Part 4

"REVAN" Semua orang terkejut melihat kejadian barusan, bahkan para bodyguard dan maid pun tidak kalah terkejutnya.

Angel dan Rexi membawa Revan menjauh dari Jason, dan kini mereka menatap Jason dengan tatapan membunuh.

"Keterlaluan kamu!" Bentak Angel, tangan halusnya senantiasa mengusap lembut pipi Revan yang barusan di tampar Jason.

"Dia emang pantas mendapatkan itu!" Timpal Jason, kini tatapannya begitu mengintimidasi. Dan mereka yang ada di sana di buat terkejut, kenapa Jason berubah?

"Apa salah Revan sama kamu hah! Anak sialan!" Sarkas Robert.

Lihatlah, ayah macam apa Robert ini? Bisa-bisanya mengumpat terhadap putranya sendiri walaupun jiwa Ares sudah biasa di kehidupannya dulu tetap saja rasanya begitu sakit.

"Banyak! Dia hama di keluakhga ini!"

Bugh!

"Akkhh.. "

"Tuan Muda.. "

Robert tidak berperasaan menendang perut Jason membuat luka yang belum kering itu berdarah, kini baju depannya di penuhi darah. Rintihan keluar dari mulut Jason sungguh sakit namun Ia berusaha berdiri untuk memberi sedikit pelajaran kepada Revan.

Di bantu Bi Tita berdiri dengan tertatih-tatih, tangan kiri Jason memegang erat tangan Bu Tita sebagai tumpuannya.

Dengan sekuat tenaga,

Bugh!!

Jason berhasil menendang perut Revan membuat sang korban tersungkur ke belakang, "Itu balasan untuk ayah yang udah nendang pekhut Jason, shh.. "

Semua mata membola melihat perlawanan Jason termasuk kakak tertuanya, yang sedari tadi mematung menyaksikan perubahan Jason.

"Bi antakh Jason ke kamakh.. "

"Ba-baik tuan. "

Bi Tita menuntun Jason dengan perlahan, ia ingin menelpon Dokter Damon rasanya melihat bagaimana darah terus keluar. Tidak ada dari keluarganya yang merasa empati terhadap putranya justru mereka berpusat terhadap Revan yang sudah pingsan.

"Cih, lemah gitu aja udah pisan. Gimana kalau jadi gue? Udah di tusuk di tendang lagi. " Gumamnya yang masih terdengar oleh Bi Tita.

"Sabar tuan. "

Setelah sampai kamar, Jason langsung mengganti pakaiannya dan mengobati luka itu. Awalnya Bi Tita akan memanggil dokter namun di cegah oleh Jason, biarlah dirinya yang mengobati sendiri.

"Shhh.. anjing sakit banget! " Dengan telaten dan pelan membersihkan darah yang berada di pinggiran luka itu, tak terasa cairan bening keluar dari kelopak mata Jason. Tidak kuat untuk menahan rasa sakit ini.

Lantas setelah bersih dirinya merebahkan tubuhnya di ranjang dengan terlentang dan memejamkan mata untuk istirahat sebentar.

"Kamu hebat bisa bakh bakh gitu sama Khevan. Aku kagum sama kamu hihihi"

"Heh kampret! Si Revan gak ada apa-apanya dibandingkan gue! Dan ya lo lihat kan bokap lo sial banget nendang pas banget di luka tusuk!"

"Bokap lo kok jahat banget sih! Eh tapi bokap gue juga sama sih.. " tambahnya.

"Tekhus khencana selanjutnya apa? Apa kamu langsung membunuh Khevan?" Tanya Jason dengan serius, dia tidak akan pergi sebelum keluarganya benar-benar menyesal atas perbuatannya kepada Jason dan melihat Revan menderita.

"Kepo lo! Itu udah jadi urusan gue. " Jawab Ares.

Ishh!

Ares melihat Jason dengan terkekeh geli, lucu melihat dia merajuk.

"Mau gue temenin dulu di sini gak?"

"Boleh deh.. " Ares dan Jason duduk di sembarang tempat, hening tidak ada percakapan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Bugh!

"Akhh!" Jidat Jason membentur lantai lumayan keras akibat tendangan tadi. Ia membuka mata dan di depannya sudah ada Dimitri, kakak pertamanya.

Dimitri berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Jason, lantas mencengkram erat dagu Jason membuat sang empu meringis.

"Saya akan membunuhmu! Jika sekali lagi saya melihat kamu menyakiti Revan!" Ucapnya dengan penuh penekanan di setiap katanya.

"Ma-af.. Jas-Jason salah.. "

Cih!

Plak!

Setelah menampar pipi Jason dengan kuat Dimitri keluar dari kamar anak itu. Jason mengepalkan kedua tangannya.

"Ini bukan saatnya!"

Ia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebab sudah jam lima sore.

Setelah selesai dengan ritualnya, Jason melangkah keluar kamar dan sekarang tujuannya menemui keluarganya pasti sedang berada di ruang keluarga.

Ia melangkah dengan satu tangan menekan bagian perutnya, masih ada rasa nyeri dan nyut-nyutan.

Semua keluarga langsung mengalihkan atensinya kepada Jason, yang tadinya tertawa kini wajah mereka berubah menjadi datar dan dingin.

"Jas-Jason mau min-ta ma-af.. " cicitnya sembari menunduk, namun bibirnya tertarik ke atas.

Ia merasakan langkah kaki seseorang, dan tiba-tiba saja ada yang memeluknya.

"Kamu gak perlu minta maaf Jas, harusnya kita yang minta maaf sebab kita tidak mengunjungi kamu saat kamu sakit. " Ucap panjang lebar Revan.

"Iya Jason maafin kalian kok... "

Kok kalimat itu agak ngeselin di pendengaran mereka! Kenapa kelakuan Jason berubah-ubah dari kemarin?

"Kalau begitu, Jason ke kamakh dulu. "

Sebelum Jason melepas pelukan Revan, dia berbisik "Iblis bekhkedok setan!"

Seketika tubuh Revan menegang, dan wajahnya pun terlihat panik namun dia segera menetralkan wajahnya kembali.

__________

Jam delapan malam, Jason ke luar rumah untuk mencari makan. Jangan tanyakan kenapa tidak makan di rumah sebab Robert tidak mengizinkan Jason untuk makan di sana, bahkan tidak ada makanan yang tersisa sedikit pun. Sungguh miris masih ada untungnya juga kehidupan Ares dulu yang masih bisa makan di rumah.

Di keluarga ini jam delapan malam semua orang sudah berisitirahat termasuk maid dan chef. Maka setiap malam Jason selalu makan di luar, sendiri.

Berdasarkan ingatannya Jason selalu makan di warung dekat rumah pak RT, Ia berjalan kaki sebab tidak terlalu jauh juga.

Dan tak lama Ia sudah sampai di sana warung pecel lele, Jason langsung memesan makanannya.

"Ini pesanannya. "

"Terima kasih Bu. "

Jason makan dengan nikmat, hingga kenikmatan itu terganggu oleh suara anjing.

"Heh Jason!" Yap itu adalah suara anjingnya.

Geri, salah satu teman kakak kembarnya Jason. Ia begitu menyayangi Jason sampai-sampai Jason jika berdekatan dengannya akan menghasilkan tato di tubuhnya.

Ares tahu biasanya jika Jason bertemu dengan teman-teman kakaknya Ia tidak pernah mengangkat kepalanya itu sekedar menatap mereka, takut mungkin.

Bahkan jika Jason di perlakukan istimewa pun akan tetap diam, dan menikmati perlakuan itu. Seperti..

Plak!

"Jawab kalau gue nyapa!" Dia bahkan bukan siapa-siapa Jason tapi berani main fisik.

Jason berdiri, mendorong kursinya kebelakang mendekat ke arah Geri yang berdiri di depannya dengan kepala yang masih setia menunduk.

"Ma-af.. Jason sedang menikmati makanannya. "

Plak!

"Siapa yang nyuruh lo jawab hah!"

Tebak siapa yang bodoh disini? Jason tersenyum simpul Geri tidak menyadari senyuman itu. Hingga...

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Jason menendang perut Geri, memukul dada Geri membuat sang korban tersungkur dan meringis kesakitan. Wajahnya nampak terkejut.

Jason berjongkok, dan mengelus pipi Geri lembut. "Lo sukhuh gue jawab sapaan lo! " Ia tersenyum smirk.

Plak!

Jason menampar Geri.

"Setelah gue jawab, lo malah ngamuk kakhena gue jawab omongan lo! Hah! Manusia bodoh lo!"

Plak!

Tamparan kedua mendarat di pipi Geri.

Sebelum berdiri, Jason berbisik.

"Kita impas! "

Ia melangkahkan kakinya lebar agar cepat kembali ke rumah, sungguh sebenarnya Jason tidak ingin menunjukkan secara gamblang perubahannya itu. Ia ingin lebih dahulu bermain-main tapi orang itu memancing emosinya.

"Sial! Sial! Sial! Tapi gak papa, hihi.. "

"Halo! Gila si Jason nampar gue bahkan nendang gue woy!"

Geri tidak menyangka kok babunya itu jadi bar-bar banget bahkan berani menendang dirinya.

____________

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!