Hari ini Andika pulang kerja tidak seperti biasanya, dia pulang dua jam lebih cepat dan jadi tidak terlalu larut malam. Seperti biasa Andika meminta Mario untuk mengantarkannya kembali ke apartemen, karena dia masih ingin tinggal di sana untuk beberapa hari lagi.
Mario sudah mencoba membujuk Andika untuk kembali ke rumah dan menemui Tasya, karena dia ingin sekali bertemu dengan Andika walaupun hanya sebentar saja. Bahkan setiap hari yang Tasya tanyakan selalu Andika, baik itu dengan Mario ataupun dengan kepala pelayan dan para pelayan lainnya.
Sampai saat ini Andika masih tetap pada pendiriannya untuk tidak bertemu dengan Tasya sebelum waktu yang dia tentukan, karena dia masih belum siap untuk bertemu dengan Tasya dalam kondisi kakinya yang tidak bisa berjalan dan dia juga takut kalau Tasya tidak akan mau menerimanya.
Andika melamun sembari melihat ke luar jendela mobil, dirinya terus berpikir tentang bagaimana caranya agar penyembuhan kakinya bisa di percepatan. Lamunan Andika tiba-tiba buyar, karena ada pesan masuk di ponselnya yang langsung Andika baca.
-Isi pesan di ponsel Andika-
Adrian: Selamat malam tuan Andika, maaf saya mengganggu waktu istirahat anda. Saya hanya ingin melaporkan pesan dari Salsa, pelayan pribadi nona Tasya. Dia mengatakan kalau nona Tasya tidak mau makan, bahkan non Tasya juga menolak semua makanan yang Salsa bawakan ke kamar dan sekarang kondisi non Tasya sedikit demam tuan. Hanya itu yang saya ingin sampaikan tuan, sekali saya minta maaf.
Andika (Membalas pesan): Oke! Laporan kamu saya terima dan kalau begitu sekarang minta Salsa untuk mengawasi terus kondisi Tasya, jangan sampai istri saya kenapa-kenapa.
"Adrian: Baik tuan, akan saya laksanakan sekarang.
Setelah membaca balasan dari Adrian, Andika tidak membalasnya lagi dan malah langsung menelpon dokter pribadinya untuk segera memeriksa kondisi Tasya sekarang di rumahnya.
Perasaan Andika benar-benar khawatir dengan Tasya, walaupun dia sudah mengirimkan dokter dan juga minta pelayan di rumah untuk menjaga Tasya. Semua itu rasanya belum bisa membuat Andika tenang dan dirinya masih terus memikirkan Tasya.
"Rio! Putar balik sekarang dan langsung kembali ke rumah!" Andika mengatakan itu sembari melihat keluar jendela lagi. Mario langsung menuruti perkataan tuannya.
"Tuan benar tidak jadi pulang ke apartemen?" Mario melirik Andika dari kaca spion tengah dan itu langsung mendapatkan jawaban anggukan kepala oleh Andika.
Mario melajukan mobil yang di kendarainya dengan kecepatan sedang dan langsung menuju rumah yang, dirinya senang akhirnya tuannya itu akan kembali ke rumah yang berarti Tasya akan segera bertemu dengannya.
"Tuan maaf kalau saya lancang, tapi apa yang membuat tuan berubah pikiran dan meminta pulang ke rumah?" Mario kembali melihat Andika dari kaca spion.
"Istri saya sakit dan sekarang saya ingin melihat kondisinya" Andika berbicara dengan posisi yang sama.
"Jadi kamu tolong bawa mobilnya cepat sedikit" tambah Andika yang langsung mengubah posisi duduknya dan menatap lurus ke depan.
"Baik tuan" Mario langsung menginjak pedal gasnya agar mempercepat mereka sampai di rumah Andika.
Walaupun cukup memakan waktu untuk sampai, karena jarak apartemen Andika dengan rumahnya yang lumayan jauh. Tapi Andika tetap ingin melihat kondisi Tasya secara langsung.
Sampai di rumah Andika langsung meminta diantar ke kamar Tasya, dan ternyata di kamar itu masih ada dokter pribadi Andika dan juga Salsa yang setia menemani Tasya sesuai dengan perintah Andika.
"Gimana keadaannya dok?" Kevin menghampiri dokter Ria yang masih merapikan stetoskopnya.
"Dia baik-baik saja, cuma sedikit kecapean dan stress berlebih. Di tambah lagi dia belum makan, sehingga membuat asam lambungnya naik dan makanya dia jadi seperti ini" Andika langsung melihat ke arah Tasya yang sedang berbaring dengan mata terpejam.
"Saya sudah buatkan resep obat dan vitamin nanti tuan muda Andika tinggal menebusnya saja, saya juga ingin menyarankan untuk tuan Andika mengontrol pola makan istri anda"
"Baik dok, saya akan lakukan itu"
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan muda" Adrian membungkukkan sedikit badannya dan langsung keluar setelah Andika meminta Salsa untuk mengantarnya.
Setelah Salsa dan dokter Rian keluar, Andika mendekati Tasya dan langsung menggenggam tangannya sembari menghela nafas kasarnya yang melihat Tasya belum bangun juga.
"Tasya... Maafkan saya yang membuat mu jadi seperti ini, saya ingin menemui kamu di saat kaki saya sudah benar-benar bisa berjalan lagi. Jadi saya minta kamu tunggu sebentar lagi saja ya" Andika mengusap punggung tangan Tasya.
Salsa yang sudah kembali ke kamar Tasya dan Andika, seketika berhenti di ambang pintu karena melihat Andika masih berada di sana dan menggenggam tangan Tasya. Akhirnya Salsa memutuskan untuk tidak mengganggu tuan dan nonanya.
Andika membasahi kembali kain pengompres di kening Tasya, setelah itu dirinya tertidur sembari menopang dagunya dan terus menggenggam tangan Tasya. Tapi baru beberapa menit Andika tertidur, tiba-tiba dirinya mendengar suara tangisan dan membuatnya langsung membuka pintu kamarnya.
"Tasya... Ada apa? Tenanglah ada saya di samping mu" Andika mengusap lembut pipi Tasya untuk menenangkannya.
"Mama... jangan tinggalkan Tasya mah, Tasya engga mau sendirian" Tasya masih terus menangis sembari memanggil-manggil mamanya.
"Tasya....." Andika memanggilnya lirih, karena dia melihat Tasya yang menangis sampai sesegukan.
"Mah, kembalilah! Tasya ingin memeluk mama lagi, Tasya tidak mau berpisah dengan mama"
Andika yang tadinya mencoba menenangkan Tasya, tapi sekarang dirinya malah ikutan sedih. Jadi dia memutuskan untuk memanggil Salsa dan memintanya untuk menenangkan Tasya, sedangkan Andika akan menunggu di luar atau di kamar lain sembari dirinya beristirahat.
Tadinya Salsa mencoba untuk menenangkan Tasya, tapi karena tidak ada respon apapun akhirnya Salsa langsung membangunkan Tasya dengan suara lembut dan Tasya pun langsung membuka matanya.
Setelah Tasya benar-benar tersadar dirinya langsung memeluk Salsa dan menangis, Salsa yang mengerti nonanya habis bermimpi buruk hanya diam dan membiarkannya.
"Tidak apa nona, itu semua hanya mimpi saja" Salsa mengusap punggung Tasya untuk menenangkannya lagi.
"Saya bermimpi tentang Mama saya Sa, awalnya saya senang karena mama saya kembali, Tapi setelah mengatakan beberapa kata pada saya, beliau langsung pergi lagi Sa.
"berarti mama non Tasya hanya ingin mengatakan hal itu saja dan untuk kembali lagi ke sepertinya itu tidak akan mungkin non"
"Iya kamu benar Sa, mama saya tidak akan pernah kembali lagi ke sini karena beliau sudah tiada" Tasya melepaskan pelukannya pada Salsa dan langsung menundukkan kepalanya.
Salsa berusaha menghibur kesedihan Tasya, tapi rasanya sangat susah. Karena tidak ada satupun cara yang bisa membuatnya tertawa. Akhirnya Salsa menggunakan cara terakhirnya terakhirnya untuk membuat Tasya kembali bersemangat.
"Nona... Besok saya ada kejutan besar untuk nona, tapi nona harus janji dulu tidak akan sedih lagi"
"Kejutan apa yang kamu akan berikan pada saya?
"Besok nona juga akan tau, jadi lebih baik sekarang nona istirahat saja dulu ya"
Salsa langsung berjalan ke arah sofa dan beristirahat di sana, sedangkan Tasya masih terus memikirkan tentang kejutan yang akan Salsa berikan besok. Bahkan sampai akhirnya dia tertidur dengan nyenyak dan tidak mengetahui apa-apa lagi sampai pagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments