Walaupun hari ini Tasya libur, tapi Tasya tetap bangun lebih awal dan bahkan sekarang dia sudah rapih dengan menggunakan pakaian santainya. Tasya juga melihat Salsa sudah bangun dan sedang duduk di sofa yang semalam dia gunakan untuk tidur, jadi sekarang dia ingin menagih janji pada Salsa tentang kejutan yang Salsa katakan semalam.
Salsa langsung mengajak Tasya untuk ke ruang makan, karena katanya kejutan untuk Tasya ada di sana. Tasya terus bertanya sebenarnya kejutan apa yang Salsa ingin berikan padanya, tapi Salsa tidak menjawabnya dan hanya tersenyum sembari terus memohon agar Tasya pergi ke ruang makan sekarang.
Tasya akhirnya mengikuti perkataan Salsa untuk pergi ke ruang makan, karena kebetulan perutnya juga sudah merasa lapar jadi sekalian Tasya ingin sarapan. Tapi belum sampai Tasya di meja makan, dirinya melihat ada seseorang yang duduk sudah duduk di sana.
Awalnya Tasya pikir itu adalah Andika, tapi setelah dia pikir-pikir lagi rasanya tidak mungkin kalau Andika akan pulang secepat itu. Jadi Tasya menganggap orang yang duduk sembari membelakanginya itu adalah Mario, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Andika.
"Non Tasya, kenapa berhenti di sini?" Salsa yang baru sampai dan berdiri di belakang Tasya langsung memandangnya bingung.
"Dia siapa Sa? Apa dia Mario?" Tasya menoleh kebelakang untuk melihat ke arah Salsa.
"Nanti Non Tasya juga akan tau, jadi lebih baik non segera ke sana" Salsa tersenyum sembari melihat ke arah meja makan dan Tasya secara bergantian.
"Baiklah, kalau begitu saya ke sana"
Tasya melanjutkan langkahnya menuju meja makan dan setelah sampai di sana dia tetap tidak bisa melihat wajah pria itu, karena pria itu sedang memainkan ponselnya sembari menundukkan kepalanya. Akhirnya Tasya hanya duduk di kursi sisi kanan pria itu, sembari menunggu sampai pria itu menunjukkan wajahnya.
"Lama sekali kamu datangnya, aku sudah hampir mati kelaparan" pria itu mengakat kepalanya dan sekarang Tasya dapat melihat jelas wajah orang itu.
"K-kamu bukan pak Mario, kalau begitu apa kamu Andika Dirgantara?" Tasya membulatkan matanya.
"Hah... Memangnya siapa lagi? Apa ada orang lain yang boleh duduk di kursi ini selain aku?" Tasya menggeleng pelan.
"Jadi ini wajah Andika? Padahal tampan banget, tapi kenapa harus disembunyikan?" ucap Tasya dalam hatinya.
Tasya terus melihat wajah Andika dan bahkan sampai tidak berkedip sama sekali sembari dirinya bertanya-tanya tentang alasan Andika menyembunyikan wajahnya dari siapapun, dari tadi Andika sudah memanggil nama Tasya tapi sama sekali tidak dijawab olehnya.
"Tasya!" Andika yang sudah kesal langsung menyentil kening Tasya dan membuat Tasya langsung memegang keningnya.
"Aduh! Sakit tau" Tasya masih mengusap-usap keningnya yang sedikit memerah.
"Siapa suruh dari tadi melamun saja? Aku udah panggil nama kamu berkali-kali, tapi kamu malah tidak menjawab"
Tasya tidak menjawab perkataan Andika lagi dan sekarang pandangnya sudah beralih, dari yang tadinya menatap wajah Andika sekarang malah melihat ke roti dan selain stroberi yang berada di dekat Andika.
Andika yang mengikuti arah pandang Tasya langsung mengerti yang diinginkannya, dia memberikan enam lembar roti di piring Tasya dan selai stroberi yang sudah Andika buka lebih dulu tutup toplesnya.
"Makanlah yang banyak! Supaya kamu tidak sakit lagi seperti kemarin"
"Tapi ini terlalu banyak mas" Tasya memiringkan kepalanya untuk melihat kembali berapa lembar roti yang Andika berikan padanya.
"Anggap saja itu pengganti makan malam kamu, karena aku dengar semalam kamu menolak semua makanan yang di berikan Salsa dan membuat kamu sakit"
"Ya tapi... Engga sebanyak ini juga mas, aku mana bisa habis segini banyaknya"
"Berhenti protes dan makanlah! Atau kamu ingin aku menambahkan lagi rotinya?" Andika memberikan tatapan tajam ke Tasya.
Tasya akhirnya langsung mengoleskan selai di rotinya sembari memajukan bibirnya, sedangkan Andika juga langsung mengambil satu lembar roti dan mengoleskannya dengan selai kacang.
"Jangan cemberut begitu! Bukankah kamu ingin sekali bertemu dengan ku? Sekarang aku sudah menuruti keinginan kamu, jadi kamu juga harus menuruti ku dengan makan teratur" Andika langsung memakan rotinya.
"Baiklah, tapi apa bisa ini di kurangi? Aku janji akan makan teratur" Tasya menatap Andika dengan tatapan memohon, tapi Andika tetap pada pendiriannya.
Seandainya Andika tidak mengawasi Tasya makan, pasti Tasya sudah menghentikan makannya. Karena jujur saja Tasya sudah tidak sanggup lagi menghabiskan roti sebanyak itu dan apalagi ditambah dengan susu hangat, membuatnya jadi ingin muntah.
"Mas... Aku udah engga sanggup lagi menghabiskannya" Tasya menyenderkan badannya di sandaran kursi sembari memegang perutnya.
"Sedikit lagi, ayo dihabiskan" Andika mengambil roti di piring Tasya dan mendekatkan ke mulutnya untuk menyuapi sisa rotinya.
Tasya sudah menolaknya dan menjauhkan tangan Andika dari mulutnya, tapi Andika terus memaksa Tasya untuk memakannya. Karena Tasya benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk memakannya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Andika di meja makan.
Sampai di dapur Tasya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk melihat apa Andika mengejarnya atau tidak, Tadinya Tasya mengira Andika akan mengejarnya tapi ternyata Andika tidak berada di belakangnya dan membuat Tasya sedikit kecewa.
"Non lagi cari apa?" Salsa yang tiba-tiba muncul dan ikut melihat ke arah yang Tasya tuju.
"Salsa, kamu bikin kaget aja! Saya lagi cari Andika, kenapa dia tidak mengejar saya ke sini ya? Untuk menghabiskan makanan saya" Tasya menoleh ke arah Salsa dan langsung mendapati ekspresi sedih di wajahnya.
"Apa non Tasya belum tau tentang tuan Andika?"
"Tau apa? Emangnya Andika kenapa?"
"Sebenarnya... Tuan Andika tidak bisa berjalan non, jadi itulah sebabnya tuan Andika tidak mengejar non Tasya"
Setelah mendengar penjelasan Salsa, Tasya langsung berlari untuk kembali ke meja makan. Sayangnya Andika sudah tidak berada di sana dan tinggal tersisa roti yang tadi di berikan Andika untuknya.
Tasya yang berpikir Andika pergi keluar langsung mengejarnya sembari membawa roti di tangannya, sampai di depan Tasya melihat Mario yang sedang membukakan pintu mobil dan membantu Andika naik.
"Tunggu sebentar!" Tasya menghampiri Andika dengan nafas yang tersengal-senggal.
"Ada apa? Kenapa kamu berlarian seperti itu?"
"Aku mau minta maaf atas perlakuan ku tadi, dan juga aku ingin kamu menyuapi roti ini" Tasya langsung berjongkok di depan Andika dan memberikan roti padanya.
Andika hanya menatap Tasya dan tidak mengambil roti itu sama sekali, walaupun begitu Tasya masih tetap menunggunya. Karena melihat Tasya yang terus memberikan roti itu padanya, akhirnya Andika mengambilnya dan menyuapinya untuk Tasya.
"Makasih ya" Tasya memberikan senyumnya.
"Kalau begitu bisa kita pergi sekarang tuan?" Mario melihat jam di tangannya.
"Kalian mau kemana?" Tasya melihat Andika dan Mario bergantian.
"Aku ada kerjaan di luar negeri beberapa hari, jadi aku minta kamu untuk tepati janji kamu tadi. Karena aku sudah minta Salsa untuk terus mengawasi dan memberikan kabar tentang kamu"
"Keluar negeri? Perasaan baru juga datang, tapi malah udah pergi lagi" Cilla menggerutu sembari melihat ke arah lain.
"Hanya beberapa hari saja, setelah itu aku akan kembali lagi dan kamu harus ingat janji mu ya" Andika mengacak rambut Tasya.
"Iya iya"
Andika hanya tersenyum tipis melihat Tasya yang masih cemberut, setelah Mario membantu Andika masuk ke dalam mobil. Mobil itu langsung pergi meninggalkan Tasya yang masih berdiri sembari melambaikan tangannya, setelah mobil Andika tidak terlihat lagi Tasya kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan kegiatan hari liburnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments