Dokter Anwar telah melakukan pemeriksaan ulang secara keseluruhan, selain luka luar tidak ada yang aneh dengan keadaan Carlton. Hanya saja, Carlton mengaku tidak mengenal Elliana sebagai istrinya.
Dengan ini, dokter Anwar menarik kesimpulan bahwa Carlton mengalami amnesia disosiatif. Dimana, pasien yang mengalami amnesia ini tidak bisa mengingat sebagian ingatannya. Hal ini terjadi karena trauma psikologis atau stress, sehingga otaknya memblokir sebagian ingatannya.
“Untuk apa lagi kamu kesini?” Carlton memicingkan matanya saat melihat Elliana kembali ke kamarnya.
Untuk sesaat, Elliana tersentak mendengar ucapan Carlton dengan nada yang dingin. Tapi bagaimanapun keadaannya, Carlton tetaplah suaminya. Elliana bertekad untuk membuat suaminya bisa mengingatnya kembali. Karena dia sudah yakin, hatinya telah mencintai Carlton.
“Aku istrimu, jadi aku berhak untuk ada disini.” Elliana menjawab dengan santainya.
“Hah... Aku aja lupa, kamu adalah istriku.” Carlton memutar bola matanya malas.
“Kalau begitu izinkan aku untuk membuatmu kembali mengingatku.” Pinta Elliana.
“Terserah...” Carlton menyibukkan dirinya pada ponselnya.
Hening. Suasana kamar itu sunyi, membuat suara mesin pelembap udara jelas terdengar di telinga mereka.
Ceklek.
Seorang perempuan masuk ke dalam kamar Carlton langsung memeluknya, tanpa memedulikan keberadaan Elliana. Disusul oleh seorang perempuan paruh baya, namun terlihat elegan dengan barang-barang mewah yang di kenakannya.
“Honey, kamu nggak apa-apa kan? Aku khawatir banget sama kamu.” Pelukan yang di berikannya begitu erat.
“Aku nggak apa-apa, baby.”
Nyut.
Hati Elliana berdenyut nyeri, melihat kemesraan yang di lakukan oleh Selena dan suaminya. Jangankan bisa memeluk suaminya, hanya sekedar duduk di dekatnya, Carlton bersikap dingin padanya.
“Selena, jaga sikapmu. Carlton sudah punya istri.” Kalimat itu di ucapkan Marina hanya untuk mengejek Elliana.
Sebelum datang ke rumah sakit, Marina terlebih dahulu menemui orang suruhannya. Tak lama, seorang laki-laki yang mengenakan masker dan topi hitam untuk menutupi wajahnya, menghampiri Marina yang tengah berada di dalam mobil. Laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan. Sedangkan sang sopir tidak ada di sana, karena Marina memerintahkannya untuk pergi membeli kopi sebelum pergi ke rumah sakit.
“Informasi apa yang mau kamu sampaikan?” Marina bertanya tanpa menatap laki-laki yang berada di depannya.
“Carlton berhasil selamat. Saat ini dia sudah melewati masa kritisnya, hanya saja pagi ini dokter Anwar mendiagnosa Carlton mengalami amnesia.” Jelasnya.
“Apa dia tidak ingat apapun, termasuk kecelakaan yang di alaminya?” Marina terdengar semakin penasaran.
“Carlton hanya tidak mengingat sebagian ingatannya. Yang diingatnya saat ini Selena adalah calon istrinya, dia tidak mengenali Elliana sebagai istrinya sendiri dan kejadian selama setahun ke belakang.”
Marina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum smirk. Setelah dia memberikan amplop coklat berisi uang, laki-laki itu pergi sebelum sopirnya kembali. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Selena. Makanya dia bisa datang bersamaan dengan Selena.
“Ya ampun aku sampai lupa, tante. Maaf ya Elliana.” Meskipun nada suaranya terdengar menyesal, tapi Elliana melihat dengan jelas bahwa Selena tersenyum miring ke arahnya.
“It’s ok.” Elliana membalas ucapan Selena dengan singkat.
Rasanya ingin sekali, dia menjambak rambut Selena saat ini juga. Tapi, sadar bahwa saat ini Carlton mengingat Selena sebagai calon istrinya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Carlton semakin berjarak.
“Apa aku mengenalmu juga?” Ketus Carlton pada ibu tirinya.
Apa dia juga tidak mengingatku? Kalau benar begitu, baguslah. Batin Marina.
Sebenarnya dari dulu, hubungan anak dan ibu tiri itu tak pernah sekalipun akur.
“Astaga, Carlton. Aku ini ibumu, aku khawatir dengan keadaan kamu.” Marina pura-pura terlihat khawatir pada Carlton.
“Benarkah dia ibuku, baby?” Carlton bertanya pada Selena, perempuan itu pun menganggukkan kepalanya.
Akhirnya, aku bisa memilikimu kembali Carlton. Selena tertawa puas di dalam hatinya.
...*****...
Lima hari mendapatkan perawatan di rumah sakit, Carlton akhirnya di perbolehkan pulang sore ini. Selama itu pula, Elliana selalu menemani suaminya di rumah sakit. Bahkan dia sampai membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Setiap harinya, Selena selalu datang menemui Carlton tanpa memedulikan perasaan Elliana. Begitupun suaminya, sama sekali tidak keberatan jika Selena memeluknya bahkan terang-terangan mencium pipinya di hadapan Elliana.
“Apa kamu yakin kita itu suami istri?” Selidik Carlton saat Elliana berdiri mematung di depan pintu kamarnya, karena selama ini mereka tidur terpisah.
Flashback on
Tiga bulan yang lalu, sebelum kecelakaan yang di alami oleh Carlton. Mereka sempat bertemu di sebuah undangan pesta ulang tahun perusahaan, yaitu rekanan perusahaan Vijendra Media dan juga NTTV. Keduanya datang bukan sebagai suami istri, melainkan sebagai perwakilan dari perusahaan masing-masing.
Carlton datang hanya di temani oleh Felix, sedangkan Elliana datang menemani Emmanuel, CEO NTTV. Pria yang lebih akrab di panggil Nuel itu meminta Elliana untuk datang bersamanya, karena istrinya tidak bisa hadir lantaran anak pertamanya yang masih berumur lima tahun tidak mau di tinggal.
“Selamat malam tuan Carlton.” Sapa Emmanuel sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Selamat malam juga tuan Nuel.” Balas Carlton.
Sedangkan matanya fokus pada perempuan cantik yang berada di samping Emmanuel. Perempuan itu hanya menyapa dengan senyumannya. Orang-orang di sana tidak tahu kalau mereka adalah sepasang suami istri, kecuali Felix dan juga Emmanuel.
Setelah terlibat obrolan ringan, mereka berpisah. Sesekali Carlton menatap istrinya dari kejauhan, setiap kali perempuan cantik itu mengobrol dengan seseorang, dia selalu tersenyum dengan ramahnya.
Tanpa sadar, Carlton sudah terbakar api cemburunya sendiri. Rahangnya mengetat, tangannya mengepal dengan kuatnya.
“Sh*t... Kenapa dia selalu tersenyum pada setiap orang.” Umpat Carlton sambil merenggangkan dasinya agar bisa bernapas dengan leluasa.
Laki-laki itu merogoh ponsel dari saku celananya, mengirimkan sebuah pesan singkat pada istrinya.
Hampir lima belas menit Carlton menunggu istrinya di dalam mobil. Kesal karena Elliana tak kunjung menemuinya, dia meraih ponselnya untuk menghubungi istrinya. Tapi sebelum itu, Elliana lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.
Carlton tidak peduli dengan Elliana yang masih memakai sabuk pengamannya, laki-laki itu sudah melajukan mobilnya dengan kencang. Elliana sendiri tidak tahu suaminya itu kenapa bersikap seperti ini. Selama perjalanan pulang pun mereka sama sekali tidak bicara sepatah katapun.
Sesampainya di rumah, Elliana turun lebih dulu. Berlalu meninggalkan suaminya yang masih saja diam. Sebelum Elliana benar-benar menutup pintu kamarnya, Carlton menahan pintu itu lalu ikut masuk ke dalam kamar Elliana.
“Carl... Ada apa?” Elliana menatap heran ke arah suaminya.
“Apa kami senang bisa tebar pesona pada setiap orang seperti tadi?” Carlton menatap tajam ke arah Elliana.
“Tebar pesona apa sih Carl, kamu cemburu?” Tanya Elliana.
“Cih, siapa yang cemburu.” Carlton berkilah.
Elliana hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Perempuan itu menghampiri suaminya, lalu memeluk tubuh kekar laki-laki yang berstatus suaminya itu. Mendapatkan pelukan dari istrinya, seketika rasa kesal pada diri Carlton mulai surut, dia pun membalas pelukan Elliana. Drama cemburu butanya Carlton berakhir begitu saja. Sampai dia tertidur di kamar Elliana untuk pertama kalinya.
Flashback off
Mendapatkan pertanyaan spontan dari Carlton, Elliana bingung sendiri bagaimana dia harus menjawabnya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Elliana malah balik bertanya.
“Aku ragu, kalau kita adalah suami istri. Kamu sendiri canggung masuk ke kamar ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments