Akhiri Semuanya Sekarang Juga!

Elliana mendengus. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Hanya memasak mie yang mudah pun, Carlton tidak bisa. Tapi kemudian Elliana terkekeh, membuat Carlton betah menatap wajah cantik Elliana.

“Kamu itu cantik kalau tertawa seperti ini.” Gumam Carlton.

“Kamu bilang apa?”

“Ti-tidak, aku tidak bilang apapun. Ayo kita cari makan di luar, aku juga ikutan lapar.”

Elliana sama sekali tidak diberi kesempatan menolak, karena Carlton terus menggenggam tangan Elliana sampai masuk ke dalam mobil.

Beberapa menit kemudian Carlton berhenti di depan angkringan sate Madura.

“Kenapa belum turun?” Carlton menundukkan kepalanya di depan Elliana, karena perempuan itu hanya menurunkan kaca mobil.

“Apa kamu tidak melihat baju yang aku pakai, Carl?”

Carlton lupa, kalau Elliana memakai piama, meskipun panjang, tapi mungkin bagi perempuan hal itu adalah hal yang memalukan jika di pakai ke luar rumah.

Carlton pergi sendiri memesan sate, setelah mendapatkannya, dia bawa ke dalam mobil. Karena lapar, keduanya langsung makan tanpa banyak mengobrol lagi.

“Carlton, kita mau kemana?” Elliana hampir saja lupa, kalau jalanan yang mereka lewati ternyata bukanlah arah pulang.

“Jalan-jalan sebentar.” Jawab Carlton tanpa beralih dari fokusnya menyetir.

Elliana hanya bisa menerka-nerka suaminya akan membawanya kemana.

“Kenapa kita ke kantormu, Carl?”

Carlton memutar bola matanya malas, sejak tadi Elliana banyak sekali bertanya.

“Pakai ini!” Laki-laki itu menyerahkan mantelnya pada Elliana.

Turun dari mobil dan selama berada dalam lift, Carlton tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Elliana pun tidak berusaha untuk melepaskan tangannya.

“Lihatlah.” Carlton menunjuk dengan dagunya.

Pemandangan malam yang sangat indah. Lampu jalanan dan beberapa gedung yang menjulang tinggi masih menyala. Sedangkan kendaraan yang berlalu lalang masih saja memadati jalanan. Padahal saat ini sudah hampir jam satu malam.

“Aku yakin, mungkin kamu tidak ingat. Malam sebelum kamu kecelakaan, kita janjian untuk merayakan anniversary pernikahan kita yang pertama Carl.”

Tidak, Ellie. Aku bukan tidak ingat. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Batin Carlton.

“Aku pikir, saat itu adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua isi hatiku. Karena aku merasa, kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku.”

Kamu benar. Malam itu, aku mau bilang kalau...

Elliana membalikkan tubuhnya, sehingga saat ini dia berhadapan dengan Carlton.

“Tapi kalau memang dari awal kamu tidak ada niat untuk mempertahankan rumah tangga kita...” Elliana menjeda ucapannya.

Carlton semakin gusar di tempatnya, kala melihat Elliana memejamkan matanya dan menarik napas panjang.

“Tolong, jangan berikan aku harapan dengan setuju memberikan aku waktu untuk kamu mengingat aku lagi, Carl. Akhiri semuanya sekarang juga!" Air mata Elliana jatuh begitu saja.

Sungguh, keputusan yang di ambilnya sangatlah berat. Bagaimana tidak? Elliana sudah jatuh cinta terlalu dalam pada suaminya.

“Dengan begitu, kamu tidak perlu membuang-buang waktu percuma.” Meskipun bibirnya tersenyum, tapi air matanya tidaklah bohong.

...*****...

Sebelum turun dari kamar, Carlton menyuruh Elliana untuk duduk diam di sofa yang ada di kamarnya. Sementara dia mengganti plester luka yang semalam. Dia beralasan supaya tidak infeksi. Hanya mengganti plester bukanlah hal yang sulit untuk di lalukan, tapi Elliana dengan senang hati membiarkan suaminya melakukannya.

“Aku antar.” Carlton merebut kunci mobil milik Elliana.

“Aku bisa sendiri.” Elliana menolak, lalu berusaha mengambil kembali kunci mobilnya.

Dilihat dari tubuh Carlton yang lebih tinggi dari Elliana, membuatnya jadi tidak bisa merebut kembali kuncinya, karena Carlton memegang kunci mobil dengan cara mengacungkannya ke atas. Elliana tidak menyerah, lantas dia meloncat-loncatkan tubuhnya supaya bisa menjangkau ujung tangan Carlton yang tengah memegang kunci.

Carlton tertawa dengan puasnya karena berhasil membuat Elliana cemberut. Karena kesal, Elliana mendorong tubuh Carlton. Sehingga laki-laki itu limbung ke atas sofa, karena asyik tertawa dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.

Bukan hanya Carlton yang jatuh, tapi Elliana juga ikut jatuh dan menimpa tubuh Carlton. Sepersekian detik, mereka beradu tatap. Tapi setelahnya buru-buru Elliana berusaha bangun. Tapi tangan Carlton menahan tubuhnya.

“Le-lepas, Carl. Jangan buat aku terlambat.” Elliana berusaha dengan keras untuk melepaskan diri.

Matanya kini menatap wajah Carlton yang saat ini terbilang cukup dekat dengan wajahnya.

Seketika Elliana teringat dengan kejadian semalam, dimana keduanya akhirnya berciuman kembali, bedanya saat itu Carlton menciumnya dengan lembut dan hampir membuatnya lupa, mereka sedang ada di mana.

Cup.

“Morning kiss.” Carlton mengecup bibir istrinya yang berwarna nude karena lipstik yang di pakainya.

Tanpa merasa bersalah, Carlton membantu Elliana bangun lalu pergi begitu saja. Mau tak mau, Elliana berangkat dengan di antar oleh suaminya.

“Kapan shooting pertama dilakukan?” Carlton membuka suaranya, setelah beberapa lama mereka saling diam.

“Besok.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, Elliana turun dari mobil agak jauh dari kantornya. Meskipun awalnya Carlton ingin mengantarnya benar-benar sampai di kantor.

“Aku pikir, kamu masih berusaha menggoda pak Nuel. Tapi, sudah punya mangsa baru ternyata.” Sindir Rinda, yang tidak sengaja berpapasan dengan Elliana saat menaiki lift.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kamu turun dari mobilnya tuan Carlton? CEO dari CAV media?” Kepo Rinda.

“Kebetulan episode yang akan datang, kami mengundang beliau untuk ikut di program acara Let’s Cook!”

Rinda terlihat sangat kesal setelah mendengar ucapan Elliana. Bagaimana tidak? Setiap kali dia mengundang Carlton, laki-laki itu selalu menolak dengan berbagai alasan. Dia pun tidak pernah bertemu secara langsung dengannya, tapi siapa yang tidak kenal dengan Carlton?

Elliana keluar dari lift lebih dulu, bibirnya tersenyum karena berhasil membuat Rinda kesal.

Awas kamu, Elliana! Rinda mengentakkan kakinya.

Elliana baru saja masuk ke ruangannya, fokusnya teralihkan pada dering ponselnya.

Oma?

“Hallo, oma.” Sapa Elliana.

“Cucu oma, kapan mau ke rumah?”

“Emmm... Maaf oma, aku belum sempat datang ke rumah. Kalau kerjaan aku udah selesai, aku usahain ke rumah. Oma sehat kan?”

“Dasar anak nakal. Kalau oma tidak meneleponmu, pasti kamu tidak akan datang ke rumah. Iya kan?” Canda perempuan tua yang di panggil oma olehnya.

“Nggak tuh. Aku emang ada rencana ke rumah.” Elliana berkilah.

“Baiklah, oma tunggu. Jangan lupa ajak suami kamu.”

“Apa tidak apa-apa oma?” Elliana ragu.

Karena baru kali ini, neneknya menyuruh Elliana mengajak Carlton. Bukan tanpa alasan. Karena selama ini tidak ada yang tahu latar belakang keluarga Elliana. Hanya segelintir orang saja yang tahu.

“Ada yang mau oma bicarakan dengannya.”

“Iya oma. Sampai nanti.”

Klik.

Lantas, Elliana langsung mengirimkan pesan pada suaminya. Bersedia datang ataupun tidak, itu urusan Carlton. Tapi setidaknya, Elliana sudah menyampaikan keinginan omanya.

 

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

kakak nya aja ganas..masak gak bisa melindungi elli. mau sampe kapan di sembunyi kan identitasnya.

2024-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!