Part 7

Kelas Jason istirahat lebih awal sebab pelajaran Matematika selesai lebih awal, maka dari itu seluruh murid pergi ke kantin termasuk Jason Ia belum makan dari pagi.

"Makasih ya Jas, dan maaf perlakuan seluruh siswa terhadap lo selama ini. " Ucap Zio sang ketua kelas.

Jason tersenyum, "santai aja. "

Mereka berjalan bersama menuju kantin. Kalau biasanya Jason ke kantin selalu sendiri kini tidak! Ia mempunyai banyak tamengnya. Di belakang teman-teman kelasnya mengikuti langkah sang ketua dan sang penyelamat.

Suasana kantin masih cukup sepi, anak-anak kelas IPA 6 menyatukan beberapa meja agar mereka bisa makan bersama.

Lantas beberapa orang memesan makanan, dan kali ini Jason sebagai raja sebab di layani. Senangnya bukan maen.

Cukup lama menunggu makanan datang, hingga bel istirahat berbunyi makanan yang di pesan Jason dan lainnya sampai.

Suasana kantin kini ramai, banyak orang-orang yang menatap sinis ke arah kerumunan Jason entahlah mungkin mereka iri.

Saat Jason sedang menikmati makanannya, tiba-tiba saja suara kantin menjadi hening bahkan di meja Jason pun teman-temannya menjadi diam. Karena penasaran Jason menegakkan kepalanya..

"Pasti mekheka mau nyampekhin gue. " Gumamnya, lihat saja dalam hitungan ke tiga.

1..

2..

3..

"Heh beliin kita makanan sana. " Titah Geri dengan angkuh. Mereka berenam menghampiri Jason, karena memang rutinitas saat di kantin Jason dulu menjadi babu mereka selalu tidak pernah menolak jika di suruh-suruh bahkan saat Ares mendapat ingatan itu ingin rasanya langsung membunuh mereka.

Namun ada satu orang yang membuat Jason penasaran, dia dari dulu tidak ingin makanannya di belikan oleh Jason bahkan menghina Jason pun tidak pernah, namanya Eros.

Decitan kursi terdengar di penjuru kantin sebab suasananya begitu hening. "Lo punya kaki punya tangan, buat apa coba fungsinya?" Tanya Zio dengan tak kalah angkuh.

Ia mulai sekarang akan menjadi tameng Jason, tidak akan rela jika temannya itu di suruh-suruh. Memang biasanya mereka bahagia melihat Jason menderita namun entah kenapa hari ini kedatangan Jason kembali membuat suasana menjadi beda.

Anggap saja ini sebagai menembus kesalahan yang mereka perbuat dulu.

"Heh! Lo siapa gak usah sok-sokan mau bela dia! Lo aja dulu gak pernah bantuin dia!" Sarkas Geri.

Dari keenam orang itu Geri lah yang paling sarkas dan tajam ucapannya bahkan yang paling kasar kepada Jason. Entah ada dendam apa bahkan Rexi dan Rezy pun tidak begitu walau begitu juga sih, tapi lebih parah Geri!

"Itu dulu! Lo punya otak gak? Dulu dan sekarang beda! Mendingan lo semua pergi deh sana! "

"Lo, yang sopan dong sama kakak kelas!!! " Kesal Geri sembari mendorong tubuh Zio membuat ia terhuyung ke belakang.

"Gimana gue mau sopan? Lo aja sebagai kakak kelas semena-mena terhadap adik kelasnya! " Zio masih bisa menahan diri untuk tidak membogem orang yang ada di hadapannya ini.

Sementara objek yang menjadi perdebatan itu sedang menikmati makanannya dengan telinga yang menangkap tajam ucapan-ucapan mereka. Sungguh nikmat.

"Bangun lo! Buruan gue laper!" Rezy menarik kerah baju Jason membuat Jason berdiri dan menghentikan makannya.

Bugh!

Jason memukul rahang Rezy dan tarikan itu terlepas. Semua orang yang ada di kantin tertegun melihat kejadian itu.

Berani sekali Jason melakukan hal itu, apa dia tidak tahu siapa Rezy?

Terdengar banyak bisik-bisik dari para siswa yang melihat itu, sedangkan Rezy sedang menahan emosinya sekaligus kaget mendapat perlakuan seperti itu dari adiknya sendiri.

"Gue tekankan! Gue bukan babu kalian bangsat!!!"

Prang!

Jason melempar piring makanannya tepat di dekat kaki Revan, serpihan kaca itu mengenai kakinya membuat kaki Revan berdarah.

Plak!

"Lo udah membuat Revan terluka, bodoh! " Geri membawa Revan menjauh dari sana, namun Ia terjatuh sebab tali sepatunya di injak oleh Jason.

Ia berjongkok dan menepuk pelan kepala Geri lantas mendekat ke telinga Geri dan berbisik, "Gue tunggu lo di jalan mekhpati nanti malam. "

Setelah itu Jason pergi dari kantin dengan meninggalkan uang berwarna merah lima lembar, dan diikuti oleh teman-temannya.

"Gimana keren kan teman gue? Bisa melawan lo semua! " Angkuh Zio.

"Kalau gini terus gue bisa tersingkir!"

Di kelas Jason langsung duduk di bangkunya dan menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya, berusaha menetralkan emosinya agar iblis dalam dirinya tidak keluar.

"Satu bulan lagi ada olimpiade Nasional ya?"

"Heem, biasalah si Revan pasti sama kak Eros. "

"Heh lo tau gak? Tahun lalu pas semester satu gue lihat si Revan ngancam si Jason di WC. " Ucap Zio, yakin lah Jason mendengarkan semua pembicaraan itu.

"Ngancam gimana?"

"Gue gak begitu jelas sih dengernya, cuman yang gue denger nih kalau Jason sampai melakukan hal yang di larang Revan maka si Jason gak akan mendapat kasih sayang. "

"Maksudnya?"

"Gue juga gak ngerti.. "

"Eh, tapi nih ya.. " lanjut Zio, anak ini tipikal laki-laki yang cerewet dan suka menggosip. Bahkan secara terang-terangan menggosipkan Jason yang jelas-jelas anak itu ada di belakangnya.

"Coba lo semua pikir, kan Jason masuk ke SMA Cakrawala ini jalur prestasi. Nah gue juga denger dari guru-guru kalau Jason itu aktif di SMP nya bahkan selalu ikut olimpiade,.. " Zio menjeda ucapannya, cape Ia menarik napas sebentar. Ia cukup tahu mengenai informasi Jason sebab sering keluar masuk ruang guru dan dia juga gudangnya gosip sekolah.

"Jadi.. "

"Nah lo pasti mikir hal yang sama nih, jadi agak aneh kan kalau tiba-tiba masuk ke sekolah jalur prestasi terus di sini gak menonjol? Bahkan juara satu di kelas aja enggak. "

"Tapi Zio, kan setiap orang pasti berubah. "

"Gue tau tapi kan gak mungkin orang berubah begitu drastis apalagi ini dalam bidang akademik? Ya seenggaknya walaupun berubah gak sampai bodoh-bodoh amat. Gue jadi curiga deh.. "

"Curiga apaan lagi deh.. lo mah selalu aja bikin gue penasaran. "

Semua siswa kini sedang menunggu Zio melanjutkan ucapannya sebab mereka terlanjur kepo. Kalian tahu kan bagaimana rasanya punya teman satu kelas yang mempunyai segudang gosip? Kalau lagi bercerita pasti ekspresi wajahnya dan emosinya itu dapat banget!

"Gak jadi deh. "

"Anjing!"

"Babi!"

"Setan lo!"

"Sialan lo!"

Begitulah umpatan-umpatan yang di lontarkan mereka kepada Zio, sementara sang pelaku tertawa terbahak-bahak. Jason pun terkekeh mendengarnya.

"Olimpiade sistemnya di seleksi dulu atau di tentuin pihak sekolah okhangnya?" Tanya Jason, lantas kini Jason menjadi pusat perhatian.

"Di seleksi sih, tapi ya tetap aja yang bakal menang tuh si Revan sama kak Eros. " Jawab Zio.

"Ngapain lo nanya kayak gitu? "

"Kalau gue mau ikut seleksi olimpiade, lo semua pekhcaya sama kemampuan gue gak?"

"..."

Jason sudah menduga mereka semua tidak akan percaya.

Ia bangkit dan pergi ke luar tujuannya ke toilet. Saat masuk ke toilet Jason melihat siluet seseorang.

Brak!

"Waww.. Khevan.. "

"Lo tau kan akibatnya jika lo menunjukkan kemampuan lo!" Ucap Revan geram. Ia tadi tak sengaja melewati kelas Jason, dan mendengar ucapan Jason sungguh membuat dirinya geram.

"Iya gue tau. Dan sekakhang gue gak takut. " Jawabnya dengan tenang, berbeda dengan Revan yang sedang risau.

Ia melakukan itu semua karena tahu kemampuan Jason jauh di atas rata-rata dirinya. Jika di sandingkan Revan tidak ada apa-apanya dengan Jason, ia menyadari itu. Maka dari itu Revan selalu melakukan berbagai cara agar bisa membuat Jason di bawah kendalinya.

"Gue mau lihat deh kemampuan lo yang sebenakhnya, so tunggu aja. " Jason tersenyum melihat wajah kesal Revan.

__________

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!