Ini Apa, Carl?

“Atau memang dari awal kita menikah, kamu sama sekali tidak ada niatan untuk mempertahankan rumah tangga kita, Carl?”

Pertanyaan yang keluar dari mulut Elliana saat bertengkar kemarin, terus terngiang di kepala Carlton. Hatinya bagai di tusuk sebilah pisau yang tajam. Kenapa? Kenapa dia tidak pernah berpikir bahwa jalan yang telah di ambilnya saat ini, ternyata bisa menyakiti perasaan perempuan yang di cintainya.

Dia berpikir, dengan menjauhkan Elliana dari kehidupannya, istrinya itu akan selalu aman. Tapi keputusannya untuk berpura-pura amnesia, malah membuat Elliana terluka batinnya.

Flashback on

10 jam sebelum Carlton kecelakaan...

Felix berhasil meringkus laki-laki yang di duga telah di suruh oleh seseorang, untuk merusak rem mobil yang biasa di pakai oleh Carlton.

Berkali-kali Carlton meyakinkan orang tersebut untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya, berapapun orang tersebut membayarnya, Carlton akan memberikan dua bahkan tiga kali lebih banyak. Asalkan dia mau mengaku dan menjadi saksi.

Bugh.

Carlton melayangkan bogem mentahnya pada laki-laki yang masih terikat kaki dan tangannya itu.

“Breng-sek.” Umpat Carlton.

“Katakan, siapa yang menyuruhmu!”

Bugh.

Bugh.

“Hentikan tuan, jangan mengotori tangan anda.” Andai saja tidak ada Felix di sana, mungkin laki-laki itu sudah tidak bisa di selamatkan.

Notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Suara itu berasal dari ponsel yang berada dalam saku celana laki-laki itu.

Felix mengambil dengan susah payah, karena laki-laki itu terus meronta.

Beruntung, ponsel itu menggunakan password tipe fingerprint. Jadi dengan mudah, Felix membuka ponsel tersebut.

BigBoss

Kerja bagus, Roy. Sekarang aku harus memastikan, Carlton menyusul orangnya tuanya atau tidak. Baru setelah itu, giliran istrinya.

“Bang-sat.”

Bugh.

Bugh.

Carlton kembali memukuli laki-laki yang disebut sebagai Roy tersebut, hingga darah bercucuran di wajahnya karena sudut bibirnya robek.

“Kalau kamu masih mau hidup, katakan sekarang juga siapa yang menyuruhmu!”

“Ny-nyonya Marina, tuan.” Satu nama itu berhasil membuat Carlton menghentikan serangannya.

“Felix bereskan dia. Pastikan dia membayar kesalahannya dan bersaksi untuk menjebloskan Marina ke penjara.”

“Baik tuan.”

Sebelum pergi menemui Elliana, Carlton mengganti bajunya terlebih dahulu. Tidak mungkin dia menemui Elliana dengan noda darah yang menempel di bajunya.

Jalanan yang sebelumnya cukup ramai, mendadak sepi. Tapi Carlton tidak mengindahkan hal itu. Hatinya sudah tertuju pada satu tempat. Sesekali dia merapikan rambutnya yang memang sudah rapi dari sebelumnya.

Sebuah truk melaju dari arah belakang memepet mobilnya dan menyalip dengan tiba-tiba. Carlton yang tidak sigap, harus membanting setir ke kiri. Dan kecelakaan pun tak terhindarkan.

Cukup lama dia tersadar, dengan darah segar yang mengalir dari bagian pelipisnya. Sampai datang pertolongan, barulah Carlton kehilangan kesadaran.

Orang yang datang pertama kali ke rumah sakit adalah asistennya yaitu Felix. Karena kebetulan saat kecelakaan Felix menghubunginya lebih dulu.

Keadaan Carlton sungguh mengkhawatirkan. Felix pikir, dengan tertangkapnya orang suruhan Marina. Tuannya akan aman dari bahaya, nyatanya mereka lengah. Sampai Carlton kecelakaan seperti sekarang.

Saat di ruang ICU, Carlton sempat sadar. Yang dia tanyakan pertama kali adalah keberadaan Elliana. Laki-laki itu bersyukur kalau Elliana dalam keadaan baik-baik saja.

Meskipun dalam keadaan yang mengkhawatirkan, Carlton berpikir sangat keras, mencari cara supaya Elliana terhindar dari bahaya karena statusnya adalah istrinya.

Maka dari itu, walaupun berat, Carlton tetap memutuskan untuk menjauhkan Elliana dari hidupnya, agar terhindar dari bahaya.

Sungguh, kalaupun bisa memilih, Carlton ingin Elliana tetap berada si sampingnya, di hidupnya. Meskipun Carlton mendorong jauh Elliana, tapi hatinya selalu menginginkan istrinya itu ada di sampingnya.

Pertahanannya runtuh ketika melihat Elliana kecelakaan, orang pertama yang menolongnya bukanlah dirinya melainkan orang lain, terlebih dia adalah Keenan. Laki-laki yang pernah mencintai istrinya itu sebelum Elliana menikah dengannya.

Pikirannya terus di hantui rasa cemburu dan juga khawatir. Carlton meminta Felix menyuruh seseorang untuk menjaga Elliana dari kejauhan saat dirinya tidak bisa selalu ada di samping Elliana.

Flashback off

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu ruangan kerjanya berhasil membuyarkan lamunannya. Felix masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Carlton.

“Tuan? Anda baik-baik saja?” Felix melihat Carlton tidak seperti biasanya.

“Sampai mana persiapan ulang tahun perusahaan?” Carlton mengalihkan pembicaraan.

“Sejauh ini sudah delapan puluh persen, tuan.”

“Baiklah.”

“Satu lagi tuan.”

“Apa?”

“Ada undangan dari program tv untuk tuan.”

“Program tv apa?”

“Let’s Cook! Tuan. Programnya nona Elliana. Apa tuan bersedia untuk ikut serta?”

“Ya. Tolong atur jadwalku.” Carlton mengembangkan senyumnya.

“Tapi tuan...”

“Apa lagi?”

“Nona Selena juga di undang ke sana. Apa anda tidak keberatan satu frame dengannya?”

Laki-laki itu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, berpikir untuk menimbang keputusannya. Dia pikir, mungkin dengan ini dia bisa membuat Selena menjauh darinya.

“Bilang saja pada mereka, aku bersedia untuk datang.”

“Baik tuan.”

...*****...

Tengah malam terbangun karena haus, Carlton tidak lagi melihat Elliana tidur di sampingnya. Entah kemana perginya, yang jelas sebelum tidur Carlton melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas, karena dia pulang hampir jam sepuluh malam.

Carlton keluar kamar, menuruni satu per satu anak tangga dengan mata yang masih mengantuk menuju ke dapur.

“Ahhh...” Terdengar teriakan seseorang dari arah dapur.

Carlton berlari ke arah sumber suara, jelas membuat kantuknya jadi hilang. Suasana dapur berubah terang setelah Carlton menghidupkan lampu. Dia melihat Elliana tengah berada di dekat wastafel dalam keadaan terduduk.

“Kamu kenapa?” Carlton panik melihat darah mengucur dari punggung kaki Elliana.

Tanpa babibu, Carlton menggendong Elliana. Lalu mendudukkannya di kursi meja makan.

“Tunggu di sini. Jangan kemana-mana.”

Tak lama Carlton kembali dengan membawa kotak obat. Laki-laki itu bersimpuh di hadapan Elliana, untuk membersihkan luka. Sesekali Elliana terdengar meringis kesakitan, saat Carlton sedikit menekankan kasa pada lukanya. Beruntung, luka itu hanyalah luka kecil, jadi tidak perlu ke rumah sakit.

“Apa yang kamu lakukan tengah malam seperti ini?” Carlton menatap Elliana dari bawah.

“Aku sedang memasak mie instant.” Elliana mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena tidak ingin menatap Carlton lama-lama.

“Apa kamu belum makan?”

Elliana hanya menggelengkan kepalanya.

“Ck. Ya sudah biar aku yang memasak mie nya.”

Semenjak menikah, Elliana baru kali ini melihat suaminya memasak. Walaupun yang di masaknya hanyalah mie instant. Tanpa sadar, Elliana terus menatap punggung Carlton. Dia menjadi salah tingkah saat ketahuan oleh suaminya.

“Ini apa, Carl?” Elliana bertanya begitu karena tampilan mie yang ada di hadapannya.

“Tentu saja itu mie. Memangnya apa lagi?” Carlton ikut duduk di kursi dekat Elliana.

“Mie nya masih mentah, Carl.” Elliana menunjukkan dengan cara menyendok mie nya.

“Begitu ya? Aku tidak tahu kalau mie nya masih mentah.” Ucapnya tanpa dosa.

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

oww, ternyata hanya pura pura amnesia nya

2024-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!