Part 6

"Gila gak kekhasa banget udah pagi aja. " Gumam Jason Ia beranjak dari atas ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk siap-siap sebab hari ini Ia sudah kembali sekolah.

Selama tiga puluh menit bersiap, kini sudah rapi tinggal turun ke bawah untuk makan. Sebenarnya sejak malam tadi hati Jason gusar, memikirkan berangkat pake apa nanti ke sekolah?

Seingatnya dulu Jason selalu naik ojek, sebab pak supir di larang untuk mengantar Jason. Namun pagi ini dengan pikiran cemerlangnya Ia akan meminta sesuatu kepada ayahnya.

Langkah kaki terdengar dari arah tangga, semua orang sudah duduk manis di meja makan termasuk Revan bahkan kursinya pun sudah penuh. Baiklah Jason akan makan di kantin sekolah saja.

"Ayah.. " Robert bergumam dengan masih setia memakan makanannya.

"Jason mau minta sesuatu. "

"Berani banget lo minta sesuatu sama ayah, punya hal apa yang bisa lo banggain?" Ucap Rexi meremehkan Jason bahkan tersenyum mengejek.

Semua orang mengangguk menyetujui ucapan Rexi, selama ini Jason tidak pernah meminta apapun bahkan mereka juga tidak pernah memberikan hadiah sebab tidak ada yang istimewa dari Jason berbeda dengan Revan, mereka akan memberikan apapun yang Revan mau sebab anak itu selalu membanggakan mereka.

"Jason tidak pekhnah meminta sesuatu, tapi untuk kali ini Jason meminta kepada ayah. "

"Saya tidak ingin memberikan uang saya secara percuma kepada anak yang tidak berguna. " Balasnya dengan tegas, kini tatapannya beralih kepada Jason.

"Tidak bekhguna ya? " Jason terkekeh.

"Dalam hal apa?" Raut wajahnya menjadi datar.

"Kamu bodoh dalam bidang akademik! Saya malu punya anak bodoh! Keluarga Alexander tidak ada yang bodoh sepertimu!!!"

Tidak ada perubahan dalam mimik wajah Jason, ia tetap memperlihatkan raut datarnya mereka tidak tahu saja siapa sosok Ares yang sebenarnya.

Mari di mulai dengan hari ini, maka esok dan seterusnya akan berubah. Perlahan tapi pasti Jason akan mengubah sudut pandang orang-orang yang merendahkan dirinya.

"Bagaimana kalau kita buat pekhjanjian. " Tawar Jason.

"Jason tidak baik melakukan hal itu. " Tegur Revan.

"Benar, pada dasarnya dia anak bodoh maka akan tetap bodoh, dasarnya tidak berguna akan tetap tidak berguna!"

Tatapan Jason kini beralih menatap Dimitri yang barusan berucap panjang menghina dan merendahkan dirinya, namun tatapan itu ia alihkan kembali kepada Robert.

"Bagaimana yah? Apa ayah setuju? "

"..."

"Kenapa diam? Apa ayah takut Jason bisa segalanya?"

Kini Robert terkekeh, "Bagaimana bisa anak seperti kamu ingin menjadi berlian yang di lirik banyak orang. "

"Tidak ada yang tidak mungkin yah. "

"Sudah lah katakan saja apa mau mu!" Sentak Angel, Ia sudah muak melihat wajah Jason terlalu lama.

"Aku hanya menginginkan hak yang sama sepekhti Khevan. "

Brak!!

"Ngelunjak ya lo!" Sentak Rexi dengan jari telunjuknya mengarah kepada Jason. Sedangkan Revan menunduk dengan hati kesal ditambah rada takut kini menguak dalam dirinya, Ia takut Jason akan benar-benar mengambil alih posisinya.

"Baiklah, saya akan memberikan semua fasilitas yang sama seperti saya memberikan kepada Revan, dengan syara-"

"Ayah!!!" Bentak Rezy, Ia tidak terima kepada ayahnya itu menyetujui akal busuk anak sialan itu!

"Diam Rezy! Ayah yakin dia tidak akan mampu melakukan syarat yang ayah berikan jadi tenang saja. " Ucapnya dengan sombong.

"Syaratnya, kamu harus jadi yang terbaik di sekolah, buktikan dalam satu semester ini. Maka semua keinginan kamu akan saya kabulkan. "

"Mas itu keterlaluan!" Angel tidak menyetujui itu dan yang lainnya pun ikut mengangguk.

"Kalian tenang saja, kenapa kalian risau? Tau kan bagaimana anak ini bodohnya? Jadi yakin lah anak ini akan menyerah di tengah jalan. Ayah berangkat dulu. "

Setelah kepergian Robert, "Puas lo! Bisa-bisanya lo minta hal itu! "

"Kenapa gak bisa kak? Kan Jason juga anaknya?" Tidak ada lagi yang menjawab ucapan Jason, maka Ia pergi untuk sekolah meninggalkan mereka di ruang makan yang masih kesal akan keputusan Robert termasuk Revan Ia harus waspada.

"Segala cara akan gue lakukan untuk menggagalkan rencana lo!"

________

Sampai di sekolah Jason menyusuri koridor menuju kelasnya yang berada di lantai satu, kelas X IPA 6. Kelas yang isinya orang-orang pembuat onar dan anggap saja bodoh.

Saat dirinya sudah sampai di depan pintu kelas, terdengar suara ribut dari dalam dengan pelan Ia membuka pintu.

"Wih si goblok! Gue kira kepsek!" Sahut Zio, Itu adalah ketua kelas.

Pandangan Jason menelisik setiap juru kelas ini, begitu menyenangkan murid-muridnya bisa akur dan kompak dalam hal membuat onar. Sepertinya akan menyenangkan jika Jason ikut gabung.

Tapi, tidak untuk sekarang sebab masih awal. Ia tidak ingin membuat sebuah kejutan di hari pertamanya sekolah.

"Sokhkhy. "

"Asoy! Si cadel ngomong apaan mana gak jelas r nya lagi.. " ucap salah satu siswa yang sedang berdiri di atas meja.

Jason melangkah menuju bangkunya yang terletak di belakang paling pojok. Jam pertama adalah pelajaran matematika.

Setelah bel berbunyi tak lama seorang guru wanita masuk dan mengumumkan bahwa hari ini akan ada ulangan harian, soktak saja seisi kelas riuh menolak keras ulangan itu, bagaimana tidak kesal udah mendadak matematika lagi!

"Bu Nego dong, demen banget ulangan mendadak. " Bujuk Zio dengan nada kesal. Ia punya otak pas-pasan, dan di pagi hari sudah di suguhi ulangan matematika kan anjing!

"Tidak bisa keputusan ibu sudah mutlak! Lagian kelas ini nilai matematika tidak ada yang pernah di atas KKM! "

"Ya kan Bu gak semua siswa harus bisa pelajaran ibu! Ini otak kapasitasnya kecil terus-menerus di jejel sama banyak pelajaran gimana gak meledak coba!"

"Berisik kamu Zio! Kalau ada dari kalian yang berani menerima tantangan dari ibu, maka ulangan untuk bab 3 ini akan ibu batalkan. "

"..." Semua hening, emang siapa yang mau coba? Kan kelas ini isinya orang-orang goblok semua.

"Tidak ada kan, makanya gak usah sok nol--"

"Saya Bu. " Semua atensi beralih ke belakang dimana Jason mengangkat tangannya tanda menerima tantangan dari guru matematika itu.

"Heh Jas, jangan sok deh lo juga itu bodoh!" Sarkas Zio.

"Lo juga bodoh kan, tapi gue bekhani mencoba. Sedangkan lo? Cuma ngebacot. " Jason masuk ke depan untuk menghampiri guru itu.

Sedangkan yang lainnya menatap tak percaya atas apa yang barusan terjadi. Biasanya Jason akan selalu diam tidak banyak bicara bahkan berbicara kasar pun tidak pernah. Tapi sekarang? Lihatlah..

"Saya ragu sama kamu Jason, kamu kan terkanal bodoh masa mau menerima tantangan yang saya ajukan. "

"Tidak ada salahnya untuk mencoba bu, kalau diam di tempat tidak akan maju-maju. " Benar atas ucapan Jason, lantas guru itu memberikan selembar kertas berisikan satu soal matematika dengan tuntutan anaknya.

"Kamu harus selesai dalam sepuluh menit. " Jason mengangguk, ini sangat mudah.

Sebenarnya Jason yang dulu juga pintar hanya saja Revan selalu menghalanginya untuk melakukan apapun. Lima menit berlalu, suara decitan kursi terdengar dan Jason menyerahkan kertas itu.

Beberapa menit kemudian setelah di periksa, guru matematika itu berdiri menjadi pusat perhatian anak-anak IPA 6.

"Jawaban Jason benar semua jadi tidak akan ada ulangan harian bab 3. "

Semua murid bersorak-sorai, atas kepergiannya matematika dalam hidup mereka walau sementara.

Saat netra Jason menangkap bayangan di jendela kelasnya, Ia tersenyum smirk.

"Ini bakhu tahap satu Khevan! Lo dan semua babu lo akan melihat hal yang bakhu dalam dikhi gue. "

____________

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!