Semua orang tengah sibuk mengurus persiapan shooting. Marsel terlihat tengah kebingungan saat ini, pasalnya, Selena belum datang juga. Padahal shooting akan di mulai lima belas menit lagi.
“Kamu udah coba hubungi manajernya, Sel?” Tanya Nadila.
“Udah Nad, katanya masih ada pemotretan. Jadi mereka belum bisa datang ke sini.”
“Gimana kalau perannya Selena di ganti?” Usul Carlton.
“Ah, maaf tuan Carlton. Saya rasa tidak mungkin. Selena yang sudah setuju aja tidak datang tepat waktu. Rasanya nggak akan bisa nemuin pengganti dalam waktu lima belas menit.”
“Kenapa tidak di ganti dengan Bu Elliana sendiri? Bukankah dia juga yang membuat program ini begitu terkenal?” Carlton menatap Elliana yang tengah mengobrol dengan pembawa acara dan juga sutradara.
“Saya adalah orang yang sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu luang.” Carlton menambahkan.
Nadila kemudian menghampiri Elliana, perempuan itu terlihat tengah berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Elliana membulatkan kedua bola matanya. Elliana juga mengangkat tangannya untuk melihat jam di pergelangan tangannya.
Carlton mengulum senyumnya saat Elliana berjalan menghampirinya.
“Sel, tolong pesankan kopi di cafe seberang kantor kita untuk semua kru. Minta pelayannya untuk bantu membawanya kesini.” Elliana memberikan sebuah kartu milik perusahaan.
“Baik bu.”
Sepeninggal Marsel, Elliana menatap tajam ke arah Carlton. Tapi laki-laki yang di tatapnya hanya terkekeh kecil melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh istrinya.
“Kenapa kamu melakukannya?”
“Karena aku tidak mau membuat istriku cemburu.” Bisik Carlton di telinga Elliana.
Carlton meninggalkan Elliana yang terpaku dengan wajah yang merona, menghampiri sutradara Fabian dan berbincang dengannya. Perempuan itu terlihat mengulum senyumnya.
“Apa benar bu Elliana mau menggantikan Selena?” Fabian bertanya untuk memastikan.
“I-iya pak Fabian. Tuan Carlton tidak bisa mengatur ulang jadwalnya. Sedangkan Selena saat ini sulit untuk di hubungi.” Jawab Elliana sungkan.
“Baiklah, kalau memang begitu. Mari kita mulai shootingnya.”
“Iya pak.”
Semua orang bersiap di tempatnya masing-masing, termasuk Carlton dan juga Elliana sudah memakai celemek dan juga topi yang sudah di siapkan.
“Selamat pagi pemirsa, selamat menikmati tayangan kami. Di Let’s Cook!” Sapa Renata dengan ceria, selaku pembawa acara.
“Pemirsa... Kali ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa... CEO dari CAV media, yang sangat tampan... Siapa lagi kalau bukan, tuan Carlton Aarav Vijendra.” Riuh tepuk tangan menggema di studio.
“Hallo, selamat pagi.” Sapa Carlton tersenyum kemudian membungkukkan tubuhnya.
“Astaga... Saya hampir lupa kalau tuan Carlton sudah menikah, karena terpesona dengan senyumnya.” Canda Renata sambil terkekeh.
“Baiklah, karena tamu kita hari ini sangat istimewa. Bu Elliana sendiri yang akan menemani tuan Carlton selama acara berlangsung.”
“Suatu kehormatan bagi kami karena tuan Carlton bersedia bergabung di acara kami, di tengah kesibukannya. Terima kasih tuan Carlton.” Elliana menyapa dengan tersenyum.
Cukup sampai di sana mereka saling menyapa. Renata mulai mengarahkan Carlton dan juga Elliana untuk mulai memotong bahan masakan.
Ini pertama kalinya Carlton melihat langsung Elliana memasak, karena biasanya dia hanya tahu bahwa makanan yang dia makan adalah hasil masakan istrinya.
Tangannya yang lentik begitu terampil memegang pisau, mengupas dan memotong bahan masakan.
“Wahhh... Bu Elliana, selain pekerja keras ternyata juga pintar memasak.” Puji Renata.
“Beruntung sekali suami bu Elliana, karena istrinya pintar memasak.” Imbuhnya.
“Terima kasih.” Ucap Elliana tersenyum malu.
“Tuan Carlton, apakah anda pernah memasak sebelumnya?”
“Emmmm... Pernah. Saya memasak untuk istri saya.” Carlton menjawab sambil mencuci beberapa bahan yang akan di pakai.
“Beruntung sekali istrinya.”
“Tidak, justru saya merasa kasihan padanya. Karena saya hanya memasakkan mie instan, itu pun mienya masih mentah.” Jujur Carlton, hal itu membuat semua orang menahan tawanya.
“Saya jadi penasaran seperti apa istrinya tuan Carlton.”
“Istri saya cantik, pintar memasak juga, pekerja keras. Bahkan pernah pergi bekerja, padahal dia baru keluar dari rumah sakit. Istri saya juga pencemburu.” Carlton mengatakan itu sambil sesekali menatap Elliana.
Laki-laki itu juga menyebutkan ciri-ciri lain tentang istrinya, kali ini, siapapun yang mendengarkan ucapan Carlton bisa menebak siapa istrinya.
Shooting berakhir dengan mulus tanpa kendala. Mungkin itu berlaku untuk orang lain, tapi tidak dengan Elliana. Sepanjang acara, Carlton selalu saja berhasil membuat Elliana menahan kegugupan dan sebisa mungkin menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Permisi. Saya mengantarkan bunga untuk, bu Elliana.” Seorang kurir masuk membawakan buket bunga baby breath yang lumayan besar.
“El ada kiriman bunga.” Nadila memanggil Elliana yang masih terlihat berbincang dengan Renata dan juga Carlton.
“Dari siapa, pak?”
“Dari suami ibu. Tolong tanda tangan di sini.” Kurir tersebut menyerahkan buket bunga dan menyodorkan sebuah nota untuk di tanda tangani.
Happy birthday, Elliana. Tulisan yang tertera pada kartu ucapannya.
“Happy Birthday, Elliana? Hanya ini, nggak ada kata-kata yang lain?” Nadila membolak-balik kartu ucapan yang sebelumnya tengah di pegang oleh Elliana.
“Ck. Suami kamu nggak ada kata-kata romantisnya. Cuma kirim bunga, anak kecil juga bisa.” Sindir Nadila, karena kebetulan Carlton berjalan ke arahnya.
“Hanya kata-kata, untuk apa? Bukankah lebih baik tindakannya, begitu kan bu Elliana?” Balas Carlton.
Elliana tersenyum simpul karena interaksi suami dan sahabatnya itu.
Apa yang di ucapkan Carlton memanglah benar. Tapi bagi perempuan, mengungkapkan dengan kata-kata juga sangat penting.
Sejauh ini, Elliana cukup sabar menunggu Carlton mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin terburu-buru. Mengingat, ingatan Carlton tentang dirinya yang hilang. Carlton sendiri ingin Elliana tidak membahas lagi tentang perceraian dan waktu tiga bulan yang di mintanya. Bukankah dengan begitu, harapan utuhnya rumah tangganya semakin besar?
Dari luar studio terdengar suara gaduh, seorang perempuan berteriak memanggil nama Elliana. Hal itu membuat Elliana dan Carlton keluar dari studio.
“Maaf bu, saya sudah menjelaskan pada manajer Selena. Tapi nona Selena sendiri tiba-tiba datang ke sini dengan berteriak seperti ini.” Ucap Marsel yang terlihat tegang.
“Baiklah, biar saya yang bicara padanya. Kamu urus yang lain.” Titah Elliana.
Plak.
Belum sempat Elliana membuka mulutnya, Selena lebih dulu menamparnya dengan keras. Kejadian itu menjadi pusat perhatian. Apalagi Rinda yang sengaja datang untuk melihat apa yang terjadi, perempuan itu tersenyum dengan puasnya.
“Selena!” Pekik Carlton.
Matanya menatap tajam ke arah Selena.
Elliana meringis memegangi pipinya yang terasa kebas dan juga perih akibat tamparan keras Selena.
Siapapun tahu, kalau Selena adalah mantan kekasih dari Carlton. Mereka juga mengira bahwa hubungannya dengan Carlton disini hanyalah sebatas rekan kerja, tidak lebih. Karena Carlton sudah menikah dengan orang lain.
Jadi mereka beranggapan, bahwa tindakan Elliana saat ini hanyalah bentuk kekesalannya karena memutuskan kerja sama begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
YuWie
masih memaklumi salah nama di beberapa adegan
2024-01-17
1
ArlettaByanca
terus gimana lagi ????.....semangat u aithornya
2023-08-21
1