Pernikahan Tasya akan di gelar dua hari lagi, tapi hanya dirinya yang sibuk mempersiapkan semuannya. Padahal Tasya sangat berharap kalau Andika juga akan ikut mempersiapkannya, sayangnya harapan Tasya tidak menjadi kenyataan sama sekali.
Tasya memang sudah memiliki nomor Andika dari Mario, tapi saat dirinya mengajak Andika untuk pergi menyiapkan gaun pengantin. Andika selalu saja menolaknya dengan alasan kalau dia sedang sibuk mengurus kerjaan dan malah menawarkan untuk pergi dengan Mario.
Saat Tasya menolak tawarannya itu dan menyuruh Andika yang menyiapkan semua keperluan pernikahan mereka, Andika malah langsung mengirimkan beberapa foto baju pengantin dan juga meminta Tasya untuk segera memilihnya.
Sudah sepuluh menit berlalu, tapi Tasya masih bingung dan belum bisa memilih gaun mana ya cocok untuknya. Berhubung dirinya masih bekerja dan fokusnya terbagi, jadi Tasya memutuskan untuk memilihnya nanti saat jam makan siang saja.
Baru saja Tasya ingin memasukkan ponselnya ke dalam saku apron lagi, tapi ponselnya sudah berbunyi panggilan telpon dari Mario. Tasya awalnya tidak ingin mengangkatnya, tapi Rara menyuruh untuk mengangkat telponnya karena takut ada pesan yang penting dari Andika.
-Pembicaraan Tasya dan Mario di telpon-
Setelah menekan tombol hijau di ponselnya, Tasya tidak langsung bicara melainkan dia hanya diam saja dan menunggu Mario yang memulai pembicaraannya lebih dulu.
"Selamat pagi, nona Tasya"
"Iya, pagi pak Mario"
"Maaf saya mengganggu waktu anda nona Tasya, saya diminta tuan Andika untuk menanyakan masalah gaun pengantin. Apakah anda sudah menentukan pilihannya nona?"
Tasya hanya terdiam pasalnya dirinya masih belum tau gaun mana yang akan dipilihnya, sudah berkali-kali Mario memanggilnya tapi belum ada juga jawaban dari Tasya.
"Tasya... Tasya, kamu masih di sana?" Andika yang langsung menggantikan Mario untuk memanggil Tasya.
"Iya pak saya masih di sini"
"Saya Andika!"
"Oh maaf aku tidak tau"
"Tidak masalah, jadi bagaimana dengan gaun pengantinnya? Apa kamu sudah memilih? Karena pernikahan kita tinggal dua hari lagi"
"Eum, Andika... Boleh tidak kalau aku kasih jawabannya setelah makan siang? Soalnya aku masih banyak kerjaan"
Tasya mengetuk meja dengan jarinya sembari menunggu Andika menjawabnya, karena Andika masih diam saja semenjak Tasya bertanya.
"Baiklah, setelah makan siang nanti langsung kabari pada ku tentang pilihan mu itu"
"Iya nanti aku..."
Andika langsung mematikan telponnya di saat Tasya belum selesai berbicara, hal itu membuat Tasya menjadi kesal pasalnya Andika tidak bilang terlebih dahulu kalau panggilannya akan di tutup.
Tasya terus menggerutu sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku apron, bahkan saat masak pun dia masih juga menggerutu sampai Rara yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sih bu, marah-marah terus dari tadi"
Rara akhirnya menghampiri Tasya yang masih belum berhenti menggerutu sekalian dirinya ingin mengajak Tasya untuk makan siang bareng, tapi Tasya malah mempercepat memotong bawangnya karena dirinya masih terasa kesal kalau mengingat Andika.
"Eits, jangan kayak gitu Sya! Nanti kalau tangan lu ikut ke potong gimana?" Rara memegangi tangan Tasya untuk menghentikannya.
"Habisnya gue kesal banget Ra sama Andika, kok bisa sih gue punya calon suami kayak gitu" Tasya membalikan badannya menghadap Rara sembari bertolak pinggang dengan tangan kirinya.
"Kenapa emangnya sama si Andika, Andika itu?"
Tasya menjelaskan semua yang dilakukan Andika termasuk tentang masalah tadi saat Andika mematikan telponnya begitu saja, Rara yang mendengar cerita Tasya hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Selesai Tasya cerita Rara langsung menghela nafasnya dan meminta sahabatnya itu untuk meningkatkan rasa sabarnya lagi, karena saat sudah menikah pasti kesabaran Tasya akan lebih di uji coba oleh Andika.
"Udah dari pada lu marah-marah terus bikin buang-buang tenaga aja, mendingan sekarang kita pergi makan siang aja sebelum waktunya habis. Gimana?"
"Gue engga pergi deh Ra, soalnya gue diminta milih gaun pengantin sama sih Dika"
"Aish! Masalah itu engga usah di pikirin, mending sekarang kita makan dulu aja! Urusan itu biar nanti gue bantu pilihin"
Rara menarik tangan Tasya dan langsung membawanya ke taman belakang, karena tadi Rara sudah pesan makanan melalui aplikasi untuk mereka berdua. Jadi sekarang Tasya hanya tinggal menikmati makanannya saja, tanpa harus menunggu lama lagi.
Tasya hanya memegang makanannya saja tanpa menyentuhnya sedikit pun sembari menghela nafasnya terus-menerus, Rara yang melihat itu langsung meletakkan makanannya dan meminta Tasya menunjukkan gaun pengantin yang dirinya maksud tadi.
"Nih Ra" Tasya memberikan ponselnya yang sudah ada foto dari Andika tadi.
Ternyata bukan hanya Tasya saja yang bingung memilihnya, tapi Rara yang tadi ingin membantu sekarang malah kebingungan juga karena semua gaun yang ada sangat bagus-bagus.
"Gimana Ra? Mana yang bagus menurut lu?"
"Eum... Menurut gue kedua ini bagus Sya, lu lebih suka yang mana? Gaun yang tanpa lengan atau gaun dengan lengan panjang?"
Setelah Rara memilih diantara tujuh gaun pengantin, akhirnya dia tetap tidak bisa memilih satu saja makanya Rara pilihkan dua yang paling bagus menurut hatinya.
"Kedua ini ya Ra?" Rara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Oke deh, kalau gitu gue langsung kasih tau Andika. Makasih ya ra" Tasya memeluk Rara sebentar dan langsung mengirimkan kembali foto gaun yang di pilihnya.
Andika yang sudah melihat pesan dari Tasya hanya menjawab dengan perkataan Oke saja, lagi-lagi Tasya merasa kesal dengan Andika dan ada perasaan ingin menghampirinya langsung untuk memukulnya.
"Kenapa lagi sih?" Rara melihat Tasya menghela nafasnya sembari memasang wajah kesalnya.
"Nih, lu liat aja sendiri" Tasya kembali memberikan ponselnya pada Rara.
Rara hanya merespon dengan gelengan kepala dan Tasya langsung mengajak Rara untuk kembali ke dapur, karena waktu jam makan mereka sudah habis.
"Sya... Lu kan belum makan siang, mending lu makan dulu deh ini biar gue yang handle dari pada nanti lu sakit" Rara yang melihat Tasya sudah mulai bersiap kembali.
"Udah engga apa-apa Ra, lagian gue juga belum lapar kok" Tasya hanya tersenyum dan langsung memasak pesanan.
...****************...
Andika yang masih berada di ruangannya hanya melihat pesan dari Tasya semalam, sebenarnya Andika ingin sekali menemani Tasya menyiapkan pernikahan mereka. Tapi dirinya ingin melihat sesabar apa Tasya untuk menghadapi dirinya itu.
Mario terus berpikir sebenarnya tuannya itu menyukai Tasya atau tidak? Pasalnya dia selalu bersikap dingin di depan Tasya, tapi di belakang Tasya dia seperti pasangan yang bucin.
"Mario, menurut kamu Tasya gimana?" Andika langsung menatap Mario yang berdiri di depannya.
"Ma-maksudnya tuan?"
"Ya menurut kamu Tasya itu perempuan yang gimana" Andika kembali melihat isi pesan dari Tasya.
"Kalau menurut saya... Non Tasya perempuan yang baik, sopan, dan sangat sayang terhadap papahnya tuan"
"Sudah saya duga dia perempuan yang seperti ini" Andika tersenyum tipis dan langsung mengajak Mario untuk kembali ke rumah, karena dirinya sudah ingin istirahat dan melanjutkan aktivitas yang padat lagi besok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments