Part 15

Kabar lolosnya Jason dalam seleksi olimpiade sudah menyeruak ke penjuru sekolah, bahkan ke penjuru daerah sebab pada biasanya setiap tahun Revan dan Eros yang selalu menjadi perwakilan dan di takuti siswa lainnya dalam tingkat nasional.

Namun sekarang ada nama baru yaitu Jason dan Eros yang akan mewakili sekolah. Dengan tersebarnya berita itu membuat Revan frustasi dan marah.

Banyak juga dari para siswa yang nantinya akan menjadi saingan Jason dan Eros meragukan kemampuan Jason.

"Lihat saja besok waktunya lo semua bakal tekhkagum kagum sama gue. " Gumam Jason, lantas mematikan ponselnya.

Setelah membaca berita dan komentar dari orang-orang membuat dirinya semakin menggebu-gebu ingin segera memperlihatkan kemampuan yang ia miliki agar bisa membungkam mereka.

Setelah kejadian dimana Jason melukai pipi Dimitri, keluarga itu semakin gila terhadap Jason namun ia pun tak kalah gila terhadap mereka.

Namun entah kenapa setelah melukai Dimitri Jason tidak di usir dari rumah.

Sudah dua jam Jason berdiam diri di kamar sejak pukul enam malam kini sudah pukul delapan malam, waktunya keluarga makan malam jadi ia akan turun.

Benar, semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan, namun yang membuat Jason heran kursi di meja makan itu kembali pas tidak ada untuk Jason.

Sret!!

"Minggikh lo!!" Jason menyeret Revan yang sedang makan, dan itu membuat mereka semua kaget sekaligus marah.

"JASON!!"

"Apa? Gue melakukan hal yang benakh kok.. "

Brak!!

"Keterlaluan kamu! Ikut saya!" Robert menarik pergelangan tangan Jason dan membawanya ke gudang, dimana dulu ia di tusuk di bagian perut.

Robert melempar Jason membuat tubuhnya membentur tembok, ia melihat ayahnya mengunci pintu gudang lantas mendekat ke arah Jason.

"Sudah berani kamu melawan keluarga sendiri hah!!"

"Semua itu tak jauh dakhi apa yang telah kalian lakukan sama gue!!"

Jason melihat Robert memegang gunting, entah dari mana yang jelas tadi ia tidak melihatnya.

Tatapannya begitu menusuk, namun tidak membuat Jason takut. Ia berdiri dan merapatkan punggungnya ke tembok.

Robert mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan mengarahkan gunting itu ke arah Jason, "SIALAN!!!!!!"

"AKHHHHH!!!"

Jason berhasil menghindar, dengan napas tercekat ia melihat ban mobil yang menjadi korban kejahatan Robert.

Ia mengedarkan pandangannya, untuk mencari sesuatu agar bisa melakukan perlawanan dan netranya itu menangkap pulpen.

Jason akan memanfaatkan itu, ia mengambil pulpen itu dan mendekat ke arah Robert yang sekarang posisinya sedang menodongkan gunting ke arah Jason.

"Lo pikikh gue takut hah! Enggak!!!" Perlahan langkahnya mendekat dan kini jaraknya tidak jauh, hingga hitungan detik.

Sret!

Jason berhasil menjatuhkan gunting yang ada di genggaman Robert dengan cara menendangnya, setelah itu Jason menendang perutnya membuat Robert terjatuh.

Pulpen yang ia genggam di arahkan ke arah matanya dan kedua lengan Robert di injak oleh kedua kaki Jason membuat Robert melotot, "Kamu berani sama saya hah!!"

"Kenapa enggak?"

Tinggal beberapa centi lagi pulpen itu mengenai netra Robert, tangan kiri Jason di gunakan untuk mencari kunci gudang tak lama ia dapat dari saku celana Robert.

"Satu pekhtanyaan dakhi gue, gue ini anak anda atau bukan? Kenapa sikap kalian semua tekhhadap gue beda sekali?"

"...."

"Tidak bisa menjawab? " Jason memiringkan kepalanya, orang yang melihat itu pasti akan memekik gemas namun berbeda dengan Robert yang melihat penuh kebencian.

"Kayaknya ada sesuatu, baiklah gue hakhus cakhi tau sendikhi. "

"Sebenakhnya gue bia bunuh anda sekakhang juga. Bahkan pulpen ini bisa membuat mata anda buta!!"

"Akan tetapi.. " Jason tidak melanjutkan ucapannya, ia berdiri lantas berjalan santai ke arah pintu untuk membuka kuncinya, saat kenop pintu itu di tarik.

"Wow.. " semua orang berada di depan pintu.

"Mau lihat jasad ayah?"

Plak!

"Apa-apaan lo!!" Sentak Rexi, namun Jason mengangkat bahunya acuh ia berjalan melewati mereka. Tujuannya sekarang adalah tidur.

__________

Hari ini Jason sedang berada di dalam mobil bersama dengan Eros dan pembimbing, mereka akan menuju tempat olimpiade berlangsung yaitu di gedung yang sudah di siapkan.

Keduanya mengikuti olimpiade Matematika dan fisika.

Tidak ada pembicaraan antara Jason dan Eros keduanya sibuk pada buku masing-masing, yang satu buku matematika yang satunya lagi buku fisika.

Setengah jam berlalu, mobil itu sampai di tempat tujuan. Di luar sana banyak pasang mata yang menatapnya, ada yang kagum ada juga yang menatap mengejek ke arah Jason.

"Eros kau yakin dia pengganti Revan?"

Eros sedikit melirik ke arah Jason yang sialnya Jason juga sedang menatap dirinya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu.

Sedangkan Jason, menghampiri orang yang baru saja berbicara.

"Kita lihat saja, siapa yang lebih hebat. "

Olimpiade akan di mulai satu jam lagi, Jason dan Eros sedang menunggu di ruangan khusus peserta. Karena kebelet Jason izin untuk ke toilet.

Lima belas menit berlalu Jason kembali ke ruangan itu, senyum manisnya terbit di wajah tampannya itu.

"Tekhnyata Khevan benakh benakh beban semua okhang. " Batin Jason.

Ia tadi mendengar ucapan pesertanya olimpiade di toilet, ternyata yang selalu mewakili negara ini untuk olimpiade tingkat internasional Eros dan siswa dari sekolah lain bukan Revan.

Karena kepintaran Revan jauh dari ekspektasi orang-orang.

"Maka tahun ini gue yang akan ikut olimpiade tingkat intekh. "

Olimpiade matematika di mulai, akan berlangsung selama dua jam. Keadaan masih aman di menit-menit pertama, hingga satu jam berlalu Jason dan Eros sudah mulai berkeringat.

Lupa itu manusiawi, dan keduanya manusia bukan monster wajar jika lupa rumus.

Jason menyeka keringatnya, ia lupa-lupa ingat namun Jason berhasil mengatasinya. Dan di menit-menit terakhir Jason melihat lawan-lawannya gelisah sedangkan dirinya dan Eros bersantai karena sudah menyelesaikannya.

Selesai sudah olimpiade matematika, seluruh peserta kembali ke ruangan khusus untuk beristirahat satu jam. Saat memasuki ruangan sudah tersedia nasi box, mereka makan bersama.

Tersisa waktu tiga puluh menit, Jason gunakan untuk bermain ponsel sedangkan yang lainnya sibuk membuka buku fisika.

Jika Jason melakukan itu, ia akan lupa lagi maka baginya setelah benar-benar tidak untuk kembali membuka buku.

Tidak terasa waktu istirahat satu jam itu berlalu, para peserta masuk kembali ke aula untuk memulai olimpiade fisika.

Waktu yang dimiliki sama seperti matematika yaitu dua jam, begitu santai mengerjakannya seperti tidak ada beban namun nyatanya salah Jason dari awal sudah tegang.

Melihat peserta lain saling berbisik dengan partnernya, berbeda dengan Jason dan Eros yang saling diam keduanya begitu fokus.

Hingga tidak terasa Jason dan Eros sudah selesai mengerjakan semua soal fisika, dan saat melihat waktu ternyata masih ada sepuluh menit lagi.

"Lo yakin kalau kita bakal menang?" Tanya Jason tiba-tiba.

"Yakin. " Jawaban Eros begitu tegas.

Setelah selesai para peserta kembali ke ruangan dan menunggu hasilnya keluar.

Satu jam berlalu, mereka semua di panggil untuk ke aula suasana begitu mencekam.

_________

Jason dan Eros sudah sampai di sekolah pukul tiga sore, mereka membawa piala, sertifikat beserta uang.

Benar, keduanya juara satu dalam olimpiade matematika dan fisika membuat sekolah cakrawala menjadi juara umum.

Berita itu menyebar luas ke penjuru daerah, forum diskusi online banyak membicarakan keduanya lebih fokus kepada Jason. Dan kini nama Revan mulai pudar dan banyak mendapat cacian.

"Khevan Khevan, lo gak bisa menyaingi gue.. " gumam Jason.

_________

Terpopuler

Comments

Helmi Sintya Junaedi

Helmi Sintya Junaedi

kenapa harus cadel si thooooor,,,, hati sm bibir sy ikut cadel klo si jason ngomong, 😀😀😀

2023-08-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!