Mendapatkan kabar, anaknya akan pulang dari Amerika. Marina merasa senang sekali. Begitupun dengan Aarav, suaminya. Meskipun dia hanya mampu duduk di kursi roda, laki-laki yang mulai terlihat ubannya itu ikut menunggu kepulangan anak bungsunya.
“Ya ampun, ini masih pagi banget lho. Mama sama papa nggak perlu sampai nungguin aku pulang.” Keenan memeluk kedua orang tuanya bergantian.
“Mama kangen banget sama anak mama.” Marina memeluk Keenan begitu erat.
“Aku juga, kangen mama sama papa juga.” Balasnya.
“Oh iya, aku baru dapet kabar, katanya kak Carlton kecelakaan. Kak Carlton baik-baik aja kan?” Tanya Keenan kemudian.
“Kakak kamu baik-baik aja, dia sudah pulang dari rumah sakit kemarin sore. Hanya ada sedikit masalah kecil, tapi papa berharap seiring berjalannya waktu dia akan baik-baik aja.” Aarav menyayangi putranya sama rata, hanya saja semenjak menikah lagi, hubungannya dengan Carlton sedikit renggang.
“Kamu lapar kan? Ayo kita sarapan, mama udah nyuruh pelayan masak makanan kesukaan kamu.” Marina mengalihkan pembicaraan antara anak dan suaminya, karena dia tidak suka kalau Aarav membicarakan Carlton.
“Maaf ma, aku udah makan di pesawat. Aku juga capek, mau istirahat.” Sesal Keenan.
“Begitu ya? Ya sudah, tidurlah.” Tampak raut kekecewaan di wajah Marina.
“Sekali lagi, maaf ya ma. Nanti malem kita makan sama-sama.” Tawarnya sambil tersenyum pada Marina.
“Iya, iya. Udah sana tidur.”
Setelah punggung Keenan tidak terlihat lagi, Marina pun beranjak dari ruang tengah meninggalkan suaminya. Begitulah kelakuannya, jika tidak ada orang lain. Baginya, suaminya itu sudah tidak ada gunanya. Karena untuk mengurus diri sendiripun sudah tidak bisa dilakukannya.
Marina meminta Aarav membujuk putranya untuk pergi mengunjungi perusahaannya, siapa tahu anak keras kepala itu mau berubah pikirannya setelah melihat-lihat keadaan perusahaan.
Walau berat hati dan juga tubuhnya yang lelah, Keenan menurut pada orang tuanya, dia setuju untuk pergi mengunjungi perusahaan. Tapi dia berniat untuk mengunjungi Carlton lebih dulu.
...*****...
Berbarengan dengan kepergian Nana, Felix datang dengan membawa sebuah map di tangannya. Lalu memberikan map itu pada Carlton.
“Tanda tangani surat ini.” Carlton membuka map itu lalu menyerahkannya pada Elliana.
“Apa ini, Carl?”
“Kamu bisa baca kan?” Carlton malah balik bertanya.
“Nggak, aku nggak mau tanda tangan di surat ini.” Elliana menggelengkan kepalanya setelah membaca isi surat yang tengah di pegangnya.
“Bukankah kamu mengizinkan aku supaya bisa buat kamu inget lagi sama aku, Carl?” Elliana menatap tak percaya pada suaminya.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan? Setahun dua tahun? Aku rasa itu semua hanya buang-buang waktuku, Elliana. Aku ingin segera menikah dengan Selena.” Carlton menyudahi acara makan paginya.
Elliana meremat minidress yang dikenakannya. Selain merasa sakit hati saat Carlton mengatakan ingin segera menikahi Selena, dia juga mendapati kenyataan bahwa suaminya seperti tidak ingin berusaha mengingatnya kembali.
“Aku minta waktu enam...” Ucapannya terhenti sejenak.
“Tidak, tiga bulan aku rasa cukup untuk membuatmu kembali mengingatku, Carl.” Elliana meralat ucapannya sebelumnya.
“Tapi dengan syarat, selama tiga bulan itu aku mau kita bersikap selayaknya suami istri pada umumnya. Kedua, aku nggak mau kalau Selena menginjakkan kakinya di rumah ini. Karna aku nggak mau kalau orang lain tahunya, pernikahan kita berakhir karena orang ketiga.” Sekuat tenaga, Elliana menahan air matanya yang berdesakan untuk keluar.
“Baiklah, hanya tiga bulan.” Carlton menyetujui persyaratan yang di usulkan oleh Elliana.
“Apa yang tiga bulan, kak?” Ditengah ketegangan di antara Elliana dan Carlton, Keenan datang tanpa di undang.
“Kakak ipar, apa yang tiga bulan? Apa kakak ipar sedang hamil?” Keenan orangnya memang begitu, selalu nimbrung obrolan orang lain tanpa permisi.
“Bukan apa-apa.” Elliana tersenyum canggung pada Keenan, dia sangat berharap laki-laki yang berstatus adik iparnya itu tidak mendengar obrolan mereka sebelumnya.
Suasana mendadak hening setelah kedatangan Keenan, Elliana terburu-buru berangkat untuk bekerja. Carlton berdecak kesal, harusnya dia tidak menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh Elliana.
Mulai sekarang, jaga sikapmu Carl. Jangan sampai dalam waktu tiga bulan ini, kamu malah terjerat lebih lama dengannya. Batin Carlton.
Laki-laki itu memutar bola matanya malas, ketika mendapati Keenan masih ada di rumahnya. Carlton pikir, adiknya itu sudah pergi sejak dia masuk ke ruang kerja untuk mengambil berkas pekerjaannya.
“Kamu belum pergi juga?” Ketus Carlton.
“Papa sama mama suruh aku untuk datang ke kantor. Tapi sebelum itu aku mau lihat keadaan kakak, baru berangkat ke kantor.” Laki-laki yang usianya empat tahun lebih muda dari Carlton itu memang selalu bersikap ramah padanya.
Untuk apa mereka menyuruh Keenan datang ke kantor? Apa mulai sekarang Keenan akan bekerja di kantor? Batin Carlton
“Sudah kan? Jadi sekarang pergilah.” Usir Carlton.
“Kalau di lihat sikap kakak seperti ini, berarti kak Carlton tidak melupakan aku. Mama bilang, kalau kakak tidak mengingat sama sekali kakak ipar. Apa itu benar kak?” Jujur, sebenarnya Keenan memang mengkhawatirkan keadaan Carlton.
“Bukan urusanmu.” Carlton meninggalkan Keenan.
Sesampainya di kantor, Keenan selalu mengekor pada Carlton. Padahal Carlton berulang kali mengusirnya.
“Ck. Aku kesini hanya menuruti apa kata mama sama papa. Di pikir seribu kalipun, aku nggak berminat bekerja disini.” Ucap Keenan yang jengah pada sikap kakaknya yang selalu dingin padanya.
Tapi Keenan sudah mengerti, kenapa dia selalu saja di benci oleh kakaknya. Bagaimana Carlton tidak membencinya, rumah tangga orang tuanya Carlton hancur gara-gara orang ketiga, yaitu Marina. Bahkan Aarav menikahi Marina saat masih menjalin pernikahan dengan Camilla, ibunya Carlton.
Camilla jatuh sakit setelah Keenan lahir, lalu meninggal pada saat Keenan berumur satu tahun. Carlton yang saat itu masih kecil, tapi sudah mengerti dengan apa yang di alami oleh orang tuanya, karena keadaan yang menuntutnya berpikir seperti orang dewasa. Keenan tahu hal ini bukan dari Carlton, tapi dari gosip yang masih tersebar di sosial media.
“Mungkin saja, suatu saat kamu berubah pikiran.” Sindir Carlton.
“Mengambil alih perusahaan maksud kakak? Oh tidak, membayangkannya saja sudah membuatku pusing. Tapi aku lebih tertarik merebut kakak ipar daripada perusahaan.” Kekehnya.
Tanpa di duga, Carlton mencengkeram kerah baju yang di pakai oleh Keenan. Carlton menatap tajam wajah Keenan.
“Jaga ucapanmu!” Kesal Carlton, dia mulai tersulut emosinya.
“Hahaha... Aku hanya bercanda kak.” Keenan malah tertawa.
Carlton melepaskan kerah baju Keenan dengan kasar, membuat laki-laki itu sedikit terhuyung akibat perbuatan Carlton.
Apa kamu cemburu kalau aku dekat dengan Elliana, kak? Apa kamu sudah mulai mengingatnya kembali? Batin Keenan bengong sambil memperhatikan Carlton yang menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
“Tunggu apa lagi? Pergi dari sini, jangan ganggu aku bekerja!” Lagi-lagi Carlton mengusirnya, matanya menatap kesal ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments