Pulang jam berapa?
Mendapatkan pesan dari Elliana yang menanyakan kepulangannya, Carlton menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Hari ini aku pulang cepat. Kenapa?
Carlton mengerutkan keningnya, karena Elliana tampak mengetik tapi belum ada satupun pesan yang masuk.
Cukup lama menunggu, akhirnya Elliana mengirimkan pesannya.
Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.
Siapa? Balas Carlton dengan cepat.
Nanti juga kamu akan tahu.
Entah sejak kapan, Elliana berubah jadi perempuan yang membuat Carlton penasaran. Sepenting apa orang yang ingin bertemu dengannya?
“Maaf tuan, persiapan meetingnya sudah selesai.”
“Bagaimana dengan Tuan Edgar, apa dia sudah datang?”
“Romy bilang, mereka sebentar lagi sampai tuan.”
“Baiklah. Ayo.”
...*****...
Di sebuah studio pemotretan, Keenan tampak begitu antusias dengan pekerjaannya.
Keenan bekerja menjadi seorang fotografer. Di dunia hiburan, dia jadi terkenal karena orang yang profesional. Hasil jepretannya juga bukan main-main. Padahal dia adalah lulusan terbaik di jurusan manajemen. Hanya saja dia lebih memilih terjun ke bidang pekerjaannya yang sekarang, karena tidak mau bersaing dengan kakaknya.
Fotografi adalah hobinya sejak SMA. Tapi sayangnya kedua orang tuanya menentangnya habis-habisan. Aarav dan juga Marina menyuruh Keenan untuk kuliah di bidang manajemen, agar bisa ikut mengurus perusahaan. Dengan berat hati Keenan menuruti kedua orang tuanya.
Tapi tidak kali ini, karena Marina menginginkan Keenan untuk menggeser posisi Carlton. Dia memilih bekerja sebagai fotografer.
“Hai Keenan... Lama tidak berjumpa.” Sapa seorang perempuan.
Keenan memutar bola matanya malas saat tahu perempuan yang menyapanya.
“Astaga. Apa kamu sudah lupa siapa aku?”
“Hai, Sel.” Ucap Keenan malas.
Ya. Perempuan itu adalah Selena. Perempuan yang dulu hampir menjadi kakak iparnya. Kalau saja Keenan tidak bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan, dia sama sekali tidak mau berurusan dengan perempuan satu ini.
“Jangan ketus-ketus begitu. Sebentar lagi, aku bakalan jadi kakak ipar kamu lho.” Bisik Selena.
Ucapan Selena membuat Keenan membulatkan matanya.
“Jangan ngadi-ngadi kamu.” Keenan tampak kesal.
“Bukannya, kalau aku jadi kakak ipar kamu. Kamu bisa kembali pada cinta pertamamu itu, Keenan?”
“Tutup mulutmu, Selena.” Ucap Keenan penuh penekanan.
Keduanya saling diam, saat rekan kerja yang lain datang.
Patut di acungi jempol. Meskipun sebelumnya sempat tersulut emosi oleh Selena, Keenan dapat menyelesaikan pemotretan hari itu.
Karena moodnya jadi berantakan, gara-gara Selena, Keenan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Pulang ke rumah bukannya istirahat, malah mendapat ceramah panjang lebar dari orang tuanya.
“Dari awal aku udah bilang sama mama juga papa. Kalau Keenan keberatan ikut andil mengelola perusahaan.” Keenan berhenti mengunyah makanan yang ada di hadapannya.
“Keenan!” Sentak Marina.
“Papa setuju dengan mama kamu. Papa udah menyiapkan posisi sebagai wakil CEO di kantor, menggantikan papa. Papa akan mengumumkan itu saat acara ulang tahun perusahaan.” Putus Aarav.
“Aku udah selesai.” Keenan pergi tanpa menanggapi ucapan Aarav.
“Keenan!” Teriak Marina.
Teriakan itu menggema, membuat telinga orang yang mendengarnya berdenging. Tapi Keenan sama sekali tidak menggubris kedua orang tuanya.
“Papa harus melakukan sesuatu, agar anak itu tidak bermain-main lagi dengan kameranya.” Ucap Marina pada suaminya.
“Baiklah, mungkin dengan begitu anak kurang ajar itu bisa berpikir kembali.”
Aarav dan juga Marina mengira bahwa Keenan hanya akan istirahat di kamarnya, tapi putranya itu turun dari kamarnya dengan membawa koper dan beberapa barang-barangnya.
“Keenan, ka-kamu mau kemana?” Marina menghentikan Keenan dengan meraih lengannya.
“Aku capek, ma. Aku capek, hidup dengan terus-terusan jadi boneka kalian berdua. Lebih baik aku pergi dari rumah ini.”
“Tidak. Papa tidak mengizinkan kamu pergi dari rumah ini.” Tegas Aarav.
“Mama juga nggak mau kamu pergi dari rumah.” Marina menggelengkan kepalanya.
“Nggak bisa ma, aku tetap akan pergi.”
“Tanu... Sudar...” Aarav berteriak memanggil bobdyguardnya.
“Siap tuan.” Ucap keduanya saat sampai di hadapan tuannya.
“Seret anak itu ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar dari rumah tanpa seizinku!” Ucap Aarav kemudian berlalu dari hadapan mereka.
“Ayo tuan.” Tanu dan juga Sudar sudah bersiap memegangi kedua tangan Keenan.
“Lepas!” Pekik Keenan.
“Kembalilah ke kamarmu, turuti ke inginan papamu. Mama nggak mau papa kamu semakin marah.” Mohon Marina.
...*****...
Pukul lima sore, Carlton sudah menunggu Elliana di tempat tadi pagi dia menurunkan istrinya. Berulang kali dia melihat jam yang melingkar di tangannya, Elliana belum muncul juga.
Lima belas menit kemudian, Elliana masuk ke dalam mobil Carlton.
“Maaf lama.”
“It’s ok.”
“Jadi kita mau kemana?” Imbuh Carlton.
“Gill’s mansion.” Elliana menjawab sambil memasang sabuk pengaman.
“Orang yang mau bertemu kamu tinggal di sana.” Imbuh Elliana saat Carlton menatapnya, seakan dia tahu kalau suaminya itu takut salah mendengar.
Kurang lebih setengah jam mereka sampai di Gill’s mansion. Tempat tinggal yang lebih mewah di bandingkan dengan rumah utama milik keluarganya, yang saat ini di tinggali oleh Aarav.
“Selamat sore, nona.” Sapa pelayan yang membukakan pintu.
“Sore juga Mela.” Balas Elliana.
Keduanya masuk ke dalam mansion, tapi tidak melihat tanda-tanda kehadiran si pemilik rumah.
“Aunty El...” Seorang anak kecil berlari sambil berteriak memanggil dan menghambur memeluk Elliana.
“Hai Darren.” Elliana membalas pelukan dari anak kecil itu.
Keduanya asyik berpelukan, sampai lupa bahwa Carlton juga ada di sana.
“Aunty, ini siapa?” Darren menatap Carlton dari atas sampai bawah.
“Ah iya kenalin, ini om Carlton.”
“Nggak mau, omnya serem.” Darren beringsut menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Elliana.
“Om Carlton ini, orangnya baik lho.” Elliana berusaha membujuk keponakannya.
Carlton pun berjongkok, untuk menyamakan tingginya dengan Darren.
“Hallo tampan.” Sapa Carlton.
“Ha-hallo om.”
Seorang pelayan yang tampak terlihat sudah tua menghampiri mereka.
“Kamar nona sudah saya rapikan, barangkali nona mau istirahat sebelum makan malam.”
“Terima kasih banyak, bi Ani.”
Pelayan itu hanya tersenyum dan membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu dari hadapan mereka dengan mengajak Darren pergi bersamanya.
“Ayo Carl.”
Tanpa membantah, Carlton mengikuti langkah istrinya dari belakang menuju ke lantai atas.
Ceklek.
Elliana dan juga Carlton memasuki sebuah kamar dengan cat bernuansa putih dan juga warna hijau mint.
Di kamar itu terdapat foto pernikahannya dengan Elliana, yang terpasang dengan bingkai yang besar di dinding. Beberapa foto Elliana juga bertengger dengan baik di atas meja kerja.
Foto anak kecil menjadi pusat perhatiannya saat ini. Di foto itu seorang anak perempuan yang memakai gaun berokat berwarna putih. Dengan senyum yang sangat manis.
“Apa anak kecil ini kamu?” Carlton bertanya sambil menunjuk foto yang saat ini tengah di lihatnya.
“Hmmm.”
“Terus kenapa ada foto pernikahan kita disini?”
“Karna ini kamarku.” Jawab Elliana enteng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
YuWie
masih gak mudeng jg kamu carl
2024-01-17
1