Seorang perempuan yang duduk di ruang tengah, tampak mengepalkan tangannya setelah menerima beberapa foto yang di kirimkan oleh orang suruhannya.
“Mama belum tidur?” Keenan menyapa ibunya yang terlihat menahan kesal.
“Dari mana kamu?” Marina menatap tajam ke arah putranya.
“Aku baru pulang kerja, ma.”
“Kamu pikir mama nggak tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana?” Marina melemparkan foto-foto yang memperlihatkannya tengah merangkul Elliana.
Foto itu di ambil pada saat Keenan membantu Elliana tadi pagi. Keenan menggenggam erat foto yang sebagian berserakan di lantai.
“Mama nyuruh orang buat mata-matain aku?”
“Mama cuma nggak mau, kamu menghabiskan waktu percuma dengan bertemu perempuan itu lagi.”
Keenan memejamkan matanya untuk sesaat, dia sendiri merasa jengah dengan sikap ibu kandungnya tersebut. Sudah cukup. Cukup sekali saja, dia tidak ingin lagi Marina mencampuri kehidupannya.
Karena bukan kali ini saja. Dulu, Marina melakukan hal yang sama seperti saat ini. Keenan sampai harus kehilangan cintanya, bahkan di saat dia belum memulai semuanya.
“Aku cuma menolongnya, ma. Elliana kecelakaan dan butuh pertolongan, itu aja, nggak lebih.” Tukas Keenan.
“Pokoknya mama nggak mau kamu dekat-dekat dengan perempuan yatim piatu itu!”
“Cukup ma. Nggak lagi, ma. Cukup satu kali, mama menghina Elliana. Asal mama tahu, meskipun aku belum bisa melupakannya, tapi aku sudah mengikhlaskannya jadi istrinya kak Carlton. Jadi buang jauh-jauh pikiran mama untuk menyakiti Elliana lagi.” Keenan berlalu dari hadapan ibunya yang terlihat meradang.
...*****...
“Kenapa? Apa aku salah bicara?”
“Entahlah, rasanya percuma ngomong sama kamu. Silakan menikmati pikiran-pikiran picikmu sendiri.” Elliana merebahkan tubuhnya, menutup dengan selimut sebatas leher dan membelakangi suaminya.
Setelah perdebatan itu, keduanya terlelap begitu saja.
Menjelang pagi, Elliana bangun lebih dulu. Saat dia membuka matanya, Carlton masih terlelap dalam tidurnya.
Elliana menatap Carlton dari tempat tidurnya. Meskipun raganya ada bersamanya, tapi hatinya merindukan Carlton yang dulu.
Semoga dalam waktu tiga bulan ini, kamu bisa mengingatku lagi, Carl. Aku mohon, ingatlah aku. Batin Elliana, tak terasa bulir air mata menetes dari sudut matanya.
Elliana menutup matanya kembali, saat ponsel milik Carlton berdering.
Dengan mata yang masih tertutup, Carlton menerima panggilan yang masuk pada ponselnya.
“Hallo...” Ucap Carlton dengan suara khas bangun tidurnya.
Karena jarak tempat tidur dan juga sofa lumayan jauh, Elliana tidak bisa mendengar suara dari si penelepon.
“Baiklah, aku akan minta Felix memesankan tiket pesawat untukku.”
Tak lama setelah mengucapkan itu, Carlton menghubungi Felix. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian pergi ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar setelah mencuci muka, Carlton melihat Elliana masih tertidur. Dia berniat pergi tanpa harus pamit pada Elliana.
“Kamu mau kemana?” Pertanyaan Elliana menghentikan tangan Carlton yang baru saja akan meraih handle pintu.
“Aku harus pergi keluar kota...”
“Pergilah.” Ucap Elliana berhasil memotong ucapan Carlton yang belum selesai.
“Aku akan menyuruh bi Nana untuk menemani kamu di sini, sampai aku kembali.”
“Nggak perlu, aku bisa sendiri. Pergilah.” Ketus Elliana.
Sungguh, Elliana ingin Carlton segera pergi dari kamarnya. Karena dia sudah tidak kuat lagi menahan tangisannya. Tangannya menggenggam erat selimut yang dia gunakan.
Elliana menangis sejadi-jadinya, setelah Carlton keluar dari kamarnya.
Tuhan, sakit sekali. Elliana memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri.
“Bahkan keadaanku yang seperti ini, tidak bisa menahanmu lebih lama, Carl. Sekuat itu kah ingatanmu tentangnya, sampai kamu melupakan aku, istrimu sendiri.” Ucap Elliana dengan isak tangisnya.
Cukup lama Elliana menangis, tapi harus berhenti saat dokter dan juga perawat masuk ke dalam kamarnya untuk melakukan pemeriksaan. Dia menghapus sisa-sisa air matanya.
...*****...
Dua hari sudah Elliana harus tidur di rumah sakit. Sampai Elliana keluar dari rumah sakit, Carlton sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Hasil CT Scan sudah keluar. Syukurnya, tidak ada hal serius yang perlu di khawatirkan.
Bukannya pulang ke rumah, Elliana malah langsung pergi bekerja. Seolah-olah kejadian kemarin bukanlah apa-apa baginya.
“Astaga, El. Kenapa kamu masuk kerja sih?” Pekik Nadila saat menyadari sahabatnya itu kini tengah berdiri di hadapannya.
“Aku nggak apa-apa, Nad.” Elliana mengembangkan senyumnya.
“Ya tapi, harusnya kamu itu istirahat aja di rumah.” Nadila di buat kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
Nadila bisa melihat dengan jelas, mata Elliana yang sembab seperti baru menangis.
“Dari kemarin aku sudah kebanyakan istirahat.” Tukas Elliana.
“Sudahlah, sebentar lagi program kita tayang. Lebih baik kita fokus cari bahan untuk episode minggu depan.” Imbuh Elliana.
Nadila hanya menggelengkan kepalanya, susah memang, kalau bicara sama perempuan yang satu itu. Kepala batu. Tapi Elliana adalah orang yang paling baik bagi Nadila, di antara yang paling baik.
Mereka berteman semenjak SMP, yang Nadila tahu, Elliana adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Selain itu, Nadila tidak pernah berani untuk bertanya hal lebih karena takut menyinggung perasaannya.
Sebelum bertemu dengan Elliana, hidup Nadila serba kekurangan. Dia bisa bersekolah pun berkat beasiswa yang di terimanya. Ayahnya hanya seorang sopir taksi harus kehilangan pekerjaannya karena di tuduh curang oleh temannya sendiri. Ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga harus ikut mencari nafkah dengan berjualan pecel keliling.
Tapi semenjak bertemu dengan Elliana, hidupnya berubah. Ayahnya tiba-tiba di tawarkan pekerjaan menjadi sopir di panti, tempat Elliana tinggal. Dengan gaji di atas rata-rata sopir pada umumnya yang dia tahu. Nadila juga mendapatkan beasiswa sampai lulus kuliah. Sampai suatu hari, Nadila mendapatkan sebuah surat. Dalam surat itu, seseorang menitipkan Elliana pada Nadila.
Tolong jaga cucuku. Saya tahu, kamu adalah anak yang baik. Karena itu, Elliana nyaman berteman denganmu. Temani dia, hibur dia, saat kami tidak bisa melakukan semua hal itu untuknya.
Meski tanpa adanya surat itu, Nadila tetap akan melakukan semua itu. Karena Elliana adalah sahabatnya.
Semenjak itulah, Nadila selalu berada tidak jauh dari Elliana. Nadila akan melakukan apapun untuk melindungi sahabatnya.
“NADILA.” Pekik Elliana.
“Astaga. El, kamu mau bikin aku kena serangan jantung?” Nadila mengelus dadanya, untuk menetralkan rasa terkejutnya.
“Habisnya, dari tadi aku panggil kamu nggak denger. Ngelamunin apa sih?”
“Sorry. Ada apa?” Nadila hanya nyengir kuda.
“Ke ruang meeting sekarang.” Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Nadila.
Nadila jadi orang terakhir yang datang ke ruang meeting. Semua anggota tim nya sudah berkumpul di ruang meeting.
Meeting itu di awali dengan menonton tayangan program yang mereka pegang, yaitu Let’s Cook!
Tayangan kali ini, sedikit membosankan bagi mereka. Mengingat proses shooting yang memakan waktu lebih banyak dari episode sebelumnya. Tapi mereka cukup puas dengan rating penonton yang di dapat. Meskipun sama dengan episode sebelumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
YuWie
anehhh keturunan kaya raya kok malah tersiksa,
2024-01-17
1