Selena semakin tersulut emosinya, manakala Carlton membentaknya di depan umum. Tapi yang harusnya kesal disini adalah Elliana, karena Selena sendiri yang tidak profesional dalam bekerja.
“Saya akan menganggap tamparan yang nona berikan, adalah penalti yang harus kami berikan karena membatalkan kontrak kerja sama dengan nona Selena. Walaupun nona Selena sendiri yang tidak profesional dan bekerja.” Elliana menanggapi kelakuan Selena yang bar-bar dengan tenang.
“Apa ada hal lain yang ingin nona Selena sampaikan?” Tanya Elliana.
“Kalau begitu saya permisi, karena masih ada pekerjaan.” Imbuh Elliana tanpa memberikan waktu pada Selena untuk membuka mulutnya.
Pyasss...
“Arrggghhh...” Rintih Carlton.
Selena meraih segelas kopi panas yang kebetulan di bawa oleh seorang OB. Kejadian itu tidak bisa di prediksi, namun Carlton dengan sigap melindungi Elliana. Sehingga punggungnyalah yang menjadi sasaran kopi panas yang akan Selena siramkan pada Elliana.
Elliana sendiri menganga setelah Carlton melepas rengkuhannya, melihat suaminya mengibas-ngibaskan jasnya karena kepanasan.
“Ca-carlton...” Selena terdengar gugup, dia sendiri terkejut dan tidak tahu kalau Carlton akan melindungi Elliana.
Manajer Selena berusaha membawa artisnya untuk pergi dari sana, sebelum semuanya semakin runyam. Tak lupa dia juga membungkuk, meminta maaf pada semuanya atas keributan yang terjadi.
“Ki-kita ke rumah sakit ya.” Ajak Elliana dengan membantu memapah Carlton.
Sesampainya di parkiran, Elliana meminta kunci mobil pada Carlton. Namun Carlton tidak mau memberikannya, laki-laki itu tahu, Elliana tidak akan mungkin fokus menyetir saat ini.
“Hallo... Pak Parno, bisa tolong antar ke rumah sakit?” Elliana menghubungi Parno, sopir di kantornya.
Tak lama, Parno datang sudah siap dengan mobilnya. Laki-laki paruh baya itu membantu Elliana membukakan mobil.
Kurang lebih lima belas menit, mereka sampai di rumah sakit. Selama perjalanan pun Elliana terlihat sangat panik, andai saja mereka ada di rumah, Carlton pasti sudah memeluknya. Agar Elliana lebih tenang dan tidak terlalu mengkhawatirkannya.
“Bagaimana keadaannya dok?” Elliana masih saja terlihat khawatir, perempuan itu baru saja kembali dari mengurus administrasi dan juga mengambil obat di apotek.
“Tuan Carlton, baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu parah, tadi sudah di olesi salep. Jadi sudah bisa pulang.”
Elliana menghembuskan napasnya lega. Entah kenapa, Carlton terkekeh melihat Elliana yang saat ini sudah tidak sepanik tadi.
“Apa yang kamu tertawakan?” Kesal Elliana.
“Wajahmu itu kalau sedang panik gemesin juga ya...” Ledek Carlton.
“Astaga. Jadi kamu ngerjain aku, Carl?” Pekik Elliana, namun kemudian memelankan suaranya karena sadar mereka berada di UGD.
“Salah kamu sendiri, tidak memberikanku kesempatan untuk bicara.”
Elliana memanyunkan bibirnya, andai saja Carlton memegang karet, mungkin bisa saja bibir itu diikat olehnya karena saking majunya.
“Tapi kopi tadi beneran panas. Beruntung jas yang aku pakai ini mahal, jadi kopi itu tidak meresap langsung ke kulit punggungku.” Sombongnya.
Plak.
Tanpa sadar, Elliana memukul bagian tubuh Carlton yang terkena kopi panas tadi.
“Akhhh... Sakit tahu.” Rengek Carlton.
“Ah... Maaf aku sengaja.”
“Astaga, ini KDRT namanya.”
“Lantas yang kamu lakuin selama ini, bukan KDRT namanya?” Sindir Elliana.
Carlton mengerlingkan matanya, berusaha mencerna ucapan istrinya dan mengingat kembali kejadian saat dia memaksa Elliana untuk melayaninya. Dan kejadian-kejadian kecil lainnya saat Carlton bersikap kasar pada Elliana.
“Maaf...” Lirih Carlton namun masih bisa di dengar oleh Elliana.
“Apa?”
“Maaf...”
“Saya tidak bisa mendengarnya tuan. Tuan bicara apa?”
“Astaga. Aku bilang maaf.” Ucapnya dengan keras.
Kini giliran Elliana yang terkekeh. Pasalnya, laki-laki itu tak pernah di sangka oleh Elliana ternyata bisa minta maaf padanya.
“Ayo pulang.”
“Kamu lupa, ini masih jam kerja. Lagi pula mobil kamu masih di kantorku, Carl.”
Carlton melirik jam di pergelangan tangannya.
“Ini sudah waktunya makan siang. Jadi kita makan dulu sebelum kembali kerja.” Carlton menarik tangan Elliana.
Elliana meminta Parno untuk kembali lebih dulu ke kantor, karena dia beralasan akan mampir ke satu tempat sebelum kembali ke kantor.
Sepasang suami istri itu pergi dengan taksi online, menuju ke sebuah restoran.
Padahal ini adalah jam makan siang, tapi restoran itu tampak sepi. Elliana kemudian menatap Carlton. Walaupun tanpa bicara apapun, Carlton mengerti arti tatapan istrinya.
“Kamu lupa, siapa suami kamu? Untuk hal seperti ini sangatlah mudah. Aku hanya tidak mau ada yang mengganggu kencan kita.” Tukasnya.
*Kenca*n apanya? Kita kesini hanya untuk makan siang. Batin Elliana.
Dalam keadaan terluka seperti ini, Carlton malah memikirkan kencan. Elliana tak habis pikir dengan suaminya itu.
“Kamu mau makan apa?”
“Apa aja.”
“Okey.”
Carlton mengacungkan tangannya, memanggil seorang pelayan. Pelayan itu langsung mendekat ke arahnya, sudah siap dengan pena dan juga catatan di tangannya.
“Pesanan akan segera kami siapkan, tuan. Mohon tunggu sebentar.” Ucap pelayan tersebut.
Keduanya menunggu makanan yang mereka pesan dengan sesekali membahas hal-hal receh.
Benar kata pelayannya, pesanannya memang tidak butuh waktu lama untuk di hidangkan di hadapannya. Dua piring spageti carbonara dan dua gelas lemon tea, sudah ada di hadapan mereka.
“Setelah ini, kita kembali ke kantor masing-masing.” Putus Elliana, tanpa menerima pendapat atau protes apapun dari Carlton.
Sebelum Elliana benar-benar pergi dari hadapannya, Carlton menahan tangan Elliana. Laki-laki itu merogoh sesuatu dari kantong celananya. Dia membuka kotak yang berasal dari kantongnya itu, mengambil isinya, lalu memakaikan sebuah gelang pada tangan kiri Elliana.
“Selamat ulang tahun, Elliana.” Ucapnya lembut setelah berhasil memasangkan gelang tersebut.
Gelang rantai yang baru saja di sematkan pada tangan Elliana, merupakan gelang berlian produk keluaran B Jewellery. Brand perhiasan yang cukup terkenal. Meskipun simpel dan tidak mencolok, tidak mengurangi kemewahannya. Siapapun yang melihatnya akan tahu, kalau gelang tersebut adalah gelang mahal.
“Makasih banyak, Carl.” Elliana tersipu dan merasa senang dengan hadiah yang di berikan suaminya.
Bukan karena harganya, tapi perhatian yang di berikan oleh Carlton padanya.
“Sama-sama.” Carlton tersenyum dengan lebarnya, sambil menyentuh pipinya dengan lembut
Deg.
Jantung Elliana memompa darah dengan cepat, sehingga detak jantungnya berdegup dengan kencangnya. Bahkan sampai lupa, pipi yang di sentuh Carlton masih terasa sakit akibat tamparan Selena.
“Masih sakit?”
“Tidak terlalu.”
Meskipun Elliana sudah mengatakan kalau mereka kembali ke kantor secara terpisah, tapi Carlton tetap kekeh pergi dengan Elliana menggunakan taksi yang sama menuju kantor istrinya. Karena mobil Carlton ada di sana. Elliana sendiri sampai lupa.
Jam makan siang hampir berakhir saat Carlton akan kembali ke kantornya, Felix sudah menghubungi Carlton agar langsung datang ke tempat di mana akan bertemu dengan seorang penulis yang akan di kontrak oleh perusahaannya.
Biasanya Sony ataupun Felix yang menemui penulis secara langsung, tapi kali ini tidak. Penulis yang satu ini agak susah untuk di temui, makanya Carlton yang berusaha untuk menemuinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments