Mendengar pertanyaan suaminya, yang mengatakan dirinya meragukan Carlton, terlintas di pikiran Elliana saat dia dan Carlton ada di rooftop kantor milik suaminya.
Flashback on
“Tolong, jangan berikan aku harapan dengan setuju memberikan aku waktu untuk kamu mengingat aku lagi, Carl. Akhiri semuanya sekarang juga.”
“Dengan begitu, kamu tidak perlu membuang-buang waktu percuma.”
Saat itu Elliana tersenyum dengan deraian air mata yang tidak bisa berhenti. Dia juga melihat mata Carlton yang memerah, hanya saja laki-laki itu tidak menangis.
“Setelah semuanya berakhir, kamu... Emmmph...”
Tiba-tiba Carlton menutup bibir Elliana yang sejak tadi terlalu banyak bicara, menggunakan bibirnya.
Elliana merasakan ciuman yang di berikan oleh Carlton begitu menggebu, tapi laki-laki itu melakukannya dengan lembut. Tidak ada paksaan seperti sebelumnya. Sungguh, ciuman mereka kali ini lebih lembut dari yang pernah mereka lakukan dulu.
Carlton menekan tengkuk Elliana, untuk memperdalam ciumannya. Satu tangannya meraih tangan tangan Elliana untuk memeluknya dengan erat.
Elliana mulai terbawa suasana, bagaimanapun juga laki-laki yang tengah menciumnya itu sangat mampu menggetarkan hatinya. Hanya dengan perlakuannya yang lembut, dia bisa luluh begitu saja.
Carlton melepas pagutannya, saat merasa dirinya sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Keduanya nampak kehabisan napas setelah berciuman begitu lama. Dadanya naik turun demi mengatur napasnya. Andai mereka tidak sadar sedang ada dimana, mungkin Carlton bisa berbuat lebih dari itu.
“Jangan bicara apapun lagi... Lupakan semua yang telah berlalu, ayo kita mulai semuanya dari awal.”
Carlton memeluk tubuh ramping Elliana. Mendekapnya begitu erat. Tangis Elliana pecah saat itu juga.
Flashback off
“Elliana?” Panggilan Carlton membuyarkan lamunan Elliana.
Laki-laki itu menarik pelan lengan Elliana, agar perempuan itu menghadap ke arahnya. Sedangkan Elliana bersusah payah menutupi wajahnya, jangan sampai Carlton melihat rona merah di pipinya karena tengah mengingat kembali adegan ciuman di rooftop tempo hari.
“Kamu demam?” Carlton menyentuh kening Elliana, namun telapak tangannya tidak merasakan hawa panas di sana.
Yang di tanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Detak jantungnya semakin tidak beraturan. Karena posisi Carlton terlalu dekat dengannya.
“A-aku mau tidur.” Elliana berpura-pura menguap, padahal aslinya dia sangat gugup.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Carlton menahan selimut yang di gunakan oleh Elliana.
“Pertanyaan yang mana?”
“Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa wajahmu semakin memerah?” Carlton perlahan mengikis jarak.
“Ti-tidak ada.”
Kendati demikian, semakin Carlton mendekatkan wajahnya, Elliana perlahan menutup matanya.
Sesaat kemudian, Carlton tertawa dengan gelinya. Membuat Elliana keheranan dengan tingkah suaminya.
“Apa yang kamu tertawakan?”
“Kamu lah, siapa lagi? Apa ada orang lain di sini?” Carlton mengerlingkan matanya.
Karena kesal, Elliana mengerucutkan bibirnya. Tapi justru apa yang di lakukan oleh Elliana mampu membuat Carlton tergoda dengan ke ranuman bibir milik istrinya itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Carlton mendaratkan bibirnya. Benda kenyal dan basah itu ******* lembut bibir milik Elliana.
Carlton mengubah posisinya menjadi di atas Elliana, membuat perempuan itu berada di bawah kungkungannya tanpa melepas pagutan bibirnya.
Entah berapa lama bibir mereka saling bertaut, hingga tanpa sadar Carlton mulai menyusuri leher istrinya.
“Engh...” ******* kecil lolos begitu saja dari mulut Elliana.
******* itu membuat Carlton tersadar dengan apa yang di lakukannya. Laki-laki itu menjauhkan tubuhnya.
“Tidurlah...” Suara Carlton terdengar parau.
Aneh... Kenapa aku harus kecewa? Batin Elliana.
“Iya.”
Malam itu berlalu begitu saja tanpa terjadi apa-apa lagi setelahnya. Keduanya tertidur setelah larut dalam pikiran masing-masing.
...*****...
Sebelum pergi bekerja, Carlton dan juga Elliana menyempatkan diri untuk sarapan di mansion keluarga Gayatri.
Karena ini hari yang sibuk, Elliana pergi bekerja bersama Emmanuel dan juga Naina. Karena Carlton harus memajukan jadwal meeting hari ini, karena dia sendiri sudah menyetujui ikut serta pada program Elliana.
Awalnya, Elliana menolak untuk mengundang Carlton, dengan alasan CEO dari CAV media tersebut sulit untuk di undang ke acara tv. Padahal aslinya, Elliana keberatan bekerja dengan suaminya.
Bu Elliana pasti bisa mengajak tuan Carlton ikut serta di program kita.
Benar bu, sebelumnya juga bu Elliana bisa membujuk orang-orang yang tidak mau muncul di tv.
Dan banyak lagi permohonan-permohonan lain dari timnya, termasuk mengundang Selena agar satu frame dengan Carlton.
“Apa kamu baik-baik aja El?” Tanya Naina.
“Memangnya aku kenapa kak?”
“Maksudku, apa kamu nggak cemburu melihat Carlton dan juga Elliana kerja bareng?” Naina menoleh ke arah adik iparnya yang duduk di belakang itu.
“Kenapa harus cemburu kak? Lagi pula, aku sudah terbiasa.”
“Bodoh. Tentu saja kamu harus cemburu, dia suami kamu!” Kesal Emmanuel.
“Sayang...” Naina menatap kesal ke arah suaminya, karena mengatai adiknya sendiri bodoh.
Mobil yang di kendarai oleh Emmanuel sudah sampai di kantor, kedua perempuan itu turun lebih dulu sedangkan Emmanuel memarkirkan mobilnya.
Elliana turun dari lift lebih dulu, karena ruangan Naina satu tingkat di atas tempat kerja Elliana.
Semangat El, ingat... Kamu disini bekerja. Jadi apapun kondisinya, kamu harus profesional. Batin Elliana menyemangati dirinya.
Elliana melirik jam tangannya, jarum pendek menunjukkan angka delapan. Tapi tidak ada satupun rekan kerjanya yang terlihat. Hanya meja kerja tim Rinda yang terlihat sibuk.
Biasanya, ruangan yang selalu di tempati selalu dalam keadaan terang. Tapi kali ini ruangannya terlihat gelap. Tangannya meraba-raba sakelar lampu.
Klap.
Ptasss...
“Selamat ulang tahun, bu Elliana.” Semua rekan kerja tim nya hadir di sana, lengkap dengan atribut pesta ulang tahun.
Nadila berjalan mendekati Elliana, dengan membawa kue ulang tahun sambil menghidupkan lilin yang menancap di atas kuenya.
“Selamat ulang tahun, bu Elliana.” Ulang Nadila.
“No. Bu Elliana nggak boleh nangis, hari ini adalah hari bahagianya ibu.” Seorang laki-laki bertulang lunak memberikan selembar tisu pada Elliana, yang tak lain adalah Marsel.
“Terima kasih semuanya.” Elliana terharu dengan kejutan yang di terimanya pagi ini.
“Make a wish, bu.” Titah Adelia, rekan timnya yang lain.
Elliana menurut, dia memejamkan matanya sebelum meniup lilin yang sudah meleleh di atas kuenya.
Mereka memberikan sebuah bingkisan pada Elliana, mereka membelinya dengan cara patungan. Sungguh, Elliana sama sekali tidak keberatan kalaupun tidak menerima kejutan ataupun kado dari mereka.
“Yeeeee.... Selamat ulang tahun ya bu.” Kali ini Titin yang mengucapkan ulang tahun sambil bertepuk tangan, dia adalah junior di tim mereka.
“Terima kasih semuanya, kita makan kuenya sama-sama. Baru setelah itu siap-siap untuk shooting.”
Mereka kompak mengangguk dan mengiyakan apa yang di ucapkan atasannya itu.
Sederhana, tapi semua ini membuat Elliana bahagia. Selama ini, mereka tidak pernah memandang jabatan. Bagi Elliana, mereka sama, yang membedakan adalah tugas nya masing-masing.
Elliana sendiri sudah meminta mereka tidak memanggilnya dengan sebutan bu atau ibu, tapi tetap saja, tidak ada yang mau mendengarkan kecuali Nadila.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
ArlettaByanca
mana lagi niihh
2023-08-19
0