur dengan pertanyaan ini yang istiqomah kamu tanyakan setiap hari." Tutur Zain tak ingin terus-menerus istrinya itu memikirkan masalah anak.
"Mas... ridho tidak Mas?" Tanya nya lagi.
"Ridho sayang, sangat ridho. Berbahagialah kamu sayang, karena Allah juga akan ridho di setiap langkahmu." Tutur sang suami mengakhiri agar sang istri tak lagi merasa terbebani.
"Masyaa Allah, terima kasih telah membahagiakan aku Mas." Ucap Amora haru biru.
"Sama-sama sayang." Ucap Zain tersenyum tulus.
Tiba-tiba handphone milik Amora berbunyi.
Ring... Ring... Ring... !!!
"Ibu mas," ucap Amora.
"Angkat, mana tau penting." Ucap sang suami.
Dia mengangkat telepon dari Ibunda tercinta, lebih kurang sepuluh menit Amora dan ibunya berbicara di telepon, hingga Amora mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Kenapa sayang?" Tanya sang suami.
"Ini si adek katanya bosan dirumah, mau ajak jalan-jalan, mas mau kan bawa adek jalan-jalan?" Tanya Amora serius.
"Yaudah ayok, sekarang kita siap-siap, terus jemput adek sekalian ajak ibu dan ayah." Tutur Zain.
Mereka segera bersiap-siap menuju kediaman rumah Ayah Anggara dan Ibu Alice.
***
Saat ini Alesha dan Aqiel sudah berada di labuan bajo. Mereka baru sampai di lobby sebuah resort. Mereka menginap di sebuah resort dengan pemandangan laut yang menakjubkan di Pulau komodo.
"Capek nggak selama di pesawat cinta?" Tanya sang suami menatap lekat manik istrinya.
"Tidak sama sekali mas," ucap Alesha tersenyum.
Mereka menuju kamar yang telah dipesan oleh Aqiel jauh-jauh hari. Pegawai hotel membantu membawakan koper milik mereka.
"Terimakasih mas, ucap Aqiel kepada pegawai resort, setelah mereka sampai di depan kamar. Ia pun memberikan tips lebih kepada pegawai resort itu.
Saat Aqiel dan Alesha memasuki kamar paling mahal di resort itu, betapa Alesha sangat takjub dengan view yang disuguhkan.
"MasyaaAllah mas, bagus banget, indah sekali pemandangan dari kamar ini." Ucap Alesha terkagum-kagum.
"Kamu senang cinta? Kamu suka?" Tanya sang suami.
"Banget, aku senang, dan suka banget disini. Bisa betah aku disini mas." Ucap Alesha reflek memeluk suaminya itu.
"Tumben kamu meluk Mas duluan, biasanya malu-malu," goda sang suami, Alesha melepas pelukan nya, namun disaat ia akan melepaskan pelukan suaminya, Aqiel menahan badan mungil wanita cantik itu.
"Jangan dilepas, mas masih mau peluk kamu kayak gini," ucap Aqiel ingin bermanja-manja dengan sang istri tercinta. Alesha hanya diam menuruti keinginan suami bucin nya.
"Mas," ucap Alesha.
"Kenapa sayang?" Tanya Aqiel masih setia memeluk istri mungilnya.
"Aku laper," cicit Alesha tiba-tiba.
"MasyaaAllah, ternyata istri cantiknya mas laper, yaudah mas pesan makanan dulu ya, atau kamu mau makan di resto dekat resort sekalian jalan-jalan?" Tanya sang suami melepas pelukan nya.
"Pesan aja deh mas, hari ini aku mau istirahat aja, kan kita masih seminggu lagi disini," ucap Alesha dengan mengerjap-ngerjap kan kedua matanya, terlihat semakin lucu dan menggemaskan wanita cantik itu, dengan bola mata seperti boba, bulu mata panjang dan lentik serta mulut yang menggembung.
"Kamu jangan lucu-lucu dan menggemaskan gini dong cinta, mas kan gak bisa tahan," ucap Aqiel menahan hasratnya sebagai lelaki.
"Maksudnya mas? Emang aku bayi, lucu dan menggemaskan." Ucap Alesha mencebikkan bibir nya yang kecil dan tipis.
"Kamu bidadarinya mas," ucap Aqiel tersenyum penuh arti.
"Mas, ih.. jangan tatap aku seperti itu, katanya mau pesan makan, aku benaran udah lapar." Ucap Alesha dengan nada yang sedikit manja.
"Maaf ya cinta, habisnya kamu sih, buat mas gak bisa jauh barang sedetikpun." Jujur Aqiel.
"Yaudah mas pesan dulu ya," ucap Aqiel lalu beranjak menuju telfon yang ada dikamar itu, segera memesan makanan kesukaan istrinya.
"Udah mas?" Tanya sang istri yang sedang duduk di tepi kolam yang ada dikamar yang mereka tempati.
"Sudah sayang, sebentar lagi juga datang makanan nya." Ucap Aqiel sambil menyusul sang istri.
"Cinta," ucap Aqiel.
"Hhmm..." Jawab Alesha.
"Lihat mas dong, kan mas ada di sini, kok fokusnya cuma lihatin kolam renang.
"Iya maaf, kenapa mas?" Tanya sang istri beralih menatap netra suaminya.
"Setelah kita kembali nanti ke Jakarta, kamu masih mau lanjut mengajar atau mau dirumah saja cinta?" Tanya sang suami.
"Apakah mas tidak akan mengizinkan aku bekerja lagi? Jika memang begitu aku akan menurut, bukan kah ridho istri ada pada ridho suami." Ucap Alesha tetap tenang.
"MasyaaAllah kamu benar-benar istri Sholehah nya mas, mas nggak akan melarang kamu sayang, jika memang kebahagiaan kamu mengajar, maka mas tidak akan melarang kamu untuk tetap mengajar. Tapi jika kamu merasa lelah, kamu boleh berhenti dan kembali ke pelukan Mas." Jawab Aqiel menatap manik Alesha tulus.
"Benar mas? Mas masih izinkan aku mengajar," bahagia Alesha tak bisa disembunyikan.
"Iya sayang, apapun demi kamu bahagia, akan mas dukung sepenuhnya, tapi ada satu syarat..." Ucap Aqiel menggantung kalimat nya.
"Apa mas?" Tanya Alesha penasaran.
"Kamu gak boleh kecapekan, setiap hari mas yang akan antar jemput kamu, dan jika nanti kamu hamil, kamu harus benar-benar bed rest di rumah, kamu mau kan, cinta?" Ucap Aqiel serius.
"Baik mas, aku janji." Ucap Alesha mengembangkan senyumannya yang manis.
Cup!
Lagi-lagi Aqiel mencuri kecupan di pipi sang istri.
"Ih..mas, suka mencuri." Ucap Alesha mencebikkan bibirnya.
"Kan apa yang ada di diri kamu, seutuhnya milik mas." Ucap Aqiel menaik turunkan alisnya.
"Hhmm.. iya sih, mas benar, hihihi! Ucap Alesha terkekeh.
"Mas, ada yang mau aku sampaikan sama mas," ucap Alesha serius.
"Apa sayang? Sepertinya serius," ucap Aqiel.
"Aku sebenarnya selain mengajar juga seorang penulis novel, dan belum ada yang tau satupun profesi ku yang satu ini. Mas tetap izinkan aku jadi penulis kan?" Tanya Alesha menuggu jawaban.
"Benaran sayang? Kamu seorang penulis?" Tanya Aqiel menggenggam kedua tangan istrinya.
"Benar mas, Alesha jadi penulis sejak semester lima hingga sekarang, dan penggemarku juga sudah banyak, para penggemar Alesha juga berharap bisa bertemu Alesha suatu saat, dan Alesha juga pernah diminta untuk jadi narasumber inspirasi wanita muda dalam berkarya, tapi karena Alesha tidak pernah mau orang tau siapa seorang penulis dengan nama pena "Musim Dingin" jadi nya Alesha tolak mas." Tutur Alesha.
"Kamu penulis dengan nama pena "Musim Dingin"? Benaran sayang?" Antusias Aqiel saat tau jika istrinya seorang penulis dengan nama pena musim dingin.
"Benar mas, memang nya kenapa?" Tanya Alesha.
"Mas sudah lama baca novel-novel kamu, setiap karya kamu mas selalu baca, mas punya semua seri novel karya kamu." Ucap Aqiel antusias.
"MasyaaAllah benar mas, kok bisa? Jarang sekali lelaki yang suka baca novel." Ucapnya.
"Mas baca novel kamu bukan karena kebetulan, dulu kan kamu suka menulis puisi lalu ditempel di Mading, dan mas pernah lihat nama kamu, kamu tulis Musim Dingin. Mas nggak menyangka jika kamu dan penulis novel itu orang yang sama, mungkin ini yang dinamakan jodoh." Ucap Aqiel tersenyum.
"Mas benar, kita tidak pernah tahu setiap rahasia dan rencana Allah." Ucap Alesha balas tersenyum.
Di saat asik berbicara, bel kamar mereka berbunyi, ternyata pegawai resort yang datang mengantarkan makanan pesanan mereka.
.
.
To Be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Solomon72
semangat Thor lanjutkan mampir juga ya 😁
2023-08-17
2