Hujan lebat sejak sore tadi terus mengguyur kota ini tidak henti-hentinya, sampai sekarang pukul sembilan malam hujan masih cukup deras.
Jason menyukai hujan, suaranya yang bergemuruh itu menenangkan hati dan pikiran. Aroma petrikor yang bercampur dengan tanah begitu wangi, dan mempunyai ciri khasnya tersendiri.
Ares dan Jason sama-sama menyukai hujan. Ah, Ares jadi rindu keluarganya. Eh!!
Tidak! Tidak! Ingat! Dia berada di dalam tubuh Jason untuk membalaskan semua orang yang telah memperlakukan Jason buruk, dan..
"Gue gak akan datang ke balapan, biakhlah si Gekhi penasakhan sama ucapan gue tadi. " Untuk saat ini ia ingin bermain-main terlebih dahulu, sebab orang-orang bodoh itu masih dalam batas wajar memperlakukan Jason ya walaupun buruk juga.
Ia yakin sekarang Geri sudah berada di tempat, sebab dari keenam orang itu Geri lah yang selalu balapan. Sudah di bilang bukan Geri ini orang yang paling sarkas, angkuh, dan sombongnya setinggi langit.
Maka Jason ingin menjatuhkan itu semua secara perlahan, apalagi sasaran utama Jason itu mental bukan fisik, walaupun dua-duanya menjadi target.
Baginya mental itu nomor pertama, sebab sakit mental itu begitu susah untuk sembuh bahkan luka pun tidak akan hilang. Berbeda dengan fisik walau sama-sama sakit tapi bekas luka akan hilang dengan berbagai cara.
Sama seperti yang di alami Jason dan Ares, dua-duanya mendapatkan penderitaan fisik maupun mental dari orang-orang terdekatnya.
Jason masih setia duduk di bibir ranjang menghadap ke arah balkon, pikirannya melayang tak tentu arah. Teringat akan sesuatu, Ia mengangkat tangan kirinya dan terlihat jelas di pergelangan tangan ada sayatan melingkar.
"Keluakhga Alexandekh, yang mempunyai bisnis di bidang petekhnakan and pekhtanian. Keluakhga yang tekhjun ke dunia hitam, but masih di bawah keluakhga wilson. " Jason terkekeh, ternyata keluarga Wilson kekuasaannya belum ada yang menyaingi.
Tangan kanannya mengelus pelan sayatan yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Satu luka yang ada di tubuh ini akan gue balas dengan banyak luka yang tak tekhhingga! " Ucapnya dengan seringai mengerikan.
Sayatan itu ia dapatkan saat pulang sekolah sore tadi, sebab Revan mengadu kepada Robert tentang bagaimana Jason melukai kakinya dan juga Rezy.
Dia masih ingat dengan ucapan ayahnya tadi.
"Wajar jika dia melakukan itu sebab kamu adiknya jadi harus nurut semua perkataannya!"
Jason hanya tersenyum simpul, percuma saja melakukan pembelaan tetap dimata mereka Jason selalu salah.
Namun ada rasa senang juga dalam diri Jason, sebab tadi Ia mendengar Robert sedang membicarakan dirinya entah dengan siapa di ruang kerjanya.
Yang jelas Robert kaget mendengar bahwa Jason bisa mengerjakan soal matematika. Padahal itu sangat mudah.
Jika dipikir-pikir berarti Robert menyuruh seseorang untuk memata-matai dirinya?
"Hem, menakhik. "
Hari yang melelahkan, Jason merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Untuk malam ini ia tidur lebih awal, badannya terasa remuk sekali.
_______
"Gue belum makan nih, mampikh dulu di pinggikh jalan cakhi makan. " Ucap Jason yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi sebelah pengemudi mobil. Pagi ini Zio menjemput Jason entahlah padahal ia tidak meminta di jemput.
"Gue juga belum makan sih, " Zio melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, masih ada tiga puluh menit untuk makan di pinggir jalan.
Ia melihat ada gerobak bubur, "Bubur aja gimana?"
Jason membalas dengan deheman, Ia sedang fokus terhadap ponselnya dan saat merasakan mobil berhenti Jason langsung turun untuk memesan bubur.
Ingat! Jason itu cerdas, dan dia peka terhadap sesuatu yang ada di sekelilingnya termasuk Zio. Ia harus mencurigai temannya itu.
Perasaannya begitu kuat menyatakan bahwa ada sesuatu dari Zio, tapi Jason selalu menyangkal itu sebab Zio baik terhadap dirinya. Namun yang baik itu belum tentu benar-benar baik bukan?
Dulu Ares juga sama halnya seperti Jason yang tidak mempunyai teman, maka Ares selalu menaruh curiga terhadap orang yang berusaha mendekati dirinya.
Jason ataupun Ares sudah sama-sama tidak mempercayai orang-orang, mereka hanya percaya kepada dirinya sendiri. Jangan salahkan mereka berdua tapi keadaan lah yang membuatnya seperti itu.
Sepuluh menit mereka habiskan untuk makan bubur, dan sekarang harus cepat-cepat pergi ke sekolah. Jason tidak ingin telat dia sedang dalam tahap memperbaiki image-nya yang selalu di pandang rendah.
Tiba di sekolah, mobil Zio memasuki parkiran. Dan di parkiran mobil terlihat Revan dan yang lainnya sama-sama baru sampai sekolah.
Tanpa menghiraukan tatapan keenam orang itu, Jason dan Zio berjalan santai menuju kelas.
"Seleksi olimpiade kapan di bukanya nih?"
"Satu Minggu lagi kalau gak salah. "
"Lo yakin mau ikut Jas?" Tanya Zio dengan ragu.
"Gak pekhlu banyak omong, cukup buktikan saja!" Jason berjalan lebih dahulu, sementara Zio mengangkat panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Jason melirik sekilas, nampak jelas raut wajah cemas dari Zio.
"Salah kayaknya gue ngomong mau ikut seleksi olimpiade.. " gumam Jason.
_________
"Lepasin tangan gue!!" Sentak Jason, saat tangannya di tarik begitu saja oleh Geri bahkan tepat di pergelangan tangan yang ada sayatannya itu.
Jason di bawa ke gudang dan di sana juga bukan hanya Geri tapi yang lainnya pun ada.
"Heh! Lo mau main-main sama kita hah!" Bentak Geri tepat di wajah tampan Jason.
Bukannya menjawab pertanyaan Geri, justru netra Jason menangkap Revan yang sedang bersembunyi di belakang tubuh Rezy.
"Dkhama apa lagi ini.. "
"Maksud lo! Gue gak ngekhti!!"
Plak!!
Napas Geri memburuh, bahkan Jason melihat mata itu memerah. "Lo berani-beraninya ngancam Revan!! BERANI BANGET LO!!" Jason reflek memejamkan matanya.
Dan apa katanya, ngancam? Cih, sejak kapan Jason melakukan hal itu?
Telunjuk Jason terangkat dan menempelkan di dahinya untuk mendorong kepala Geri menjauh dari wajahnya.
"Heh! Stupid human, jangan asal nuduh lo! Punya bukti apa lo gue ngelakuin itu?" Tanya Jason dengan tenang, dia masih bisa mengontrol emosinya.
Seharusnya sekarang dia berada di kantin untuk mengisi perutnya itu, namun dengan tiba-tiba pergelangan tangannya ada yang menarik ternyata Geri sialan!
Rexi yang sedari tadi diam, melangkah maju dan memperlihatkan ponselnya dimana sebuah rekaman suara menyala. Terdengar jelas dua orang yang sedang berbicara, dan Jason akui salah satu dari dua orang itu mirip sekali suaranya dengan dirinya.
Bugh!
"Mau nyangkal apa lagi lo! Selama ini lo selalu bully Revan!!! Gue gak akan segan-segan untuk melaporkan ini semua ke ayah!!"
Jason terkekeh, "Bukti itu gak akan kuat untuk menjatuhkan gue! Dan sejak kapan gue bully Khevan hah! SEJAK KAPAN!!!" amarah Jason sudah tidak bisa lagi terbendung, napasnya begitu memburu bahkan dadanya naik turun, tempo jantungnya berdetak tidak stabil.
"Justkhu lo semua yang selama ini selalu membully gue sialan!! Lo semua!! Dimana hati nukhani lo! Bahkan keluakhga gue sendikhi pun menyiksa gue yang jelas-jelas gue anaknya!! "
"Sedangkan dia, anak sialan!!" Tunjuk Jason kepada Revan.
"Yang bukan siapa-siapa lo belain! Dengan alasan dia baik, dia pintakh, dia bisa membanggakan. Heh! Manusia-manusia tolol! Dengekhin gue.. "
Mereka semua terdiam saat mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Jason, mereka melihat banyak genangan air di kelopak mata anak itu.
"Setiap okhang pasti akan bekhubah, dakhi segi apapun pasti! Jika sudah capek dengan keadaan maka bekhubah adalah jalan satu-satunya! Dan mulai sekakhang.. "
"Lo, dan lo.. " tunjuk Jason kepada Rexi dan Rezy, "Bukan lagi kakak gue!" Ucapan terakhir yang keluar dari mulut Jason bersamaan dengan cairan bening meluncur bebas dari kelopak matanya.
Entah rasa apa ini, kenapa si kembar merasa sakit? Padahal ini semua di sebabkan oleh mereka dan keluarganya.
Siluet hitam yang sedari tadi menyaksikan semua dari luar pergi saat mengetahui Jason akan keluar dari gudang.
"Lapor tuan... "
_______
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments