Roti Sobek

Elliana memilih meninggalkan Carlton yang masih berdiri di tempatnya, dari pada harus bertengkar lebih lama. Perempuan itu berlari kecil menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya.

Berendam air hangat mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa lelahnya. Setelah seharian bekerja, pulang ke rumah bukannya mendapat senyum manis dari suaminya, malah pertengkaran yang dia dapat.

Tiga puluh menit, Elliana masih betah di dalam bathtub dengan telinganya di sumpal dengan headset. Sampai dia dikejutkan dengan pintu kamar mandi tiba-tiba di buka dengan paksa, lebih tepatnya di dobrak oleh Carlton.

“Carlton!!!” Teriak Elliana.

Karena teriakan itu menggema di kamar mandi, laki-laki itu sempat melihat Elliana masih berada dalam bathtub, secepat kilat dia memutar tubuhnya membelakangi Elliana.

“Apa yang kamu lakukan?” Elliana sibuk menutupi tubuhnya dengan busa sabun yang masih tersisa.

“Ka-kamu mandi atau pingsan?” Carlton bertanya dengan gugupnya.

Bukan tanpa alasan, Carlton mendobrak kamar mandi Elliana karena tiga puluh menit lamanya, perempuan itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Carlton sempat mengetuk pintu, bahkan memanggilnya berulang kali.

“Tolong keluar dari sini, a-aku...” Elliana bingung bagaimana caranya mengatakan pada Carlton, bahwa saat ini dia dalam keadaan polos.

Tanpa menjawab perkataan Elliana, Carlton keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Elliana dan juga daun pintu kamar mandi yang rusak akibat ulahnya.

Setelah membilas tubuhnya, Elliana keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobenya. Buru-buru dia mengunci kamarnya, karena takut Carlton kembali lagi ke kamarnya.

Deg. Deg. Deg.

Detak jantungnya layaknya gendang yang di tabuh dengan kerasnya, bisa jadi, siapapun yang berada di dekatnya dapat mendengar dengan jelas suara detak jantungnya.

Elliana mengelus dadanya dan juga menarik napas panjang berulang kali, untuk menetralkan rasa gugupnya.

Keadaan itu di rasakan juga oleh Carlton. Setelah keluar dari kamar Elliana, laki-laki itu pergi ke dapur. Setengah botol air mineral yang baru saja keluar dari kulkas, dia minum sampai menetes ke bajunya.

“Carl... Ada perlu apa kamu mencariku?” Tanya Elliana yang baru saja turun dari kamarnya.

Uhuk. Uhuk. Uhuk.

Melihat penampilan Elliana yang memakai baju tidur beraksen renda di bagian dada dengan juga celananya yang pendek, membuat Carlton harus tersedak air minum.

“Kamu baik-baik aja?” Elliana tidak tahu kalau dirinyalah yang membuat Carlton sampai tersedak.

“It’s ok.” Carlton mengangkat tangannya, memberikan isyarat bahwa Elliana tidak perlu mendekat padanya.

Pikirannya tidak bisa fokus, karena bayangan tubuh polos Elliana yang sempat di lihatnya tadi semakin tergambar dengan jelas, apalagi saat ini dia melihat Elliana terlihat sangat cantik.

Tidak. Dia tidak cantik. Carlton menggelengkan kepalanya, rona merah di wajahnya semakin terlihat dengan jelas.

“Carl, apa kamu demam? Wajamu merah sekali.” Elliana mengulurkan tangannya, menyentuh dahi suaminya.

Posisi mereka yang begitu dekat, membuat harum tubuh Elliana semakin menguar, memanjakan indra penciumannya.

“Aku baik-baik saja, Elliana.” Carlton melepaskan sentuhan tangan istrinya, dengan nada dinginnya.

“Baiklah.”

“Aku cuma mau bilang, aku menyetujui persyaratan yang kamu berikan tadi pagi.” Ucap Carlton tanpa menatap Elliana.

Tiga bulan itu tidak akan lama. Batin Carlton.

“Terima kasih.” Senyum Elliana mengembang dengan sempurna.

Dan akan aku pastikan, kamu akan mengingatku lagi, meskipun waktu kita tidaklah banyak, Carl. Gumam Elliana dalam hatinya.

...*****...

Carlton terus mengubah-ubah posisi tidurnya, karena laki-laki itu tak kunjung mengantuk. Sedangkan perempuan di sampingnya, terlihat sudah terbuai dengan alam mimpi. Buktinya, beberapa kali Carlton membuat gerakan, Elliana sama sekali tidak bergerak.

Dia menatap punggung istrinya, karena saat ini Carlton tidur dengan posisi menghadap pada istrinya. Cepat-cepat dia menutup matanya, ketika Elliana mengubah posisi tidurnya menghadap ke arahnya. Laki-laki itu mengintip untuk memastikan apakah Elliana bangun atau tidak.

Elliana masih terpejam, bulu matanya yang lentik menghiasi kedua matanya. Hidungnya mancung, serta bibirnya berwarna merah muda tanpa polesan lipstik menjadi pusat perhatian Carlton.

****. Carlton mengumpati dirinya sendiri.

Entah dorongan dari mana, tangannya terulur, menyelipkan anak rambut yang terjuntai ke belakang telinga. Tangannya mengusap lembut pipi Elliana, hingga tanpa sadar dia memajukan wajahnya.

Cup.

Satu kecupan lembut berhasil dia curi tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Astaga, Carl. Gila kamu! Rutuknya dalam hati.

Dari pada terjadi hal yang lebih dari sekedar kecupan, Carlton beranjak dari tempat tidurnya menuju ke sofa yang ada di kamarnya. Anehnya, setelah mencium Elliana, matanya semakin mengantuk hingga dia pun tertidur.

Mendengar dengkuran halus berasal dari Carlton, Elliana menyunggingkan senyumnya meskipun matanya tetap terpejam. Sebenarnya dia sudah tidur, tapi pergerakan terakhir dari Carlton membuatnya terusik. Tapi dia sengaja tidak membuka matanya.

Mungkin otak kamu bisa lupa, Carl. Tapi tidak dengan hati dan juga tubuhmu. Kalau tidak, mana mungkin kamu bisa menciumku dengan lembut seperti tadi. Batin Elliana merasakan hatinya seperti kupu-kupu yang beterbangan.

Pagi menyingsing, Carlton terbangun karena ponselnya yang terus berdering. Tertera nama Selena yang memanggil.

“Honey, kamu kemana aja? Dari semalem aku chat nggak di bales.” Rengek Selena.

“Maaf, Selena aku ketiduran.” Tukasnya.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan, tapi tidak mendapati istrinya. Tempat tidurnya sudah rapi, lalu ada pakaian kerjanya tersimpan di atasnya. Mungkin Elliana yang menyiapkan semua itu.

“Honey, kamu dengar aku nggak sih?” Kesal Selena.

“Aku dengar Selena.”

“Jadi apa kamu mau menemaniku pergi ke luar kota?”

“Aku nggak bisa, Sel. Aku sibuk.”

Padahal bisa saja dia pergi dengan Selena, tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Selena dalam waktu tiga bulan ke depan.

Terdengar nada kecewa dari Selena setelah mendengar jawaban dari Carlton. Dia pun memutuskan sambungan teleponnya.

Carlton menyambar handuknya, lalu memasuki kamar mandi. Lima belas menit dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.

Elliana yang baru saja masuk ke kamar langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi pemandangan roti sobek milik suaminya.

“A-aku udah selesai masak. Kalau kamu mau sarapan, aku tunggu di meja makan.” Ucapnya lalu pergi dari kamar meninggalkan suaminya, tanpa menoleh kebelakang lagi.

Mau tak mau, Carlton harus makan bersama dengan Elliana. Karena perutnya yang semakin keroncongan, setelah mencium aroma nasi goreng begitu dia turun dari kamarnya.

Carlton menghabiskan satu porsi nasi goreng tanpa banyak bicara, meski begitu Elliana sangat senang karena suaminya mau memakan masakannya.

“Apa benar, tuan Nuel adalah kakakmu?” Tiba-tiba Carlton bertanya kembali tentang ucapan Elliana semalam.

“Hmmm.”

“Apa kamu cucu perempuannya nyonya Gayatri yang hilang?” Carlton semakin di buat penasaran.

Siapapun yang berusaha mencari keberadaan cucu dari seorang Gayatri selalu menemukan fakta yang berbeda-beda. Jelas saja, karena orang-orang Gayatri sendiri yang membuat orang-orang bingung dengan keberadaannya. Demi melindungi cucu perempuannya yang selalu saja berada dalam bahaya.

“Aku belum bisa cerita semuanya. Tapi suatu saat, kalau kamu bisa mengingatku lagi. Aku akan menceritakan detailnya sama kamu.” Jelasnya.

Respons Carlton di luar dugaan, Elliana menatap heran ke arah suaminya yang tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucaoannya.

“Apa ada yang lucu, Carl?” Elliana memicingkan matanya.

“Halusinasi kamu tinggi juga rupanya.” Ucapnya dengan sisa-sisa tawanya.

“Terserah.” Elliana memutar bola matanya malas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!