Tasya yang baru saja bangun langsung meraba sisi kiri tempat tidurnya untuk mencari keberadaan Andika, tapi sayangnya Andika sudah tidak berada di sana lagi. Setelah Tasya melihat jam di ponselnya, dirinya langsung turun dari tempat tidurnya untuk mencari Andika hanya sekedar memastikan apa Andika sudah pergi ke kantor atau belum.
Semua ruangan di rumah Andika sudah Tasya datangi hanya untuk mencari Andika, tapi Andika tidak ada di ruangan manapun. Tasya juga udah mencoba mencari Kevin di halaman rumah agar dirinya bisa sekalian melihat apa mobil Calvin ada atau tidak? dan ternyata mobil Andika masih terparkir rapih, berarti Andika masih berada di dalam rumah.
Sekarang hanya tinggal dua tempat lagi saja yang Tasya belum datangi untuk mencari Andika, yaitu kolam renang dan taman belakang. Tapi saat Tasya ingin pergi ke kolam renang, dirinya bertemu dengan Salsa yang baru saja ingin ke dapur, karena dirinya sudah sangat lelah mencari akhirnya Tasya menanyakan pada Salsa.
"Sa, kamu lihat mas Andika dimana gak?" Tasya berjalan menghampiri Salsa yang sudah menghentikan langkahnya.
"Tadi saya melihat tuan Andika di ruang kerjanya nona"
"Saya sudah ke sana, tapi tidak ada Sa"
"Mungkin saat ini tuan Andika sedang berada di taman belakang non, biasanya tuan Andika suka baca buku di sana non"
"Oh begitu ya... Ya sudah, kalau begitu saya ke taman belakang dulu ya Sa"
"Iya non"
Tasya langsung pergi ke taman untuk memastikan apakah suaminya benar-benar ada di sana atau tidak, karena kalau sampai Andika tidak berada di sana terpaksa dia harus mencarinya di tempat lain lagi.
Saat Tasya sampai di taman ternyata benar Andika berada di sana sedang menelpon seseorang yang Tasya kira itu dari kantor Andika, jadi Tasya memutuskan menunggu sampai suaminya selesai menelpon.
"Mas... dari tadi aku cariin, ternyata kamu ada di sini" Tasya berjalan menghampiri Andika yang baru saja mematikan telponnya dan berjongkok di depan Andika.
"Ada apa kamu mencari ku?" Andika meletakkan ponselnya di pangkuannya dan menatap Tasya.
"Engga ada apa-apa sih mas... Tadi saat aku bangun, aku hanya bingung saja kamu sudah tidak ada di samping ku" Tasya memberikan senyumnya.
Andika hanya diam dan menatap Tasya membuat suasananya menjadi canggung, bahkan Tasya sampai melihat ke sekelilingnya karena bingung harus mencari topik apa lagi agar bisa menghilangkan suasana canggungnya dan berbicara lebih lama lagi dengan Andika.
"Eum, mas... Kamu suka baca buku ya? Terus itu buku apa yang lagi kamu baca mas?" Tasya yang ingin mengambil buku itu dari tangan Andika langsung di tariknya dan membuat menarik tangannya kembali.
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka baca, hanya di saat aku tidak ada kerjaan saja atau sedang bosan baru aku akan baca buku. Untuk buku yang aku sedang baca ini rahasia, jadi kamu dilarang membacanya"
"Emm, ya mas aku tidak akan membacanya. Oh iya mas, berhubung hari ini kamu engga ke kantor gimana kalau kita pergi ke perpustakaan aja? Aku udah lama engga baca buku"
"Untuk apa pergi ke perpustakaan? Kalau di rumah ini ada ruang baca"
"Ruang baca di rumah ini mas? Memangnya ada ya mas?"
Tasya langsung bertanya-tanya dalam hatinya setelah dia tau ada ruang baca di rumah itu, pasalnya sudah hampir mau satu bulan Tasya tinggal di rumah dan masuk ke semua ruangan yang ada di sana tapi sama sekali tidak menemukan ruang baca.
"Biar aku tunjukkan tempatnya ke kamu, agar nanti kamu bisa baca buku sepuasnya"
Andika langsung memutar kursi rodanya dan berjalan lebih dulu, sedangkan Tasya yang melihat Andika kesusahan menggerakkan roda pada kursi rodanya langsung mengejar Andika dan membantu untuk mendorongnya.
"Biar aku bantu ya mas, kamu tinggal bilang saja kita akan kemana"
"Kita akan ke ruang kerja ku, jadi aku membutuhkan Mario untuk membantu ku naik ke lantai atas"
"Kalau begitu aku panggilkan Mario dulu ya mas" Tasya memberhentikan langkahnya di ruang makan dan bersiap untuk pergi.
"Tidak perlu! Tadi aku sudah memanggilnya lewat chat jadi kita langsung saja ke sana, karena pasti Mario sudah berada di sana juga"
"Oh begitu, baiklah mas" Tasya melanjutkan kembali langkahnya sembari mendorong kursi roda Andika.
Setelah sampai di dekat tangga Mario langsung membantu Andika menaiki satu persatu anak tangga itu, sedangkan Tasya hanya mengikuti di belakang saja karena kursi roda Andika sudah dibawa oleh bodyguardnya.
Itulah salah satu alasan Andika jarang pulang ke rumah itu dan lebih memilih tinggal di apartemen, karena selain kondisi dirinya yang kesusahan menaiki tangga. Dia juga jadi terlalu sering merepotkan Mario dan yang lainnya.
Setelah sampai di lantai dua Mario dan bodyguard tadi langsung pergi untuk kembali bergabung dengan yang lainnya ke pos jaga, agar Andika bisa kembali berduaan bersama dengan Tasya lagi dan melanjutkan kegiatan mereka lagi.
"Ini kan hanya ruang kerja biasa saja mas, engga ada ruang baca di sini" Tasya melihat ke setiap sudut ruang kerja Andika.
"Tunggu sebentar ya"
Andika pergi menuju meja kerjanya dan beberapa detik kemudian dinding yang tadinya hanya terlihat seperti dinding biasa, tiba-tiba saja dinding itu langsung berubah menjadi pintu yang menuju ke ruangan lain lagi.
Tasya berjalan ke arah ruangan itu dan dirinya benar-benar di buat kagum dengan ruang baca yang Andika miliki, di sana bukan hanya ada berbagai buku saja tapi ruangannya yang begitu luas dan ada sofa, meja baca, bahkan tempur tidur juga ada.
"Kamu bebas pilih buku apa saja yang ingin kamu baca di sini, bahkan sekarang kamu bisa puas membaca tanpa memikirkan waktu lagi"
"Iya mas, makasih ya sudah meminjamkan ruang baca ini padaku" Tasya tersenyum dan pergi mencari buku yang dia inginkan setelah mengecup pipi Andika.
Di saat Tasya sedang fokus memilih buku, tiba-tiba ponselnya berbunyi panggilan masuk dan setelah dirinya lihat ternyata itu dari ibu tirinya. Awalnya Tasya malas untuk mengangkatnya, tapi karena dirinya takut mengganggu Andika yang sedang membaca akhirnya mau tidak mau dia harus mengangkatnya.
-Pembicaraan Tasya dan ibu tirinya di telpon-
"Iya hallo ma, ada apa telpon?" Tasya langsung menanyakan tujuan ibu tirinya itu menelponnya, karena Tasya tidak ingin lama-lama berbicara dengannya.
"Ya ampun sayang, kamu kok angkat telpon mama kayak gitu sih. Harusnya kamu tanyakan kabar mama dan papa dulu dong, baru nanti kamu tanya tujuan mama telpon kamu"
"Aku engga punya banyak waktu untuk sekedar basa-basi, jadi katakan langsung saja apa tujuan mama menelpon ku"
"Begini loh sayang, mama dan papa perlu bantuan kamu"
"Bantuan apa?"
Miranti langsung menjelaskan pada Tasya tentang bantuan yang di maksudnya, bahkan dia sampai pura-pura menangis agar Tasya yang mendengar merasa kasihan pada papanya.
"Apa! Kalau masalah itu aku tidak bisa menolong kalian, jadi kali ini kalian minta tolong saja dengan kak Raisa. Sudah ya aku sibuk" Tasya langsung mematikan sambungan telponnya.
Tanpa di sadari oleh Tasya sedari tadi Andika sudah berada di balik rak buku di samping Tasya sembari berpura-pura mencari buku, padahal dirinya ingin mendengar pembicaraan Tasya dengan mama tirinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments