Dari tadi Rara sudah tidak sabar menunggu Tasya menyelesaikan pesanan terakhir di restoran itu, bahkan dia sampai terus mengikuti kemanapun Tasya pergi. Rara melakukan itu karena masih ingin menagih janji yang Tasya ucapkan padanya, kalau Tasya akan menceritakan semua tentang Andika pada Rara saat jam makan siang tadi.
Berhubung saat jam makan siang tadi pengunjung restoran ramai dan Andika juga terus menelpon Tasya, pada akhirnya dia tidak jadi bercerita pada Rara dan itulah sebabnya Rara terus mengikuti Tasya dari setelah dia selesai bekerja sampai sekarang.
Tasya yang sudah lelah diikuti terus-menerus oleh Rara akhirnya mengajak Rara ke taman yang tidak jauh dari restoran setelah dirinya berganti pakaian, Tasya sengaja memilih taman itu. Karena pengunjung di sana sangat sedikit, jadi dirinya bisa bercerita dengan nyaman.
Mereka berdua memilih duduk di bangku taman yang dekat dengan danau untuk sekalian menyegarkan pikiran Tasya. Sebelum Tasya mulai bercerita Rara memintanya untuk mematikan sementara ponselnya, supaya tidak ada lagi yang akan menggangu cerita Tasya.
"Oke, sekarang lu udah bisa cerita tentang pernikahan lu sama Andika" Rara mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Tasya.
"Hah... Sebenarnya tidak ada yang begitu menarik untuk di ceritain dari pernikahan gue Ra, karena semuanya berjalan seperti biasa aja"
"Engga mungkin gak ada, pasti ada Sya! Kayak misalnya kegiatan yang lu lakuin sama Andika setelah menikah atau malam pertama kalian" Rara mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum.
Lagi-lagi Tasya menghela nafasnya dan akhirnya dia mulai menceritakan tentang yang Andika lakukan setelah mereka menikah, tapi Tasya hanya menceritakan tentang Andika yang tidak pulang ke rumah dan sibuk dengan pekerjaannya saja.
Tasya sengaja hanya menceritakan hal itu saja pada sahabat, karena kalau sampai Rara tau Tasya belum pernah melihat wajah Andika sama sekali. Rara sudah pasti akan langsung memarahinya, karena Tasya menikah dengan laki-laki yang bahkan bentuk wajahnya saja tidak diketahui.
"Loh! Kok bisa Sya? Bukan biasanya pengantin baru seperti kalian ini lagi senang nempel terus kayak perangko ya?" Rara melihat Tasya dengan wajah bingungnya sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Entahlah Ra... Mungkin Andika mau selesaikan kerjaannya dulu kali, nanti baru dia nempel terus kayak perangko sama gue. Ya kan?" Tasya langsung melihat ke arah Rara sebentar sembari tersenyum.
"Hahaha... Bisa jadi gitu sih Sya, terus tadi waktu di resto kenapa lu kesal sama Andika Sya?"
"Oh itu... Gue kesal sama Andika, karena tadi pagi gue telpon dia pakai panggilan video. Tapi dia malah arahin kameranya ke atap kamar apartemennya"
"Emang kenapa dia engga tunjukkin wajahnya ke lu?"
Tasya mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Rara untuk membisikkan jawabannya, karena di sana ada dua orang yang duduk hampir berdekatan dengan mereka berdua. Jadi Tasya tidak ingin menjawabnya dengan suara biasanya agar orang lain tidak langsung menoleh ke arahnya.
Setelah Rara mendengar jawaban Tasya, dirinya langsung senyam-senyum sendiri, sembari menggelengkan pelan kepalanya dan menatap danau di depannya. Karena Tasya memberikan alasan yang sedikit dewasa, agar Rara mengira hubungan pernikahan Tasya sama dengan pernikahan orang-orang pada umumnya.
"Maafin gue ya Ra! Gue engga bermaksud bohong sama lu, tapi gue ngelakuin ini karena engga mau melibatkan lu dalam pernikahan gue yang rumit ini" ucap Tasya dalam hati sembari melihat ke arah Rara yang sedang menatap lurus ke depan.
"Oh iya Sya, lu berdua belum ada rencana bulan madu gitu?"
"Belum nih Ra, soalnya beberapa hari lalu kan gue baru ambil cuti Ra. Jadi engga enak lah kalau ambil cuti lagi"
"Iya juga sih... Ya udah kalau gitu kita balik yuk, udah gerah banget nih gue mau mandi"
"Oke Ra"
Mereka berdua langsung bangun dari posisi duduknya dan saat mereka berbalik ternyata Tian sudah berada di belakang bangku yang mereka dudukin tadi, membuat Rara kembali bertanya-tanya tentang siapa orang yang berdiri di hadapannya.
"Pak Tian! Sejak kapan anda di sini? Bukan tadi saya bilang tunggu sebentar ya?"
"Saya baru saja sampai di sini non dan maaf saya ke sini, karena tuan Andika tidak bisa menghubungi ponsel non Tasya dan sekarang tuan ingin bicara non" Tian langsung memberikan ponselnya pada Tasya.
Tasya memang sudah menempelkan ponsel Tian di telinganya, tapi dirinya belum mengatakan apapun dan malah berjalan untuk menjauh dari Rara dan juga Tian.
-Pembicaraan Tasya dan Andika di telpon-
"Hallo mas, ada apa?" Tasya langsung berbicara di saat dirinya merasa tempatnya berada sekarang sudah cukup jauh dari Rara.
"Kamu dimana? Kenapa ponsel kamu mati?"
"Aku di taman sama Rara, ponsel ku mati karena habis baterai" Tasya menjawab sembari terkadang melihat ke arah tempat Rara berada.
"Rara? Siapa dia?"
"Hah... Makanya temuin aku, jadi tau Rara siapa. Udah ya mas aku mau pulang soalnya"
"Tunggu sebentar! Aku mau bilang kalau hari ini aku engga kembali ke rumah"
"Iya tau" Tasya mematikan telponnya dan kembali ke tempat Rara dan Tian berada.
Setelah mengembalikan ponselnya ke Tian dan menawarkan Rara untuk pulang bareng, Tapi karena Rara ingin pulang menggunakan bus akhirnya Tasya langsung mengajaknya Tian untuk kembali ke rumah.
Seperti biasa Tasya harus melewati perjalanan yang melelahkan dan cukup memakan waktu itu, Tasya masih kepikiran tentang kebohongannya ke Rara tadi. Dirinya terus berpikir bagaimana kalau nanti Rara sampai tau kebenarannya?"
Tasya yang sudah benar-benar lelah tidak bersuara sama sekali di dalam mobil, dirinya hanya menempelkan kepalanya di kaca mobil. bahkan tanpa terasa dirinya sudah terlelap dengan posisi seperti itu, walaupun kepalanya terus terbentur saat melewati jalan berlubang.
Melihat Tasya yang sudah tertidur Tian langsung menepikan sebentar mobilnya dan melaporkannya pada Andika, karena dirinya sudah mendapat amanah dari Andika untuk mengabarkan padanya apapun yang Tasya lakukan.
"Non... Non Tasya, kita sudah sampai non" Tian terus memanggil nama Tasya tanpa menyentuhnya dan untung saja kali ini Tasya mudah untuk di bangunkan.
Tasya yang melihat dirinya sudah berada di halaman rumah langsung turun dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya, bahkan dia juga tidak menyapa pelayan di sana dan dirinya juga tidak makan malam sama sekali.
Selesai Tasya bersih-bersih Salsa datang membawakan makan malam untuknya, tapi Tasya menolaknya walaupun Salsa terus menerus membujuknya untuk makan. Bahkan Salsa sampai mengatakan kalau dirinya takut terkena marah oleh Andika, tapi tetap saja Tasya menolak makanan itu.
Salsa akhirnya mengalah dan pergi dari depan kamar Tasya sembari membawa makanan itu kembali ke dapur, sedangkan Tasya langsung masuk kembali ke dalam kamarnya dan merebahkan badannya di atas kasur untuk istirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments