Sejak tadi Miranti terus melihat Raisa senyam-senyum sendiri dan membuatnya jadi ikut tersenyum melihat anaknya sedang bahagia, walaupun dirinya tidak tau apa yang membuat anaknya menjadi seperti itu.
"Sepertinya hari ini anak papa sedang senang ya?" Ferdian memakan nasi gorengnya sembari menatap Raisa.
"Iya nih pah, entah kenapa pagi ini hatiku rasanya senang banget" Raisa melipat kedua tangannya di atas meja.
"Coba ceritakan ke papa, apa yang membuat kamu senang?" Ferdian langsung memberhentikan makannya dan fokus menatap Raisa.
"Sebenarnya yang membuat aku hari ini bahagia, karena aku lagi jatuh cinta pah"
Mendengar hal itu bukann membuat Ferdian ikut senang, tapi malah perasaan Ferdian saat ini mulai tidak enak dan tiba-tiba kepikiran dengan Tasya.
Raisa yang melihat senyum papanya tiba-tiba menghilang menjadi bingung dan saling beradu tatap dengan mamanya sembari melirik ke arah papanya.
"Mas Ferdian, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu diam begitu?" Miranti mengusap lengan suaminya.
"Tidak ada apa-apa kok sayang, hanya saja baru kali ini aku mendengar Raisa sedang jatuh cinta" Ferdian menepuk tangan Miranti yang berada di lengannya sembari tersenyum tipis.
Ferdian memang sudah mengatakan tidak ada apa-apa, tapi Miranti masih belum bisa mempercayai itu. Pasalnya Miranti melihat seperti ada kebohongan dalam mata Ferdian, walaupun begitu Miranti tidak ingin menunjukkan kecurigaannya pada Ferdian dan dirinya akan mencari tau sendiri apa yang sebenarnya suaminya sembunyikan.
"Oh iya Sa... Apa boleh papa tau? Nama laki-laki yang bisa mengambil hati anak papa ini" Ferdian menatap Raisa dengan wajah serius.
"Nama dia adalah... Andika Dirgantara pah" Ferdian dan Miranti langsung membulatkan matanya setelah mendengar nama Andika sebagai orang yang Raisa cintai.
Entah kenapa setelah melihat wajah Andika kemarin, Raisa malah jadi menyukainya dan berniat ingin mendekatinya. Bahkan Raisa tidak peduli lagi dengan kondisi kaki Andika yang tidak bisa berjalan, karena bagi Raisa walaupun Andika lumpuh tapi dia sangat tampan dan kaya raya.
"Apa kamu tidak salah menyebutkan nama itu Raisa? Ingat Andika itu suami adik mu, kamu tidak boleh jatuh cinta dengannya apa lagi merebutnya dari Tasya!"
Ferdian langsung memperingatkan Raisa dengan sedikit meninggikan nada bicaranya dan hal itu membuat Raisa kesal, pasalnya papanya bukan mendukungnya bersatu dengan orang yang dia cinta tapi malah lagi-lagi memihak pada Tasya.
"Bukan awalnya papa ingin menjodohkan aku dengan Andika? Berarti bukan aku yang merebut Andika pah, tapi Tasya lah yang merebutnya dari ku"
"Sekarang aku sudah mulai mencintai Andika pah dan aku ingin bersama dengannya, aku ingin mengambil kembali apa yang menjadi milik ku!" Ferdian langsung menggebrak meja yang membuat Raisa dan Miranti terlonjak kaget.
"Cukup Raisa! Kali ini kamu sudah benar-benar kelewat batas, kemarin kamu sendiri yang menolak Andika dan memberikannya pada adik mu dan sekarang kamu juga yang ingin merebutnya kembali. sebenarnya apa yang kamu inginkan, hah? Papa tidak menyangka kamu bisa setega itu dengan Tasya"
"Papa engga adil... Papa lebih sayang Tasya dibanding aku, aku kecewa sama papa" Raisa langsung bangun dari duduknya dan pergi untuk masuk ke dalam kamaranya.
Miranti yang melihat perlakuan Ferdian terhadap Raisa langsung menghela nafasnya dan mengejar anak kesayangannya itu ke kamarnya agar dia bisa menenangkan dan menghibur hati Raisa lagi, sedangkan Ferdian langsung memberitahu hal itu pada Tasya agar dia bisa berhati-hati terhadap kakak tirinya.
Saat Miranti masuk Raisa masih menangis di atas tempat tidurnya dengan posisi tengkurap dan menyembunyikan wajahnya di bantal, sedangkan Miranti langsung menghampiri Raisa dan duduk di pinggir tempat tidurnya sembari mengusap punggung anaknya itu.
Miranti benar-benar tidak bisa melihat anak satu-satunya diperlakukan seperti itu dan bahkan sampai membuatnya menangis, bagi Miranti apapun caranya dia harus bisa membuat Raisa kembali tersenyum lagi walaupun dengan cara yang tidak baik.
"Sayang... Sudah ya menangisnya, kamu tidak perlu mendengarkan perkataan papa kamu tadi. Kalau kamu memang mencintai Andika dan ingin mengambilnya dari Tasya, lakukan saja sayang mama selalu mendukung kamu" Miranti beralih mengusap surai rambut Raisa dengan pelan.
"Beneran mama dukung aku? Apa mama juga mau bantu aku merebut Andika dari Tasya?" Raisa melihat Miranti dengan mata sembabnya dan suara sesegukannya.
"Kamu kan tau mama selalu ada di pihak kamu, jadi pasti mama akan bantu kamu untuk membuat Andika jatuh cinta juga ke kamu. Jadi sekarang kamu engga usah sedih-sedih lagi, lebih baik sekarang kita memikirkan cara yang bisa membuat Andika mencintai kamu ya"
Raisa langsung menyetujui perkataan mamanya itu dan langsung mengubah posisi tengkurapnya menjadi duduk menghadap Miranti, saat ini yang mengerti perasaan Raisa hanya Miranti saja dan membuatnya jadi lebih menyayangi mamanya lagi.
Saat ini Raisa dan Miranti langsung mengatur rencana agar Raisa bisa terus berada di samping Andika dan membuat Andika perlahan-lahan membuka hati untuk Raisa, agar nanti Raisa bisa dengan mudah meminta Andika untuk menceraikan Tasya.
...****************...
Tasya yang baru melihat pesan masuk dari papanya langsung memberitahu Andika, karena dirinya tidak akan bisa mengatasi rencana kakak dan mama tirinya itu sendirian. Jadi Tasya ingin meminta bantuan Andika untuk segera menyelesaikan, tapi Andika malah berpendapat lain dan malah ingin mengikuti permainan Raisa.
"Apa kamu beneran yakin mas? Mau ikutin permainan Raisa" Tasya langsung memasang wajah khawatirnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak setuju dengan rencana ku?"
"Bukan begitu mas, tapi gimana nanti kalau kamu beneran jatuh cinta sama Raisa? Pasti kamu akan menceraikan aku kan?" Andika langsung menyentil kening Tasya sembari tertawa untuk pertama kalinya.
"Apa kamu cemburu? Kalau nanti aku dekat-dekat dengan Raisa?"
"Engga! Siapa juga yang cemburu!" Tasya langsung memajukan bibirnya.
Andika yang melihat Tasya seperti itu tiba-tiba jadi merasa gemas pada Tasya dan akhirnya membuat Andika langsung mengacak-acak rambut Tasya, sedangkan Tasya yang tambah kesal dengan Andika langsung mencubit pinggang suaminya itu.
Andika yang merasa kesakitan langsung memeluk Tasya agar dirinya berhenti dan melepaskan pinggang Andika dari cubitannya itu, tapi sebelum Tasya melepaskannya dia tambah mengencangkan cubitannya.
"Mas, apa tidak ada cara lain lagi? Selain mengikuti permainan Raisa?" Tasya mendongakkan kepalanya dan menatap Andika dengan wajah sedihnya.
"Tidak ada! Kalau kamu ingin membalas mereka berdua, ya hanya itu cara yang paling bagus menurut ku"
"Hah, ya sudah deh... Kalau begitu aku setuju dengan cara kamu mas, tapi benar ya kamu engga boleh jatuh cinta sama Raisa. Janji ya sama aku mas" Tasya memberikan jari kelingkingnya di hadapan Andika.
"Eum... Aku tidak bisa janji dengan mu, karena tergantung bagaimana cara Raisa mendapatkan hati ku dan bisa saja aku benar-benar mencintainya kan" Andika menahan tawanya, karena melihat ekspresi wajah Tasya yang langsung kesal.
Tasya kembali mencubit pinggang Andika dengan kencang dan langsung merebahkan badannya dengan membelakangi Andika, sedangkan Andika sangat puas mengerjai Tasya dengan membuatnya cemburu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments