"Saya tidak mau tau!! Revan harus lolos seleksi olimpiade!!"
"Tidak bisa pak, ini sudah keputusan para petinggi sekolah. "
"Kenapa tidak bisa? Kalian buta hah! Selama ini anak saya selalu berkontribusi terhadap sekolah ini di bidang akademik, bahkan anak saya selalu menang dalam olimpiade yang diikutinya membawa mana baik sekolah!!"
"Keputusan ini sudah mutlak, bapak tau sendiri bukan? Pemilik sekolah ini juga turun tangan dalam hal penting mengenai sekolah?" Kepala sekolah itu berusaha tenang menjelaskan semuanya kepada Robert.
Minggu pagi ini tiba-tiba saja rumah Hendra kepala sekolah Cakrawala di dobrak begitu saja, dan banyak bodyguard berjajar hingga terlihat Robert berjalan ke arahnya.
Yang seharusnya Minggu ini ia habiskan waktu bersama keluarga tapi nyatanya harus menghadapi Robert ayah dari Revan dan Jason.
"Anda tau dari mana kalau Revan tidak lolos seleksi?" Hendra sudah jengah.
"Anda lupa? Saya punya kekuasaan di sekolah itu. Jika Revan tidak lolos seleksi maka saya akan mengundurkan diri sebagai donatur utama di sekolah itu!!"
"Silahkan pak! Lagi pula sekolah tidak akan rugi jika bapak mengundurkan diri sebagai donatur utama. Masih banyak di luaran sana yang menginginkan itu. " Hendra bukannya sombong tapi ia berbicara sesuai fakta yang ada, pemilik sekolah saja tidak mempermasalahkan masalah donatur bahkan pemilik sekolah sendiri bisa mengelola segala kebutuhan sekolah tanpa donatur.
"Dan satu lagi kalau anda tidak lupa, sekolah itu milik keluarga Agryos. Jadi jika bapak ingin protes mengenai hal ini silahkan berkunjung langsung ke kediaman Agryos. "
"Bahkan saya sudah melanggar salah satu peraturan yang telah ditetapkan. Saya telah menuruti permintaan anda dan Revan untuk segera memajukan jadwal seleksi itu, dan sekarang cukup!! "
Robert tanpa menjawab apapun Langsung keluar dari rumah itu di ikuti bodyguardnya. Barulah Hendra bisa bernapas lega, butuh kesabaran ekstra menghadapi orang seperti Robert.
Hingga beberapa jam kemudian Hendra mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya bahwa Robert telah mengundurkan diri sebagai donatur utama di sekolah Cakrawala dan menarik semua yang pernah ia donasikan, mulai dari uang, alat musik dan masih banyak lagi.
Drrttt
"Tuan Castor.. " gumam Hendra, ia segera mengangkat telepon itu.
"Apakah penyebab utamanya karena hal itu?"
"Be-nar Tuan. "
"Baiklah itu akan menjadi urusan saya, kau hanya perlu melanjutkan jadwal yang telah di tetapkan dan ingat! Jangan sampai melanggar peraturan lagi. Ini peringatan terakhir!"
Huh..
Hendra benar-benar seperti di ambang kematian saat berhadapan dengan keluarga Agryos.
Begitu berat bekerja bersama keluarga Agryos tetapi banyak untungnya juga.
_________
"Dimana Jason!!"
"Di apartemen ku, jangan kesini nanti dia curiga. "
"Aku ingin menemuinya!!"
"Hey boy, sabarlah tidak lama lagi kok. "
Evan memutuskan teleponnya dan melempar ponsel miliknya ke tembok, niat ingin bertemu Jason ternyata ia mendapat kabar bahwa Damon sang uncle membawanya ke apartemen.
"Papa dimana?"
"Di kamarnya tuan. " Evan berjalan menuju kamar Papanya, saat membuka pintu yang pertama ia lihat adalah foto besar pernikahan Papa dan Mamanya.
Ah, Evan jadi kangen dengan Mamanya yang sudah lebih dahulu menghadap Tuhan.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengetahui, siapa saja keluarga yang akan di undang oleh Alexander?"
"Papa tidak tau pasti, yang jelas keluarga kita dan keluarga Wilson pun di undang. "
Setelah mendapatkan informasi itu Evan pergi keluar membuat sang Papa menatap tajam putranya, tidak sopan sekali!
"Kemana kamu?"
"Keluar. "
"Antar aku ke apartemen uncle Damon. "
"Ck, ribet!"
"Eros! Ayolah sebagai adik yang baik. "
"Malas. "
Yap Eros mempunyai kembaran bernama Evander yang kerap di sapa Evan, putra kembar dari Tuan Castor Agryos pemilik sekolah Cakrawala.
Eros hari ini ada kumpul bersama teman-temannya, dan itu tidak bisa di ganggu gugat. Ia pergi meninggalkan Evan yang sedang menatapnya garang.
Sementara di apartemen, Jason baru bangun tidur di liriknya jam ternyata sudah pukul sebelas siang ia segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Lantas keluar dari kamar untuk mencari dokter Damon, "Doktekh Jason mau pulang. "
"Makan dulu Jas. "
"Enggak dok, langsung pulang aja. "
"Tunggu, apa dokter bisa menanyakan sesuatu? "
"Apa?"
"Kamu bagian dari keluarga Alexander?"
Jason mengangguk, "Doktekh bakhu tau?"
"Sudah dari lama hanya memastikan saja, "
"Jason pulang dulu. "
"Diantar sama supir dokter!" Tegas Damon dan di balas anggukan.
Setelah memastikan Jason masuk ke dalam mobil dengan selamat, Damon kembali ke apartemen.
"Kenapa begitu susah mencari informasi tentang Jason? Padahal dia bagian dari keluarga Alexander. "
Hah
"Baiklah karena sudah tahu semuanya, tinggal menunggu waktu yang tepat. "
Damon sudah tidak sabar ingin segera menghadiri acara pesta keluarga Alexander.
__________
Sudah sampai di depan pintu rumah, Jason dengan tenang membuka pintu dan masuk ke dalam. Saat di ruang tamu Banyak orang berkumpul termasuk teman-teman kakak kembarnya.
Mereka semua melihat Jason masuk langsung memberhentikan pembicaraan.
"lanjutin aja anggap gue hantu gentayangan. " Saat Jason menaiki tangga terdengar suara Robert yang begitu menggelitik perut.
"Kamu melakukan kecurangan dalam seleksi olimpiade Jason!!"
Lantas Jason berbalik dengan terkekeh, "Tidak tekhbalik kah Tuan? Bukannya anda sendikhi yang melakukan kecukhangan? Oh dan sepekhtinya anda sudah tau siapa yang lolos seleksi?"
"Itu bekhakhti kemungkinan besakh gue lolos dong?" Jason mengangguk, ia begitu senang melihat ekspresi mereka semua apalagi Revan yang menunduk dengan kedua lengan terkepal.
"Ingat pekhjanjian itu tuan!" Jason berlari menuju kamar untuk rebahan.
Prang!!
Prang!!
Dimitri menghampiri Revan yang tertunduk, lantas ia menangkup kedua pipi anak itu.
"Tidak usah khawatir kamu tetap yang terbaik di keluarga ini. "
Cup
Angel yang melihat itu memancarkan senyumannya, ia lega keluarganya masih bisa menerima Revan di tengah perubahan drastis Jason.
"Terima kasih kak.. "
Setelah memenangkan Revan, Dimitri dengan langkah besarnya pergi ke kamar Jason untuk menemui anak itu.
Brak!!
"Bangun!!" Dimitri menarik kasar lengan Jason yang sedang tiduran di ranjang.
"Apasih anjing!!"
Netra Dimitri membola, ia mengangkat tangannya dengan maksud untuk menampar Jason namun anak itu dengan cepat mencegahnya.
"Apa mau mu hah!! Kenapa kamu melakukan semua itu kepada Revan hah!" Bentak Dimitri.
"Melakukan apa? Sehakhusnya gue yang nanya kayak gitu. Kenapa lo semua jahat sama gue? Apakah adik kandung lo itu dia atau gue?"
Bugh!!
Jason memukul rahang Dimitri, "Lo pikikh gue bakal diam aja? Tidak!! Cukup gue selama ini mendekhita. "
Jason berlari ke arah pintu dan mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk sementara Dimitri menatapnya dengan heran.
Netra elang Dimitri mengawasi gerak-gerik Jason, dahinya mengernyit bingung kala Jason membuka lemari kecil dan matanya membola kala tangan Jason memegang pisau kecil.
"Ngapain kamu. " Tanyanya dengan nada rendah, namun Dimitri melihat tidak ada rasa takut di mata Jason.
Jason mendekat sorot matanya begitu tajam, "Melakukan apa yang lo semua telah lakukan ke gue.. "
Dimitri menahan tangannya saat tangan miliknya di tarik oleh Jason, "Lihatlah kamu ingin melukai saya? Tenaga kamu saja begitu le--akhhh!!"
Jason menggoreskan pisau itu di pipi tirus Dimitri, "Gue gak bodoh, masih banyak spot yang bagus untuk pisau ini mendakhat. "
Darah segar mengalir di pipi Dimitri, ia menyeka darah itu dengan terkekeh.
"Kamu berani melukai saya? Siap-siap jeruji besi menanti mu. "
"Penjakha? Gue gak takut gue punya banyak bukti untuk menjatuhkan lo dan yang lainnya, kakhena selama ini lo semua yang selalu menyakiti gue!"
Jason kembali menyimpan pisau itu di tempat semula, dan merebahkan kembali tubuhnya di ranjang. Ia menatap remeh Dimitri yang duduk di lantai dengan darah masih mengalir di pipinya.
"Kamu akan mati di tangan saya!!" Dimitri kembali mendobrak pintu kamar Jason sehingga pintu itu roboh.
"Gue gak takut Dimitkhi!"
_________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments