Sret!
Pisau tajam itu berhasil menyentuh lengan Jason dengan posisi horizontal, darah segar keluar dan menetes ke lantai.
Jason menatap nyalang kepada pelaku yang melakukan itu, di sampingnya ada Rexi yang sedang menggenggam pisau.
"Apa maksud lo ini semua hah!" Nada bicaranya begitu rendah.
Tidak ada jawaban dari Rexi, namun ia melihat pergerakan dari tangan Rexi segera Jason menghindar. Dan tindakan itu membuat semua orang marah karena pisau tajam itu tidak berhasil mengenai pipi Jason.
"LO HARUS MATI SEKARANG JUGA!!" teriak Rexi.
"Sebelum gue mati, lo semua yang lebih dulu mati di tangan gue.. "
"Sshh.. " rambut Jason di Jambak oleh Dimitri, dan ia memberikan kode kepada adiknya untuk segera melukai Jason.
Namun bukan Jason namanya jika tidak bisa lolos, ia menendang perut Rexi membuat pisau yang ada di genggamannya terjatuh dan memukul rahang Dimitri.
Dengan cepat Jason mengambil pisau itu dan menodongkan pisau itu ke arah Rexi yang sedang terduduk.
"Kenapa lo tiba-tiba nyekhang gue hah!!" Bentak Jason.
"LO LIHAT ADEK GUE!! LO UDAH MELUKAI ADEK GUE DAN BISA-BISANYA LO DATANG KE SINI TANPA RASA BERSALAH!!!" kali ini Rezy begitu emosi.
Pandangan Jason kini beralih ke Revan yang sedang duduk di antara Robert dan Angel. Karena penasaran ia mendekati Revan dan mencengkram dagu anak itu membuat keduanya saling menatap.
"JASON!! APA-APAAN KAMU!" bentak Robert namun di abaikan oleh Jason.
"Udah jelek tambah jelek muka lo!"
Bruk!
Revan mendorong Jason membuat ia terjatuh.
"Kamu kenapa jahat sama aku Jas? Aku salah apa sama kamu? Hiks.. hiks.. "
Jason yang melihat itu justru tertawa, "Lo lagi latihan akting ya?"
Revan menggeleng, "Kalau kamu mau merebut apa yang aku miliki gak gini caranya Jas, kamu tinggal bilang aja. Hiks.. hiks.. hiks.. "
Jason melihat banyak sayatan di wajah Revan, namun kenapa semua orang menyalahkannya? Padahal dirinya sama sekali tidak menyentuh Revan.
"Minggikh lo!!" Jason mendorong tubuh Revan.
"Jadi lo fitnah gue, kalau yang melukai lo itu gue!!" Bentak Jason, sementara orang yang di bentak menundukkan kepala.
"Ta-pi, i-itu kebenarannya.. "
Plak!!
"Akhh.." Angel menampar Jason lantas mencekik anak itu, namun Jason masih bisa bernapas dan berusaha melepaskan cekikan itu.
"Anak saya begitu baik! Dia tidak pernah melakukan kejahatan terhadap mu!! Tapi kenapa kamu melukai Revan hah!!!"
Jason menyentak tangan Angel, terlihat ada bekas telapak tangan di lehernya yang merah karena cekikan itu.
"Kapan? KAPAN GUE NGELAKUIN ITU!!!" teriak Jason, ingat! Amarahnya belum stabil sejak kemarin. Bahkan Damon dan Evan terkena pukulan Jason tadi pagi yang menghalangi dirinya untuk pergi.
"Tadi malam!!"
"Tadi malam? " Jason terkekeh dan menggelengkan kepala. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Revan.
"Heh bego! Kalau lo mau fitnah gue gak gini cakhanya! Mukhahan! "
Dimitri yang mendengar Jason menyebut murahan terhadap Revan langsung tersulut emosi.
"PEKHLU LO SEMUA KETAHUI! TADI MALAM GUE ADA DI CLUB! MANA MUNGKIN GUE MELUKAI DIA! "
"Bo-hong.. ke-kenapa kamu berbohong Jason.. " lirih Revan.
"Kalau lo gak pekhcaya, lo semua bisa tanyakan langsung sama Doktekh Damon!! Gue bekhtemu dengannya di club' tadi malam!!" Pisau masih berada di genggaman Jason, lantas ia berjalan mendekati Rexi yang berdiri di sebelah Dimitri. Tanpa pikir panjang..
Jleb!!
"Akhh.. "
"Kita impas Tuan Khobekht. " Syok menyelimuti mereka semua termasuk para bodyguard dan maid yang melihat itu.
Kecuali Bi Tita yang tersenyum bangga melihat perlawanan Jason.
Sementara Revan tubuhnya sedikit bergetar, namun tak ayal ia akan kembali memikirkan cara apa lagi untuk menyingkirkan Jason.
Jason pergi ke kamar tanpa melepaskan pisau di genggamannya, ia melewati banyak bodyguard dan mereka semua ketakutan melihat tatapan Jason.
Sesampainya di kamar Jason masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga pisau itu.
Sepuluh menit kemudian, ia sudah bersih dan merebahkan tubuhnya di kasur. Sungguh menguras tenaga menghadapi mereka.
_________
"Sshh.. "
Pusing di kepalanya tiba-tiba menyerang, mungkin tidur yang terlalu lama?
Dilihat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, berapa jam Jason tidur?
Setelah membasuh wajahnya Jason turun ke bawah untuk mencari makanan, "Sepi banget ini khumah. "
"Kayaknya pada di khumah sakit. Gue bekhhakhap dia mati sih. "
Jason membuka kulkas dan menemukan banyak Snack beserta minuman. Tidak tanggung-tanggung Jason mengambil banyak, di rasa sudah cukup ia kembali ke kamar.
Ia menaruh semua itu di atas ranjang, lantas Jason mengambil box di laci untuk ia pecahkan sandi angkanya. Tak lupa buku dan bolpoin juga di ambil.
"KBTPO kunci K? Apa ya?"
Sambil berpikir Jason membuka salah satu Snack yang ia ambil, otak berjalan perut pun harus terisi.
"Sandinya kan pake angka, bekhakhti.. " Jason langsung menuliskan alfabet dari A sampai Z di buku dan di bawahnya ia tuliskan juga angka mengikuti alfabet, itu berarti dari 0 sampai 25.
Setelah selesai Ia meneliti semua itu dengan mulut tidak berhenti mengunyah.
"KBTPO kunci K, kalau maju satu hukhuf.. " Jason menuliskan sesuai prediksinya dengan maju satu huruf.
Lantas ia menggeleng, "Gak cocok menukhut gue. " Namun tak ayal ia juga mencoba membuka box sandi angka yang telah di prediksikan dan ternyata gagal.
"Itu bekhakhti.. KBTPO kunci K mundukh satu!!!!" Matanya memancarkan kebahagiaan, kali ini yakin berhasil.
Ia menuliskan, "K itu kan sepuluh bekhakhti kalau mundukh satu itu artinya sembilan. Sembilan itu J!!"
Jason melakukan hal yang sama, sampai di huruf O ia sudah yakin jawabannya. O itu nomor empat belas jika mundur satu berarti nomor tiga belas dimana hurufnya adalah N.
"Jawabannya Jason.. " Ia kembali menuliskan angka berapa saja kata Jason itu.
"Sembilan, nol, delapan belas, empat belas, tiga belas. " Gumam Jason sambil tangannya sibuk untuk membuka gembok itu.
"Anjing kebuka!! "
Brak!!
Jason melempar box itu ke lantai membuat isinya keluar. Ia kesal ternyata jawabannya adalah namanya sendiri.
Setelah di lempar Jason kembali membawa box itu ke ranjang, disana terdapat satu flashdisk dan beberapa lembar kertas. Namun yang menarik perhatiannya adalah flashdisk.
Langsung saja ia mengambil laptop milik Jason asli yang dimana semenjak Ares menempati tubuh ini sama sekali belum menyentuh laptop itu.
Setelah di pasangkan flashdisk itu Jason melihat lihat file yang ada, dan netranya menangkap satu username yang menarik perhatiannya.
Langsung ia klik ternyata itu sebuah video yang berdurasi selama lima jam.
"Lama banget! Video apaan nih.. "
Di menit awal saja sudah membuat Jason syok dan pastinya sakit hati, "Anjing!! Sialan!!"
Hingga dua puluh menit berlalu, Jason memejamkan matanya rapat-rapat beserta telinganya ia tutup dengan Earphone yang terhubung dengan musik bervolume full.
Namun tetap saja suara menjijikkan itu masih terdengar, "Gue gak nyangka bangsat!! Setan!!" Ia mempercepat video itu hingga satu jam terakhir menampilkan mereka yang sedang berbahagia.
Kedua tangan Jason terkepal kuat, ia tidak kuat dan pergi ke kamar mandi lantas memukul tembok beberapa kali membuat jari-jarinya berdarah.
"AKHHH!!!!!! BANGSAT!!!!!"
Jason menatap dirinya di cermin toilet, terlihat mata yang memerah, urat-urat lehernya begitu menonjol wajahnya tak kalah merah menahan amarah yang membludak.
"Kenapa bakhu sekakhang gue tau!! "
"KENAPA GAK DAKHI DULU SAAT GUE MASIH HIDUP!!!"
"Kalau gue tau ini dakhi dulu gue langsung bunuh lo sialan!"
Jason keluar dan ternyata di ranjangnya sudah ada Bi Tita yang tengah duduk.
"Anda sudah tau Tuan muda?"
"Kenapa tidak bilang dakhi dulu!!" Nada bicara kali ini begitu berbeda.
"Jika saya memberitahu secara langsung saya yakin taun muda tidak akan percaya, maka dari itu saya memberikan buk--"
"Kenapa gak langsung!!!! Kenapa hakhus di gembok segala!!!"
"Agar mereka tidak bisa membuka box itu tuan. Kalau begitu saya permisi. " Jason menatap punggung bi Tita yang menghilang di balik pintu.
____________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments