Mempermainkan Elliana

Elliana belum pernah masuk ke kamar suaminya, karena hanya Carlton yang sering ke kamarnya. Itupun setelah hubungan keduanya mulai berubah.

“Tentu saja, kamu sendiri sudah melihat foto pernikahan dan juga buku nikah kita.” Elliana menjawab dengan yakin.

“Lalu kenapa aku dan kamu tidur terpisah? Atau kamu hanya berpura-pura menjadi istriku?” Carlton menatap tajam ke arah Elliana.

“I-itu ka-karena...” Elliana tiba-tiba bicara terbata-bata, dia sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana hubungannya selama ini.

“Sudahlah. Aku tidak peduli, pergilah. Jangan ganggu aku lagi, aku mau istirahat.” Ucap Carlton hendak menutup pintu kamarnya.

“Tidak. Mulai hari ini, aku akan tidur disini. Supaya kamu terus melihatku dan bisa mengingatku lagi.” Elliana menerobos pintu yang hendak di tutup oleh Carlton tanpa peduli tatapan kesal dari suaminya.

Carlton menarik tangan Elliana dengan kasar, hingga tubuh istrinya itu menabrak tubuhnya. Keduanya terlibat aksi saling tatap untuk sejenak. Tangan kekar Carlton mengunci pinggang Elliana.

“Carl, lepas!” Elliana memberontak, mencoba melepaskan tubuhnya dari rengkuhan suaminya.

“Aku memberikan kamu kesempatan untuk keluar dari kamarku, atau kamu akan tahu akibatnya kalau tetap memilih tidur di sini.” Ancam Carlton.

“Ki-kita itu suami istri, jadi apa salahnya tidur bersama dalam satu kamar.” Mulutnya boleh berbicara seperti itu, tapi jantungnya saat ini berdetak begitu cepat karena tatapan suaminya membuatnya takut.

“Laki-laki dan perempuan dewasa tidur bersama, apalagi suami istri. Tidak hanya berbagi ranjang saja, tapi berbagi kehangatan dan juga keringat bersama. Dan satu hal yang harus kamu ingat, seorang laki-laki bisa meniduri perempuan apalagi statusnya adalah istrinya, tanpa harus ada cinta di antara mereka.” Ucap Carlton sambil terkekeh menanggapi ucapan berani dari Elliana.

Apa selama ini kamu sering tidur dengan banyak wanita, Carl. Apa termasuk dengan Selena juga? Batin Elliana.

“A-aku nggak keberatan soal itu. Lagi pula, bukankah itu semua sudah kewajibanku sebagai istrimu.” Sungguh, sebenarnya hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan dari Carlton.

Aku ingin lihat, sejauh mana keberanianmu saat ini? Batin Carlton sambil tersenyum smirk saat menatap Elliana.

“Baiklah, layani aku sekarang.” Carlton meraih tengkuk Elliana, menciumnya dengan kasar.

Carlton terus bergerak maju tanpa melepaskan ciumannya, sampai tubuh Elliana terbentur dengan tempat tidur. Sedangkan perempuan yang sedang di cumbu oleh suaminya itu terus saja memberontak.

“Balas ciumanku!” Pekik Carlton kesal, karena Elliana terus memberontak.

Carlton mendorong tubuh Elliana lalu menindihnya. Ciuman itu terus berlanjut. Carlton menggigit bibir ranum milik Elliana, karena kesulitan untuk memasukkan lidahnya.

“Akhh... Sakit Carl.” Jerit Elliana, sekuat apapun dia berontak tetap saja kalah tenaga dengan Carlton.

Laki-laki itu tidak memedulikan rengekan istrinya, bibirnya perlahan turun menyesap leher Elliana, membuat tanda merah tertinggal di sana.

“Carl, stop. Please...” Elliana mulai terisak, tapi tubuhnya merespon berlainan dengan mulutnya.

Tuhan... Tolong aku, aku belum siap. Batin Elliana.

Pita baju yang di kenakan oleh Elliana di tarik kasar oleh Carlton. Belahan dada yang putih dengan tiga tahi lalat kecil tersebar di sana, membuat tubuhnya berdesir sampai Carlton melupakan tujuannya untuk mempermainkan Elliana.

Dering ponsel milik Carlton menghentikan aktivitasnya. Elliana sangat bersyukur, saat Carlton memilih mengangkat panggilan pada ponselnya.

Carlton memilih menerima panggilan pada ponselnya, kalau tidak, dia tidak bisa lagi menahan nafsunya yang mulai memuncak.

“Ada apa Felix?” Ternyata yang meneleponnya adalah Felix, asisten pribadinya.

“Saya sudah mendapatkan rekaman CCTV yang mungkin berkaitan dengan terjadinya kecelakaan yang tuan alami.” Terang Felix melalui sambungan telepon tersebut.

“Kerja bagus, Felix. Kirim padaku sekarang, aku akan memeriksanya.” Titah Carlton yang langsung di sanggupi oleh Felix.

Carlton langsung membuka laptop di ruang kerjanya, setelah menerima rekaman CCTV yang di berikan oleh Felix.

Sedangkan Elliana keluar dari kamar Carlton menuju kamarnya, perempuan itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengenakan pakaiannya, Elliana kembali ke kamar Carlton.

Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, yang hampir saja menjadi saksi bisu dirinya kehilangan kegadisannya. Meskipun kecewa atas sikap dan perlakuan Carlton, Elliana tidak akan mundur dari keputusan yang sudah di ambilnya.

Bukannya dia tidak mau melayani suaminya, tapi Elliana akan melakukannya dengan senang hati begitu Carlton mengingatnya kembali.

...*****...

Menjelang tengah malam, Carlton keluar dari ruang kerjanya. Langkah kakinya membawanya sampai ke depan pintu kamar Elliana. Dia memutar handle pintu dengan perlahan untuk memastikan keberadaan istrinya. Carlton pikir, setelah apa yang dilakukannya tadi, Elliana pasti tidak akan mau lagi tidur di kamar miliknya.

Dugaannya ternyata salah. Setelah pintu kamar terbuka sepenuhnya, dia tidak mendapati Elliana ada di sana. Di kamar mandi sekalipun tidak ada.

Carlton berlari kecil menuruni anak tangga. Di bukanya satu per satu kamar yang berada di lantai bawah. Nihil. Elliana tidak ada di sana. Kemudian dia beralih ke garasi, bahkan mobil Elliana masih terparkir di sana.

“Pergi kemana dia? Apa mungkin...” Ucapannya menggantung saat ada satu kamar yang belum di periksanya.

Benar saja, Elliana ternyata tidur di kamar yang di tempati Carlton. Laki-laki itu memutar bola matanya malas melihat Elliana yang tidak sedikitpun merasa takut padanya.

Carlton menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamarnya. Dia tidak ingin tidur di kasur yang sama dengan Elliana.

Pagi hari Carlton terbangun, tubuhnya tertutup selimut. Elliana pun sudah tidak ada lagi di sana. Tangannya menyambar handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Elliana mengalihkan perhatiannya pada suaminya yang baru saja turun dari kamar. Nampak Carlton turun sambil mengenakan dasinya, entah kenapa hari ini dia kesusahan memasang dasinya sendiri.

Carlton tersentak saat tiba-tiba Elliana merebut dasi yang sedari tadi sangat susah dia pasang sendiri.

“Ini karna, aku sering memasangkan dasi untukmu. Makanya kamu kesusahan memasangnya sendiri.” Ocehnya sambil memasangkan dasi suaminya.

Mata Carlton tertuju pada luka di bibir Elliana, bekas gigitan yang di lakukannya semalam saat mencium istrinya dengan kasar.

Peduli apa kamu Carl. Masa bodoh, dia sudah mengobati lukanya atau belum. Carlton menggerutu sendiri dalam hatinya.

“Terima kasih.” Sindir Elliana, saat suaminya berlalu begitu saja setelah dasi itu terpasang rapi di lehernya.

Saat ini keduanya tengah duduk di meja makan, menikmati sarapan dengan saling diam.

“Bi Nana...” Panggil Elliana pada pelayan di rumahnya.

“Iya non. Saya disini.”

“Tuan sudah bangun, jadi saya minta tolong bi Nana buat pindahin semua barang-barang saya ke kamar tuan.” Titahnya.

“Siap non, saya minta yang lain untuk bantu juga.” Ya, pelayan di rumah itu memang tahu bahwa pasangan suami istri itu tidur terpisah.

“Tidak perlu, bi. Bibi kembali ke belakang aja.” Carlton mencegah Nana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!