Selesai menguping pembicaraan Tasya tadi, Andika langsung kembali lagi ke meja bacanya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dirinya juga bersiap untuk menanyakan pada Tasya secara langsung dan Andika akan membuat ekspresi wajah senatural mungkin.
Tasya yang baru kembali ke tempat Andika berada dengan membawa satu buku di tangannya dan memasang wajah murungnya, sedangkan Andika yang melihat itu langsung menghampiri Tasya yang duduk di pinggir tempat tidur sembari menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa? Bukan tadi kamu sudah happy, tapi kenapa sekarang malah murung?" Andika mengusap punggung telapak tangan Tasya.
"Aku engga kenapa-kenapa kok mas"
"Jangan bohong! Saya tau ada yang kamu sembunyikan, apa ini ada hubungannya dengan telpon dari mama tiri mu itu? Soalnya tadi aku tidak sengaja mendengar kamu sedang menelpon" Andika terpaksa jujur pada Tasya kalau dia menguping, karena dia tidak tega melihat wajah murung Tasya.
Saat ini Tasya hanya menatap Andika dalam diam walaupun di hati Tasya sebenarnya ada keinginan mengatakan permintaan mama tirinya itu pada Andika, tapi Tasya juga tidak ingin merepotkan Andika ataupun bergantung dengan Andika.
"Tasya... Saya ini sudah menjadi suami mu, jadi amu bisa ceritakan saja pada saya! Siapa tau saya bisa membantu mu"
Lima menit berlalu Tasya masih belum mau mengatakan apapun juga, sampai akhirnya mama tirinya kembali menelponnya lagi dan Andika lah yang mengangkat telponnya sembari menekan speaker di layar ponsel Tasya.
-Pembicaraan Di Telpon-
Setelah mengangkat panggilan telpon di ponsel Tasya, Andika hanya diam dan menunggu sampai ibu tiri Tasya yang berbicara lebih dulu. Karena dirinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya Miranti inginkan dan apa saja yang akan dikatakan oleh ibu tiri Tasya.
"Tasya... Mama mohon, kali ini saja kamu bantu mama dan papa untuk bilang pada Andika"
Andika memberikan isyarat mata agar Tasya yang menjawab perkataan mamanya, tapi Tasya hanya diam saja dan tidak menuruti Andika. Tasya tidak ingin kalau dia menjawab perkataan mamanya itu, Andika akan mengetahui yang di inginkan mamanya.
"Tasya... Tasya... Kamu masih di sana kan? Kenapa kamu tidak menjawab perkataan mama?"
"Tasya, apa kamu sudah tidak peduli lagi dengan papa mu?" kali ini bukan Miranti lagi yang berbicara melainkan Ferdian.
Dari tadi Andika terus menunggu Tasya berbicara, tapi dirinya sama sekali tidak mengatakan apapun dan malah berusaha mengambil ponselnya dari tangan Andika untuk mematikan sambungan telponnya.
"Saya Andika, ada apa kalian berdua telpon istri saya?" Andika yang akhirnya menjawab panggilan Ferdian dan Miranti dengan nada dinginnya.
"Kenapa HP Tasya bisa ada di nak Andika? Lalu apa Tasya ada di sana juga?" Andika menghela nafasnya saat pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan juga oleh Ferdian.
"Saya lebih dahulu bertanya, jadi anda harus menjawab pertanyaan saya lebih dahulu!"
Di sebrang telpon Miranti sudah sangat merasa kesal dengan jawaban Andika, tapi dia harus berpura-pura baik terhadapnya. Karena Miranti masih membutuhkan Andika dalam berbagai hal.
"Baiklah... Biar mama yang menjawab pertanyaan kamu ya Dika, jadi begini....."
Miranti yang baru akan menjelaskan tujuannya langsung di berhentikan oleh Andika, karena dia tidak suka kalau Miranti memanggilnya dengan sebutan itu.
"Panggil saya tuan Andika!"
"Tapi kamu kan menantu mama juga, masa mama harus panggil kamu seperti itu"
"Saya bilang panggil saya tuan Andika dan anda harus panggil saya seperti itu! Lagipula anda itu bukan mama mertua saya, selama anda masih membuat istri saya menangis"
Andika meninggikan nada bicaranya dan bukan Tasya saja yang terkejut, tapi Miranti dan Ferdian juga sangat terkejut dengan suara bentakan yang keluar dari mulut Andika.
Tasya yang terkejut langsung memegang jantungnya dan mencoba menenangkan Andika, agar mengontrol emosinya dan tidak berbicara dengan nada seperti itu lagi.
"Ba-baik tuan Andika, saya akan melanjutkan perkataan saya tadi untuk memberitahu tujuan saya menelpon Tasya"
"Nona Tasya... Panggil dia dengan sebutan nona Tasya, karena sekarang dia istri saya"
Mau tidak mau Miranti harus mengikuti permintaan Andika untuk memanggilnya tuan dan memanggil Tasya dengan sebutan nona, karena Miranti sempat merasa takut saat mendengar suara Andika tadi.
"Jadi begini tuan... Saya dan suami saya ingin meminta uang dengan Tasya, eh! Maksudnya non Tasya untuk membayar cicilan mobil suami saya. Uang yang saya minta tidak banyak tuan, hanya beberapa juta saja"
"Berapa juta yang anda butuhkan?" Andika mengambil buku di samping Tasya yang tadi dia berniat untuk membacanya.
"Seratus juta saja tuan, bagaimana? Apa anda bisa memberikannya?" Tasya langsung menundukkan kepalanya saat Miranti menyebutkan nominal yang ingin mereka minta dari Andika.
"Seratus juta ya?" Andika mengulangi perkataan Miranti sembari membolak-balik buku di tangannya hanya untuk melihat sampul buku itu.
Sebelum Andika memberikan jawaban iya atau tidak pada Miranti, dia langsung melihat ke arah Tasya terlebih dahulu untuk menanyakan pendapatnya. Tasya yang tidak setuju Andika memberikan uang ke mama tirinya langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan jangan dengan suara pelan.
"Baiklah, saya akan memberikan uang itu pada kalian" Tasya membulatkan matanya mendengar Andika mengiyakan permintaan mama tirinya itu.
"Benarkah tuan? Terima kasih banyak tuan Andika" Miranti langsung kegirangan mendengar Andika akan memberikan uangnya, dengan begitu Miranti berpikir rencananya memelas ternyata berhasil.
"Anda jangan senang dulu, karena saya memberikan uang itu bukan secara cuma-cuma. Anggap saja uang itu untuk saya membeli saham di perusahaan kalian, jadi besok asisten pribadi saya akan menemui papa mertua"
Miranti tidak peduli menganggap uang itu sebagai pembayaran apapun, karena yang terpenting baginya adalah dia bisa mendapatkan uang banyak dan bisa belanja barang yang di inginkannya lagi. Sedangkan Ferdian menolak dan meminta Miranti untuk membatalkan rencananya itu, tapi sayangnya Miranti tetap pada pendiriannya.
"Nanti saya akan kirimkan setengahnya dulu, setelah kontrak di tanda tangani baru saya berikan sisanya"
"Baik tuan Andika, terima kasih atas bantuannya dan selamat malam"
Andika tidak menjawab apapun lagi dan langsung memutuskan sambungan telponnya, sedangkan Tasya masih terus menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Andika.
"Kenapa kamu berikan uangnya ke mereka mas? Kalau seperti itu aku jadi tambah terlihat seperti anak yang di jual orang tuanya sendiri mas"
"Sshhuutt, kamu engga boleh bicara seperti itu. Dengarkan aku ya, aku punya alasan tersendiri untuk melakukan itu" Andika memegang kedua pipi Tasya dan mengangkat kepalanya agar menatap Andika, walaupun Tasya tetap membuang mukanya ke arah kanannya.
"Apa alasan kamu mas?" Tasya akhirnya menatap Andika.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena ada saatnya dimana kamu juga akan tau dengan sendirinya. Jadi aku minta kamu bersabar ya dan ikuti saja apa yang aku lakukan pada mereka, bisa Tasya?" Tasya mengangguk pelan dan membuat Andika tersenyum sembari mengusap surai rambut Tasya.
Setelah menyelesaikan masalah dengan Ferdian dan Miranti, Andika dan Tasya melanjutkan kembali kegiatan membacanya sampai jam makan siang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments