"kenapa lukanya tambah parah!" Tanya Damon dengan tegas, bahkan sorot matanya begitu tajam bagai samurai.
Namun tak ayal, Ia memeriksa dan mengobati luka Jason dengan pelan. Sesekali anak itu meringis dan Damon memberhentikan sejenak.
"Jawab saya Jason!"
Bagaimana tidak murka! Saat pagi tadi Jason ke rumah sakit seorang diri karena hari ini memang jadwalnya untuk kembali melihat perkembangan luka yang ada di perutnya.
Namun bukan itu yang menyebabkan Damon marah besar, akan tetapi kenapa luka di perutnya semakin parah! Saat pulang dari rumah sakit memang belum kering tapi lebam di sisi-sisi lukanya sudah hilang, dan sekarang lebam itu kembali ada.
Damon yakin ada yang tidak beres dengan kehidupan Jason ini, atau mungkin hubungan dia dan keluarganya begitu buruk? Sampai-sampai anaknya koma saja Damon tidak melihat orang tua anak ini menjenguk.
Dan sekarang, Jason jadwalnya untuk di check orang tuanya pun tidak mengantarnya. Rasa penasaran semakin membuncah dan menjadi tantangan tersulit untuk saat ini bagi seorang Damon Argyros.
"Pekhut Jason tekhgokhes ujung meja makan dok. " Jawabnya tanpa ada kegugupan di setiap katanya.
Damon nampak terdiam sejenak, tapi kok?
"Baiklah, jaga luka kamu jika terus-menerus ceroboh akan lama untuk sembuhnya. "
"Oke dok, tekhima kasih. " Ia beranjak dari sana untuk pulang, mungkin pak supirnya sudah menunggu di parkiran.
"Tunggu, saya antar kamu pulang. "
"Tidak usah dok, Jason udah ada yang jemput kok. "
Menghela napas, "Yasudah. Hati-hati. "
Jason mengangguk dan kembali berjalan, sembari bersenandung kecil. Sekarang Ia harus kemana? Kalau pulang ke rumah pasti akan membosankan, atau pergi main aja ya?
Sesampainya di parkiran ternyata benar supirnya sudah sampai, dan Jason langsung saja masuk ke dalam mobil.
Di ambilnya ponsel di dalam saku celana, Jason melihat jam ternyata baru jam sepuluh pagi.
"Pak mampikh ke mall dulu ya. "
"Baik tuan muda. "
Untunglah Ia membawa banyak uang cash yang Ia dapatkan dari celengan ayam jadi bisa membeli barang apapun yang Ia mau. Dan besok Jason sudah mulai kembali sekolah, huh sudah tidak sabar.
Sebenarnya Ares tahu celengan itu sengaja Jason isi agar uangnya terkumpul sebab Ia ingin berkuliah di luar negeri, namun sekarang tubuh ini sudah di kuasai oleh Ares maka apapun akan Ares lakukan untuk menyenangkan dirinya.
"Sudah sampai tuan. "
"Tekhima kasih pak, bapak bisa pulang dulu nanti Jason telepon lagi kalau mau pulang. "
Pak supir itu mengangguk lantas pergi meninggalkan Jason sendiri di mall. Ia mulai memasuki mall langsung saja menuju lantai dua untuk mencari baju terlebih dahulu.
Baju seragam, dan baju santai lainnya. Tidak terasa sudah dua jam Jason berkeliling di mall dan sudah menjinjing lima paper bag, kini perutnya minta diisi.
Ia mampir ke restoran Jepang, dan memesan sushi sama chicken katsu. Saat sedang menikmati makanannya tidak sengaja netra milikinya menangkap segerombolan remaja yang beberapa di antaranya Ia kenali.
Mereka baru saja masuk ke restoran Jepang dengan seragam sekolah yang masih melekat pada tubuh. Jason tersenyum smirk, Tuhan baik banget belum sekolah saja Ia sudah di pertemukan dengan mereka orang-orang yang sangat-sangat baik hati terhadap Jason.
Baiklah, kita lihat saja apak-
"Loh Jason?"
Jason yang menunduk pun kini mendongak menatap orang yang barusan menyebut namanya.
"Kenapa?"
"Kamu kok bisa ada di sini?" Tanya Revan. Sungguh pertanyaan yang tidak bermutu.
"Ini Jason lagi ngemis.. "
"Ck, malu-maluin lo! Balik sana, kayak gak pernah di kasih makan aja lo!" Sarkat Rezy.
"Bukannya benekh ya? Jason kan gak pekhnah di kasih makan. " Ucapan Jason langsung mendapat perhatian dari banyak pengunjung.
Rezy langsung menarik Revan untuk menjauh dari Jason, di ikuti dengan yang lainnya. Keenam remaja itu duduk tidak jauh dari tempat Jason.
Ia terkekeh, lantas kembali melanjutkan makannya. Salah satu dari mereka tidak pernah berbicara, berinteraksi dengan Jason bahkan Jason sendiri tidak pernah mendengar suaranya. Ia yakin orang itu bisu.
Bahkan Berinteraksi dengan Revan pun tidak, dan itu sukses membuat Jason penasaran. Apakah dirinya bisa membuat semua orang terkejut?
Setelah selesai makan, Jason sempat melirik sekilas mereka dan ternyata Revan sedang di suapi oleh Geri dan dengan sengaja Revan melirik Jason alhasil mereka saling tatap. Ia paham mungkin maksud Revan Ia ingin pamer bahwa dirinya punya banyak pelindung.
Oh sungguh, Jason tidak ada rasa panas ataupun sakit sedikitpun. Mungkin Jason yang dulu sakit melihat itu tapi tidak sekarang.
"Mau aja si Gekhi jadi babunya si Khevan. " Gumam Jason.
"Jason sini lo!" Titah Rexi, dengan patuh Jason menghampiri meja mereka.
"Kenapa kak?"
"Bayarin makanan kita! "
"Kok Jason sih? Emangnya kakak gak punya uang?" Tanya Jason polos, sebenarnya sih pura-pura polos. Dan biasanya Jason akan selalu menurut tanpa membantah. Tapi kali ini bermain-main sedikit tidak apalah.
"Lo berani ngelawan gue hah!"
"Bu-bukan gitu kak, tapi kan Jason gak bawa uang banyak. "
Brak!
"Bayar ya tinggal bayar aja sih malah banyak bacot lo!" Bentak Geri.
"Kak udah, biar Revan aja yang bayar. "
"Enggak Van. Dia aja dia kan babu kita!" Jelas Rezy.
"Kak gak boleh gitu ngomongnya. "
"Lo lihat! Revan baik banget mau bayarin kita makan, dan lo adik gue sendiri gak mau bayarin kakaknya sendiri?"
Jason terkekeh, "Yaudah kak Khevan aja yang bayakh. Kan yang makan kalian bukan Jason. " Seketika mimik wajah Jason berubah menjadi datar.
"Lo keterlaluan! " Tangannya terangkat untuk menampar pipi Jason, namun dengan cekatan Jason mencekal lengan itu dan memelintirkan kebelakang tubuhnya.
"Akhh.. sakit anjing! Lepas lo!" Umpat Rexi, ia meringis baru pertama kali Jason melakukan kekerasan terhadapnya.
Karena mereka kini sudah menjadi pusat perhatian, Jason melepaskan tangan Rexi dan pergi dari sana tanpa berucap apapun lagi.
_________
"Jadi Jason melakukan itu semua?" Tanya Robert dengan kedua tangan terkepal. Ia marah mendengar cerita dari putra kembarnya bagaimana Jason berperilaku memalukan di mall.
Dan kini Robert sedang menunggu Jason, sebab sudah jam sembilan malam anak itu belum pulang juga.
"Ayah... Jangan marahin Jason kasian.... " Ucap Revan dengan wajah memelas.
Robert tersenyum dan mengelus lembut Surai milik Revan, "Kamu masuk ke kamar ya, istirahat besok kan sekolah. "
"Siap! "
Tak lama pintu utama terbuka terlihat Jason sedang berjalan masuk, dengan langkah lebar Robert menghampiri Jason dan..
Plak!
"Tiada hakhi tanpa tampakhan bagai sop tanpa gakham, hambakh. " Batin Jason.
Jason menatap nyalang ke arah Ayahnya, dan Robert sungguh terkejut sebab Ia baru pertama kali melihat tatapan itu dari Jason.
Robert mencengkram erat kedua pipi Jason, "KENAPA KAMU MENUMPAHKAN MAKANAN PANAS DI TANGAN REVAN HAH! KENAPA!" bentaknya membuat Jason memejamkan matanya.
"What!! Kapan? "
"Hey manusia tolol! Sebelum menanyakan hal itu, cakhi tekhlebih dahulu bukti yang akukhat! " Timpal Jason dengan tenang, namun menusuk. Lagi-lagi Robert di buat terkejut dengan putranya ini.
Jason tidak lagi mempunyai rasa hormat terhadap ayahnya.
"Ini bakhu pekhmulaan kita belum mencapai ******* wahai manusia-manusia bodoh!" Batin Jason dengan terkekeh.
Seketika cengkraman itu meluruh dan Jason memanfaatkan keadaan itu untuk kabur.
Robert tidak bergeming sama sekali, kenapa rasanya begitu sakit mendengar kalimat yang di ucapkan Jason barusan?
___________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Robert
Ngga bisa move on!
2023-08-04
1
Ritsu-4
Menghancurkan hati
2023-08-04
1