Tolong Jangan Menggangguku

Semakin lama, Carlton seperti di anggap tidak ada di sana. Mungkin mereka berpikir, bahwa dirinya hanyalah patung tak bernyawa.

“Apa kamu tidak ada kerjaan lain, selain mengganggu orang sakit?” Pertanyaan Carlton lebih mirip dengan sindiran.

“Baiklah-baiklah, aku akan segera pergi dari sini. Kakak ipar, lekas sembuh.” Keenan tersenyum dengan manisnya ke arah Elliana.

Kepergian Keenan, seolah membawa semua suasana hangat yang sempat menghiasi kamar itu. Setelah Keenan keluar dari sana, suasana terasa lebih membosankan, karena Carlton hanya sibuk memainkan ponselnya. Tanpa ada niatan untuk berinteraksi dengan Elliana.

Dering ponsel Elliana memecah keheningan di ruangan itu. Elliana sedikit kesusahan untuk meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Tanpa sepatah katapun, Carlton memberikan ponsel Elliana, lalu kembali duduk ke tempatnya setelah Elliana menerima teleponnya.

“Hallo, Nad.”

“Hallo, El. Kamu dimana? Dari tadi aku chat kamu, tapi nggak ada satupun yang di bales.” Gerutu Nadila.

“Ya ampun, maaf Nad. Aku belum sempat membuka ponselku. Sepertinya aku nggak masuk kerja hari ini, nanti aku hubungin bagian personalia untuk izin.”

“Tapi nanti sore ada rapat dengan tim editing, El.” Mau bagaimana lagi, karena kehadiran Elliana sangat penting.

“Baiklah, akan aku usahakan. Kalaupun aku tidak bisa datang, mungkin nanti bisa virtual.”

“Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu nggak masuk kerja El?” Nadila menelisik sahabatnya yang terlihat tengah duduk di atas tempat tidur.

“Tadi pagi, ada sedikit insiden. Jadi sekarang aku lagi di rumah sakit.” Elliana mengacungkan tangan kirinya yang terpasang selang infus.

“Astaga, Elliana...” Pekik Nadila.

Teriakannya itu berhasil membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Emmanuel yang kebetulan ingin menemui Elliana.

“Ada apa, Nadila? Kenapa kamu berteriak seperti itu?” Pertanyaan Emmanuel membuat Nadila semakin terkejut, pasalnya atasannya itu berada di belakangnya.

“A-anu... I-itu tuan, bu Elliana masuk rumah sakit.”

Mendengar Nadila menyebutkan nama Elliana, laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan ruangan tanpa sepatah katapun.

...*****...

“A-apa aku boleh minta tolong?” Elliana bertanya dengan gugup pada suaminya.

“Hmmm.”

“Bisakah kamu membawakan laptopku, tadi pagi aku membawanya di mobilku.”

Carlton tidak menjawab, tapi dia menyerahkan sebuah tas yang ternyata milik Elliana.

“Saat kamu di kamar mandi, Keenan kembali lagi memberikan tas itu.”

“Aku harus pergi ke kantor. Hanya sebentar.” Imbuhnya.

“Pergilah, aku sudah tidak apa-apa.” Elliana menyunggingkan senyumnya.

Sepeninggal Carlton dari kamarnya, Elliana membuka laptopnya. Mempersiapkan beberapa dokumen dan juga buku catatannya yang di perlukan saat meeting nanti.

Hingga waktu meeting tiba, Elliana kembali mendapatkan telepon dari Nadila. Untuk memastikan apakah bisa datang atau tidak. Elliana tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan tangan masih terpasang infus. Jadi meminta tim nya agar bisa memaklumi dirinya, karena ikut meeting melalui virtual saja.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan meeting berjalan dengan lancar. Setelah ini, tinggal satu kali pertemuan lagi sebelum programnya tayang di akhir pekan nanti.

Saat pintu kamarnya terbuka, Elliana menolehkan kepalanya, dia pikir itu adalah suaminya. Tapi ternyata, yang datang adalah Selena. Perempuan yang sama sekali tidak di harapkan kedatangannya, baik ke dalam kamarnya, maupun rumah tangganya.

“Untuk apa kamu datang ke sini?” Ketus Elliana.

“Tentu saja untuk menjenguk calon jandanya kekasihku.” Dengan mudahnya Selena mengucapkan hal itu di depan Elliana.

Andai saja, andai saja dia punya sedikit sifat yang mudah tersulut emosi. Mungkin saat ini, rambut Selena yang dia gerai bisa saja copot dari kepalanya.

Elliana mengatur napasnya, demi meredakan kekesalan hatinya. Dia hanya mampu mengepalkan tangannya.

“Pergi dari sini! Aku tidak butuh di jenguk perempuan seperti kamu.” Usir Elliana tanpa menoleh ke arah Selena.

“Syukurlah kalau kamu tidak terluka parah. Jadi Carlton bisa leluasa pergi keluar kota bersamaku.” Selena tersenyum miring.

Keluar kota? Mereka berdua? Untuk apa? Elliana bertanya dalam hatinya sambil menatap Selena.

“Tadinya aku berharap lagi kalau kamu terluka parah, syukur-syukur kamu mati sekalian. Jadi aku tidak perlu bersusah payah memisahkan kalian.”

Pyaarrr...

“Akkkhh...” Teriak Selena yang terkejut karena Elliana melemparkan gelas ke arahnya, yang kemudian pecah begitu menyentuh lantai.

Kebetulan sekali, ketika itu terjadi Carlton masuk ke kamar langsung terkejut dengan ulah kedua perempuan tersebut.

“Astaga... Sakit sekali...” Rintih Selena sedikit mendramatisir, karena ada serpihan gelas yang mengenai kakinya hingga berdarah.

“Ada apa ini? Elliana apa yang kamu lakukan?” Bentak Carlton menatap kedua perempuan itu bergantian.

Menyadari Selena terluka kakinya, Carlton mendudukkan perempuan itu di sofa yang ada di sana.

“Kalau kalian mau bermesraan, tolong lakukanlah di luar. Aku mau istirahat, tolong jangan menggangguku.” Elliana merebahkan tubuhnya membelakangi kedua orang tersebut.

“Elliana, kamu bahkan belum meminta maaf pada Selena. Kamu juga berhutang penjelasan padaku.”

“Pergilah Carl, aku tidak memiliki tenaga untuk berdebat denganmu.” Lirihnya

Dia yang menyuruh suaminya pergi, tapi dia juga yang merasa kecewa. Lantaran Carlton benar-benar memilih pergi dengan Selena. Padahal sebelumnya, Carlton sudah setuju bahwa dalam waktu tiga bulan ini mereka akan bersikap selayaknya suami istri pada umumnya. Harusnya Elliana bukan hanya meminta suaminya untuk tidak membawa perempuan itu ke rumahnya saja, tapi juga ke dalam hubungan mereka berdua.

Pikirannya larut dengan hal-hal di luar dugaannya, apalagi Selena sempat menyebutkan bahwa mereka akan pergi ke luar kota bersama.

Saat pikirannya sudah lelah, rasa kantuk mulai menyerang matanya. Perlahan Elliana menutup matanya, namun urung saat dering ponselnya menjadikan rasa kantuk itu menguar entah kemana.

“Hallo.”

“El... Bagaimana keadaanmu sekarang?” Suara di seberang sana benar-benar terdengar sangat khawatir.

“Aku baik-baik saja.” Tangannya mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.

“Maaf nggak bisa nemenin kamu.” Sesalnya.

“Beneran, aku udah nggak apa-apa. Hanya tinggal tunggu hasil pemeriksaan aja. Salam buat oma. Aku kangen.” Elliana menundukkan kepalanya.

“Baiklah. Lekas pulih. Oma khawatirin kamu terus.”

“Bilang sama oma, jangan terlalu cemas. Oma juga harus jaga kesehatan.”

Elliana meletakkan kembali ponselnya di samping bantal yang dia gunakan untuk tidur. Perempuan itu di kejutkan dengan kehadiran Carlton yang sudah duduk bersandar di sofa.

“Siapa yang menelepon?” Carlton penasaran dengan laki-laki yang bertelepon dengan istrinya.

“Sejak kapan kamu ada di situ?”

“Entahlah, mungkin sejak kamu bilang kangen pada laki-laki yang bicara denganmu.”

“Sudahlah. Itu semua tidak penting. Lebih baik kamu tidur. Ini udah larut.” Carlton merebahkan tubuhnya di sofa yang tidak akan muat dia tiduri itu.

“Kenapa kamu balik lagi kesini, bukannya pulang ke rumah?”

“Biar apa? Biar kamu bebas bertelepon dengan pacar kamu itu?”

Elliana hanya mendengus mendengar pertanyaan Carlton, lagi-lagi suaminya itu menuduhnya selingkuh. Padahal harusnya yang berkata seperti itu adalah Elliana, karena laki-laki itu pergi bersama dengan mantan kekasihnya.

Terpopuler

Comments

YuWie

YuWie

miss kom terusss

2024-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!