Setelah semalam Tasya menghubungi asisten pribadi Andika untuk menerima pernikahan itu, siang ini Tasya sudah berada di depan kantor polisi untuk menjemput papanya kembali ke rumah. Karena dalam sekejap orang suruhan Andika telah mengurus semuanya, jadi sekarang Ferdian sudah bisa keluar dari dalam penjara dan berkumpul lagi dengan Tasya.
Saat Ferdian keluar dari kantor polisi Tasya sudah menunggunya di dekat mobilnya, tapi dia hanya diam saja dan menatap papanya tanpa mengatakan apapun. Ferdian langsung menghampiri Tasya sembari tersenyum, dan saat papanya itu berada di depannya Tasya langsung memeluknya.
Walaupun baru beberapa minggu tidak melihat papanya Tasya sudah merindukannya, Tasya yang biasanya selalu menempel dengan papanya saat di rumah. Tapi karena masalah hutang itu Tasya menjadi jauh dari papanya, bahkan berkomunikasi saja tidak.
"Terima kasih kamu sudah membebaskan papa dari sini, kamu memang anak kesayangan papa"
"Masuklah ke mobil pah! Karena aku harus cepat kembali ke restoran lagi" Tasya melepaskan pelukan papanya dan masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Ferdian.
Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil menjadi hening dan benar-benar tidak ada suara apapun, bahkan yang terdengar hanya suara klakson dari kendaraan lain saat mereka berada di lampu merah.
"Tasya, apa kamu masih marah pada papa?" Ferdian kembali membuka pembicaraan untuk bisa akrab kembali dengan putrinya itu.
"Engga kok pah" Tasya masih fokus menyetir dan melihat lurus ke depan.
"Kalau begitu, apa kamu akan kembali ke rumah lagi?"
"Untuk itu Tasya belum tau pah" Tasya memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumahnya.
"Baiklah kalau gitu Nak, papa turun dulu ya" Ferdian yang baru ingin membuka pintu mobil langsung terhenti, karena Tasya kembali memanggilnya lagi.
"Aku cuma mau bilang kalau nanti jam tujuh malam pak Mario minta kita untuk ke restoran 'Queen's' katanya ada yang ingin di bicarakan. Tapi aku minta papa jangan bawa tante Miranti dan ka Raisa ya pah"
"Iya papa engga akan bawa mama Miranti ataupun Raisa, kamu hati-hati di jalan ya" Ferdian mengusap surai rambut Tasya sebentar sembari tersenyum dan setelahnya dirinya langsung turun dari mobil Tasya.
Tasya kembali melajukan kembali mobilnya sembari berpikir apa keputusan yang dirinya ambil itu sudah benar atau belum, karena masalahnya Tasya masih ada keraguan dan perasaan yang mendorongnya untuk membatalkan pernikahannya lagi.
...****************...
Sekarang Tasya sudah berada di dalam rumah Rara lagi dan dirinya sedang mempersiapkan semuanya untuk nanti malam, Tasya juga sedang memilih baju yang akan dirinya pakai.
"Wih! Engga biasanya lu pilih-pilih gaun kayak gitu, emangnya lu mau pergi ya Sya?"
"Iya nih Ra... Nanti jam tujuh malam gue ada acara makan malam sama calon suami gue, katanya sih ada yang ingin dia bahas sama gue dan papa gue" Tasya menukar kembali baju baju yang di pegangnya dengan yang berwarna hitam.
"Oh gitu, mau gue bantuin engga buat milihin baju yang pas sama lu?"
"Boleh Ra, kebetulan gue lagi bingung antara yang biru atau yang merah ini. Menurut lu bagusan yang mana?"
"Eum, menurut gue sih lebih bagus yang....."
Rara berjalan ke tempat tidur Tasya dan melihat-lihat baju yang ada di sana tanpa memegangnya, tidak butuh waktu lama untuk Rara memilih dan dirinya sudah menjatuhkan pilihan pada satu gaun.
"Menurut gue ini bagus Sya, gimana kalau lu pakai gaun yang ini aja" Rara memberikan gaun putih yang sedang dirinya pegang.
"Kenapa lu pilih gaun itu Ra?" Tasya melipat tangannya di depan dadanya.
"Engga ada alasan khusus sih kenapa gue pilih yang ini, tapi kalau gue lihat ini paling bagus lu pakai Sya"
"Gitu ya, oke deh gue pakai yang lu pilih aja" Tasya tersenyum dan langsung mengambil gaunnya dari tangan Rara, sedangkan Rara langsung melihat jam di ponselnya.
"Udah jam enam nih Sya, mending lu sekarang siap-siap deh dari pada nanti telat"
"Iya deh, kalau gitu gue siap-siap dulu ya Ra"
Rara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan langsung keluar dari kamar Tasya, sedangkan Tasya langsung mandi dan berganti pakaiannya dengan gaun tadi.
Tasya tidak mau menggunakan make up yang terlalu tebal, jadi dirinya hanya menggunakan yang seadanya saja dan dalam sekejap Tasya sudah siap untuk berangkat.
Sebelum pergi Tasya ingin berpamitan dengan Rara, tapi dia malah tidak menemukan sahabatnya itu dimana pun. Pada akhirnya Tasya mengabarinya lewat pesan dan dirinya langsung berangkat ke restoran yang sudah di tentukan, karena perjalanan untuk sampai ke restoran itu lumayan memakan waktu yang cukup lama.
Saat Tasya sampai di sana bukan hanya ada Mario saja yang berada di sana, tapi papanya berserta dengan Miranti dan Raisa juga berada di sana.
"Nona Tasya, silahkan duduk!" Mario menarik kursi untuk Tasya duduki.
"Terima kasih, dimana Andika?" Tasya duduk di samping papanya.
"Maaf non Tasya... Tuan Andika berhalangan hadir, karena masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan"
"Oh begitu, baiklah tidak masalah"
Sebelum memulai pembicaraannya Mario meminta mereka semua untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan sebelum Tasya datang, karena menurutnya takut makanan itu tambah menjadi lebih dingin lagi terkena AC.
"Jadi apa kita bisa langsung mulai pembicaraannya saja?" Mario sudah selesai dengan makanannya.
"Sebelum kita memulainya, apa saya bisa minta satu permintaan dengan pak Mario?"
"Katakan saja non Tasya! Saya pasti akan melakukannya, karena itu perintah tuan Andika"
"Baiklah, kalau begitu saya minta pak Mario suruh kedua orang ini keluar dari ruangan ini terlebih dahulu. bagaimana bisa?" Tasya menunjuk Miranti dan Raisa menggunakan garpu yang di pegangnya.
"Itu hal mudah nona"
Awalnya Mario menyuruh Miranti dan Raisa keluar secara baik-baik, tapi karena mereka terus menolaknya mau tidak mau Mario menggunakan cara yang kasar pada mereka.
Mario langsung memanggil dua bodyguard yang ada di depan pintu untuk menyeret Miranti dan Raisa keluar, sedangkan Ferdian yang melihat hal itu hanya bisa diam tanpa melakukan apapun walaupun Miranti terus memintanya melakukan sesuatu.
"Oke, jadi apa yang anda ingin bicarakan dengan saya?" Tasya tersenyum tipis melihat ibu dan kakak tirinya di perlakuan seperti itu.
"Begini nona, tuan Andika meminta saya memberikan ini pada anda" Mario memberikan map berwarna biru pada Tasya.
"Apa ini? Apa semacam kontrak pernikahan?" Tasya mengambil map itu sembari melihat Mario dengan tatapan bingung.
"Bukan nona, di dalam map itu hanya berisi syarat dan hal-hal yang harus nona lakukan setelah menikah"
"Apa harus sampai menggunakan hal seperti ini?"
"Itu permintaan tuan Andika nona, jadi silahkan anda baca terlebih dahulu dan kalau sudah anda bisa tanda tangan di sana sebagai tanda anda menyetujuinya"
"Baiklah, saya akan membacanya dulu"
Tasya langsung membuka map itu dan membacanya dengan teliti setiap poin yang tertulis di sana, tapi tepat setelah dirinya membalik halaman ke dua ada poin yang menurutnya sangat tidak masuk akal sama sekali"
"Apa tuan anda sudah gila? Kenapa dia memberikan syarat seperti ini?" Tasya memprotes sembari menunjukkan syarat yang tidak bisa dirinya terima.
"Maaf nona itu sudah menjadi keputusan tuan Andika, jika anda tidak menyetujuinya anda bisa membatalkannya dan papa anda akan kembali ke penjara" Mario menyenderkan badannya di sandaran bangku sembari melipat tangannya di depan dada.
Tasya lagi-lagi di hadapkan dengan pilihan yang berat dan harus memilih salah satunya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments