Part 19

Hari Jumat ini Damon ada jadwal untuk menjemput kembarannya beserta keluarganya di bandara.

Sekarang jam sepuluh pagi, sedangkan ia akan menjemput mereka pukul dua siang. Masih banyak waktu, niatnya akan menemui Jason.

Tapi tidak mungkin kan jika Damon menemui langsung ke rumahnya? Dan juga Damon tidak punya nomor ponselnya jadi bagaimana solusinya?

Beberapa hari yang lalu Damon mendapat telepon dari Robert bahwa putranya di tusuk dan ingin mendapatkan penanganan dari Damon, namun secara halus Damon menolaknya.

Awalnya memaksa tapi setelah Damon mengancam ingin menarik kembali investasinya di perubahan Robert baru lah dia menerimanya.

Damon tidak ingin menangani pasien yang telah membuat Jason menderita selama ini, biarkan saja kalau perlu jangan ada yang menanganinya.

Drrttt

"Om datang lah ke rumah sekarang!" Perintah Evan.

"Baik. " Damon segera menutup teleponnya dan bersiap untuk pergi ke rumah utama keluarga Agryos. Sepertinya akan membahas pesta yang di adakan oleh keluarga Alexander.

Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Damon memasuki pekarangan rumah, lebih tepatnya mansion.

Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu bodyguard yang ada di sana untuk memasukkan ke garasi.

"Bagaimana dengan Damian?" Tanya Castor saat melihat Damon dari arah pintu.

"Aku akan menjemputnya nanti siang. " Ia duduk di sebelah Eros yang sedang fokus terhadap ponselnya, Damon mengintip sebentar ternyata sedang main game.

Sedangkan Evan sedang bersantai menonton film yang di tayangkan di tv.

"Kita akan bahas setelah Damian datang. " Ucap Castor mutlak.

Setelah kepergian Castor, Damon juga ikut beranjak dari sana dia ingin beristirahat dulu sebentar di kamar miliknya.

Memang setelah Damian kembaran Damon memutuskan untuk pergi ke luar negeri, maka ia pun memutuskan untuk tinggal di apartemen.

Mansion ini hanya di tempati oleh Castor dan anak-anaknya. Dan kemungkinan besar sebentar lagi mansion ini akan kembali ramai karena orang-orang yang dulu pergi perlahan mulai datang kembali semoga saja.

Sementara itu keluarga Alexander masih berada di rumah sakit, bersyukurlah luka tusuk itu tidak terlalu dalam. Dan rencananya sore ini Rexi bisa pulang.

"Ayah apa pesta itu tidak bisa di undur saja?" Tanya Rezy, ia khawatir terhadap kembarannya yang masih belum pulih jika pesta di adakan besok malam.

"Tidak bisa nak, ayah sudah menyebarkan undangan. "

"Tapi ayah, Revan kan gagal ikut olimpiade kenapa pestanya akan tetap berlanjut. Revan udah mengecewakan kalian.. " ujarnya dengan kepala menunduk, Angel mendekati Revan yang sedang duduk di sofa lantas memeluknya penuh kasih sayang.

"Pesta itu tujuan utamanya adalah mengumumkan bahwa kamu resmi bagian dari keluarga Alexander sayang.. " ucap Angel dan di setujui oleh mereka.

"Tapi kak Rexi masih sakit.. "

"Kakak gak papa kok Van, besok juga pasti sembuh.. " Revan perlahan mengangkat kepalanya ternyata mereka sedang menatap dirinya.

"Revan sayang kalian.. " cicitnya.

Robert yang melihat itu gemas lantas mengusap lembut Surai milik Revan.

"Revan izin ke taman boleh?"

"Iya hati-hati ya.. "

Di taman rumah sakit Revan langsung melihat objek yang ia cari. Berjalan ke arahnya dan duduk di samping orang itu.

"Pasti rasanya sakit melihat gue di sayang banget sementara lo di buang... "

Jason mendelik tajam, "Gue bisa mendapatkan lebih dakhi apa yang lo punya. "

"Oh ya? Terus kenapa lo datang ke sini? Mau minta maaf? Mimpi lo ketinggian mereka gak bakal maafin lo!!" Ucap Revan dengan percaya diri.

"Tekhnyata semua sisi bukhuk yang di miliki manusia ada dalam dikhi lo!"

Revan terkekeh, "Lo baru nyadar ya? Itu lah gue namun dengan cara itu gue bisa mendapatkan apa yang gue mau.. "

Jason masih dengan pandangannya ke depan, "Bahagia banget lo, gue yakin besok nasib lo bakal sama kayak gue. "

Dahi Revan mengerut, "Maksud lo?"

"Kayaknya setelah kebenakhan tekhbongkakh teman lo Akhas akan membenci lo!" Jason bangkit dan pergi dari sana.

Ia datang ke rumah sakit bukan untuk menemui Rexi tapi Jason ingin bertemu dengan dokter Damon hanya saja orang yang ia cari tidak ada.

__________

Menunggu tiga puluh menit akhirnya orang yang ia tunggu-tunggu datang juga, dengan cepat Damon memeluk Damian namun pelukan itu tidak di balas justru Damian mendorong tubuh Damon agar menjauh darinya.

"Hey! Kau tidak rindu dengan kembaranmu ini?"

"Sudah lah kak ayo kita pulang " ucap Fani sambil mengikuti suaminya masuk ke mobil.

Damon menjemput kembarannya tanpa di dampingi bodyguard jadi dirinya yang menyetir sendiri. Dalam perjalanan mobil itu begitu sunyi tidak ada satu pun suara yang terdengar membuat Damon kesal.

"Damian kau sudah menerima kenyataannya kan?"

"...."

"Kau siap bertemu dengannya?"

"...."

"Aku hara--baiklah aku akan diam tapi tolong jauhkan pisau itu dari leherku. " Damon tersentak kaget saat merasakan benda tajam menyentuh kulit lehernya. Ternyata Damian pelakunya.

Sekejam apapun Damon maka lebih kejam lagi kembarannya, se dingin apapun Castor maka lebih dingin lagi Damian, semenakutkan apapun Castor dan Damon lebih menakutkan lagi Damian.

Semua orang tau itu, namun ada satu keluarga yang belum merasakan kekejaman Damian keluarga yang benar-benar menguji kemarahan Damian.

Sampai di mansion Agryos, Damian membawa istrinya untuk berisitirahat, saat ia melewati ruang tamu di sana ada Castor dan si kembar namun tidak di lirik sama sekali oleh Damian membuat Castor menghela napas lelah.

Susah sekali untuk mengajak adiknya itu berbicara.

"Kemana Damian? Kenapa cepat sekali menghilangnya. "

"Istirahat lah setelah makan malam kita akan membahas semuanya. "

____________

Malam ini langit terlihat begitu indah, banyak bintang-bintang dan juga bulan penuh yang memancarkan cahayanya.

Jason tidur terlentang di rerumputan taman dekat rumahnya dengan pandangan fokus ke bintang. Tadi sore mereka sudah pulang ke rumah, dan itu membuat suasana hati Jason buruk.

Jadi dia pergi ke sini dengan membawa box itu, Jason penasaran dengan surat itu karena dia belum sempat membacanya.

Di bawah pencahayaan yang remang-remang Jason berusaha membaca surat-surat itu, hingga beberapa menit kemudian napasnya tercekat, jantungnya seakan berhenti berdetak kala--

"Hah.. ini ukhusannya sama Jason asli, tapi sumpah gue kaget banget.. "

Jason kembali merapikan surat-surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam box tak lupa flashdisk pun ia masukan kembali.

Memejamkan mata sebentar tidak apa sepertinya.

"Aku kaget liat isi box itu Akhes. "

"Gue juga kaget apalagi video itu anjing!! Andai aja gue tau dari dulu udah gue bunuh tu orang!"

"Gak nyangka banget ya.. "

"Jas gue harus gimana? Sama keluarga lo?"

Jason tahu maksud Ares, ia tersenyum.

"Aku sekhahkan sama kamu, kan sekakhang khaga aku kamu yang kendalikan. "

"Bener nih semuanya lo serahin ke gue?"

"Iya, walaupun sangat di sayangkan setelah aku tiada fakta itu bakhu tekhungkap. "

"Lo pasti pengen peluk mereka kan?"

"Banget!!! "

"Gue gak tau mereka bisa menerima gue atau enggak setelah mendengar kenyataannya. Kalaupun mereka tidak mau menerima gua gak papa gue bisa hidup sendiri atau mungkin setelah masalah selesai gue bunuh diri aja.. "

Plak!!

"Gak boleh gitu, Tuhan baik membekhi kamu kesempatan ke dua kamu hakhus gunakan sebaik mungkin. "

"Entah lah gue pikiran lagi nanti. "

"Aku pamit ya. "

Jason bangkit dan segera pergi dari sana dengan memeluk box itu, ini sudah larut malam. Tidak terasa begitu sunyi berdiam diri di taman ini.

Di perjalanan pulang ia mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang menelepon.

"Papa aku rindu.. "

Jason berdecih, iya tau suara siapa itu.

"Liat aja besok sialan!!"

____________

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!