Hari ini adalah hari terakhir Tasya menjalani kehidupannya seorang diri, karena setelah acara pernikahannya berakhir Tasya akan berstatus sebagai seorang istri dari CEO kaya raya yang namanya sudah terkenal di mana-mana.
Andika akan di mulai sebentar lagi dan dirinya juga sudah resmi menjadi nyonya Tasya Dirgantara, jadi mau tidak mau dirinya harus sudah bisa menerima menikah dengan pria yang tidak dia cintai sama sekali dan Tasya juga harus bisa menerima apapun kekurangan dari Andika.
Setelah Tasya pikir-pikir lagi, mungkin ini jalan yang terbaik untuknya. Karena dengan begitu dia tidak perlu berkorban lagi untuk keluarganya, bahkan sekarang dirinya bisa terbebas dari perlakuan buruk ibu dan kakak tirinya yang selama ini dirinya tahan demi mengambil kembali perhatian papanya.
semua sudah siap dan acarapun juga sudah di mulai, tapi sejak tadi hanya Tasya yang berada di kursi pelaminan untuk bersalaman dengan tamu undangan yang datang ke acara pernikahannya.
"Mas Andika mana sih? Kenapa dari tadi belum muncul juga? Mana aku belum tau lagi wajahnya seperti apa"
Tasya berbicara dengan dirinya sendiri sembari celangak celinguk mencari yang mana suaminya. Sampai akhirnya tiga orang ibu-ibu dari komplek dekat rumah Tasya datang menghampirinya untuk memberikan ucapan selamat dan meminta foto.
"Nak Tasya selamat ya atas pernikahannya, semoga bisa langgeng sampai kakek nenek" ucap salah satu ibu-ibu yang menggunakan baju berwarna merah sembari memegang tangan Tasya.
"Terima kasih banyak ya bu atas doanya dan terima kasih juga ibu-ibu semua sudah menyempatkan waktu untuk datang ke pernikahan saya" Tasya memberikan senyumnya pada ketiga ibu-ibu itu.
"Iya sama-sama neng Tasya... Oh iya, suaminya mana neng? Kami mau minta foto sama kalian berdua" ucap salah satu ibu-ibu lainnya yang menggunakan baju biru.
Tasya langsung terdiam setelah ketiga ibu-ibu itu menanyakan keberadaan Andika, hal itulah yang sedari tadi Tasya takuti dan sekarang sudah benar-benar terjadi. Otak Tasya terus berpikir keras supaya bisa menjawab pertanyaan ibu-ibu itu tanpa membuat mereka curiga.
"Neng... Neng Tasya engga apa-apa?" salah satu ibu-ibu itu mengibaskan tangannya di hadapan Tasya.
"Eh! I-iya bu, saya baik-baik saja kok bu" Tasya langsung memberikan senyumannya.
"Syukurlah kalau nak Tasya baik-baik saja, soalnya tadi nak Tasya tiba-tiba melamun. Jadi suaminya ada dimana nak?"
Ibu-ibu itu masih terus-menerus bertanya keberadaan Andika sembari celangak celinguk ke sekeliling mereka, padahal Tasya yang istrinya saja belum mengetahui keberadaan dan juga kabar suaminya
Awalnya Tasya berharap Andika datang di saat dirinya sudah mengulur waktu untuk menjawab ketiga ibu-ibu itu, tapi sayangnya harapan Tasya sia-sia dan masih belum ada tanda kehadiran Andika.
Akhirnya Tasya memutuskan untuk menjawab pertanyaan mereka, tapi sebelum itu dirinya melihat ke arah Ferdian terlebih dahulu untuk agar papanya juga menerima apapun jawaban yang akan Tasya berikan.
"Suami saya lagi di kamar mandi bu, tadi katanya sakit perut" Tasya tersenyum tipis.
"Oh di kamar mandi, apa engga sebaiknya di periksa ke sana neng? Soalnya dari tadi engga balik-balik ke sini loh, takutnya ada apa-apa neng" ibu-ibu itu saling melihat satu sama lain.
"Iya nanti saya akan minta orang untuk memeriksanya bu"
"Ya sudah, kalau begitu kita foto sama neng Tasya saja deh! Boleh kan neng?"
"Iya boleh bu kok bu" mereka berempat langsung memulai sesi fotonya.
Selesai foto ibu-ibu itu langsung berpamitan dengan Tasya, Ferdian, dan juga ibu tiri Tasya. Sembari berjalan ibu-ibu itu terus membicarakan tentang acara resepsi pernikahan Tasya, bahkan pembicaraan itu masih bisa terdengar di telinga Tasya.
Tasya hanya bisa terduduk diam setelah mendengar perkataan ibu-ibu tadi, dirinya jadi berpikir apa Andika sengaja tidak datang untuk mempermalukannya? Tasya juga berpikir tentang bagaimana caranya untuk menghadapi tamu undangan kalau nanti ada ada yang bertanya tentang Andika lagi.
Di saat Tasya masih bergelut dengan semua pikirannya itu, dia melihat pria menggunakan setelan jas berwarna putih yang sedang menuju ke arahnya. Tasya langsung mengira kalau itu Andika yang sedang dirinya tunggu ke dagangannya, bahkan Tasya tidak melepas pandangannya dari pria itu.
"Selamat siang non Tasya, perkenalkan saya Mario asisten pribadi tuan Andika"
harapan Tasya seketika hancur setelah dirinya tau pria yang tadi dilihatnya ternyata Mario, orang yang belum pernah dirinya lihat wajahnya dengan jelas. Karena waktu pertemuan makan malam itu Mario menggunakan masker.
"Dimana Andika? Kenapa dia belum datang ke sini?" Tasya langsung berdiri dan menatap Mario dengan tatapan menginterogasi.
"Maaf nona Tasya, tuan Andika tidak akan datang ke sini"
"Hah! Dia engga akan datang? Apa ini rencana dia sengaja buat saya malu?" Tasya melipat tangannya di depan dadanya.
"Apa nona lupa? Di syarat yang saya berikan waktu itu sudah tertulis, bahwa tuan Andika hanya akan melakukan ijab kabul saja dan tidak akan datang ke resepsi pernikahannya"
Tasya mengingat kembali syarat yang dirinya baca waktu di restoran itu, dan ternyata benar yang di katakan Mario adalah salah satu syarat yang di berikan Andika padanya.
Andika memberikan syarat itu dengan alasan yang masih belum di ketahui baik Mario ataupun Tasya.
"Bagaimana, nona sudah bisa mengingatnya? Apa perlu saya tunjukkan kembali syarat yang sudah di tanda tangani nona Tasya?"
"Tidak perlu! Iya saya sudah ingat, tapi....."
Tasya belum sempat menyelesaikan perkataannya, karena ada tamu undangan yang menghampirinya lagi dan bahkan meminta untuk berfoto dengan dirinya dan juga Andika.
Lagi-lagi Tasya hanya terdiam dan sepasang suami istri itu langsung menatapnya dengan bingung, padahal itu adalah hari bahagianya tapi kenapa pengantin wanita terlihat sangat sedih begitu.
"Nak Andika, apa neng Tasya baik-baik saja? Kenapa dia terlihat sedih seperti itu?"
Bapak itu juga salah mengira kalau Mario adalah Andika, pasalnya dia berdiri di dekat Tasya. Tasya yang mendengar hal itu langsung mendapatkan ide, agar dirinya tidak harus berbohong dan menahan malu lagi.
"Saya baik-baik saja kok pak, mari kita foto bersama pak, bu" Tasya tersenyum dan langsung menggandeng lengan tangan Mario, dia berpikir tidak ada salahnya menggunakan Mario sebagai pengganti Andika. Selain Mario memiliki wajah yang bisa di bilang tampan dan Tasya juga tidak punya pilihan lain lagi.
Mario yang terkejut tangannya di gandeng Tasya langsung mencoba melepaskannya, tapi untungnya Tasya sudah menggandengnya dengan erat karena tau Mario akan melakukan hal itu.
"Nona Tasya ini tidak benar, saya bisa terkena marah oleh tuan Andika nanti" Mario berbicara dengan suara pelan.
"Sebentar saja! Saya tidak ingin malu untuk ke dua kalinya" Tasya juga menjawab dengan suara pelan sembari menatap ke kamera dan memaksakan senyumnya.
Seberapa keras usaha Mario untuk melarang Tasya melakukan semua itu, tapi Tasya tetap tidak mendengarkannya. Saat sepasang suami istri itu selesai berfoto, Mario langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan Tasya lagi.
"Loh! Loh! Kenapa suaminya pergi nak Tasya?" ibu itu langsung menunjuk ke arah Mario yang berjalan dengan terburu-buru.
"Tadi dia bilang mau ke kamar mandi bu, karena sudah kebelet" mau tidak mau Tasya kembali berbohong lagi.
"Oh begitu, ibu kira kalian ada masalah. Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu ya nak Tasya"
"Iya bu, terima kasih ya bapak sama ibu sudah datang" Tasya memberikan senyumannya.
Sepasang suami istri itu hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan mereka langsung pergi dari sana, Akhirnya Tasya melanjutkan acara itu sampai selesai hanya sendirian saja dan memberikan kebohongan yang sama terus-menerus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments