Jason pulang dengan full senyum di wajahnya, ia masuk ke dalam rumah namun disambut dengan keadaan rumah yang hening.
"Bi pada kemana?" Tanya Jason kepada Bi Tita yang kebetulan menghampiri Jason.
"I-itu tuan, me-reka pergi liburan. "
Kedua alis Jason menukik tajam, "Libukhan? Kapan bekhangkatnya?"
"Tadi siang Tuan. "
Seketika raut wajah Jason berubah menjadi datar. Seharusnya kedatangan Jason di sambut hangat atas kemenangan dirinya di olimpiade.
Namun kenyataannya? Dirinya yang menang tapi Revan yang diajak liburannya.
Prang!!
Semua maid dan bodyguard melotot, Jason melempar foto keluarga berukuran besar yang terpajang di dinding, di dalam foto itu semua ada kecuali dirinya.
"Baiklah kakhena disini tuan muda kalian tidak ikut Libukhan maka semua ucapan gue hakhus di tukhuti! Paham!"
"...."
Namun tidak ada satupun yang menjawab ucapan Jason, maka ia mengambil guci antik milik Angel dan..
Prang!
Melemparnya dengan mudah di tutup dengan senyuman manis, "Mantap kan?"
"Ck, udahlah capek gue mau istikhahat.." Jason berjalan santai melewati barisan bodyguard yang menghalangi tangga, mereka menatap lekat Jason sambil bergeser.
"Dia sungguh-sungguh berubah drastis. "
"Bagaimana dengan itu? "
"Tanpa kita bicara pun tuan besar sudah pasti tau itu ulah anak sialan. "
Bi Tita yang mendengar itu murka.
Plak!!
"Jaga bicara anda, ingat! Setelah kebenaran terungkap kalian semua akan menyesal dan pastinya mati!"
"Kalian tidak tau kan siapa tuan muda Jason sebenarnya?"
"Kalian harus ingat! Saya bekerja disini sudah dua puluh tahun! Jadi saya tau seluk beluk keluarga ini!" Bi Tita tersenyum sinis, lantas pergi ke luar untuk membeli bahan makanan untuk tuan mudanya.
Bi Tita memang tau seluk beluk keluarga Alexander, bahkan mengenai Jason dan Revan pun ia tahu. Ada dua kebenaran besar yang ia ketahui, dimana yang satu adalah kebenaran yang akan mengubah hidup Jason menjadi lebih baik sedangkan yang satu lagi kebenaran yang akan menghancurkan dua keluarga besar terpandang di dunia.
"Saya yakin sebentar lagi tuan muda akan mengetahui fakta itu. " Gumamnya.
Kini jam menunjukan pukul tujuh malam, Jason yang masih berada di kamar menggeram marah karena tidak tahu sandi dari box yang di gembok itu.
Tadi Jason iseng membuka laci-laci yang ada di lemari Jason, tidak sengaja ia menemukan box itu namun sayangnya di gembok dan membukanya menggunakan sandi angka.
Ia tidak tahu karena Jason yang dulu tidak memberikan ingatan itu, "Sialan! Gue penasakhan sama isinya. "
Gembok itu tidak bisa di rusak, karena bahannya begitu tebal dan yang pasti harganya tidak main-main.
"Apa gue bawa aja ke tukang ahlinya?"
"Kayaknya itu ide bagus. "
Jason kembali menyimpan box itu, lantas turun ke bawah untuk mengisi perutnya. Di meja makan sudah tertata rapi makanan yang begitu banyak.
Ia langsung saja duduk di kursi dan mengambil lauk pauk lantas makan dengan tenang. Namun netranya tidak lepas dari para maid dan bodyguard yang berlalu-lalang.
Karena kepalang penasaran, Jason memanggil Bi Tita.
"Ada apa sih bi kok pada sibuk banget?"
"Itu tuan muda, acara pesta akan di laksanakan Sabtu besok dan tuan besar beserta yang lainnya akan pulang hari Jum'at. Kalau begitu saya permisi dulu tuan.. "
"Saya berharap tuan muda segera membuka gembok itu.. " lanjut bi Tita dengan bergumam.
"Tinggal bebekhapa hakhi lagi dong? Baiklah. " Jason kembali melanjutkan acara makannya.
_________
Hari ini Jason akan berangkat ke sekolah sekitar jam sepuluh pagi, bukan untuk bolos tapi itu perintah dari kepala sekolah jadi pagi ini bisa santai dulu.
Ia kembali mengambil box yang ada di laci dan Jason masih belum bisa membuka gembok itu, sial sekali! Dari semalam Jason tidak bisa tidur memikirkan isi dari box ini apa.
Tok tok tok
"Masuk. "
Kebetulan Bi Tita ada, Jason langsung menyerahkan box itu kepada Bi Tita.
"Bibi pasti tau kan nomokh nomokh untuk membuka gembok ini?"
Bi Tita yang melihat box itu lantas tersenyum, ia berjalan ke arah meja untuk menyimpan makanan tuan mudanya.
"Tuan muda bisa membukanya sendiri, saya yakin tuan bisa. "
Jason bergulat dengan pikirannya sendiri hingga tidak sadar bi Tita sudah tidak ada disana.
"Mending makan dulu. " Jason melempar box itu ke atas ranjang. Ia duduk di kursi dan memakan makanannya.
Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, Jason berangkat untuk sekolah ia mengendarai mobil miliknya membelah jalanan yang cukup ramai.
Setelah sampai di sekolah Jason memarkirkan mobilnya lantas pergi ke kelas.
Dor!!
"Selamat Jason!! " Jantungnya berada di ajak lari dirinya kaget saat membuka pintu di sambut heboh oleh teman kelasnya.
Jason tersenyum dan mengucapkan terima kasih, netranya fokus terhadap Zio yang sedang duduk di bangku tidak menyambutnya bahkan memberi ucapan selamat pun tidak.
Ia menghampiri Zio dan duduk di sebelahnya, "Bagaimana mata-mata tuan Khobekht, anda kalah?" Bisik Jason dan itu sontak saja membuat tubuh Zio menegang.
"Ma-maksud lo?"
"Kayaknya bayakhan yang lo tekhima gede ya? Sampai-sampai lo mau memata-matai gue. Namun sayang sekali gue lebih pintakh dakhi lo!!" Geram Jason dan satu jarinya menekan dahi Zio.
Dari awal memang Jason sudah mencurigai itu apalagi setelah mendengar pembicaraan Robert di telepon semakin yakin. Dan malam tadi ia dengan santai memasuki ruang kerja milik Robert, itu pertama kalinya ia masuk ke sana.
Kebetulan iPad milik Robert tidak di bawa, dengan iseng ia membukanya dan tidak di kunci juga. Awalnya tidak ada apa-apa, namun saat Jason masuk ke salah satu aplikasi chat yang banyak di gunakan ada satu nama yang menarik perhatiannya.
Ya dan itu Zio, ia membaca isi chat itu dari awal sampai akhir ternyata semua pembicaraan mengenai Jason di sekolah. Itu bukti sudah jelas bukan? Untuk menyakinkan keraguan Jason selama ini?
Memang tidak ada yang bisa di percaya!!
Brak!!
Jason berdiri dari duduknya dengan menggebrak meja membuat seisi kelas menatapnya, "Santai-santai tangan gue pegal hehe.. "
Ia kembali ke tempat duduknya, lantas menelungkupkan kepalanya di lipatan kedua tangannya sambil menunggu guru datang tidak salahnya Jason tidur sebentar.
"Kita ketemu lagi hihi.. "
"Ck, ada apa?"
"Gak ada apa-apa, aku cuma kangen kamu. "
"Ieuhhh, gue masih normal ya!!"
"Hehe.. duduk dulu Akhes. " Ares mengikuti ucapan Jason untuk duduk di sebelahnya.
Pemandangan di depannya menyejukkan hati, cuacanya begitu sejuk. Ah Ares jadi betah di sini.
"Gimana sama kehidupan aku? Menyenangkan bukan?"
Ares berdecak, "Menyebalkan!! Orang-orang begitu tolol!!"
Jason terkekeh dengan satu tangan menutupi mulutnya, "Tapi kamu hampikh menang kok. "
Ares nampak terdiam, hingga ia tersadar dan langsung mengubah posisi duduknya kini menghadap Jason.
"Gue mau nanya!"
"Apa?"
"Lo pasti tau kata sandi box kan?"
"Box?" Jason mengetuk-ngetuk dagunya, dengan kepala yang dimiringkan tanda ia sedang berpikir.
"Box yang di gembok itu kan?"
Plak
"Nah itu!!"
Jason meringis saat tangannya di gemplak Ares.
"Tapi gak usah mukul juga kali, sakit!!"
"Udah gak usah banyak bacot! Apa!! Apa sandi angkanya!!!"
"Itu dia masalahnya Akhes, Jason juga gak tau--"
"Bohong lo!! Gue bunuh lo ya!!"
"Jason gak bohong! Ya udah bunuh aja kan Jason udah meninggal. "
Aishh
Ares kembali mengubah posisi duduknya seperti semula, ia melihat tidak ada kebohongan di mata Jason.
"Box itu pembekhian Bi Tita dakhi Jason SMP tapi sampai Jason meninggal box itu tidak bisa tekhbuka karena Jason gak tau sandinya. "
Memang benar, saat Jason kelas tiga smp, Bi Tita tiba-tiba saja memberikan box itu yang katanya isinya akan mengubah kehidupan Jason namun ia tidak bisa membukanya sandi angka itu begitu rumit, Jason sudah berulang kali mencobanya tetap gagal.
"Tapi Akhes--"
"Apa!!" Sewot Ares.
"Bi Tita bilang, box itu bisa kebuka dengan sandi KBTPO kunci K. "
Setelah itu Jason menghilang dari pandangan Ares dan semua menjadi gelap.
"Jas!! Ada guru. " Bisik salah satu siswa yang ada di depan Jason.
Ia berusaha mengumpulkan nyawanya, dengan pikiran yang terus mengingat sandi itu. Agar tidak lupa Jason menuliskan di buku.
"KBTPO kunci K? Apaan ini anjing!!" Gumam Jason.
__________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments