Setelah dua minggu Andika berada di luar negeri untuk menyelesaikan bisnisnya, hari ini dirinya sudah berada di jalan untuk kembali ke rumah. Andika sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Tasya lagi, tapi saat dirinya sampai di rumah Tasya tidak ada di sana.
Andika sedikit kecewa karena dia berharap Tasya akan menyambutnya saat pulang, tapi harapannya seketika pudar. Karena kata Salsa, Tasya belum kembali dari restoran tempatnya bekerja dan jadinya mau tidak mau Andika harus menunggu sampai Tasya pulang.
Sudah hampir setengah jam Andika menunggu, tapi sampai sekarang Tasya belum juga sampai. Andika yang khawatir langsung menelpon ponsel Tasya, sayangnya tidak ada satupun panggilan telpon Andika yang dijawab Tasya.
Saat Andika baru ingin menghubungi supir Tasya, tiba-tiba suara mobil Tasya sudah terdengar. Andika langsung meminta Mario untuk mengantarnya ke depan, tapi belum sampai Andika di pintu depan Tasya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Loh! Mas Andika sudah kembali? Bukannya tadi pagi mas bilang akan pulang tiga hari lagi, tapi kenapa sekarang mas sudah berada di rumah?" Tasya langsung menghampiri Andika.
"Urusan ku sudah selesai di sana, makanya aku sudah bisa kembali hari ini. Kamu sudah makan?" Tasya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu sudah makan mas?" Andika pun juga sama halnya dengan Tasya dis hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah... Kalau gitu aku bersih-bersih dulu ya, habis itu baru kita makan bareng" Tasya tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk melewati Andika, tapi Andika langsung menahan tangannya.
"Kamu bersih-bersihnya nanti saja, sekarang kita makan saja dulu! Karena aku sudah sangat lapar" Tasya langsung melihat ke arah Andika sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Pak Mario... Sini biar saya saja yang mendorong kursi roda suami saya, pak Mario istirahatlah dulu"
"Tapi non....."
"Udah engga apa-apa pak, biar saya saja yang dorong kursi rodanya. Lagipula mas Andika ini kan suami saya, jadi itu sudah jadi tugas saya juga" Tasya tersenyum sembari melihat Andika.
Setelah Tasya melepaskan genggam tangan Andika pada tangannya, Tasya langsung ke belakang Andika untuk mengambil alih mendorongnya. Awalnya Andika menolak dan meminta Tasya untuk tetap berada di sampingnya, tapi karena Tasya terus memaksa akhirnya Andika mengalah dan membiarkan Tasya untuk mendorong kursi rodanya.
"Kenapa kamu tidak makan duluan saja mas? Kalau sudah lapar, aku engga apa-apa kok kalau makan sendiri. Soalnya waktu masih tinggal sama papa juga aku sering makan sendiri mas" Tasya terus menceritakan sedikit yang dirinya lakukan kalau pulang kerja, sembari membantu Andika duduk di kursi meja makan.
"Lalu, gunanya aku punya istri untuk apa? Kalau aku masih harus makan sendirian" Andika mengangkat alis sebelah kanannya.
"Iya ya" Tasya langsung tertawa getir
Tasya mengambilkan nasi dan semua lauk pauk yang sudah bi Tati masak termasuk sayur, begitu juga dengan Tasya yang mengambil makanannya. Tapi lauk Tasya berbeda dengan Andika, dirinya hanya mengambil sayur dan ayam goreng saja.
"Kenapa kamu hanya mengambil makanannya segitu saja? Tapi sedangkan aku sebanyak ini" Andika menunjuk piringnya yang berisi makanan penuh satu piring.
"Soalnya kamu kan lebih banyak kegiatan di kantor, jadi kamu harus makan yang banyak! Supaya energi kamu bertambah banyak lagi deh" Tasya memberikan senyumannya, sedangkan Andika hanya menggelengkan kepalanya saja.
Andika langsung memulai makannya tanpa berkata apapun lagi, begitupun dengan Tasya yang awalnya makan dengan tenang. Tapi tiba-tiba dia mulai memprotes, karena melihat Andika yang tidak memakan dan malah menyingkirkan sayurnya di pinggir piring.
Walaupun Andika terus menolak untuk memakannya, tapi Tasya masih juga memaksa Andika makan sayurnya. Sampai Andika yang terlalu kesal dengan paksaan Tasya langsung membentaknya dan membuat Tasya terdiam.
Tasya langsung melanjutkan makannya tanpa berbicara apapun lagi, bahkan dia juga terus menundukkan kepalanya sampai selesai makan. sedangkan Andika diam-diam mencoba memakan sedikit sayur yang ada di piringnya.
"Aku udah selesai makan mas, apa kamu masih ingin makan?" Tasya bangun dari duduknya dan menatap ke Andika.
"Aku masih ingin makan" Andika berpura-pura mengaduk sisa makanannya.
"Baiklah mas... Kalau begitu aku ke kamar dulu ya, soalnya badan ku sudah lengket banget" Andika hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Andika yang melihat Tasya sudah masuk ke dalam kamar, dirinya langsung menghabiskan sayuran yang ada di piringnya sembari melihat ke arah kamar untuk berjaga-jaga takut Tasya keluar kembali.
Setelah menghabiskan semua makanannya Andika meminta Mario untuk mengantarnya ke dalam kamar dan dirinya menunggu Tasya sembari duduk di tempat tidur, karena waktu untuk istirahat sudah tiba.
Tasya yang baru keluar dari dalam kamar mandi terkejut saat melihat Andika sudah berada juga di dalam kamarnya sembari membaca buku, sedangkan Andika yang merasa kehadiran Tasya memintanya duduk di sampingnya.
"Ada apa mas?" Tasya duduk di samping Andika dan Andika pun langsung menutup buku yang di pegangnya.
"Aku ingin minta maaf dengan mu, karena sudah membentak mu tadi" Andika menoleh ke arah Tasya.
"Iya tidak apa-apa mas, aku sudah memaafkan kamu kok dan lagi itu juga salahku terlalu memaksa kamu"
"Tidak masalah... Aku tau kamu melakukan itu, karena untuk kesehatan ku kan? Lagipula setelah aku coba makan sayuran tadi rasanya tidak terlalu buruk"
"Jadi kamu sudah mulai suka makan sayur kan mas?"
"Baru sedikit saja sukanya, belum sepenuhnya"
"Itu juga sudah bagus mas, karena yang terpenting ada asupan sayur di dalam tubuh kamu" Tasya memberikan senyumnya.
"Ya sudah sekarang kamu istirahatlah duluan, aku masih ingin melanjutkan baca buku ini dulu"
Andika yang menunjukkan buku tentang bisnis di tangannya, sedangkan Tasya membulatkan matanya saat mendengar perkataan Andika untuk tidur satu Kamar.
"Apa kita akan tidur satu kamar mas?"
"Iya, memangnya kenapa hmm?" Andika sudah kembali fokus membaca bukunya.
"Engga kenapa-kenapa kok mas" Tasya tertawa getir.
"Kalau begitu tidurlah!" Andika mengusap lembut surai rambut Tasya.
Tasya merebahkan badannya dan langsung menyelimuti tubuhnya sampai ke leher, dia juga terus melihat ke arah Andika yang fokus membaca bukunya.
"Ternyata mas Andika tampan juga ya kalau pakai kacamata gitu" ucap Tasya dalam hati sembari tersenyum tipis.
"Mas... Walaupun kita menikah karena papa ku membutuhkan uang kamu, tapi aku akan mencoba mencintai kamu dengan tulus mas. Semoga perasaan kamu juga seperti itu ke aku ya mas"
Andika yang merasa di lihatin terus oleh Tasya langsung menoleh dan membuat Tasya langsung berpura-pura memejamkan matanya, walaupun begitu Andika tetap tau Tasya melihatnya dan mendekati wajahnya dengan wajah Tasya membuat jantung Tasya berdebar kencang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments