Tersudut

Saat Alesha sampai di toko milik kedua orang tuanya, Alesha urung untuk turun dari mobil milik Alena. Ya, sewaktu di perjalanan pulang tadi, Ibu Alesha menelpon nya untuk menyuruh anak gadisnya itu mampir ke toko miliknya, ternyata disana ada Dion lelaki yang akan dikenalkan kepada Alesha.

"Kenapa Sha kok nggak jadi turun?" Alena yang belum sadar di toko Alesha ada Dion heran kenapa sang sahabat tidak kunjung turun juga.

"Itu Lo Na, di toko Ibu ada Dion, ngapain dia kesini? Bukannya tadi dia lagi sama pacarnya?" Ucap Alesha dengan geram.

"Parah tu cowok, padahal tadi mesra banget tuh sama pacarnya, sekarang udah sampai aja dia di toko nyokap lo, gue jadi penasaran dia mau ngapain ke sini, Ya udah yuk Sha kita turun, kita jumpai cowok nggak jelas itu, tenang aja, gue selalu dukung Lo, lagian bukti rekaman video dia sama pacarnya kan ada di hp gue." Ucap Alena memberikan dukungan untuk sahabat nya itu.

"Yaudah yuk Na, Aku juga mau cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, aku nggak terima Ibu sama Ayah dibohongin sama cowok nggak jelas itu." Ucap Alesha menahan sabar.

Akhirnya Alesha dan Alena turun dari mobil silver itu, menghampiri keberadaan Ibu Alice dan Pak Anggara yang sedang berbincang-bincang dengan Dion.

"Assalamualaikum Ibu, Ayah," ucap Alesha sambil mencium kedua tangan orang tuanya dengan penuh takzim begitupun dengan Alena.

"Waalaikumsalam, Sha, Na," ucap Ibu dan Ayah Alesha.

"Ini siapa Buk, Pak? Yang mana Alesha?" Tanya Dion kepada kedua orang tua Alesha to the point, yang tak lepas pandangan nya dari Alesha sejak sedari awal Alesha menginjakkan kaki di toko itu.

"Oh iya, kenalin Sha, ini nak Dion yang sering ibu ceritakan sama kamu, nak Dion kenalin ini anak gadis ibu Alesha, dan ini Alena sahabat nya Alesha," ucap Ibu Alice memperkenalkan mereka satu-persatu.

"Gue Dion," ucap Dion sambil memberi salam kepada Alesha. Tetapi Alesha tidak menyambut salam lelaki itu.

"Alesha," jawab Alesha sambil menautkan kedua tangannya di depan dada.

Dion yang merasa malu tangannya tidak disambut oleh Alesha, segera menarik tangannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Ada apa ya Bu, Ayah? Kenapa menyuruh Alesha kesini?" Tanya Alesha yang tak sabar segera mengakhiri ketidaknyamanan nya ini. Apalagi sedari tadi Dion tak berkedip matanya melihat Alesha, Alesha yang diperhatikan sedemikian merasa risih dengan tatapan lelaki yang bukan mahramnya itu.

"Begini Sha, seperti yang Ibu ceritakan sebelumnya, nak Dion mau kenal kamu lebih dekat, benarkan nak Dion?" Ucap Ibu Alice memastikan kepada Dion.

"Iya benar Sha, aku udah sering dengar tentang Kamu dari Ibu sama Bapak, ternyata benar Kamu adalah gadis yang sangat cantik," ucap Dion yang merasa akan diterima oleh Alesha.

"Maaf sebelumnya Bu, Ayah, sebelum semua ini makin jauh, dan Ibu sama Ayah semakin berharap akan hubungan Alesha sama Dion, Alesha mau mengatakan bahwa Alesha nggak mau kenal lebih jauh dengan Dion." Ucap Alesha dengan yakin.

Sontak jawaban Alesha membuat Ibu serta Ayah Alesha begitupun dengan Dion terkejut.

"Maksud kamu apa nak? Bukannya sebelum ini Kamu mau kasih kesempatan nak Dion untuk kenal Kamu nak? Kamu nggak mau mengecewakan Ibu sama Ayah kan nak?" Tanya Ibu Alice penuh harap bahwa yang didengarnya itu salah.

"Maaf benar-benar maaf Bu, Ayah, Alesha lebih nggak ingin buat Ibu sama Ayah kecewa jika Alesha menerima Dion." Ucap Alesha masih dengan tenang.

"Ibu benar-benar nggak paham sama omongan kamu kali ini, coba jelaskan sama Ibu kenapa Kamu nggak setuju Ibu jodohkan sama nak Dion, toh kamu juga belum mengenal nak Dion, tapi sudah ambil keputusan begitu." Ucap Ibu Alice mencari jawaban.

"Benar kata Ibu kamu Alesha, Kita belum juga memulai, lantas kenapa kamu menolak Aku mentah-mentah?" Ucap Dion menahan berang karena merasa harga dirinya jatuh karena telah ditolak oleh seorang wanita. Karena selama ini Dion tak pernah mendapatkan penolakan sekalipun oleh wanita manapun, Alesha lah gadis pertama yang berani menolaknya.

"Ibu tanyakan saja sama dia, kenapa Alesha tidak mau menerimanya," ucap Alesha mengalihkan pandangan dari Ibunya yang nampak kecewa, berharap Dion akan jujur dengan nya serta kedua orang tuanya bahwa Ia telah memiliki kekasih.

Ayah Alesha yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara.

"Bicara yang sopan di depan tamu Alesha," ucap Ayah Alesha menasehati.

"Alesha sudah berusaha berbicara sopan sedari tadi Yah, apa salah kalau Alesha tidak menerima Dion, Dion bukan lelaki baik untuk bisa menjadi calon imam Alesha, apalagi menjadi menantu Ayah sama Ibu." Ucap Alesha memberikan pengertian.

"Kamu jangan asal menilai Saya, belum juga Kamu kenal sama Saya, tapi Kamu sudah mengatakan bahwa Saya bukanlah calon imam yang baik buat Kamu," ucap Dion dengan nada yang mulai meninggi.

"Lihat Yah, Bu, belum apa-apa saja nada bicaranya sudah meninggi. Apa Ibu sama Ayah yakin Dia bisa menjadi suami yang baik buat Alesha?" Ucap Alesha masih berusaha tenang.

Dion yang mulai terpancing dengan omongan Alesha tadi, mencoba meredam amarahnya.

"Maaf Pak, Bu, Saya tidak bermaksud berbicara dengan nada tinggi, hanya saja anak bapak sama Ibu telah keterlaluan menilai Saya," ucap Dion membela diri.

"Iya tidak apa-apa nak Dion, maaf kan anak Bapak ya," ucap Pak Anggara tulus.

Alena yang sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan diantara Alesha dengan kedua orang tuanya dan juga Dion akhirnya angkat bicara.

"Maaf kalau Alena kesannya ikut campur Om,  Tante, apa yang dikatakan oleh Alesha mengenai Dion itu benar, Kami punya bukti bagaimana Dion yang sebenarnya." Ucap Alena membela sang sahabat.

Dion yang mendengar perkataan Alena keheranan, begitupun dengan Ayah dan Ibu Alesha.

"Bukti? Maksud kamu apa Na?" Tanya Ibu Alice sambil mengerutkan keningnya.

Alena langsung mengeluarkan handphone milik nya yang ada di dalam tas yang saat ini ia sandang, tanpa pembicaraan apapun Alena memutar bukti rekaman video mengenai kebersamaan Dion dan seorang wanita, lalu menyerahkan handphone itu kepada Ibu Elis dan Pak Anggara.

Kedua orang tua Alesha menerima handphone itu, saat Ibu dan Ayah Alesha memperhatikan isi rekaman itu, mata mereka melebar sempurna, saking terkejutnya mereka tak bisa berkata-kata.

Dion yang merasa aneh setelah kedua orang tua Alesha melihat bukti rekaman yang entah isinya apa itu pun bertanya.

"Bapak sama ibuk kenapa kelihatan terkejut? Memang isi rekaman nya apa?" Tanya Dion yang masih belum paham dengan situasi sekarang.

Ayah Alesha yang mendengar suara dari lelaki itu pun terlihat geram, dadanya mulai naik turun, ingin rasanya Ia menghajar lelaki yang ada di depannya saat ini, yang telah berani mempermainkan dia dan keluarga.

Alena mengambil handphone yang ada di tangan Ibu Alice yang saat ini kelihatan syok, lalu tanpa berbicara Ia memberikan bukti rekaman itu kepada Dion. Di saat Dion menerima handphone itu dan melihat isi rekamannya, Ia pun tak kalah terkejut.

"Dari mana kalian dapat rekaman ini?" Tanya Dion yang kini dadanya mulai berdebar-debar karena ketahuan bagaimana sifat aslinya.

"Nggak penting lo tahu kita dapat bukti rekaman ini dari mana, yang jelas mulai dari sekarang lo jangan pernah lagi temuin kedua orang tua Alesha, apalagi kalau lo berani buat deketin sahabat gue. Kalau lo berani menginjakkan kaki lo di sini ataupun di hadapan Alesha dan keluarganya, gue yang akan langsung bikin perhitungan sama lo," ucap Alena memperingati Dion dengan menahan amarahnya.

Ya, dari dulu Alena memang tidak suka melihat ada orang lain yang menyakiti Alesha apalagi berhubungan dengan keluarganya, Dia akan menjadi garda terdepan untuk membela sahabatnya itu, sekalipun itu laki-laki, Alena tak akan pernah takut ataupun gentar sedikitpun.

Alesha dan Alena sudah saling kenal sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, namun saat memasuki jenjang SMA, Ia dan keluarga pindah ke Surabaya, sehingga Alena dan Alesha jarang bertemu walaupun sesekali mereka tetap berkomunikasi lewat via chat ataupun via telepon.

Dan disaat Alena lulus SMA dia kembali lagi ke Jakarta, dan akhirnya daftar di satu universitas yang sama, hingga saat ini Ia selalu bersama dengan Alesha kemanapun bahkan saat Alena menikah pun, Alesha selalu ada untuknya, walaupun sudah jarang pergi bersama karena Alena banyak menghabiskan waktu dengan suaminya. Alesha sudah dianggap nya seperti saudaranya sendiri begitupun sebaliknya dengan Alesha, Alesha sudah menganggap Alena seperti saudara kandungnya. Makanya di saat ada yang menyakiti Alesha, maka Alena tak akan tinggal diam.

Dion yang terlanjur malu karena telah ketahuan dengan kebohongan nya, akhirnya meninggalkan toko milik orang tua Alesha tanpa mengucapkan salam.

Setelah kepergian Dion, ayah dan ibu Alesha terlihat kecewa, kecewa akan dirinya, mereka berdua terduduk di lantai toko miliknya, pikiran mereka berkecamuk, merasa bersalah kepada sang anak, hampir saja mereka menyerahkan anaknya kepada lelaki yang tak baik.

"Astaghfirullahaladzim, ampuni hamba ini Ya Allah, hampir saja hamba menyakiti hati anak hamba." Ucap Ibu Elis di mana buliran bening itu telah membasahi pipinya.

Ayah Alesha tak dapat berkata-kata, ia merasa malu kepada anaknya, seharusnya Ia yang melindungi anak gadisnya itu, terutama dari lelaki yang tak baik, tapi justru ia hampir mempercayakan anaknya untuk dinikahkan dengan lelaki yang telah memiliki kekasih, bahkan akan melamar wanita lain.

"Alesha yang melihat Ayah dan Ibunya saat ini dengan keadaan rasa bersalah, menghampiri kedua orang tuanya, tanpa berkata-kata Alesha langsung memeluk ibu dan ayahnya.

"Sudah ibu, ayah, Alhamdulillah semuanya telah selesai, Allah masih sayang sama Alesha, sehingga diberikan petunjuk secepat ini. Jika tadi Alesha dan Alena tidak melihat Dion di taman kota itu, mungkin sampai saat ini kita tidak tahu bagaimana sifat Dion yang sebenarnya, mungkin saja Alesha telah menerima dia untuk menjadi calon suami Alesha." Tutur Alesha menangkan keduanya orang tuanya.

Alesha paham betul, pasti saat ini kedua orang tuanya merasa bersalah pada dirinya. Namun ini semua bukanlah benar-benar kesalahan kedua orang tuanya, kedua orang tuanya hanya tak sabar melihat Alesha bersanding dengan lelaki pilihan mereka. Walau sebenarnya Alesha kecewa, tapi Ia berusaha tegar di hadapan kedua orang tuanya.

Setelah lamanya berpelukan dan menenangkan Ibu dan Ayahnya, Alesha segera mengurai pelukannya, menerbitkan senyumannya dengan lebar, berusaha memberitahu bahwa semuanya baik-baik saja.

"Maafkan Ibu sama Ayah ya nak, karena kami ingin cepat-cepat kamu segera menikah, kami sampai tak mencari tahu terlebih dahulu bagaimana lelaki itu. Alhamdulillah Allah sayang sama kamu, Allah memberikan petunjuk dengan cara yang tak disangka-sangka." Tutur Ibu Alice.

Kamu anak yang baik, selama ini kamu tidak pernah membantah perkataan Ayah dan Ibu. Ayah dan ibu janji tak akan memaksa kamu lagi untuk segera menikah, tapi jika memang kamu punya pilihan sendiri, Ayah sama Ibu Insyaa Allah akan menerima pilihan kamu. Ucap sang Ayah dengan tulus dan penuh kelembutan.

Alesha yang mendengar ucapan Ayah dan Ibunya itu pun meneteskan air mata haru, ia tak menyangka dengan kejadian ini, ayah dan ibunya tak akan memaksanya lagi untuk segera menikah.

Bukannya Alesha tidak ingin segera menikah, apalagi di umurnya yang telah menginjak 27 tahun ini, akan tetapi ia tak ingin salah dalam memilih imam untuk rumah tangganya, karena baginya pernikahan ini sekali seumur hidupnya.

Maka ia harus benar-benar menikah dengan seorang lelaki yang benar-benar bisa menerima dia apa adanya, baik kurang dan lebihnya, menyayanginya serta menjaganya, akan selalu bertanggung jawab untuk hidupnya serta anak-anaknya kelak, hanya akan menjadikannya istri satu-satunya, menjalankan bahtera rumah tangganya kelak bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan. Ya, hanya sesederhana itu keinginan Alesha.

Alena yang sedari tadi hanya memperhatikan Alesha dan kedua orang tuanya tersenyum haru, bersyukur sang sahabat dilindungi dari lelaki yang tak baik.

Alesha yang melihat sahabatnya tersenyum itu, segera menghampirinya.

"Thanks ya Na, kamu selalu ada buat Aku dalam situasi apapun, Kamu selalu dukung Aku apapun yang terjadi, dan Kamu selalu menguatkan Aku di saat Aku rapuh, Aku beruntung punya sahabat seperti Kamu.  Terimakasih sekali lagi Na, kamu udah jadi sahabat baik Aku selama ini," ucap Alesha dengan tulus sambil memeluk erat sahabatnya itu. Alena membalas pelukan sahabat nya sambil mengelus punggung Alesha.

Ibu dan Ayah Alesha menghampiri mereka berdua, menanyakan bagaimana mereka bisa mendapatkan bukti mengenai Dion. Akhirnya Alesha menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya tanpa ada yang terlewati sedikitpun.

Akhirnya kedua orang tua Alesha sadar, bahwa apa yang baik menurut mereka belum tentu baik menurut Allah. Karena apa yang baik menurut Allah sudah pasti baik untuk setiap hambanya.

.

.

To be Continued

Terpopuler

Comments

Gagah Gue

Gagah Gue

Akhirnya kan, makanya jangan tamak jadi cowok. Sudah punya pasangan masih dekatin alesha🤨

2023-09-22

3

Ainun Humaira

Ainun Humaira

Senangnya sidion ketahuan. Malu banget tuh jadi dion. ngadi-ngadi sih. udah ada calon masih dekatin alesha.

2023-09-22

4

Sitingasmi

Sitingasmi

lanjut

2023-09-07

2

lihat semua
Episodes
1 Kesabaran Alesha
2 Perdebatan Kecil
3 Pertemuan Singkat
4 Kekalutan Alesha
5 Tak di Duga
6 Terciduk
7 Sedikit Perhatian
8 Tersudut
9 Kabar Bahagia
10 Khitbah (1)
11 Khitbah (2)
12 Biarkan Mereka Berkata
13 Kisah Alesha
14 Akhirnya
15 Hari Bahagia Alesha Chayanika & Aqiel Afdal Zafi
16 Keluarga Cemara
17 Pasutri Baru
18 Saling Menerima
19 Ternyata...
20 Dua Insan
21 Cemburu (1)
22 Rumah Baru (1)
23 Rumah Baru (2)
24 Kedatangan Mama Selly & Papa Roy
25 Syukuran Rumah Baru
26 Tersebarnya Rumor
27 Istirahat Total
28 Ikhtiar
29 Sidang (1)
30 Sidang (2)
31 Kerumah Ayah & Ibu
32 Tetangga Julit
33 Menggapai Ridho Suami
34 38 Derajat Celcius
35 Resmi Bercerai
36 Selalu Ingin Bermanja
37 Praduga
38 Sudah Empat Minggu
39 Siapa Wanita Itu?
40 Morning Sickness
41 Penjelasan (1)
42 Penjelasan (2)
43 Mengidam (1)
44 Mengidam (2)
45 Jatuh Pingsan
46 Hamil Kembar
47 Pernyataan Alex
48 Kepulangan Alesha
49 Graduation (1)
50 Graduation (2)
51 Sebuah Kejutan
52 Pertemuan Pertama
53 Cemburu (2)
54 Mohon Perlindungan
55 Pertama Kali Datang Kekantor
56 Seperti Penguntit
57 Kelakuan Sang Suami
58 Kedatangan Karin
59 Kemarahan Aqiel
60 Mempertimbangkan
61 Grand Opening
62 Pertemuan
63 Berpamitan
64 Pembicaraan Empat Sahabat
65 Lamaran Dadakan
66 Jawaban Parisya
67 Keinginan Baby Twins
68 Lamaran Resmi
69 Notifikasi Email
70 Balasan Email
71 Rumah Produksi Film
72 Terkenal
73 Wedding Day (1)
74 Wedding Day (2)
75 Kelahiran Bayi Amora
76 Azlan Zaydan Hidayat
77 Taman
78 Sah...
79 Gagal Malam Pertama
80 Firasat
81 Pendarahan
82 Kecelakaan Tunggal
83 Ujian Terberat
84 Flashback
85 Kerumah Nenek & Kakek
86 Minta Adek
87 Penuh Syukur (Tamat)
88 PENGUMUMAN (Novel Hidayah Terindah)
89 PENGUMUMAN (Novel Kau Hanya Untukku)
90 PENGUMUMAN (Novel Mengobati Hati Yang Terluka)
91 Shanum: SAMUEL & HANUM
92 Novel "Ours Time"
93 Novel: Takdir di Ujung Waktu
94 Novel: Jodoh Jalur Ummi
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Kesabaran Alesha
2
Perdebatan Kecil
3
Pertemuan Singkat
4
Kekalutan Alesha
5
Tak di Duga
6
Terciduk
7
Sedikit Perhatian
8
Tersudut
9
Kabar Bahagia
10
Khitbah (1)
11
Khitbah (2)
12
Biarkan Mereka Berkata
13
Kisah Alesha
14
Akhirnya
15
Hari Bahagia Alesha Chayanika & Aqiel Afdal Zafi
16
Keluarga Cemara
17
Pasutri Baru
18
Saling Menerima
19
Ternyata...
20
Dua Insan
21
Cemburu (1)
22
Rumah Baru (1)
23
Rumah Baru (2)
24
Kedatangan Mama Selly & Papa Roy
25
Syukuran Rumah Baru
26
Tersebarnya Rumor
27
Istirahat Total
28
Ikhtiar
29
Sidang (1)
30
Sidang (2)
31
Kerumah Ayah & Ibu
32
Tetangga Julit
33
Menggapai Ridho Suami
34
38 Derajat Celcius
35
Resmi Bercerai
36
Selalu Ingin Bermanja
37
Praduga
38
Sudah Empat Minggu
39
Siapa Wanita Itu?
40
Morning Sickness
41
Penjelasan (1)
42
Penjelasan (2)
43
Mengidam (1)
44
Mengidam (2)
45
Jatuh Pingsan
46
Hamil Kembar
47
Pernyataan Alex
48
Kepulangan Alesha
49
Graduation (1)
50
Graduation (2)
51
Sebuah Kejutan
52
Pertemuan Pertama
53
Cemburu (2)
54
Mohon Perlindungan
55
Pertama Kali Datang Kekantor
56
Seperti Penguntit
57
Kelakuan Sang Suami
58
Kedatangan Karin
59
Kemarahan Aqiel
60
Mempertimbangkan
61
Grand Opening
62
Pertemuan
63
Berpamitan
64
Pembicaraan Empat Sahabat
65
Lamaran Dadakan
66
Jawaban Parisya
67
Keinginan Baby Twins
68
Lamaran Resmi
69
Notifikasi Email
70
Balasan Email
71
Rumah Produksi Film
72
Terkenal
73
Wedding Day (1)
74
Wedding Day (2)
75
Kelahiran Bayi Amora
76
Azlan Zaydan Hidayat
77
Taman
78
Sah...
79
Gagal Malam Pertama
80
Firasat
81
Pendarahan
82
Kecelakaan Tunggal
83
Ujian Terberat
84
Flashback
85
Kerumah Nenek & Kakek
86
Minta Adek
87
Penuh Syukur (Tamat)
88
PENGUMUMAN (Novel Hidayah Terindah)
89
PENGUMUMAN (Novel Kau Hanya Untukku)
90
PENGUMUMAN (Novel Mengobati Hati Yang Terluka)
91
Shanum: SAMUEL & HANUM
92
Novel "Ours Time"
93
Novel: Takdir di Ujung Waktu
94
Novel: Jodoh Jalur Ummi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!