Bidadari Cantik

Meeting pagi itu berakhir sebelum jam makan siang tiba. Semuanya kembali ke meja masing-masing.

“Nad, tolong buatkan rundown untuk episode minggu depan. Aku tunggu besok pagi, ya.”

“Bu Elliana yang cantik, apa tenggang waktunya tidak terlalu mepet?” Nadila merayu Elliana.

“Baiklah, kalau nanti malam bagaimana bu Nadila?”

“Ish... Bu Elliana ternyata sangat kejam.”

Elliana hanya terkekeh dengan kelakuan Nadila. Demi menyenangkan Nadila yang tengah merajuk, Elliana mengajak sahabatnya itu pergi untuk makan siang.

Karena mobil miliknya masih berada di bengkel, jadi dia pergi ke restoran yang tak jauh dari kantornya. Sehingga bisa di tempuh dengan berjalan kaki saja.

Brugh.

Seorang laki-laki tidak sengaja bertabrakan dengan Elliana, sampai ponsel yang di pegangnya jatuh.

“Maaf... Maafkan saya, tadi buru-buru.” Ucap laki-laki itu sambil memberikan ponsel Elliana.

“Buru-buru sih buru-buru mas, tapi hati-hati juga dong.” Kesal Nadila.

“Sekali lagi saya minta maaf.” Laki-laki itu menangkupkan kedua tangannya.

“Lho, kak Sony?” Rupanya Elliana mengenal laki-laki yang menabraknya itu.

“Bidadari cantik? Kamu Elliana kan? Istrinya...” Ucapannya menggantung, kala melihat ada orang lain di sana.

“Nadila tahu kok, kak.”

“Ah begitu.”

“Kenalin kak, ini sahabat aku. Nadila.”

“Sony.”

“Nadila.” Ucap mereka bergantian setelah saling menjabat tangan.

“Kalian mau makan siang?”

“Iya kak. Kita duluan ya.”

“Baiklah, sampai jumpa lagi bidadari cantik.” Sony melambaikan tangan ke arah Elliana.

Begitulah, laki-laki satu ini adalah playboy cap kadal. Setiap ada perempuan cantik, selalu bilangnya ‘bidadari cantik’. Hal serupa pernah terjadi pada Elliana, Sony pernah menyebut kata ajaib itu padanya di hadapan Carlton. Sampai saat ini, Sony selalu memanggilnya seperti itu, meskipun tahu kalau Elliana adalah istri sahabatnya.

Tiba waktunya untuk pulang, beberapa karyawan yang lain sudah meninggalkan tempat kerjanya. Hanya ada satu atau dua orang yang masih berada di tempatnya untuk lembur.

“Bu Elliana, tunggu!” Ucap Adelia, salah satu anggota tim nya.

“Kenapa Del?”

“Itu bu, emm... Anu...” Adelia ragu untuk memberitahu atasannya.

“Katakan, apa bintang tamu kita ada yang tidak bisa datang?” Tebak Elliana.

“I-iya bu, Rachel sedang ada pemotretan di luar kota. Begitu juga dengan Yunan, manajernya bilang artisnya itu sedang sakit. Jadi kita nggak bisa mengundang mereka ke program acara kita.”

“Baiklah, aku mengerti. Besok kita bicarakan lagi, sekarang pulanglah.”

“Baik bu, terima kasih.”

Seharian ini, Elliana sama sekali tidak merasakan keluhan apapun. Tapi sekarang, badannya terasa begitu lelah. Dia bahkan sampai bersandar pada pilar besar di loby kantornya, saat menunggu taksi pesanannya datang.

Kurang lebih, lima belas menit Elliana menunggu. Akhirnya taksi itu datang juga. Tapi saat tangannya akan membuka pintu, seseorang menahannya lebih dulu. Kemudian memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada sopir taksi tersebut.

“Maaf pak, dia tidak jadi naik taksinya. Ini uang sebagai ganti ongkos taksi bapak.”

“Tidak apa-apa tuan, terima kasih.” Ucap sopir taksi kemudian pergi meninggalkan mereka.

Orang tersebut tak lain adalah Carlton. Laki-laki itu menarik tangan Elliana, membawanya masuk ke dalam mobilnya.

Tanpa sepatah katapun, Carlton melajukan mobilnya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Elliana sama sekali tidak menegur suaminya yang tiba-tiba datang menjemputnya.

Berbeda dari biasanya, kali ini Carlton membuka kan pintu mobil untuk Elliana. Sama seperti tadi, laki-laki itu menarik tangan Elliana masuk ke dalam rumah. Kemudian melepasnya setelah sampai di kamar.

“Apa kamu tidak punya rumah, Elliana?” Carlton menatap tajam ke arah Elliana.

Elliana sendiri bingung, kemana arah pembicaraan suaminya itu. Kenapa dia bertanya seperti itu pada Elliana.

“Jawab!” Sentak Carlton, membuat Elliana terjingkat karena terkejut.

“Apa kamu tidak punya rumah, hah? Keluar dari rumah sakit bukannya pulang, kamu malah pergi ke kantor.”

“Aku baik-baik aja, Carl.”

“Lantas, apa ponsel kamu itu rusak? Berkali-kali aku hubungin tapi sama sekali tidak kamu respon?” Carlton semakin terlihat emosi.

Karena cemburu, Elliana memang sengaja mengabaikan pesan dan juga telepon dari suaminya. Dia tidak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan suaminya, apalagi Carlton pergi ke luar kota bersama dengan Selena.

“Aku sibuk.”

“Sibuk pacaran maksud kamu?” Tuduh Carlton.

“Bukannya kamu yang sibuk berduaan dengan calon istri kamu itu?”

“Maksud kamu Selena?”

“Apa kamu punya calon istri yang lain selain dia?”

“Aku tidak pergi dengannya. Aku pergi ke luar kota dengan Sony dan juga Felix.”

“Sudahlah tidak usah kamu bawa-bawa nama orang lain untuk menutupi semuanya.” Elliana memilih pergi ke kamar mandi.

“Apa kamu cemburu?” Tanya Carlton.

Sungguh, pertanyaan yang konyol bukan? Istri mana yang tidak cemburu saat suaminya memilih perempuan lain dan bahkan pergi keluar kota bersamanya.

“Kenapa? Apa aku tidak berhak untuk cemburu?” Elliana menatap suaminya dengan air mata yang siap untuk tumpah.

Carlton hanya berdiri mematung, sama sekali tidak ada kata yang keluar untuk menjawab pertanyaan istrinya itu. Dia hanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup, setelah Elliana masuk ke dalamnya.

...*****...

Pagi hari, saat Carlton bangun dari tidurnya. Dia sudah tidak mendapati Elliana berada di sampingnya, bahkan istrinya itu melewatkan sarapan pagi. Nana bilang, Elliana pergi dengan terburu-buru.

Carlton pergi ke kantor dengan mood yang tidak baik pagi itu, selain terus terbayang wajah Elliana yang menahan tangisannya semalam. Dia juga kesal, lantaran tangannya seakan lupa cara memakai dasi.

Belum cukup masalah dengan Elliana, sekarang harus di tambah dengan kedatangan Aarav dan juga Marina ke kantornya.

“Untuk apa anda datang ke sini?” Ketus Carlton.

“Mama hanya mengantar papamu, dia bilang bosan di rumah terus.” Tukas Marina.

“Aku tidak bicara denganmu.”

“Jaga bicaramu, Carlton. Bagaimanapun Marina, adalah mama kamu juga.” Sentak Aarav.

“Kalau kedatangan kalian hanya untuk menggangguku bekerja, silakan pergi dari ruanganku. Karena aku tidak punya waktu meladeni kalian.”

“Carlton!” Pekik Aarav.

“Selain kamu lupa pada Elliana, apa otakmu juga ikut bergeser? Sampai kamu lupa caranya bicara dengan sopan pada orang tuamu sendiri?” Aarav terlihat mengetatkan rahangnya.

“Sudah, Pa. Lebih baik kita pulang.”

Carlton melempar berkas-berkas yang sempat di pegangnya, setelah kepergian Aarav dan juga Marina.

Felix yang baru saja masuk, di buat terkejut dengan berkas-berkas yang berserakan di lantai.

“Tuan baik-baik saja?” Felix bertanya sambil memungut kembali berkas yang berserakan.

“Apa persiapan meetingnya sudah siap?”

“Sudah tuan.”

Meeting berlangsung kurang lebih dua jam. Karena pikiran Carlton sedang tidak baik-baik saja, dia jadi kurang fokus saat meeting berlangsung.

“Kemarin aku sempat bertemu dengan bidadari cantikmu, Carlton.” Ucap Sony.

“Berhentilah memanggilnya seperti itu.” Sewot Carlton.

Apa ini Carlton? Apa kamu tahu siapa yang aku maksud? Kamu bisa mengingatnya? Batin Sony.

“Bukannya kamu tidak mengingatnya? Tapi saat aku bilang begitu, kamu langsung sewot.”

“Mau aku ingat atau tidak, dia tetaplah istriku, Sony.”

Aku tahu, Carlton. Kamu mencintai Elliana. Sony tersenyum miring.

“Baiklah-baiklah. Tapi kalau kamu berniat untuk bercerai dengannya, aku siap untuk menggantikanmu.” Entah bercanda atau serius, Sony berbicara seolah tidak berarti apa-apa untuk Carlton.

“Jaga bicaramu!” Sentak Carlton.

“Woah... Eassy man. Aku hanya bercanda.” Sony mengangkat kedua tangannya setinggi kepalanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!