Sudah genap satu bulan pernikahan Tasya dan Andika, tapi sampai sekarang Rara belum juga mengetahui wajah Andika. Padahal dari satu minggu yang lalu Rara meminta untuk di kenalkan pada Andika, sayangnya beberapa hari belakangan ini Andika sangat sibuk dan membuat Tasya harus menunda mengatakan permintaan Rara.
Hari ini Tasya berharap Andika memiliki waktu senggang, agar Tasya bisa mengajak Andika untuk bertemu dengan Rara walaupun hanya sebentar saja. Karena kali ini Tasya tidak mungkin mengatakan pada Rara kalau Andika sedang sibuk lagi, jadi dia akan mencoba meminta pada Andika untuk menyisakan sedikit waktunya.
"Mas... Hari ini kamu sibuk engga?" Tasya meletakkan secangkir kopi yang baru di buatnya di atas meja.
"Belum tau, memangnya ada apa?" Andika memakan roti bakar yang tadi Tasya buatkan untuknya.
"Eum, begini mas... Sahabat ku ingin sekali bertemu dengan kamu, karena katanya dari semenjak kita menikah aku belum pernah mengenalkan kamu pada dia dan hari ini aku berniat untuk mengajak kamu ketemu dia. Apa kamu ada waktu hari ini mas?" Tasya duduk di kursi sebelah kanan Andika.
"Seingat ku sore ini aku tidak memiliki janji dengan siapapun, jadi sepertinya hari ini aku bisa bertemu dengan sahabatmu itu" Andika menghabiskan roti di tangannya dan menyeruput kopi yang masih sedikit panas.
"Beneran mas? Berarti sore ini mas ke restoran aja ya" Andika menganggukkan kepalanya sembari mengangkat kedua alisnya.
Tasya yang mendengar hal itu langsung kegirangan dan tanpa sengaja dirinya memegang lengan tangan Andika secara tiba-tiba dan langsung menggoyangkannya, sehingga membuat kopi hitam yang di pegang Andika tumpah dan sampai mengenai kemeja putihnya.
Andika tidak memarahi Tasya sama sekali, melainkan dia hanya menatap Tasya yang mengambil beberapa lembar tissu untuk membersihkan baju Andika, karena dia terlalu panik sehingga tidak menyadari kopi di bajunya masih basah dan malah membuat noda kopinya semakin melebar.
"Mas... Maaf ya, aku benar-benar tidak sengaja membuat baju kamu jadi kotor seperti itu. Kamu mau kan maafin aku?" Tasya menundukkan kepalanya, karena takut menatap wajah marah Andika.
"Iya aku maafin kamu, sekarang kamu siapkan baju ganti untuk ku ya dan setelah aku ganti baju kita berangkat"
Tasya menganggukkan kepalanya dan langsung membawa Andika ke kamar agar dia bisa mengganti bajunya setelah Tasya mengambilkan baju bersih untuk Andika, karena Tasya tidak ingin membuang-buang waktu Andika secara percuma.
Andika masih mengganti bajunya dengan Tasya yang sudah kembali ke meja makan untuk menunggu Andika, walaupun mereka sudah menjadi suami istri tapi Tasya masih malu saat melihat Andika berganti baju di depannya.
"Ayo kita berangkat sekarang! Soalnya Mario sudah menunggu di depan" Andika keluar dari dalam kamar dengan pakaian serba hitam, Tasya sengaja memilih warna hitam karena takut kejadian tadi terulang lagi.
Tasya langsung mengiyakan ajakan Andika dan membawanya keluar untuk bertemu dengan Mario, saat mereka berdua keluar Mario sempat bingung dengan baju yang Andika dan Tasya kenakan. Bahkan melihat wajah Tasya yang sedikit murung dan sedih tambah membuat Mario bingung.
"Tuan Andika, Nona Tasya... Apa kalian akan datang ke pemakaman?" Tasya dan Andika langsung melihat ke arah Mario dengan tatapan bingung.
"Tidak, memangnya siapa yang meninggalkan?"
Andika juga langsung melihat ke arah Tasya, karena dia berpikir kalau Tasya tau siapa orang yang meninggal. Tasya mengangkat kedua bahunya dan malah langsung menanyakan hal yang sama seperti Andika pada Mario.
"Maaf ya tuan kalau saya salah, tadi saya kira anda dan nona Tasya akan pergi ke pemakaman. Soalnya baju kalian warnanya sama hitam-hitam dan nona Tasya juga terlihat sedih, makanya saya mengira ada orang yang meninggal.
"Kamu ini ada-ada saja, sudah lebih baik kita jalan sekarang dari pada nanti Tasya telat"
"Baik tuan" Mario jalan lebih dulu untuk menekan tombol lift dan menuju ke parkiran apartemen.
Saat sudah di perjalanan Tasya masih terus kepikiran tentang baju Andika tadi, karena dia sempat melihat baju yang Andika kenakan tadi adalah buatan dari luar negeri. Padahal Tasya ingin sekali menggantinya, tapi sepertinya akan susah mencari yang sama seperti punya Andika.
"Kamu kenapa lagi? Kalau ada masalah langsung cerita, jangan diam saja seperti itu!" Andika yang dari tadi memperhatikan Tasya terus melihat keluar jendela akhirnya berbicara juga.
"Aku masih kepikiran soal baju kamu tadi mas, pasti noda kopinya tidak akan hilang" Tasya langsung menoleh ke arah Andika.
"Sudah lupakan saja soal baju itu! Lagian baju ku masih banyak yang seperti aku pakai tadi, jadi engga perlu kamu pikirin lagi ya dan lebih baik sekarang kamu kasih tau teman kamu itu kalau aku setuju untuk bertemu dengannya" Andika menggenggam tangan Tasya.
"Nanti saja mas aku kasih taunya, di restoran kan kami juga ketemu mas"
"Oh, jadi sahabat kamu kerja di restoran itu juga? Apa jangan-jangan dia Rara?"
"Kok mas tau itu Rara?"
"Ceritanya panjang dan kalau mas ceritakan sekarang tidak akan cukup waktunya, karena sebentar lagi kita sampai di restoran"
Tasya melihat ke sekeliling jalanan dan benar yang dikatakan Andika, bahwa restoran tempat Tasya bekerja sudah ada di depan mata. Mau tidak mau Tasya harus menunggu waktu yang tepat untuk Andika cerita atau dia bisa bertanya langsung dengan Rara saat jam makan siang nanti.
Saat sampai di depan restoran Rara yang baru sampai juga tidak sengaja melihat Tasya keluar dari mobil pelanggan VVIP di restoran itu, awalnya Rara tidak ingin menghampiri Tasya tapi rasa penasaran Rara sangat besar dan akhirnya membuat Rara menghampiri Tasya.
"Sya, lu baru datang juga?" Rara menepuk bahu Tasya dan membuatnya terlonjak kaget.
"Iya Ra... Gue baru datang, tadi ngurusin suami dulu" Tasya senyum unjuk gigi di depan Rara.
"Lu engga salah Sya? Dia tamu VVIP di restoran ini loh, masa lu bilang dia suami lu sih" Rara berbisik di telinga Tasya dan masih terdengar di telinga Andika.
"Dia tidak salah, Tasya memang istri saya. Perkenalkan saya Andika Dirgantara, suami dari Tasya Adiwijaya"
Andika mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rara, tapi Rara yang masih syok hanya diam sembari membulatkan matanya. Sampai akhirnya Tasya menyikut lengan Rara untuk menyadarkannya, agar Tasya menerima uluran tangan Andika.
"Saya Rara Putri, sahabat sekaligus partner kerja Tasya. Setelah menunggu lama akhirnya bisa berkenalan dengan suami sahabat sendiri, senang berkenalan dengan anda" Rara membalas uluran tangan Andika.
"Senang bisa berkenalan dengan sahabat istri saya... Oh iya, nanti malam kalau tidak ada acara saya dan Tasya mengundang kamu untuk makan malam di restoran ini"
"Terima kasih untuk undangan anda tuan, saya akan luangkan waktu untuk datang"
"Baiklah kalau begitu, sayang aku berangkat kerja dulu ya" Andika menatap Tasya sembari tersenyum tipis.
"Iya mas, hati-hati ya"
Tasya melambaikan tangannya sampai mobil Andika jalan dan saat mobil Andika tidak terlihat lagi oleh pandangan mata Tasya dan Rara, mereka berdua langsung masuk ke dalam restoran untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Iqlima Al Jazira
oalah🤦♀️🤭
2023-09-24
1