Dua minggu berlalu dengan begitu saja, sikap Carlton masih sama seperti sebelumnya. Kadang perhatian, kadang cuek, kadang marah dengan hal sepele, bahkan berlalu kasar pada Elliana apalagi jika hal yang membuatnya marah itu berkaitan dengan laki-laki.
Kalau saja Elliana tidak ingat kalau suaminya itu lupa ingatan, bisa saja dia mengira bahwa Carlton tengah cemburu padanya.
“El, muka kamu pucet banget. Kamu sakit?” Nadila menyentuh kening Elliana demi memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
“Aku nggak apa-apa, Nad.”
“Ah, aku sampai lupa ini tanggal berapa.” Nadila menepuk dahinya kala mengingat, bahwa Elliana tengah datang bulan.
“Kamu istirahat aja, biar kerjaan hari ini aku yang handle.” Nadila mendorong Elliana kembali ke ruangannya.
“Kamu tunggu di sini, sebentar aja. Nggak lama kok.” Imbuhnya.
Yang katanya sebentar, tahunya Nadila pergi sudah setengah jam lamanya.
Saat Elliana tengah dalam masa periodenya, tubuhnya akan terasa sangat lemas. Sakit? Tidak terlalu. Dia masih bisa menahannya. Hanya saja, dia butuh sesuatu yang membuatnya lebih bertenaga dan juga mood yang baik.
“Sorry, lama.” Nadila Masuk ke dalam ruangan Elliana dengan membawa beberapa kantung plastik yang berisi makanan.
“Macaron tempat biasa habis, jadi aku beli di tempat yang lain. Dan ini susu hangatnya.” Nadila mengeluarkan satu persatu isi dari kantong plastik yang di bawanya.
“Thank’s, Nad. Kamu memang sahabat terbaikku.”
Makanan manis dan juga susu hangat adalah makanan kesukaan Elliana, tidak banyak yang tahu kalau perempuan yang satu ini adalah pencinta makanan manis.
“Sejauh ini, apa Carlton sudah mulai bisa mengingat kamu lagi, El?” Nadila bertanya dengan ragu.
Elliana menghembuskan napasnya kasar, lalu menggeleng lemah dengan wajahnya yang di tekuk.
“Entahlah, Nad. Carlton masih sama, dia juga tidak pernah bertanya apa-apa lagi tentangku.”
“Gimana kalau kamu pukul aja kepalanya, siapa tahu itu bisa membuat suami kamu ingat lagi tentang kamu.”
“Kamu ngajarin aku KDRT, hah?” Elliana terkekeh.
“Iya, kalau di drama-drama atau novel-novel ada yang begitu.”
“Astaga. Aku pikir kamu orangnya realistis, tapi ternyata bisa juga kemakan sama cerita fiktif kayak begitu.”
“Nah gitu dong, senyum, ketawa. Kan tambah cantik.” Puji Nadila.
Di tengah candaan mereka, Naina masuk dengan terburu-buru ke ruangannya. Perempuan itu berdiri dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Bu, Naina. Ada apa?” Tanya Elliana.
Naina ingin menjawab, tapi ragu karena kehadiran Nadila di sana.
“Saya keluar dulu, bu. Permisi.” Nadila mengerti meskipun tanpa di suruh.
Perempuan yang usianya tidak beda jauh dengan Elliana itu, mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum berbicara.
“Kenapa kamu nggak bisa di hubungin?”
“Ah, ponselku mode silent, kak. Maaf.”
“Ada apa?” Imbuhnya.
“Suami kamu dan kakakmu berkelahi di restoran seberang kantor.”
Sebelum keduanya terlibat perkelahian, Carlton dan juga Emmanuel tengah mengadakan meeting di ruangan masing-masing.
Tapi setelah keduanya selesai meeting, entah apa yang mereka perdebatkan, yang menyebabkan keduanya saling adu mulut dan berakhir dengan adu fisik.
Sungguh, perkelahian yang alot. Keduanya sangat sulit untuk di pisahkan. Andai mereka bukanlah orang berpengaruh, mungkin perkelahian mereka sudah tersebar di media sosial. Karena mereka berkelahi di tempat umum.
Ajaib. Kedatangan Elliana mampu menghentikan mereka, meskipun perempuan itu hanya berdiri dari kejauhan.
Emmanuel meninggalkan Carlton yang berdiri mematung, melewati Elliana yang terus menatap kedua laki-laki penting dalam hidupnya itu.
“Suami yang mati-matian kamu pertahankan itu, diam-diam menyuruh orang membuntuti kamu, El.” Bisik Emmanuel berlalu meninggalkan Elliana.
Deg.
Membuntuti? Untuk apa Carlton melakukannya? Batin Elliana.
Sebelum Carlton mendekat ke arahnya, Elliana lebih dulu pergi dari restoran itu.
...*****...
Tidak mungkin mengikuti Elliana ke tempat kerjanya, Carlton memutuskan untuk menunggu istrinya itu pulang ke rumah.
Pulang dari restoran, Carlton sempat kembali ke kantor. Namun karena pikirannya yang terus tertuju pada Elliana, laki-laki itu memutuskan untuk pulang.
Meskipun wajahnya penuh dengan luka lebam akibat perkelahiannya dengan Emmanuel, dia sama sekali tidak peduli. Yang dia inginkan saat ini adalah bertemu dengan Elliana.
Terlalu lama menunggu, Carlton sampai tertidur di sofa ruang tengah. Bodohnya, kenapa dia tidak menghubungi Elliana saja. Dengan begitu dia bisa tahu dimana dan kapan Elliana akan pulang.
Carlton terbangun karena sayup-sayup mendengar suara Elliana membangunkannya.
“Kamu sudah pulang?”
Elliana tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Carlton. Perempuan itu duduk di sebelah suaminya dengan mengeluarkan salep dan juga pembersih luka, dari kotak obat yang di bawanya.
Elliana menuangkan pembersih luka pada selembar kasa, lalu mengoleskannya pada salah satu luka di wajah Carlton.
“Akhhss...” Carlton meringis saat merasakan perih di ujung bibirnya.
Cukup lama mereka terjebak dalam kebisuan selama Elliana mengobati lukanya Carlton. Carlton berpikir, mungkin Elliana akan membuka suaranya setelah selesai mengobati lukanya. Namun dugaannya salah, Elliana malah pergi begitu saja dari hadapannya.
“Kenapa kamu sama sekali tidak bertanya?”
Pertanyaan Carlton membuat Elliana menghentikan langkahnya.
“Untuk apa, Carl?”
“Kamu sendiri menyuruh orang untuk memata-matai aku, kenapa? Kenapa kamu tidak bertanya langsung padaku, apa yang ingin kamu tahu dariku? Kamu tinggal bertanya padaku, Carl.” Elliana menatap geram ke arah suaminya.
“A-aku...”
“Apa kamu benar-benar berpikir kalau aku selingkuh dari kamu, Carl?”
“Tidak, Elliana aku hanya...”
“Hanya apa?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya saat ini...”
“Kenapa? Karena sebentar lagi kita akan berpisah? Begitu maksudmu?” Sungguh, kali ini Elliana tidak bisa menahan lebih lama lagi air mata yang sejak tadi berdesakan ingin keluar dari matanya.
“Tadinya aku memang akan memberitahu kamu, Carl. Siapa aku dan juga kemana keluargaku selama ini. Setelah hubungan kita membaik. Tapi karena kecelakaan yang terjadi sama kamu, dimana kamu sendiri lupa kalau aku ini istri kamu. Aku berencana menundanya sampai kamu ingat siapa aku terlebih dahulu.”
“Lalu tiba-tiba kamu memintaku untuk bercerai, dengan alasan kamu tidak mengingatku, Carl. Tapi kamu juga yang setuju memberikan aku waktu tiga bulan, untuk membuat kamu mengingatku lagi. Sedangkan kenyataannya... Sikap kamu sering berubah-ubah. Sebentar dingin, sebentar hangat, kadang kamu juga kasar, Carl. Tapi sekalipun kamu tidak pernah bertanya apa-apa tentangku, atau sekedar meluangkan waktu bersama.”
Carlton benar-benar tidak di beri kesempatan untuk bicara. Dia bisa melihat dengan jelas emosi yang saat ini tengah di luapkan oleh istrinya.
Laki-laki itu bergeming, tidak tahu harus bagaimana menghadapi Elliana. Dia akui, selama ini apa yang di ucapkan oleh Elliana benar adanya. Dia juga tidak bisa bersikap tegas pada Selena, yang selalu saja membuat Elliana salah paham padanya. Padahal dia sendiri, sudah bertekad untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dua bulan lagi bersama Elliana. Tanpa ada gangguan dari siapapun. Setidaknya dengan begitu, pernikahan mereka bisa berakhir dengan baik-baik.
Meskipun dia tidak mau mengakui kalau Carlton cemburu saat Elliana berinteraksi dengan laki-laki lain, terlebih Emmanuel terlihat sangat akrab dengan Elliana.
“Atau memang dari awal kita menikah, kamu sama sekali tidak ada niatan untuk mempertahankan rumah tangga kita, Carl?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments