Sesampainya di rumah, Alesha segera menuju kamar miliknya, membersihkan wajahnya serta memakai rangkaian skin care seperti biasa, lalu mengganti pakaian dengan baju tidur. Segera Ia merebahkan badannya di atas tempat tidur empuk miliknya, di saat mata Alesha mulai tertutup, terdengar notifikasi dari handphone miliknya. Alesha segera mengambil handphone yang berada di atas nakas, membaca pesan dari nomor baru yang tak Ia kenal. Ternyata pesan itu berasal dari Aqiel orang yang telah lama Ia kenal.
Message:
("Assalamu'alaikum Sha, maaf mengganggu waktu istirahat kamu, Aku hanya ingin meminta izin dari Kamu, kalau boleh Aku ingin datang ke rumah Kamu untuk bertemu kedua orang tua Kamu." ) Aqiel.
Di saat Alesha membaca pesan dari Aqiel, Dia begitu terkejut karena isi pesannya yang mengatakan ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
("Ada apa? kenapa ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?") Send to Aqiel.
Bukannya Alesha tak paham dari pesan yang dikirim oleh Aqiel, hanya saja Ia ingin lebih memperjelas maksud dan tujuan Aqiel yang ingin berjumpa dengan kedua orang tuanya, mana tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah dugaannya semata.
Tak sampai satu menit Alesha langsung mendapat balasan pesan dari Aqiel.
("Aku ingin mengenal lebih dekat keluarga kamu Sha, boleh kan?") Aqiel.
Alesha tampak menimbang-nimbang jawaban apa yang akan diberikan olehnya.
("Oke, besok Aku akan sampaikan maksud dan tujuan Kamu kepada kedua orang tuaku, kalau mereka memberikan izin Aku akan segera memberi kabar sama Kamu.") Send to Aqiel.
("Terima kasih Sha, kamu sudah menerima niat baik Aku. Selamat istirahat, good night") Aqiel.
Blusshhh....!!!
Pipi Alesha memerah karena mendapatkan balasan pesan singkat yang terakhir dikirim oleh Aqiel. Dadanya semakin berdebar, padahal pesan terakhir yang dikirim oleh Aqiel hanyalah pesan biasa. Tapi berbeda dengan Alesha yang memang tak pernah kontak dengan lawan jenis sebelum-sebelumnya, apalagi mendapat pesan singkat seperti itu.
"Astaghfirullah, sadar Sha, kok dada Aku berdebar-debar gini ya," kata Alesha pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.
Tak berselang lama ternyata Alesha sudah masuk ke alam mimpinya, tidur dengan sangat lelap, mungkin kelelahan karena aktivitasnya seharian ini.
***
Aqiel yang tidak bisa tidur di apartemennya, padahal saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam, entah apa yang mengganggu pikirannya saat ini, Ia hanya membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan namun mata itu tak kunjung juga terpejam.
Ia pun bangun dari pembaringannya, melangkahkan kaki keluar kamar, menuju kamar sang sahabatnya Alex.
Tok... tok... tok... !!
Gedoran pintu yang begitu kuat membangunkan tidur lelap sang sahabat.
Alex membuka pintu kamarnya sambil menggesek-gesek matanya.
"Ngapain lo tengah malam begini gedor-gedor pintu kamar gue, nggak lihat ini udah jam berapa?" Kata Alex menahan geram.
"Gue mau cerita sama lo, penting." Jawab Aqiel dengan muka datar nya.
"Harus malam ini banget, nggak bisa besok gitu?" Tanya Alex heran dengan sahabat nya itu.
"Nggak bisa ditunda, gue mau secepatnya menyelesaikan semua ini." Jawab Aqiel dengan wajah yang serius.
"Yaudah masuk, gue ngantuk ini, awas aja Lo kalau cerita yang nggak penting," kata Alex sambil bersungut-sungut.
"Jadi apa nih, yang buat lo nggak bisa tidur malam ini?" Tanya Alex yang sesekali menguap. Ya, saat ini mereka berdua telah berada di kamar milik Alex.
"Gue mau segera melamar Alesha, menurut Lo gimana?" Tanya Aqiel penuh harap dengan pendapat sahabat nya itu.
Perkataan Aqiel membuat mata Alex melebar sempurna, kantuk yang teramat mendera tadi hilang begitu saja.
"Melamar?" Beo Alex.
Iya gue mau segera melamar Alesha, beberapa hari ini gue sudah memperhatikan Alesha, dan menurut gue sampai saat ini Alesha masih sendirian, jadi nggak ada salahnya kan kalau gue segera membawa nyokap bokap ke rumah nya buat ngelamar Dia." Jawab Aqiel dengan penuh percaya diri.
"Lo yakin? Kalau misal Dia udah punya calon gimana? Nggak takut ditolak lo?" Tanya Alex merasa khawatir dengan sahabatnya itu.
"Iya gue yakin seyakin-yakinnya, nggak pernah gue seyakin ini seumur hidup gue, tekad gue udah bulat." Jawab Aqiel meyakinkan Alex sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sebelumnya gue juga udah shalat tahajud memohon petunjuk kepada Allah SWT apakah Alesha tepat buat gue, dan gue kali ini yakin dengan kata hati gue." Jelas Aqiel kembali menatap lurus ke depan.
"Kalau lo udah merasa seyakin ini, gue sebagai sahabat hanya bisa mensupport lo bro, semoga dilancarkan serta dimudahkan niat baik Lo ini." Kata Alex menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
"Jadi kapan lo mau ngabarin kedua orang tua lo? Yakin mereka bisa menerima keputusan lo? Sedangkan selama ini kedua orang tua lo nggak pernah bertemu sekalipun dengan Alesha pilihan hati lo itu." Tutur Alex memastikan ucapan sahabat nya itu.
"Besok gue langsung hubungi bokap dan nyokap untuk minta restu, do'ain gue ya bro." Kata Aqiel dengan mantap.
"Pasti gue do'ain lo, yaudah sana Lo ke kamar, gue ngantuk, gara-gara Lo mimpi gue tertunda, gue mau lanjutin mimpi indah gue, bye!" kata Alex sembari mendorong tubuh Aqiel agar segera keluar dari kamarnya.
"Untung Lo sahabat gue, kalau nggak udah gue usir Lo," kata Aqiel setelah Alex menutup pintu kamarnya.
Aqiel pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar nya yang luas, lalu merebahkan badannya diatas kasur berukuran king size itu.
***
Pagi nya Alesha sudah bersiap-siap untuk pergi jogging, sebelumnya Ia sudah janjian dengan Alena untuk pergi jogging di sekitar taman kota tak jauh dari rumahnya, pastinya tetap dengan pakaian olahraga syar'i nya, tapi tidak menghilangkan kesan modis nya. Karena dari dulu walaupun Alesha berpakaian syar'i, Ia selalu memperhatikan penampilannya, terutama style yang akan ia kenakan, baik penampilan sehari-harinya maupun penampilan disaat Dia bekerja.
Sewaktu Alesha membuka pintu kamarnya, Dia dikejutkan dengan ibu Alice yang telah berada di depan pintu kamar miliknya itu.
"Astaghfirullahaladzim Ibu, bikin Alesha kaget deh, kok Ibu berdiri di depan kamar Alesha? Ada apa Bu?" Tanya Alesha dengan nada lembut nya.
"Ibu hanya ingin bilang, Minggu depan Nak Dion mau ajak Kamu jalan, Kamu mau kan Sha?" Tanya sang Ibu dengan penuh kehati-hatian.
"Minggu depan Bu? Alesha pikir-pikir dulu ya Bu," jawab Alesha ragu.
Yasudah, nanti kalau Kamu sudah siap kasih tau Ibu ya nak, Ibu nggak enak sama nak Dion yang sudah baik sama Ibu, Dia juga sering mampir ke toko membawakan berbagai macam makanan serta bingkisan untuk Kita." Jawab sang Ibu memastikan kembali agar Alesha mau bertemu dengan pilihan sang Ibu.
"Iya Bu, InsyaaAllah," jawab Alesha yang tak ingin memberikan harapan kepada Ibunya.
Oiya Bu, Alesha izin ya, mau pergi jogging sama Alena , mungkin sebentar lagi Alena sampai." Kata Alesha meminta izin kepada sang Ibu yang sangat Ia hormati dan sayangi itu.
Tak lama dari itu terdengar bunyi klakson mobil dari luar, ternyata Alena sudah berada di halaman rumah Alesha.
"Seperti nya itu Alena Bu, Alesha pergi dulu ya Bu, Assalamu'alaikum," pada sang ibu sambil mencium tangan ibunya dengan penuh takzim.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak." Jawab Ibunya.
Alesha hanya menganggukkan kepalanya, segera keluar menuju halaman rumah di mana sang sahabat sudah menunggunya.
***
"Assalamu'alaikum besti, yuk buruan naik, ntar keburu matahari terbit," ajak Alena.
"Wa'alaikumsalam besti, yuk berangkat," jawab Alesha.
Setelah sampai di tempat yang mereka tuju, tanpa sengaja sepasang mata Alesha memperhatikan dua manusia yang sedang berada di bawah pohon tak jauh dari mereka berada.
"Lo lagi memperhatikan siapa Sha?" Tanya Alena.
"Oh, enggak, Aku rasanya seperti pernah lihat cowok yang pakai topi hitam, yang lagi sama cewek itu deh Na, tapi dimana ya," jawab Alesha sambil mengetuk-ngetuk dagunya pertanda lagi berpikir keras.
"Perasaan lo aja kali," kata Alena.
"Benaran Sha, belum lama ini rasanya aku lihat wajah cowok itu, tapi siapa dan dimana?" Jawab Alesha meyakinkan Alena.
"Astaghfirullah, aku baru ingat Na," kata Alesha sambil membekap mulutnya sendiri.
"Kalau nggak salah dia cowok yang pernah mau dikenalin Ibu sama Aku, iya Dia Dion, aku punya fotonya yang pernah dikirim sama Ibu." Jawab Alesha sambil memperhatikan gerak-gerik dua pasang manusia itu.
"Serius Lo Sha?" Mana fotonya, gue mau lihat, kita bisa pastikan benar atau nggak." Kata Alena juga sambil melirik ke arah dua orang asing itu.
Alesha langsung mengeluarkan handphonenya, dan membuka pesan yang pernah dikirim oleh ibunya, melihat foto serta sesekali melihat ke arah lelaki yang sedang bersama dengan perempuan yang ada disampingnya.
Alesha benar-benar terkejut, matanya yang bulat melebar sempurna dengan bulu matanya yang panjang serta lentik itu, foto lelaki yang dikirim oleh ibunya itu benar-benar mirip dengan orang yang tak jauh berada dari mereka.
Begitupun dengan Alena, dia pun tak kalah terkejut dengan sahabatnya itu.
"Gila Sha, benar-benar mirip, kalau Dia benar-benar Dion, perempuan yang di samping nya itu siapa? Kalau menurut gue itu pacar atau bisa jadi istrinya deh, nggak mungkin kan kalau sama teman mesra seperti itu." Kata Alena dengan geram.
"Gimana kalau kita ikuti mereka berdua, aku nggak terima kalau seandainya beneran perempuan yang sama Dia itu kekasih atau istrinya. Padahal yang mau dijodohin sama Dia itu lo Sha, tapi malah gue yang sakit hati." Kata Alena menggebu-gebu menahan amarahnya.
"Berbeda lagi dengan Alesha, Ia menyikapi situasi ini dengan tenang, sedikitpun tak ada rasa sakit hati seperti yang dirasakan oleh Alena.
"Ntar kalau ketahuan Kita ngikutin mereka gimana?" Jawab Alesha sambil menyipitkan matanya.
"Tenang aja ada gue, kita nggak bakal ketahuan, kita harus cari bukti tentang si Dion Dion itu." Ucap Alena meyakinkan Alesha.
Akhirnya mereka berdua mengikuti kemanapun langkah kaki Dion dan perempuan yang ada di sampingnya. Mata mereka berdua awas sambil memperhatikan gerak-gerik sepasang anak manusia keturunan Adam dan hawa itu.
Di saat Alesha dan Alena mengikuti mereka berdua, langkah mereka terhenti di saat Dion dan wanita yang sedang bersamanya berhenti dia salah satu cafe tak jauh dari taman itu.
Alesha dan Alena pun mengikuti mereka hingga masuk ke dalam cafe, duduk tak jauh dari mereka dengan menutupi wajah menggunakan buku menu yang ada di atas meja yang mereka tempati saat ini. Tak lupa Alena juga merekam obrolan dua pasang lelaki dan wanita yang sedang mereka intai itu.
Agar tak terlalu mencurigakan, Alesha dan Alena juga memesan jus kepada pelayan yang menghampiri mereka, sembari tetap memperhatikan dan memasang telinga untuk mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Maafkan hamba ya Allah, hamba tak bermaksud menguping pembicaraan orang lain." Kata Alesha di dalam hatinya.
Di saat Alesha dan Alena fokus memperhatikan mereka dan mendengarkan obrolan mereka, tiba-tiba mereka berdua terkejut dengan pembicaraan dua pasang kekasih itu, bisa jadikan.
"Beb, kapan kamu ngelamar aku? Kamu bilang dalam bulan ini kamu mau bawa kedua orang tua kamu untuk segera ngelamar aku? Aku udah kasih tahu mama sama papa loh," ucap sang wanita yang ada di samping Dion.
"Sabar baby, secepatnya aku akan datang untuk ngelamar Kamu." Dion meyakinkan wanita itu.
"Seriously? Kamu nggak bohong kan beb?" Menanyakan sekali lagi untuk meyakinkan bahwa sang kekasih tak akan berbohong.
"Iya baby, Aku juga udah nggak sabar deh bisa jadikan Kamu istri Aku. Karena akun cinta banget sama Kamu, Aku nggak bisa jauh dari Kamu beb." Kata Dion meyakinkan wanitanya.
"Aku juga cinta Kamu beb, Aku nggak bisa hidup tanpa Kamu," ucap wanita itu.
Bola mata Alesha melebar sempurna, sekaligus menahan gemuruh yang ada di dada, yang benar saja lelaki yang diharapkan kedua orang tuanya untuk menjadi calon imam nya, ternyata telah memiliki kekasih, dan katanya juga akan melamar wanita itu segera. Alesha marah bukan karena Dia memiliki rasa kepada lelaki itu, hanya saja Ia begitu kecewa karena orang tuanya menaruh harapan besar kepada lelaki itu yang bernama Dion.
Alena yang berada di samping Alesha mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu, Dia menggenggam tangan Alesha untuk memberikan kekuatan serta kesabaran dalam menghadapi situasi saat ini. Jangankan Alesha, Alena yang mendengarkan obrolan dua pasang kekasih itu saja rasanya ingin mencabik-cabik wajah lelaki itu.
Karena Alesha merasa sudah cukup dengan bukti yang ada untuk ditunjukkan kepada kedua orang tuanya, iya menarik tangan Alena untuk segera keluar dari cafe tersebut.
.
.
To be Continued
Jangan lupa follow akun Instagram Author:)
Ig. @winda_srimawati
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Gagah Gue
Cowok seperti dion itu memang harus di basmi🙄
2023-09-22
3
Ainun Humaira
Benar-benar dion. untung ketahuan sama alesha.
2023-09-22
4
Ning Mar
dasar dion...lanjut2
2023-09-19
3