Pertengkaran antara Raisa dan papanya masih terus berlanjut, apa lagi setelah Ferdian memutuskan kalau yang akan menikah dengan Andika adalah Raisa.
Raisa masih saja terus menolak dan merengek pada papa dan mamanya, bahkan dia berulang kali menyuruh Tasya yang menggantikan dirinya.
"Kenapa sih papa engga suruh Tasya aja yang menikah sama Andika? saat ini Raisa masih mau mengejar karier dulu pah dan bahkan Raisa juga belum kepikiran untuk menikah. ayolah pah biarkan Tasya saja ya yang menggantikan Raisa menikah dengan Andika" ucap Raisa dengan nada merengek.
"Cukup Raisa! papa tidak akan membiarkan putri kandung papa melakukan hal itu, jadi papa tidak akan membiarkan kebahagiaannya diambil siapapun" ucap Ferdian sembari menggebrak meja makan dan membuat yang lainnya itu terkejut.
Awalnya Tasya bisa tenang karena papanya tetap pada pendiriannya untuk tidak memilih putri kandungnya yang di korbankan demi perusahaan, tapi setelah ibu tirinya ikut berbicara kemenangan Tasya menjadi sangat-sangat terancam. Pasalnya kalau sudah ibu tirinya yang berbicara, papanya pasti akan langsung menurutinya.
Di saat ibu tiri Tasya berbicara dengan papanya, Tasya juga sudah berjaga-jaga dan menyiapkan dirinya untuk menentang permintaan papanya itu. Apapun yang papanya katakan nanti, Tasya akan terus memperjuangkan kebebasannya dan haknya untuk memilih. Kali ini Tasya tidak boleh kalah oleh ibu tirinya dan juga kakaknya yang punya sejuta cara licik untuk menghasut papanya.
"Mas Ferdi... Aku rasa apa yang dikatakan Raisa ada benarnya juga mas, memang sebaiknya yang menikah dengan Andika adalah Tasya saja. Karena kalau dipikir-pikir Tasya ini kan sudah pernah sukses dengan kariernya, sedangkan Raisa baru saja memulai kariernya untuk menjadi model. Jadi gimana mas kamu setujukan? Kalau pernikahan ini Tasya yang akan melakukannya"
Miranti mengusap pelan tangan suaminya dan Ferdian pun mulai memikirkan apa yang dikatakan istrinya tadi, walaupun Ferdian belum memberikan jawaban apapun ke Miranti. Tapi Miranti yakin kalau suaminya akan mengikuti permintaannya, agar Raisa bisa terbebas dari pernikahan paksa itu.
Berbeda dengan Raisa yang sedang tersenyum miring sembari melihat Tasya, sedangkan Tasya malah sedang ketakutan kalau papanya akan setuju dan berubah pilihannya itu. Bahkan bukan cuma itu saja yang Tasya takutkan, dirinya takut kalau orang itu akan berlaku kasar padanya nanti.
"Akan aku pikirkan lagi nanti, besok pagi aku akan memberitahu siapa yang akan menjadi pilihan ku untuk menikah dengan tuan Andika" Ferdian pergi meninggalkan meja makan dan di langsung di ikuti oleh Miranti.
Raisa yang melihat papa dan mamanya sudah masuk ke dalam kamarnya, dia langsung menghampiri Tasya dan berdiri dibelakangnya sembari memegang bahu Tasya dan tersenyum miring.
"Persiapkan dirimu adik ku sayang, karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri" Raisa berbisik di telinga kanan Tasya, sedangkan Tasya hanya melihat wajah lalak tirinya itu dari sudut matanya.
"Itu tidak akan terjadi, kamulah yang akan menikah dengannya kak" Tasya mencoba melepaskan tangan Raisa dari bahunya.
"Ya baiklah, kita tunggu saja besok! Aku yakin kalau ayah akan merubah pilihannya" Setelah mengatakan itu Raisa langsung pergi ke dalam kamarnya begitu juga dengan Tasya.
Sampai tengah malam Tasya belum juga bisa tidur, dirinya terus memikirkan perkataan kakaknya tentang pilihan papanya itu. Tasya benar-benar tidak mau kalau hal itu sampai terjadi, karena dia hanya ingin menikah dengan orang yang di cintainy saja.
"Aku harus cari cara agar papa tetap memilih kak Raisa untuk pernikahan itu" Tasya bermonolog sendiri sembari menatap langit-langit kamarnya, dia melakukan hal itu sampai jam tiga pagi hanya untuk menemukan cara yang tidak memancing pertengkaran di rumahnya.
*******
Pukul 7.00 WIB
Anggota keluarga Adiwijaya sudah berkumpul di meja makan, kecuali Tasya yang masih berada di dalam kamarnya untuk mempersiapkan dirinya dengan semua yang akan terjadi nantinya.
Di saat Tasya sedang berdebat dengan hati dan pikirannya, tiba-tiba suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Ternyata yang mengetuk adalah bibi yang bekerja di rumah itu, beliau datang karena di suruh oleh Ferdian untuk memanggil Tasya sarapan.
"Aku engga bisa begini terus aku harus turun dan menghadapi mereka" ucap Tasya dalam hatinya dan langsung mengikuti bibi itu untuk turun menghampiri papanya yang sudah menunggu di meja makan.
Walaupun sedari tadi Tasya terus menyemangati dirinya sendiri, tapi tidak bisa di pungkiri saat melihat ibu tiri dan kakak tirinya tersenyum meremehkannya. Perasaan Tasya saat ini benar-benar bercampur aduk, antara takut dirinya akan kalah dan juga kesal karena melihat wajah mereka berdua.
"Pagi pah" Tasya mencium pipi kanan papanya dan langsung duduk di sebelah kiri papanya.
"Pagi sayang, tumben anak cantik papa turun sarapannya terlambat" Ferdian memakan roti yang dibuatkan istrinya sembari tersenyum ke Tasya.
"Tadi Tasya urus kerjaan dulu pah" Tasya langsung mengambil roti dan mengolesi selai kacang.
Seketika suasana di meja makan menjadi hening Tasya dan Ferdian hanya fokus pada makanannya, sedangkan Raisa dan Miranti saling melihat sembari tersenyum.
"Eum mas..." Miranti menatap suaminya, karena sudah tidak sabar mendengar jawabannya.
Ferdian langsung meminum kopinya dan melihat kedua putrinya dengan wajah serius, Tasya dan Raisa juga langsung menghentikan aktivitas makannya untuk mendengarkan perkataan papanya.
"Setelah semalam papa berpikir dan sekarang papa sudah memilih salah satu dari kalian, tapi papa minta siapapun yang akan papa pilih tidak boleh menolak lagi keputusan papa" Ferdian meletakkan kembali gelas kopinya sembari melihat ke arah Raisa dan Tasya yang menganggukan kepalanya.
"Baiklah, jadi yang akan menikah dengan Andika adalah Tasya"
Tasya langsung membulatkan matanya setelah papanya menyebut namanya, sedangkan Raisa dan ibu tirinya hanya tertawa penuh kemenangan.
"Tasya, papa minta kamu jangan menolaknya ya dan biarkan kakak mu itu merasakan kesuksesan yang sudah pernah kamu rasakan"
"Tapi pah, aku juga masih mau menikmati karir ku ini"
"Sudah cukup Tasya! Kali ini papa tidak mau ada yang membantah lagi"
Tasya benar-benar kecewa dengan papanya padahal Tasya lah yang anak kandungnya, tapi kenapa malah dirinya yang di jual demi melunasi hutang perusahaan.
"Papa jahat sama Tasya, papa pembohong! Papa bilang dihadapan mama akan menjaga Tasya dengan baik. Tapi mana buktinya pah, mana? Tasya kecewa sama papa" Tasya langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
Tasya terus mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan yang jelas, hari ini moodnya benar-benar rusak dan dia tidak ingin pergi bekerja karena ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Untungnya saat Tasya menelfon Rara untuk mengabarkan kalau dia tidak bisa masuk bekerja karena ada sedikit masalah yang terjadi, Rara langsung meminta Tasya datang ke rumahnya untuk menceritakan yang terjadi karena dirinya mendengar Tasya menangis.
...****************...
Saat Tasya sampai di rumah Rara dia hanya terus menangis dan belum ingin menceritakan semuanya, Rara hanya membiarkannya saja sembari mengusap punggung Tasya. Rara ingin sahabatnya ini bisa menangis sepuasnya dulu baru nantinya dia bisa menceritakan semua permasalahannya pada dirinya.
Sudah satu jam Tasya menangis, akhirnya dirinya mulai tenang dan sudah bisa menceritakan permasalahan yang terjadi padanya. Rara yang mendengar cerita Tasya benar-benar terkejut dengan yang dilakukan papanya, setega itu kah seorang Ferdian Adiwijaya pada putri kandungnya? demi putri tirinya bahagia dia rela mengorbankan putri kandungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments